Rabu, 28 Desember 2011

selamat ulang tahun wi

4 comments

lilin dari jogja, selamat ulang tahun wi

Selamat ulang tahun wi, lama kita tak saling bicara walau itu hanya lewat sepanggal kata di layar. Kita justru terakhir bicara tat kala kau datang mengunjungi  jogja. Walau sebenarnya kala itu kau enggan berjumpa. Seperti kawan lama yang datang bersua, seperti itu rasa mengenang ulang tahunmu. Kita tak pernah merayakannya bersama. Hanya saja ucapa selamat ulang tahun untuk seorang kawan wajib rasanya untuk disampaikan walau dengan cara sederhana. Tak ada kado atau hadiah sebagai bentuk ucapan sambung rasa. Hanya sebaris doa terlantun untunk engkau kawan. tak banyak sebaris saja, tak juga rumit begitu sederhana. tentang pertemanan kita yang berawal dari dunia maya. ah apa kabarmu kini wi

Mengenang kembali awal perkenalan kita saat berdebat tentang arti  dan makna nama kita, atau saat kita bersepakat untuk saling memanggil dengan nama belakang, tiwi begitu aku memanggilmu. Apa kabar ulang tahunmu kini? Sepertinya ulang tahunmu kini terasa lebih ringan dari tahun-tahun sebelumnya, kini rasa hatimu mulai lepas dari beban seseorang yang terus membayangi dan membuatmu merasa bersalah, ulang tahunmu kini tak lagi ditemani tetes air mata dan beban pikiran tentang syarat-syarat kelulusan dari satuan pendidikan.

Sebenarnya aku berharap kau akan mengajaku sekedar makan-makan di pinggir jalan, ah tak apa itu hanya utopia saja. Akau sadar itu tak mungkin terlaksana, yang penting kau bahagia, sudah lebih dari cukup untukku sebagai kabar berita. Di tulisan ini tak kusertakan doa untukmu, tak juga kumuat kata-kata indah seperti di kata-kata ucapan selamat ulang tahun untukmu tahun lalu. Di deret tulis ini mewakilkan ucapan yang tak sempat tersurat lewat pesan singkat dan pesan dinding, aku harap kau baik-baik saja, sehat dan bahagia

Wi, sebagai seorang kawan aku meindukanmu, merindukan renyah tawa, atau duet hancur kita di kala malam. teriring doa tak ada lagi air mata kepedihan mengalir dari matamu, kalaupun air mata itu menetes yakinlah ada mentari yang akan hadir menjadikan bulir air itu menjadi pelangi. jika kau jatuh dan terpuruk ingatlah aku, mungkin saja aku bisa mengentaskanmu dari keterpurukan itu. saat kau senang lupakanlah aku, bila kau takut aku akan merusak kebahagiaan yang kau jalani. Sekali lagi selamat ulang tahun kawan...
Read More...

Rabu, 21 Desember 2011

Mencari Islam yang Paling Benar

Leave a Comment

entah tulisan ini bermanfaat atau tidak, tapi daripada ga ada ide untuk menulis mungkin tidak ada salahnya untuk ikut menambah peredaran kata di rumah sehat ini. tadi malam saya bertemu beberapa kawan dan sekedar melepas kangen di angkringan lek man deket tugu. di tengah tawa tidak jelas, tiba-tiba ada yang nyeletuk, bertanya membuka ruang diskusi yang cukup meredakan tawa.

seorang kawan itu bertanya, tentang perdebatan kekerasan FPI dan keyakinan Ahmadiyah, atau antara JIL dan HTI dalam menghadapi pertentangan khilafah. semakin malam semakin serius, beberapa diantaranya mengeluarkan senjata hujjahterbaiknya. perdebatan mereka berlangsung seru hingga bulan terus bergerak hampir melewati titik puncaknya. dan saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan perdebatan soal agama, jadi tetap mendengarkan walau tangan dan mulut tidak bisa lepas dari aneka makanan dan kopi joss.

malam berhawa dingin dengan suasana panas itu memang berakhir dengan tawa dan senyuman, dan tentu saja dengan egoisme masing-masing manusia. egoisme dalam keyakinan dalam beragama dan egoisme tak acuh saya. saya senang karena diskusi itu tidak berefek terlalu jauh, setidaknya untuk persahabatan kami, walau saya pribadi agak sedikit rugi, gara-gara tidak ambil pusing dengan perdebatan itu, tangan saya tidak berhenti bergeriliya di tengah hamparan makanan, dan tebak saja hasilnya, saya tekor…

pembicaraan itu buat saya tidaklah terlalu substantif, dalam permasalahan agama. pandangan bahwa keyakinannya adalah yang terbaik terkadang membuat saya geli, seolah dialah sang pemilik kuasa atas garis-garis agama. pemilik tonggak yang paling benar.beberapa golongan yang menganggap alirannya yang paling benar dan yang lain salah bagi saya pribadi seperti menambah persoalan hidup yang tak kunjung reda.

malam itu ada seorang kawan yang bertanya, tentang pendapat saya akan perdebatan yang sedang berjalan, saat itu saya hanya menjawab dengan senyuman dan mulut penuh makanan. saya pikir keilmuan saya soal agama masih sangat cetek dan kecil, saya takut jika ikut urun pendapat justru malah mengacaukan suasana. sepertinya kawan itu memahami kebodohan saya.

saya percaya bahwa Allah mengetahui kebenaran mutlak. dengan begitu, sebenarnya hampir mustahil bagi seorang manusia untuk menjangkau realitas islam dalam kesempurnaannya. dalam keterbatasan diri dan pengetahuan yang ada pada diri saya, saya tidak berhak atas klaim kebenaran. bahkan saya justru beranggapan bahwa tak ada satupun manusia di masa modern kini yang berhak atas sebuah klaim kebenaran beragama dalam suatu agama.

dalam penilaian saya, pemahaman umat muslim terhadap doktrin-doktrin keagamaan sebenarnya bersifat relatif dan karenanya suatu waktu dapat berubah dan beragam. contoh nyata ada beberapa aliran mahzab dalam khazanah keilmuan fiqih, dan bentuk-bentuk aliran dari syiah hingga sunni, dari HT hingga JIL. di Indonesia saja ada bermacam-macam bentuk dan jenisnya dengan menggunakan pemahaman dan penafsiran alirannya masing-masing.

dengan adanya keragaman penafsiran terhadap islam di satu sisi, memunculkan keindahan, karena  -katanya- keragaman adalah rahmah. dan dilain sisi, Islam semenjak meninggalnya Sayyidina wa Maulana Rasullulah Muhammad SAW, beragamnya penafsiran atas Al-Quran dan Hadist memang tidak bisa dibendung lagi. kenyataan ini membuktikan bahwa Islam tidak menganut sistem kependetaan dan keagamaan terpusat dalam beragama (la rahabaniyah fi al Islam). maka tak seorang pun dapat mengklaim bahwa pemahamannya atas islam yang paing benar dan otoratif di banding yang lain. karenanya penting sekali bagi kamum muslimin untuk mengembangakan toleransi beragama dalam, baik secara internal umat islam sendiri maupun ekternal dengan agama lain.

Terus terang saja, pengetahuan saya tentang Islam masih sangat minim sekali. Terhadap keislaman saya sendiri, saya masih belum yakin apakah sudah benar sesuai yang diridhai oleh Allah SWT. Karena itu saya tidak berani menilai keislaman bahkan keberagamaan orang lain; apalagi mengkafirkan dan menghalalkan darah orang. Jangan-jangan ketika saya menyalahkan orang, ternyata hakikatnya dalam pandangan Allah justru sayalah yang sesat. Karena kebenaran yang mutlak hanya milik Allah sendiri, saya sangat takut memutlakkan kebenaran pendapat saya; takut terjebak justru Men-Tuhan-kan pendapat saya, takut terjerumus syirik tanpa saya sadari. Na’udzu billahi mindzalik..
Read More...

Minggu, 11 Desember 2011

(Nominator GVlog) Hikayat Odha di Pulau Dewata

2 comments
Sebuah Bus berwarna putih kertas meluncur pelan,  ikut merayap dalam keramaian lalu lintas Denpasar. Di sekitar jalan Tukad Buaji yang sempit, tak jauh dari belokan terakhir sang sopir mengejak pedal rem. Rombongan AusAID turun dari kendaraan, mereka adalah 10 blogger, 3 orang dari AusAID, 1 orang HCPI, 1 orang dari yayasan Spiritia, dan tentu saja 2 orang dari vivanews. Bang Dani berjalan didepan, berperan sebagai penunjuk jalan, melangkahkan kaki menyusuri gang Lotus. Langkah kaki terhenti di sebuah rumah sederhana bernomer 30, dengan sebuah papan kecil di atas jendela bertuliskan “Yayasan Spirit Paramacita”. Sesampai  di beranda rombongan disambut oleh para anggota dan pengurus yayasan yang dulu bernama “Bali Plus” ini, tak butuh waktu lama untuk  membuat suasana menjadi cair dan bersahabat.

