Jumat, 10 Agustus 2012

Setelah Koma, Sebelum Titik

Leave a Comment

untuk terakhir kalinya aku ingin bicara padamu tentang suatu hal yang tak pernah kau tahu, sesuatu yang tak satu setan pun tahu akan hal ini. sebuah rahasia yang tersimpan rapat dari pantauan para malaikat. sentuh tanganku tatap mataku, dengarkan bisikanku. aku ingin mengatakan banyak hal sore ini. kanapa kau diam. baiklah, takperlu kau tatap mataku, tak perlu kau pegang tanganku, kau cukup diam dan dengarkan kata-kataku. dan rahasia ini akan kuucapkan dari hati ke hati tanpa suara.

apa kabar kau hari ini? semoga baik-baik saja. apakah ku masih ingat saat pertama kali kita bertemu, saat itu kau menamparku, karena kau mengagap aku yang berbuat iseng denganmu di angkot. tapi kemudian kau mintaa maaf karena salah orang, hehehe… kau tahu… wajahmu yang memerah karena malu ditambah senyum terpaksamu itu benar-benar menjadi tatto permanen yang tak lekang hingga kini. lama kita tak beretmu setelah itu, aku mencarimu berbekal senyum terakhirmu waktu itu. butuh waktu amat sangat lama hingga Tuhan mempertemukan kita lagi untuk kedua kalinya.

dengan berbisk dari belakang engkau menyebut namaku dalam suara termerdu yang pernah kudengar. saat itu ku tahu kau ada dibelakanku. tapi aku tak berani menoleh, tapi kau terus mengodaku, dan dengan lebih halus kau terus memangilku. tapi tetap aku tak berani menoleh. kau memang perempuan tak kenal menyerah, kau panggil kembali namaku, panggilan ketiga itu ka sebut nama lengkapku, dan udara benar-benar mengantarkan merdunya suaramu tak hanya menembus gendang telinga, tapi ikut ergerak bersma darah menembus dinding hati dan meracuni syaraf-syaraf di otak. aku beranikan untuk menoleh, dan ya benar sekali itu kamu, orang yan telah lama kucari. tapi tiba-tiba suara lantang bergema, “hey kamu, siapa yang menyuruh kepalamu bergerak?, sini maju”

aku terkena sangsi hukuman saat itu, tapi wajahku tetap tersenyum, teringat akan suara lembutmu, dan rona indah wajahmu. hari itu semakin sore, dan aku harus pulang paling akhir, gara-gara tadi. kupikir saat itu aku akan pulang sendiri malam-malam. tapi ternyata kau masih ada di depan gerbang menungguku, kali ini berbeda, wajahmu tidak merah, tidak ceria, tidak ada senyuman di situ, ronamu kelabu. tak ada lagi senyuman, kau menatapku tajam. saat itu untuk kedua kalinya kau minta maaf.
tapi saat ini, aku mau mintaa maaf denganmu, atas kesalahanku atas perbuatanku yang menghilangkan senyum dari paras ayu yang engkau miliki. itulah  awal kita selalu bersama dalam beberapa waktu. wajah ceriamu, selalu menghiasi setiap putaran aktu dalam hidup. tak ada lagi rona kelabu dalam paras. hingga suatu hari, kau kembali menghilang. tanpa jejak, sekian lama aku tak lagi mendengar alunan merdu yang terbawa angin yang mengejutkanku dari belakang.

hingga suatu hari, aku melihatmu dalam sosok yang berbeda. wajahmu datar, tak ada senyum maupun sedih. beitu mempesona, tapi pucat. kau tebaring diam. tapi mereka bilang kau masih hidup, jika kau hidup kenapa kau diam. mereka bilang kau sedang koma, kalau begitu biarkan aku menambah kata dibelakang koma sebelum titik itu muncul. mereka bilang kau bisa mendengar suaraku. pada suatu malam, di tangah sunyi, ada air mata mengalir dari sela-sela kelopak matamu. mereka bilang titik itu semakin jauh, dan paragraf mu tak kan berakhir.

tapi belum habis kebahagiaan ku melihat airmatamu, kau justru diam selamanya. detakmu berhenti, tidak ada titik, tapi garis panjang tanpa ujung, gerakan zig-zag keatas-kebawah, berubah menjadi garis yang sangat panjang, dan malam yang sunyi ini berubah seketika dengan jerit histeris dan suara halus yang bergerak bersama garis itu…tttiiittt………………..

dan, untuk terakhir kalinya aku ingin bicara padamu tentang suatu hal yang tak pernah kau tahu.

0 komentar:

Posting Komentar

bagi komentar, saran dan kritiknya kawan.... (no spam)