“selamat datang di pulau bali, dan selamat datang di bali plus” ucap perempuan cantik dengan pakaian batik menyambut kedatangan rombongan AusAID

Pada awalnya Yayasan Spirit Paramacita bernama Bali+ (bali plus), plus berarti positif dan diartikan dalam dua makna , Poritif HIV dan tetap memiliki pandangan positif untuk masa depan. Yayasan ini diinisiasi oleh 6 orang ODHA pada tahun 2001, tujuannya untuk saling memberi motivasi dan berbagi antar sesama ODHA yang terkadang dijauhi oleh beberapa komunitas masyarakat akibat stigma yang melekat pada orang dengan HIV.

“beban terberat ODHA adalah tekanan sosial, yang berakibat pada tekanan psikologis, ini yang sangat memberatkan ODHA, bukan sekedar fisik, karena kalau fisik ODHA tidak ada bedanya dengan yang lain” jelas Putu Utami salah satu dari kelompok penggagas.


Bisa dibilang Yayasan Spirit Paramacita adalah salah satu kelompok yang berhasil menggalang dukungan, bantuan serta berbagi motivasi, bahkan juga edukasi, baik tentang perlawanan terhadap bahaya HIV dan dukungan terhadap orang dengan HIV.Dibawah kelompok penggagas ini, terdapat kelompok-kelompok sebaya, seperti HOMBOYS dan WARCAN, kelompok-kelompok in berperan dalam pengorganisasian komunitas, dengan adanya kelompok sebaya maka memudahkan penjangkauan kampanya sampai akar rumput pada populasi kunci. Yang dimaksud populasi kunci yaitu komunitas dan kelompok masyarakat yang rawan tertular HIV, seperti PS (pekerja seks), waria, pelanggan, Penasun (Pengguna Narkoba Suntik), dan lain sebagainya. 

di KPAP Bali (foto @Eko Nugroho)

Bali+ tidak hanya bergerak pada kelompok sebaya dalam komunitas-komunitas, tapi juga berperan dalam kelompok sebaya di tingkat daerah seperti kabupaten. Dari sembilan kabupaten di sudah terdapat kelompok sebaya di enam kabupaten, beberapa diantaranya berhasil menjadi contoh bagus. Seperti di Singaraja yang dimotori oleh orangtua ODHA, Jembrana yang digawangi para kader Desa, dan salah satu yang mendapat raport bagus di mata Bali+ ada di kabupaten Tabanan.

Keberhasilan-keberhasilan yang dicapai Yayasan Spirit Paramacita, tidaklah berjalan mulus. Dilapangan masih saja banyak hambatan-hambatan yang muncul. Beberapa diantaranya seperti stigma buruk terhadap ODHA yang masih belum sepenuhnya dihilangkan.  Seperti yang terjadi di Gianyar ada tiga jenazah yang mengalami kesuliatn dalam prosesi pemandian, dikarenakan warga setempat masih takut akibat stigma yang melekat pada ODHA. Selain itu kesulitan-kesulitan lain seperti susahnya akses dokter anak seperti di utarakan Putu Utami

Namun susahnya dokter anak ini disanggah oleh Dr. Kt. Subrata dari dinas kesehatan,

“sekarang pemerintah mengaktifkan PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmision) di rumah sakit seperti di sanglah, ini memudahkan akses dokter-dokter anak” ujar dokter ketut

Tapi data mencengangkan berbicara soal penanganan HIV pada anak-anak. Data ini disampaikan oleh Drh. Made Suprapta dari KPA (Komisi Penanggulangan Aids) Bali per september 2011. Ada 83 anak usia 1-4 tahun, 10 anak 5-14 tahun, dan sebanyak 44 anak dibawah 1 tahun.  Ada sekitar 137 anak terinveksi virus HIV. Melihat jalur-jalur penularan HIV yang didominasi oleh hubungan seks dan Narkoba jarum sunitik, jelas bahwa anak-anak tidak tertular lewat jalur ini. kemungkinan besar adalah lewat jalur Perinatal (Ibu ke janin). Artinya adalah masih kurangnya edukasi pada ODHA yang berniat memiliki anak, supaya anak-anaknya tidak menjadi ODHA. Danny Yatim dari HCPI (HIV Coorporation Program for Indonesia)menjelaskan tingginya presentase jalur Perinatal

“Ada 33% penularan HIV lewat interaksi ibu ke janin, ini tinggi akibat rendahnya eduksi padaODHA itu sendiri”  ujar Danny tegas.

Itulah sebabnya edukasi tetap memegang peranan penting dalam memutus mata rantai penularan virus HIV. Tidak hanya dari ibu ke janin, tapi juga pada jalur-jalur lain seperti, IDU atau Penasun, hubungan seks lawan jenis ataupun sejenis seperti MSM (gay).

Dalam program kunjungan rombongan AusAID tidak hanya bertemu dengan stakeholder yang ada seperti KPA (komisi Penanggulangan AIDS) dan Dinas Kesehatan, serta yayasan-yayasan yang peduli HIV/AIDS. Tapi juga mengunjungi tempat-tempat penanganan dan konseling HIV seperi Kisara-PKBI dan puskesmas kuta serta klinik. Bahkan diajak langsung melihat titik-titik populasi kunci, seperti lokalisasi sekitar Ubung dan kehidupan malam di Seminyak

***

Fokus edukasi tentang HIV memang tetap berpegang pada dua hal utama, pencegahan penularan dan menghapus stigma buruk pada ODHA. Dan ini bukanlah pekerjaan mudah serta juga bukan tanggungjawab satu fihak. Disini semua berperan tidak hanya urusan pemerintah lewat dinas hingga program trans-nation seperti program AusAID lewat HCPI. Justru dari  akar rumput seperti kelompok sebaya, organisas-organisasi, komunitas, bahkan kelompok kepemudaan.

Di Bali sebenarnya sistem cekal (cegah tangkal) penularan virus HIV sebetulnya sudah berjalan baik, bahkan mungkin salah satu yang terbaik di Indonesia. Tidak hanya pemerintah saja disini, tapi juga kerjasama antar pemerintah seperti program AusAID. Ini bukti bahwa HIV bukan sekedar masalah satu negara saja tapi sudah menjadi masalah global, hingga dalam penanganannya perlu adanya kerjasama antar negara.

Dimulai dari pencegahan di tingkat akar rumput dengan pembagian kondom gratis dan pembagian jarum suntik steril. Dua hal ini bukanlah melegalkan sex bebas dan penggunaan narkotika, tapi sebagai proses pencegahan awal di titik pertama. Tapi tetap pencegahan utama adalah edukasi untuk tidak melakukan prilaku beresiko.

“kondom dan jarum suntik steril, dibagikan pada pupulasi kunci untuk mengurani prilaku beresiko, ini penting pada pencegahan di awal, dan itu tetap dilakukan walau masih tersendat, seperti jumlah jarum suntik yang dikembalikan masih jauh lebih sedikit dari pada yang disebarkan, selain tentu saja program Methadone” ujar dr. Elly dari puskesmas kuta satu dengan nada prihatin.

Untuk menembus akar rumput dalam edukasi, jelas pemerintah susah masuk. Cara terbaik adalah masuk lewat komunitas, disinilah komunitas-komunitas berperan. Peran komunitas sangatlah penting dalam hal ini, karena terkadang populasi kunci memiliki ikatan khusus dalam komunitasnya. Arya misalnya dari GAYa Dewata menuturkan, masih ada kesulitan dalam melakukan edukasi pencegahan seperti pemakaian kondom, ini karena hal itu menyentuh privacy masing-masing. Tapi buat A yang merupakan aktivis di HOMBOYS dan WARCAN, punya peraturan lain. Ini dikarenakan anggota HOMBOYS  dan WARCAN berada pada populasi kunci paling beresiko, karena kebanyakan PS (Pekerja Seks), mereka diwajibkan tindakan “perlindungan diri” bagi anggotanya dan ada sanksi.


yayasan kerti praja (foto @Eko Nugroho)


Selain peran komunitas di gerbang awal, ada juga peranan pemerintah. Di Bali komitmen pemerintah cukup tinggi, ini dilihat dari “Komitmen Sanur” tahun 2004. Komitmen ini berisi 9 komitmen pemerintah dan juga 7 prioritas rencana 2008-2011, dari mulai pencegahan, perawatan, hingga pada kesinambungan penanggulangan dan pada akhirnya berfokus pada satu titik menghentikan penularan HIV. Untuk itulah pemerintah Bali mempermudah akses VCT (Voluntary Counseling and Testing- tes dan konseling sukarela). Ini sebagai langkah awal, dan bisa dilakukan dibanyak tempat di Bali terutama Denpasar, dari Klinik Kisara-PKBI, Klinik yayasan seperti di Kerti Praja, dan juga puskesmas.

Seandainya terbukti “reaktif” terduga akan dirujuk seperti ke RS. Sanglah untuk melakukan tes CD4 (sel darah putih). Selanjutnya  jika melalui tes darah ada bukti terkena HIV, pemerintah Bali memudahkan akses ARV (Anti Retrovial Drugs). ARV sebenarnya gratis, namun terkadang susah di akses, namun di  Bali cukup mudah di dapatkan.

***

Seperti diungkapkan diatas, masalah HIV tidak hanya masalah sebuah negara saja tapi juga menjadi permasalahan dunia. Itulah kenapa pemerintah Australia menjali kerjasama dengan Indonesia dalam penanganan HIV melalui program AusAID, dengan fokus utama di Papua, Papua Barat, dan Bali, selain tentu saja daerah-daerah lain di Indonesia. Dan di Indonesia dalam penanganan HIV/AIDS, fihak AusAID mendelegasikannya lewat HCPI.

Australia memberikan komitmen hingga A$100juta dalam kemitraan Australia untuk HIV 2008-2015, untuk mengurangi penyebaran HIV dan peningkatan kualitas hidup ODHA. Utamanya di bali lewat HCPI AusAID membantu berbagai program seperti yang digalakan di Puskesmas Kuta, yayasan spirit paramacita, yayasan kerti praja, dan berbagai program lain di KPA.

Prinsip kerjasama ini, berdasarkan pada komitmen jangka panjang dan sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia. Selain itu berjalan pada semua level dari daerah hingga nasionalserta berfokus pada wilayah tertentu yang benar-benar membutuhkan.

Hal ini menunjukan bahwa teman-teman ODHA tidaklah sendiri, begitu banyak orang yang peduli. Namun terkadang stigma yang ada dimasyarakat hingga memunculkan diskriminasi  membuat teman-teman ODHA cendrung menutup diri. Itulah kenapa fokus utama dalam penanggulangan HIV/AIDS tidak saja pada pencegahan penularan tapi juga pada penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Jauhi virus-nya  rangkul teman-teman ODHA.




Read More...

Jumat, 25 November 2011

(GoVlog) Odha Sahabat Kita

5 comments
Chanda hanya bisa terdiam membisu disamping ibunya yang terus terisak, tak ada yang bisa dilakukan gadis kecil itu didepan adik kecilnya yang terbaring lemas tanpa nafas. air matanya sudah kering, dan matanya menatap kosong meja logam tempat dimana sang adik terbaring dengan penuh tanya. Namun, Chanda memiliki tanggung jawab terakhir yang istimewa, yaitu mempercantik sang adik di hari terakhirnya di dunia. Ia mencoba tegar dan merias bayi mungil itu dengan seadanya, mendandaninya dengan pakaian terbaik yang tersedia serta ia pula yang meletakannya dalam peti sederhana dari kayu berwarna coklat. gadis 12 tahun ini menunjukan ketangguhan diri dan kedewasaan menghadapi kengerian situasi yang harus dia alami. 

Mari lindungi Odha, dan jadikan mereka juga bagian dari kita, kamu tidak sendiri.
( Foto ilustrasi : copyright shutterstock)

Itulah sepenggal kisah, sebuah cuplikan frame dari film berjudul "Life, Above All", film yang didedikasikan untuk anak-anak yatim akibat AIDS dan ber-setting di Afrika Selatan. Film yang diadaptasi dari novel berjudul "Chanda's Secret" karya penulis asal kanada Allan Stratton. karya dari sutradara Oliver Schmitz dan naskah skenarionya ditulis oleh Dennis Telepon serta Schmitz sendiri. Sebenarnya tidak hanya menyajikan kisah sedih saja, namun justru di dominasi oleh perjuangan dan kisah inspiratif persahabatan Chanda dan Esther. Esther dikisahkan seorang anak yang tinggal sendiri karena semua anggota keluarganya meninggal karena AIDS, dalam ketakutannya itulah Chanda hadir sebagai sahabat yang tetap akan menggenggam erat tangannya walau apapun yang terjadi. sikap Chanda adalah sebuah inspirasi keteguhan dan perjuangan seorang anak berusia 12 tahun melawan stereotip dan prasangka masyarakat, bagaimana dia melindungi sahabat dan keluarganya dari tuduhan-tuduhan menyakitkan. Film ini menceritakan sebuah kisah ketahanan tanpa klise tentang kemenangan semangat manusia atau tanpa janji-janji palsu tentang masa depan yang tak berawan.

Kisah seorang tokoh "Chanda" sebenarnya tidak hanya hadir dalam film "life, Above All" ataupun novel "Chanda's Secret". Namun, juga hadir dalam diri kebanyakan orang indonesia yang peduli HIV/AIDS.  Siti Nurdjana Solatif misalnya, yang sejak tahun 1998 memutuskan menjadi relawan penderita AIDS tidak hanya merawat numun juga memberi motivasi dan perhatian. Siti juga menjadi salah satu inisiasi Jayapura Suport Group (JSG) yang setiap senin sampai minggu meluangkan waktu untuk memberikan perhatian dan cinta kasih pada teman-teman Odha. Karena sebenarnya Odha tidak harus -malahan dengan tegas dikatakan- tidak boleh dikucilkan, mereka sama saja seperti kita-kita, seperti kebanyakan orang hanya saja "ketitipan" suatu penyakit yang cukup berat. teman-teman Odha tidak harus ditinggalkan malah harus didekati, sayang sekali anggapan masyarakat yang menganggap penyakit ini penyakit kotor belum juga bisa di eliminir seutuhnya.

Sebuah wacana bahwa istilah kata "Odha" bukan singkatan atau akronim tapi kata yang mengacu kepada Orang dengan HIV/AIDS sehingga tidak semua hurufnya kapital. Istilah ini sendiri dianjurkan oleh Prof Dr Anton M. Moeliono, ketika itu Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, kepada aktivis YPI al. Husein Habsyi dan alm. Suzana Murni (16/11-1995). Menurut Prof Anton pemakaian kata Odha lebih netral dan dinamis daripada menyebut penderita, pengidap, korban, dll. (Syaiful W Harahap/kompasiana).

Tentu saja anggapan bahwa HIV/AIDS sebagai penyakit "menjijikan" masih saja ada di masyarakat, meski dengan kampanye yang dilakukan akhir-akhir ini anggapan tersebut bisa mulai tergerus namun masih belum sepenuhnya terhapus. Kesimpulan pendek tersebut terkadang di ambil dari kisah  tertularnya teman-teman Odha yang didominasi sex bebas dan narkoba. Namun sesungguhnya ada juga yang mengidap bukan karena narkoba maupun perilaku sex menyimpang. Seperti yang di tuturkan Nancy, teman saya di relawan kanker anak Rumah Sakit Sardjito, yang juga jadi relawan di SPAY (Solidaritas Peduli HIV/AIDS Yogyakarta). menurut Nancy, ada juga yang mengidap HIV/AIDS saat jadi relawan gempa dan tertular dari korban gempa ketika melakukan penanganan medis.

Perjuangan untuk mencegah pandangan buruk masyarakat tentang AIDS bahkan sudah digalakan sejak 80an. sebuah film berjudul "AIDS Phobia" yang diproduksi tahun 1986 dan dibintang Jamal Mirdad serta disutradarai Abenudin SE. film ini mengajak penontonya untuk lebih terbuka dan tidak membeda-bedakan teman-teman Odha. memang belum banyak film yang memuat tentang edukasi tentang AIDS diperfileman nasional saat ini, namun edukasi itu harus tetap kita kumandangkan.

Odha tidak selalu identik dengan lemah dan tak berdaya, tapi justru malah banyak juga Odha yang bisa survive dan bahkan bisa berprestasi. Deradjat Ginandjar misalnya,berhasil membuktikan bahwa dia mampu membawa harum nama bangsa di kancah internasional. Di ajang Homeless World Cup 2011 yang dihelat di Paris, Agustus lalu, Ginan meraih predikat sebagai pemain terbaik. Homeless World Cup 2011 adalah ajang sepak bola jalanan yang diikuti komunitas tunawisma. Pesertanya anggota komunitas yang kurang beruntung yang ada diseluruh dunia. Ginan adalah salah satu contoh Odha yang berprestasi, masih banyak Ginan-Ginan lain di sekitar kita yang mampu survive dan bahkan berprestasi lebih.

Apapun alasannya kita tidak berhak membeda-bedakan bahkan mengucilkan teman-teman Odha, mereka sama seperti kita. Mereka juga punya kesempatan dan kompetensi yang sama. Kita harusnya menjadi sahabat Odha, memberi dorongan dan motivasi. Sekaligus juga memberi edukasi kepada masyarakat, tidak hanya edukasi tentang HIV/AIDS itu sendiri tapi juga edukasi bahwa Odha juga bagian dari masyarakat yang harus kita dekati dan tidak boleh dihindari. Dengan itu kita bisa memberi motivasi kepada teman-teman Odha, bahwa kamu tidak sendiri.

Aziz Abdul Ngashim, Yogyakarta

sekian
Read More...

Kamis, 10 November 2011

Mengemis Popularitas

Leave a Comment

jika ada negara di dunia ini yang rakyatnya sangat haus popularitas, mungkin indonesia masuk dalam jajaran 10 besar dalam daftar, tak hanya orang dewasa bahkan anak-anak pun dipaksa mengemis popularitas. lihatlah anak-anak kecil dalam sebuah kompetisi ceramah, isi ceramahnya sama sekali tak ada isinya dan para penonton kemudian bertepuk tangan terlihat kagum, mereka dianggap anak-anak beriman di masa depan, namun semua itu sangat bias. bagimana sebuah bisnis bisa memanfaatkan anak dan agama sebagai sebuah ladang uang, kompetisnya memanya sedang tidak laku, sekarang musim dimana agama diecerkan di televisi. anak-anak dipaksa menjadi peminta-minta mengemis tiap ketikan huruf di layar ponsel, kemudian anak-0anak itu akan berharap menjadi yang terbaik dengan dukungan tertinggi. ini memang terjadi pada semua sistem kehidupan dalam dunia pertelivisian kita yang menyuguhkan popularitas dengan cara “masuk tipi”.

itu memang terjadi pada semua hal, kompetisi menyanyi dan ceramah, termasuk bakat. semuanya ditentukan oleh jumlah sms dimana para peserta diwajibkan mengemis sms dukungan. saya kasihan melihat orang minta didukung, mungkin sebegitu inginnya menjadi terkenal hingga sampai mengemis dukungan. wajah-wajah seperti inilah juga yang nampak pada komod, orang-orang sesumbar bahwa masuk 7 keajaiban dunia itu kebanggan. itu semua omongkosong. apa yang dibanggakan dengan komodo menjadi bagian dari 7 keajaiban dunia baru? ini bukan soal sms buat saya, ini soal bagaimana saya memandang, bahwa negeri ini sangat butuh popularitas butuh terkenal. untuk dikenal orang, kita mendukung diri kita sendiri. apa arti kebanggan dari itu semua.

gambar : phylopop.com
popularitas itu sangat bernilai, namun semakin populer maka sebagian dari kita harus sadar bahwa privasi akan semakin tipis. itulah kenapa orang atau sesuatu yang populer dengan cara palsu akan cepat redup, orang yang naik dengan cepat juga akan hilang dengan cepat pula. tidak ada, bahkan sangat sedikit popularitas yang didapatkan dengan sebuah vote akan bertahan lama, lihat semua artis-artis yang muncul lewat sebuah voting dalam kompetisi yang diadakan stasiun-stasiun televisi, silahkan nilai sendiri. orang menghargai sesuatu lewat sebuah proses, itulah kenapa piramida dan borobudur memiliki nilai lebih dari patung penebusan dosa di brazil dan patung liberty di amerika, sejarah piramida kuno zaman firaun dan sisa-sisa kejayaan wangsa saylendra dalam bentuk stupa candi punya nilai historis dan proses.

kita mengemis sebuah popularitas untuk mendukung TNK sebagai keajaiban dunia, kita menjadi orang-orang yang tidak percaya diri bahwa satu-satunya makhluk hidup yang tersisa dari zaman dinasti dinosaurus masih bertahan hidup di indonesia. komodo bertahan hidup saja sudah bagian dari keajaiban, tapi kita tak pernah merasakan itu. yang kemudian orang-orang butuhkan sepertinya pengakuan dari luar, kita seperti butuh diakui bahwa itu bagian dari keajaiban. kasihan….

semoga dengan komodo menjadi populer kalian akan bangga dan bahagia, mungkin dengan itu orang-orang yang menjadi aktivis pemenangan akan merasa bangga komodo menjadi populer, bangga bahwa dengan tingginya popularitas komodo maka destinasi pariwisata akan bertambah, kunjungan meningkat dan pendapatan masyarakat lokal akan naik. pikiran itu amat sangat salah, coba cek aja labuan bajo, daerah yang akan dipusatkan sebagai bagian dari pesta keajaiban ini sepi, masyarakat tidak antusias menyambutnya. apa pasal,,,,,

dulu orang kesana adalah -rang-orang yang ingin benar-benar mengenal komodo sebagai sebuah “alien” dari masa purba, tak ada yang istimewa beberapa losmen berada disekitar situ. tapi lihat sekarang, hotel-hotel berbintang masuk dan melakuakn penetrasi besar-besaran dengan modal yang besar pula, losmen-losmen yang dikelola orang lokal tergerus habis dan ada pada masa-masa suram,  begitu juga di flores. tak hanya itu masuknya kapal-kapal penyebrangan dari pihak orang luar flores yang lux benar-benar menyingkirkan peran nelayan setempat dalam hal transportasi, lihat pula masyarakat asli di pulau komoda atau rinca yang kerjanya hanya mengukir kayu dan membuat patung komodo, rakyat setempat semakin tergusur oleh masuknya modal-modal luar, semakin terkenal komodo, semakin besar penetrasi pemodal luar untuk masuk dan perlahan akan menghabisi peranan masyarakat lokal.
komodo mendapat popularitas dengan tidak alami, bahasanya dikarbitkan, ataubahas yang lagi tren di kompasiana “instan” mengapa saya sebut instan, karena komodo sebenarnya sudah ada sejak zaman belanda, dan perlahan tapi pasti pengunjung TNK meningkat, peningkatan jumlah wisatawan diikuti dengan perlahan juga oleh masyarakat lokal, hingga biro-biro wisata lokal dan losmen serta hotel-hotel biasa bermunculan, beberapa orang kemudian menjadi pengrajin, semua berjalan alami walau perlahan hingga penduduk lokal merasakan hasil sebagai bagian dari industri pariwisata itu. tapi sekarang, dengan “tiba-tiba” komodo “terkenal” modal luar masuk tanpa bisa dibendung dan menyingkirkan industri yang di kelola orang lokal secara cepat.

Adalah tidak benar bahwa perkembangan pariwisata di Pulau Flores dimana komodo berada adalah hasil dari Vote Komodo saat ini, tetapi dia merupakan hasil perjuangan dan perjalalan sangat panjang mempromosikan destinasi ini kepada dunia pariwisata baik domestik maupun asing. Komodo pun telah dikenal dunia internasional sejak zaman Belanda. ada biro-biro wisata lokal yang sudah berjuang selama 36 tahun, ada hotel-hotel dan losmen yang mungkin usianya lebih dari itu, mereka berjuang, penduduk lokal yang menjaga kelestarian komoda dan percaya sang komodo merupakan bagian dari cerita rakyat setempat. mereka mungkin tidak akan tercatat dalam prasasti seperti anda yang mengirim banyak sms.

anda sekarang boleh bangga sebagai orang yang manjadi bagian sejarah, sejarah menjadikan TNK menjadi keajaiban dunia baru, dan anda pula akan menjadi bagian dari sejarah mempercepat punahnya komodo dan tersingkirnya masyarakat lokal dari industri pariwisata. dan dengan itu semua seperti ucapan jusuf kalla, jika sukses dinobatkan menjadi keajaiban, komodo akan jadi tempat ekslusif dan mahal, tujuannya untuk membatasi pengunjung, apa itu artinya, artinya penduduk indonesia yang hidup secara murah alias berpendapatan rendah tidak dapat menikmati TNK, bahkan bisa saja orang NTT bahkan flores tidak bisa masuk ke TNK karena begitu mahal dan ekslusif, itulah kenapa ajang idol-idolan lewat voting sesaat hanya akan membuat sesuatu tumbuh cepat tapi di sisi lain mati dengan cepat. komodo tidak butuh terkenal, tidak perlu menjadi objek wisata, itu taman konservasi bukan taman hiburan yang harus dikunjungi banyak orang. komodo tidak butuh popularitas, malah harusnya dirahasiakan.
Read More...

Rabu, 12 Oktober 2011

Kalkulasi Bunuh Diri

1 comment

bunuh diri, dua kata yang bagi sebagian orang bisa menjadi jalan singkat keluar dari masalah-masalah yang dihadapi, seolah-olah dengan dua kata sifat yang menghasilkan sebuah frase bermakna “kerja” itu maka semua akan menjadi baik seperti semula atau mencapa tujuan yang diinginkan. kisah-kisah besar penuh misteri mengiringi sederet kejadian-kejadian bunuh diri di  seluiruh dunia. dan jepang adalah pemengang rekor tingkat bunuh diri tertinggi di dunia padahal termasuk negara paling berhasil dan maju di dunia, menjadikan pertanyaan besar bahwa sebuah kejayaan tidak berjalan seiring dengan kebahagiaan. tapi jepang punya istilah sendiri untuk bunuh diri, sebuah presepsi dan tafsir mendalam bahwa bunuih diri (harakiri) adalah peroses mempertahaankan harga diri.

suicide, begitu orang-orang bule menyebutnya, adalah perkara dimana tekanan dari luar maupun dalam tak sanggup lagi tertahan oleh kemampuan dirinya yang membatasi sistem untuk berfikir lebih luas. banyak kasus yang menyertai dibelakangnya, dari ekonomi hingga persoalan cinta. peradaban dunia mencatat bahwa qobil adalah pembunuh pertama, namun tak ada satupun literatur sejarah yang menuliskan orang  yang pertama kali bunuh diri.

selain konflik-konflik yang bersifat pribadi sebagai penyebab bunuh diri, ternyata aksi-aksi yang mengerikan ini ada juga yang bersifat kolosal, bunuh diri kolosal diawali dari peradaban jepang dimana pasukan yang kalah perang lebih memilih harakiri daripada harus pulang dengan menanggung malu akibat kekalahan. dan yang menggemparkan di abad peradaban moderen banyak terjadi di benua amerika. beberapa kasusnya seperti yang terjadi tahun 1993 Kelompok aliran sesat pimpinan David Koresh pernah membuat heboh dunia dengan aksi membakar diri di lahan pertanian dan gedungnya, sekitar 90-an anggota jemaat dan pemimpin sekte tersebut tewas terpanggang. kembali kasus besar bunuh diri mengguncang dunia tahun 1997,  ketika 40 warga melakukan bunuh diri massa karena komet Hale-Bopp.

Para korban mengenakan kaos hitam dan sepatu olah raga melakukan bunuh diri massal di utara San Diego. Para korban itu berusia antara 26 dan 72 tahun. Mereka membunuh dirinya sendiri atas kepercayaan bahwa komet Hale-Bopp, yang saat itu sedang melintasi bumi, akan membawa mereka ke tingkat evolusi yang lebih tinggi.

dan yang paling menggemparkan dengan korban hampir mencapai 1000 orang terjadi di amerika selatan, Sebanyak 900-an anggota Sekte yang dipimpin oleh Jim Jones ini melakukan bunuh diri massal tahun 1978. kejadian bermula saat anggota kongres amerika beserta 3 wartawan menembur belantara hutan untuk mencari fakta atas keberadaan sebuah sekte yang dianggap sesat, dalam perjalanan pulangnya, anggota kongres tersebut beserta 3 wartawan dan para pengikut sekte yang mencoba kabur di cegah pimpinan sekte lalu di bunuh, beberapa jam setelah kejadian itu pemimpin aliran pemujaan memerintahkan anggota-anggotanya untuk melakukan bunuh diri massal dengan meminum potasium sianida. Anak-anak meninggal lebih dulu, bayi dibunuh dengan racun yang dimasukkan ke mulut dengan sedotan. Setelah itu, lebih dari sembilan ratus orang, termasuk anak-anak, meracuni diri mereka sendiri.
ilustrasi : republika.co.id

kepercayan atas sesuatu yang diyakini menyebabkan hilangnya keterbukaan diri maupun fikiran sehingga menjadikan sempitnya cara berfikir dan menihilkan pilihan hidup yang begitu banyak. kejadian yang hampir sama terjadi di gunungkidul, sebuah buku berjudul TALIPATI karya Iman Budhi Santosa dan Wage Dasinarga mencoba menelisik dan menerjemahkan Kemisteriusan fenomena bunuh diri di kalangan masyarakat Gunung Kidul. Tali Pati, dua kata yang telah menampakkan esensi dirinya, kematian. Kematian secara wajar tidak lagi perlu dibicarakan, tetapi kematian akibat bunuh diri, menarik untuk dikaji. Apalagi bila dikaitkan dengan unsur mistik seperti yang dianut masyarakat Gubung Kidul. Ubsur mistik seperti pulung gantung dan roh halus menjadi latar elakang berita yang megiringi kematian akibat bunuh diri di daerah ini. Istlah “tali pati” bukan hanya berkaitan dengan fenomena bunuh diri, akan tetapi juga kematian-kamtian lain yang tidak wajar.

kejadian bunuh diri yang disebutkan diatas adalah beberapa contoh bunuh diri yang disertai misteri yang cendung janggal, karena kebanyakan disertai dengan kepercayaan terhadap hal-hal yang mistis dan cendrung kosmos. hal-hal itu cendrung rumit untuk ditafsirkan dengan sederhana dan jauh berbeda dengan sebab-sebab bunuh diri yang terjadi di indonesia pada umumnya dimana cendung didominasi oleh kasus ekonomi dan percintaan. dua kasus unik yang terjadi akhir-akhir ini yaitu proses “status wasiat” dimana ada proses pamitan lewat status facebook. 1 berhasil 1 gagal. Alviss Kong adalah contoh yang berhasil bunuh diri, warga negara malaysia ini sukses terjun dari lantai sebuah gedung untuk mengakhiri hidupnya karena kisah cintanya berakhir dan kekasihnya menikah dengan pria lain, sedangkan diindonesia adalah contoh gagal, dia adalah matsugawa dana seorang pria yang terobsesi budaya jepang ini berniat bunuh diri namun gagal karena di lantai gedung di cegat oleh satpam. keduanya pamit lewat facebook dengan kisah yang hampir sama.

sebagian orang mencibir mereka yang bunuh diri karena cinta, namun kebanyakan orang akan cendrung simpatik kepada mereka yang bunuh diri karena ekonomi seperti di sleman ada seorang ibu dan dua anaknya bunuh diri akibat hutang 20.000 rupiah, sedangkan pada tahun 2005 akibat malu karena tidak mampu bayar uang SPP , Miftahul Jannah nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Selepas magrib, bocah 13 tahun yang tinggal di Kelurahan Karang Semande, Kecamatan Karang Malang, Balong Panggang, Gresik, itu menggantungkan setagen sepanjang 395 cm warna putih di lehernya.dan yang masih berhubungan dengan pendidikan seorang siswi bunuh diri karena tidak lulus ujian nasional, bahkan ada yang bunuh diri di mall karena penyakitnya tidak sembuh-sembuh.

bukan hanya orang biasa yang bunuh diri, bahkan seorang peraih nobel sastra juga ada yang bunuh diri, beberapa penulis bunuh diri dengan alasan “aneh” yaitu buntu kreatifitas.terlalu lama menyendiri mengakibatkan putusnya mata rantai relasi sosial antara pengarang dan dunia sekelilingnya. Di titik ini, pengarang tidak lagi menyendiri, tapi sudah mengalienasi diri. Gejala ini kerap menjangkiti para pengarang, dan kemungkinan terburuknya adalah kejenuhan, depresi, hingga memicu tumbuhnya obsesi bunuh diri (damhuri muhammad : 2011-pengarang dan obsesi kematian-). Para pengidap “penyakit” ini bisa dirunut mulai dari Virginia Woolf (bunuh diri dengan menenggelamkan diri di Sungai Ouse, 1941), Ernest Hemingway (menembak kepala sendiri,1961), Yukio Mishima (mengakhiri hidup dengan cara seppuku—ritual memburaikan isi perut—1970) dan Yasunari Kawabata (mati secara Harakiri, 1972).Petaka yang sama juga menimpa Sadeq Hedayat (1903-1951), novelis Iran yang dari tangannya lahir karya besar “The Blind Owl” (1937).

Tragedi para penulis itu seperti hendak menujumkan bahwa bukankah lebih baik mati daripada terpasung dalam jerat hidup yang tak bermutu? Bagi mereka, lebih baik memilih mati, bilamana hidup lebih buruk daripada mati itu sendiri. Meminjam kalimat Prie.GS, jangan-jangan selama ini kita telah tertipu oleh wajah kematian yang menakutkan, dan sedapat-dapatnya dijauhi—setidaknya diulur-ulur. Semua orang ingin masuk surga, tapi tidak ada yang ingin lekas mati. Tapi, bagi Sadeq Hedayat kematian adalah suaka. Kematian yang membebaskan, mungkin……

kalkulasi-kalkulasi sebagai sebab musabab bunuh diri tak pernah bisa dicerna oleh merek yang berada diluar lingkup tekanan, jika dia mampu melaluinya di berhasil jika tidak maka jalan keluar yang sembit hingga ekstrim selalu muncul dalam bayang halusinasi. motif-motif itupun tetaplah sebuah misteri, dari harga diri, kepercayaan dalam suatu sekte, ekonomi, cinta hingga buntunya kreatifitas bisa jadi alasan, tapi yang lebih pasti putusnya relasi sosial dari dunia luar adalah penyebab utama yang paling harus diwaspadai,,, waspadalah mungkin orang-orang itu ada di sekitar anda….
Read More...

Rabu, 05 Oktober 2011

Dongeng Cepet

Leave a Comment
sumber: mediaislamnet.com


sahabat terlalu banyak peristiwa yang telah terlalui, kau tahu rintik dedaunan yang gugur di bulan oktober semakin menelanjangi pohon-pohon yang meranggas seolah mempertegas makna retak yang terukir di permukaan tanah. jika memang jalan itu masih ada mari kita laluli bersama dalam dekap hangat dan gandengan tangan. tak lama memang kita bersama, saling terjatuh dan bangkit bersama, menerima umpatan dan pujian kita anggap sama berbahayanya sebagai teror yang menakutkan. dekap hangat yang kurindukan kini mulai tak terlihat dari wajah-wajah kita, mungkin ini saat yang berat untuk diucapkan, mungkin rasa ini tak cukup, mungkin ini juga tak layak. mungkin kini saat untuk berpisah.

kini kusadari, perpisahan harus terjadi, saling meninggalkan untuk cita yang masing-masing kita tuju, kini kusadari pula ku harus sendiri melalui semuanya sebagai seorang individu. jika sempat ingin kuucapkan kata perpisahan dengan bisik lembut di dekat gendang telinga hingga ini semua menjai rahasia kita. saatnya kupulang kembali kemana aku berasal, meninggalkan semua jejak telah kita lalui bersama.

angin berhembus mengikatku dalam ruang hampa, menggiring bayangan kebersamaan kita tersapu angin selatan. hening ini terasa berbeda kini, dan sepi merenggut suara-suara ranting yang meronta patas dalam iringan grimis daun berguguran. tawa kebersamaan seolah seperti dendang yang meronta menjerit dalam kesendirian untuk pergi meninggalkan yang kita rajut dalam kebersamaan. kini saatnya kubisikan salam perpisahan di tengah gugur daun di atas tanah yang merekah.
Read More...

Jumat, 16 September 2011

Catatan Sepi di Titik Nol

29 comments
ilustrasi saja
ini pertengahan bulan september, artinya sudah dua bulan saya membiarkan blog ini teronggok tak terurus, tiba-tiba rasa bersalah itu muncul, saya kehilangan teman berbagi, karena sejak dulu tempat berbagi paling asik dan menyenangkan adalah menulis, dan blog ini menemani tiap jejak tulisan saya sehari-hari, walau sebagain besar tulisan-tulisan di masa lampau saya unpublishd  hanya sekedar untuk menyembunyikan masa lampau yang berbeda kisah. hari-hari terakhir ini saya menghabiskan banyak buku, dari "agama saya jurnalisme" karya andreas harsono, catatan-catatan harian terbitan LP3ES seperti soe hok gie dalam "catatan seorang demonstran" dan kumpulan pemikiran ahmad wahib "pergolakan pemikiran islam" yang banyak menuai kontroversi itu. terakhir saya menyelesaikan buku biografi J. Paul srtre, seorang yang menurut saya luar biasa sebagai seorang penulis. membaca biografi sederhana srtre seperti membawa saya pada fragmen masa lampau, masa dimana saya mengalami masa kecil yang hampir tak jauh berbeda dengan sartre.

tengah malam tadi saya menghabiskan sedikit waktu luang saya di titik nol kilometer jogja, hal yang sejak setahun lampau adalah tempat paling mengasikan untuk berbagi tawa. duduk lesehan di trotoar beralas tikar robek di angkringan milik ibu-ibu gendut yang terlihat semakin menua, lesehan ini adalah salah satu tempat paling memorial dalam perjalanan saya sebagai seorang mahasiswa dan blogger, tempat berkumpul dalam kesedrhanaan dan egaliter bersama kawan-kawan blogger jogja saat kopdar. tawa, ceria, keramaian serta kegilaan tertuang menghiasi malam-malam dimala lalu. tawa itu kini mulai tak terdengar lagi, senyum lebar itu kini kian menipis. malam tadi terasa amat sangat sunyi, sunyi bukan saja karena memang itu malam jum'at dan tidak banyak orang di titik nol, tapi juga sunyi dalam arti kegilaan yang meredup hilang.

menyisakan 3 orang 3 teh hangat 5 gorengan 1 sate kerang dan 2 arem-arem. menghiasi sisa obrolan penuh diam semalam. terasa lebih sunyi dari biasanya. sepi atau sendiri sebenarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari buat saya, tapi saya tidak mengerti kenapa sepi kali ini terasa sangat berbeda. apakah bener kata seorang teman yang sedang berjuang mencari serat centhini itu, bahwa mungkin satu plot cerita dari buku 5cm bisa dimaknai dan diterapkan, ah saya merasa akan sangat rindu atau saya perlu meng-iya-kan argumennya. tapi, lihat saja nanti, waktu memberi jeda untuk sebuah jawaban karena waktu tak pernah memberi jawaban.

malam tadi tentu bukan malam-malam 1 tahun lalu, sepi kali ini harusnya dirayakan. banyak sudah yang berubah dalam dimensi lembar tikar sobek di atas trotoar depan gedung bank indonesia. banyak kemajuan dan perbuatan yang dicapai, banyak peserta duduk dan peserta tawa yang yang telah membuat dirinya ada di dalam dimensi kemajuan dan saya masih duduk ditempat yang sama tanpa perubahan. entah kenapa malam itu saya merasa tikar yang saya duduki seperti mendaulat orang-orang bersila sebagai para pegiat sosial, atau kini saya justru mencari keriunduan untuk sekedar berbagi tawa, sekeder menggila, berbicara dalam bahasa sederhana.

sungguh sepi seperti tak pernah serumit ini, tak sesesak ini, dan tak semistis ini. seorang kawan sambil menyeruput teh hangat berujar, "de javu kah" mungkin iya, tapi saya rasa saat ini bukan setahun lalu, saat ini bukan saat bertemu untuk tertawa dan bergembira. lain kali kita mungkin akan kembali menggila tapi tidak dalam waktu dekat ini, entahlah kapan, mungkin sampai ada satu moment di mana Tuhan akan mengijinkan sebuah pertemuan. ah kini sudah banyak yang jadi orang-orang waras.
Read More...

Kamis, 08 September 2011

Sehisap Sesruput

Leave a Comment
kamar-isolasi.blogspot.com

sebotol tequila dan selinting ganja tak cukup menenangkanku malam ini. kamar mulai penuh asap putih menggelembung dan cipratan air tak bertuan. penat mengurai waktu tersisa, berwisata kemasasa yang lama, waktu dimana putarannya penuh noda, gelimang duka tak tertutup rasa suka. ku ingin pergi meninggalkan sebaris luka, untuk kau yang kucinta, untuk mereka yang bergelut berselimut nestapa. hadir diseiap mimpi anak-anak jalanan, sekedar bercengkrama berjuang untuk sesuap makanan. tetes darah menjadi hal lumrah untuk disaksikan di panggung peradaban. dan jalan kehidupan tak pernah lepas dari sebuah pertunjukan sandiwara anak-anak manusia.

ikan-ikan yang lebih kecil secara bergerombol menyerang menerkam dan memakan dengan mencabik-cabik ikan yang lebih besar, besar tanpa keberanian adalah mangsa para pemberani walau lebih kecil.  dihabisi dikuliti, hingga tak bersisa walau sebatang duri dan sebutir kepala. sebuah pelajaran dari para ikan di akuarium yang mulai keruh. seekor kecoak habis dikroyok semut saat dia terbalik tak berdaya, antene yang dimiliki menjadi tak punya arti, tubuhnya yang terbalik membuatnya tak lebih sebuah batu diam, tubuhnya hancur menjadi santapan semut, kecoap memiliki kecepatan dan pengamatan, tapi dia tidak pernah bisa kembali dan berbalik, optimis yang membunuh. cicak bergriliya mengincar nyamuk dengan penuh ketenangan dan sigap, hanya bisa diam di tembok incarannya adalah makhluk terbang, cicak hanya butuh ketenangan untuk membuat dirinya bertahan hidup.

hisap ganja malam ini, buat dirimu terbang dalam batas yang tak pernah dilarang, ciptakan ketenangan dan ringankan tenggorokan dengan sebotol tequila. nikmati saja hidup malam ini di kamar penat yang berantakan, bersama tragedi dalam akuarium, tragedi di sudut kamar, tragedi di atap dekat lampu. saat ganja itu habis, saat tequila mencapai tetes terakhir, rebahkan diri dal dekap dingin malam penuh kerinduan, aku merindukanmu Tuhan.
Read More...

Minggu, 21 Agustus 2011

Bu

Leave a Comment
ilustrasi :  dejulogy.wordpress.com

bu, apa kabar pagi dini hari ini, sebagian orang bilang jam-jam segini sebagai tengah malam ada juga yang bilang ini sebagai sepertiga malam terakhir, bahkan ada juga yang bilang jam segini sudah masuk pagi, entah mana yang benar, dan entah kenapa lewat jam 12 orang menggapnya sudah pagi, padahal sebagian orang bilang pagi itu saat lembayung terlihat di ufuk timur. sebagian hal kecil ini membuat anakmu ini semakin tidak percaya dengan dunia dan manusia.

bu, apa kabar rumah, mungkin rumah sudah menjadi semakin sepi, kala adek si bungsu hijrah ke kota sebelh untuk melanjutkan pendidikan yang lebih baik, dan engkau restui dengan berat hati penuh harap, rumah akan semakin membuat ibu dan bapak serasa hening, sepi beraroma romantisme pengantin baru, tak ada lagi teriakan adik yang menangis, dan ibu serta bapak tak perlu lagi marah padaku yang membuat si perempuan bungsu menangis.

bu, apa kabar bapak, apakah tangan kanannya masih sering sakit, atau bapak semakin menikmati kegiatan sorenya mengajar ngaji anak-anak kampung sekitar rumah, ah lama rasanya tidak mendengar bapak mengomel setengah berteriak membangunkanku tidur sambil menyuruh sholat, mandi dan mengaji. lama rasanya tidak menikmati sawah setiap pagi bersama beliau, atau sekedar sore menengok kolam ikan. bu apa kabar bakap, semoga beliau sehat dan lebih kuat. semenjak bapak menjadi yatim-piatu saat mbah di kebumen meninggal serta pade juga ikut menyusul beberapa waktu lalu, saya yakin ibu adalah orang terdekat saat ini bahkan dari dulu.

bu, apa kabar adek kecilku si ciwek itu, kabarnya dia pulang kerumah kemarin waktu, semoga saat dia beranjak remaja tidak tambah membuat ribet isi rumah, walau rasanya tidak mungkin, anak perempuan ibu satu-satunya itu memang anak paling baik, paling pintas dan paling berbakti. semoga si bungsu bisa jadi pengobat rindu, pada keramaian rumah yang semakin sepi. sampaikan salam kakaknya ini, katakan “aku tak kan pernah berhenti menjahilimu”
bu, apa kabar engkau, aku rindu. sudah 7 tahun lamanya aku selalu merasakan puasa di tanah orang, dan pulang hanya saat mendekati akhir lebaran. kali ini akan selalu begitu. bu lama kita tak bertemu walau baru kemarin rasanya kita berjumpa di sebuah perjalanan mimpi. bu apa kabar, engkau…. semoga baik-baik saja dan Allah selalu melindungi, melindungi dari perbuatan anakmua yang selelu membuat engkau kecewa.

bu, kau mengajari aku banyak hal, kaulah orang pertama yang mengajari aku bagaimana mengucap dan mengeja kata, tiap hari dengan sabar engkau berucap mengajariku huruf demi huruf hingga kata demi kata, ah aku lupa kapan pertama kali kusebut ibu, engkau ajari aku kata-kata bagus tanpa cela, namun kini, lidahku begitu buruk dengan sering mengumpat, maaf bu… lidahku begitu kotor hingga tak berani menatap engkau yang mengajariku kata-kata bagus dan terpuji

bu, dengan kesabaranlah engkau merawatku dengan keihklasan, dengan ketulusan, dengan cinta kasih yang tak mampu kubalas dengan apapun di dunia ini. saat kecil bisa saja kau membungku ketempat sampah atau membunuhku yang selalu membuatmu kerepotan, namun cintamu menglahkan itu, engkau curahkan kasihmu tanpa batas, hingga Tuhan meletakan surga dibawah telapak kakimu yang semakin hari semakin melepuh, jejakmu surga bu. maaf bu… cintaku begitu kotor hingga was-was jika engkau menelpon, karena hanya takut akan omelanmu yang penuh cinta.

bu, hatimu begitu murni dan suci, hingga tak pernah kudengar engkau mengumpat dan mengutuku. tiap hari hidup anakmu yang rusak ini di topang oleh doa-doa mustajab yang terucap disertai derai airmata di kala tahajud. tiap hari doa yang aku terima dari engkau dan tak pernah kau mengutuku walau aku selalu membuatmu susah. maaf bu… aku mengotri doa indahmu dengan perbuatan terkutuk hingga aku begitu menderita tiap menatap binar matamu.
bu, tak ada surga di dunia ini kecuali saat engkau memeluku dengan penuh haru, tak ada sorga di dunia ini, tanpa belai halus tanganmu di keningku, tak ada sorga di dunia ini tanpa ucap merdu di tiap doamu, dan tak ada sorga di dunia ini tanpa hadirmu di dunia ini, engkau adalah sorga tanpa penggambaran dalam lebar kitab kalam Tuhan.  engkau adalah sebenar-benar sorga di langit tertinggi.

bu, engkaulah yang selalu rindu dan bertanya tentang kabar dan keadaanku di tanah jauh. engkaulah yang selalu khawatir, lebih khawatir bahkan dari diriku sendiri saat aku telat makan, engkau yang paling selalu ingin tahu akan kabarku lebih dari siapapun. namun aku bu, serasa tak pernah ingin tahu kabar engkau dirumah.

bu, engkaulah yang selalu lemas lunglai saat aku marah dan pergi, kemarahnku adalah dosa terkutuk tapi engkau selalu membalasnya dengan doa dan cinta serta senyum. engkaulah yang paling sedih saat aku marah. namun aku bu, serasa anak durhaka yang tak tahu akan arti dari cinta.

bu, engkaulah yang selalu menanggung perbuatan buruku selama ini, saat aku berprestasi orang akan sebut namaku, tapi saat aku berbuat jahat dan buruk orang akan bertanya anak siapa ini, engkaulah yang menanggung malu saat aku berbuat memalukan. namun aku bu, serasa anak tak tahu malu atas sikap dan salahku padamu.

bu, engkaulah yang selalu khawatir penuh tanya kemana dan dengan siapa aku pergi menghabiskan hari-hariku. dan doamulah yang mengiringi tiap langkah kepergianku yang penuh sesat ini. engkaulah yang selalu paling khawatir atas setiap jejak langkahku di bumi. namun aku bu, serasa tak pernah ingin tahu dimana dan bagaimana keadaanmu kini.

engkau adalah terbaik dari yang terbaik, terharum dari yang terharum tertinggi dari yang tertinggi, terindah dari yang terindah di dunia ini. engkaulah pondasi terkuat dalam diri dan jiwaku bu. engkaulah motovator paling dahsyat yang selalu menopang dari kejatuhanku, engkau yang selalu berkata, sabarlah nak dan jangan pernah kecewa pada dunia.

engkau adalah engkau bu, dengan bergetar kupanggil engkau ibu, ibu, adalah kata paling sakral dimana mengucapnya penuh dengan haru. tak ada kata apapun untuk memanggil perempuan yang rela memutuskan 40 urat nadinya demi membuatku melihat secercah sinar mentari yang membuatku bergetar kecuali kusebut IBU.

bu, ketika engkau tersenyum padaka maka cinta tak perlu lagi kucari darimu dan saat engkau memelukku maka tak perlu lagi ku cari surga di dunia ini.
Read More...

Selasa, 16 Agustus 2011

Kala Tukang Koran Memberi Arti Nilai Berbuka

Leave a Comment
jumat kemarin mungkin akan berlalu seperti hari-hari biasa saja jika saya tidak terlambat datang ke rumah salah satu murid les private saya. maklum saya seorang mahasiswa yang beberapa hari sekali mencari tambahan lewat mengajar les di rumah anak-anak sekolah setingkat SMP dan SD. jumat kemarin harusnya saya datang tepat waktu, sekitar jam 3 sore, karena jadwal les yang biasanya malam di geser menjadi sore, tapi karena belum terbiasa saya datang terlambat sekitar jam 3 lewat 15. sesuai jadwal saya harus memberi les teman-teman kecil saya 2 jam, akhirnya les selesai pukul 17.15. apa mau dinyana, pada bulan ramadhan jam segitu untuk regional jogja sudah mendekati waktu berbuka yang biasanya sekitar 17.40an. dan jarak dari rumah tempat sayang mengajar sampai rumah kost sekitar 30 menit, itu jika jalan normal, ini jelas jalan pasti ramai karena menjelang berbuka. sesuai perkiraan saya terjadwal buka di jalan.

ilustrasi : radiotapecontrol.blogspot.com
beruntung orang tua dari murid saya baik sehingga saya diberi “jatah” kolak dalam bungkusan plastik. tepat tebakan saya, belum sampai kost adzan maghrib sudah berkumandang di dijalan, tepatnya di perempatan kotabaru jogja, saya putuskan untuk mencari, tempat istirahat sebentar sekitar trotoar setelah perempatan. alhamdulillah sedikit di utara tepat dekat dengan UII (univeritas islam indonesia) selatan dekat kator pusat BRI. ada warunbg PKL yang menjual minuman air mineral. tanpa pikir panjang saya berhenti untuk sekedar membatalkan puasa. setelah cukup istirahat dan membatalkan puasa, nasib tidak berpihak pada saya. karena ternyata uang yang saya gunakan untuk membayar air mineral terlalu besar sehingga tidak ada kembalian. saat saya kebingungan inilah tiba-tiba seorang anak-anak yang biasa berjualan koran di perempatan kotabaru menawari untuk membayarkan air mineral seharga Rp.3000 tentu saja saya kebingungan sekaligus bahagia. tapi melihat wajah ikhlas anak itu akhirnya bantuan itu saya terima, karena di buru maghrib, sedangkan saya belum sholat. saya berjanji dan menawari untuk membayar uang tersebut, namun anak itu menolak. saat anak itu bilang ikhlas dan ngotot tidak mau menjadikannya sebagai hutang, akhirnya saya menyerah dan tidak memaksa. saat itulah saya ingat bahwa saya dibawakan kolak saat pulang dari rumah les tadi. sengaja kolak tidak saya makan karena memang susah makan kolak dalam plastik. akhirnya saya tawari kolak tadi sebagai “pembayaran” atas kebaikannya menolang saya tadi dalam urusan air mineral. meski awalnya menolak si anak koran akhirnya mau menerima.

terkadang kita tidak tahu ada rahasia dibalik rahasia, kolak dan tukang koran tadi memberi pelajaran bagaimana keikhlasan menaungi semua celah kehidupan. ada misteri yang tersimpan sebelum Allah membukanya. dari sini saya belajar bahwa sikap seseorang tidak ditentukan oleh pakaian dan profesi tapi oleh tingkat dan taraf keimanan dan kedekatan pada tuhan, mungkin tukang koran ini adalah pilihan. tukang koran yang wajahnya tidak akan saya lupakan dialah tukang koran nomer satu yang di sore hari masih menjual koran pagi, persis seperti apa yang dinyanyikan iwan fals dalam lagu berjudul “sore di tugu pancoran” gambaran si budi kecil yang menunjukan pada dunia arti sebuah keikhlasan. bukan nilai nominal bantuannya tapi bagaimana secara moral dia telah menyindir saya tentang arti nilai dalam hidup, tukang koran ini benar-benar yang terbaik yang pernah saya temui dia benar-benar TOP1.
Read More...

Kamis, 11 Agustus 2011

Hujan

Leave a Comment

selalu saja seperti itu
mengalir deras tiap waktu
membuyarkan imaji
menggores mimpi

masihkah bersuara dalam kicau mentari
menemani angin surga tiada makna
masihkah pelangi akan datang menemani
saat badai angin reda pada suatu masa

ada yang hilang dari sebuah mimpi
yaitu kenyataan yang tak pernah terbeli
akankah hadir tetesan kedua
dari awan yang tak mau mendua

harapmu bukan harapku
mimpimu bukan mimpimu

tak lagi terurai bias mata
diujung hati yang terluka

hujan telah reda
meninggalkan seberkas pelangi
masihkah cinta berawal dari mata
menembus batas gelap mimpi
Read More...

Kamis, 04 Agustus 2011

Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku

Leave a Comment
sumber ilustrasi : sulistiantost.wordpress.com

mentari bersinar terang di langit jogja siang ini, cahayanya mempesona menembus helai-helai kanopi dan membias di jendela yang belum terbuka. jogja terasa sama seperti hari sebelumnya, tapi setidaknya suasana puasa masih menggelayut membuat beberapa orang malas untuk bergerak. jogja yang indah bersemi dalam akulturasi agama dan budaya, sebagian orang mulai mencoba merusak keharmonisannya, dan istana di jakarta sepertinya mulai bersahabat dengan jogja. jogja yang nyaman berbeda dengan kepenatan dan kesibukan yang terjadi di jakarta, penuh polusi dan kemacetan. orang bilang bicara jakarta adalah bentuk mini dari indonesia, mungkin betul, karena orang istana pikir dalam soal pembangunan indonesia hanya jakarta, jakarta yang pertama dan utama. mungkin saja orang-orang diperbatasan berkah untuk marah pada pusat, sintang berteriak akan menurunkan merah-putih, palangkaraya memanasa menolak rel kereta, dan papua bergolak minta merdeka.

mungkin lantunan “indonesai raya” tak lebih dari sekedar retorika, indonesia tanah airku tanah, tumpah darahku. atau mungkin itulah kenyataan. dari sejak pertama masuk tingkat satuan pendidikan dengan seragam merah putih hingga menjadi maha dengan pakaian bebas di kampus, kita diajari bagaimana mencintai negeri ibu pertiwi, negeri subur makmur gemah ripah loh jinawi, kita diajari berseru indonesia tanah air kita tanah tumpah darah kita, dulu saya pikir ini hanya isapan jempol biasa, tamun ternyata inilah fakta bagaiaman kita diajari untuk merasakan kecintaan kita pada negeri, kepada tanah dan air serta pengorbanan darah yang tertumpah.

kita diajari untuk mencintai tanah dan air. kita tidak diajari untuk mencintai garam dalam 68% luas wilayah teritorial negeri, kita tidak diajari mencintai kekayaan negeri ini yang ada di bawah laut, kita tidak diajari mencintai ikan dan trumbu karang, bahkan kita tidak diajari mencintai minyak bumi, batu bara dan gas, kita tidak diajari mencintai sumber kekayaan alam hayati dan energi, hasilnya keanekarahaman hayati yang terdistorsi, dan kekayaan energi yang habis tanpa pernah sebagian besar rakyatnya rasakan. emas di keruk asing, gas di jual murah, hampir tak ada yang tersisa dari semua isi tanah dan air kita. rakyat diahruskan mencintai tanah dan air, hasilnya warga negeri ini hanya bisa merasakan tanah longsor dan air banjir.

kita diajari dalam heroisme perjuangan, tanah ibu pertiwi sebagai tanah tumpah darah dimana pahlawan berjuang meraih kemerdekaan. kita tidak diajari bagaimana membangun negeri ini, kita tidak diajari bagaimana tumpah darah berarti perjuangan meraih kesejahteraan dan pendidikan, tumpah darah tak diajari bagaimana berbagai dan kesehatan yang murah. tumpah darah diterjemahkan bagai dewi sri diamna darah yang tumpah adalah untuk penyubur, hasilnya setiap kekuasaan di negeri ini dibayar dengan darah. di tanah sumatra, puluhan tahun aceh bergolak ribuan darah tumpah di tanah ibu pertiwi, tragedi lampung berdarah, jawa-bali banjir darah saat puluhan sampai ratusan ribu simpatisan komunis dibantai oleh orang-orang yang mengaku beragama. darah mengucur dan tertumpah di sampit hingga ambon, kepulauan timor tak lepas dari tetesan meras dari tubuh, bahkan hingga kini papua masih mencurah darah merah dari nadi rakyatnya di tanah ibu pertiwi.

tak ada yang salah, dari kalimat heroisme itu, dan pemerintah serta rakyatnya menerjemahkan itu dengan sangat baik dengan pemaknaan literal yang hebat. syair yang terlantun dari lagu-lagu nasional dan perjuangan kita begitu luar biasa hingga menghipnosis kita, di negeri ini apa yang kita cintai benar-benar kita dapatkan, cintai tanah airmu maka kau dapatkan tanah longsor dan air banjir, rasakanlah tanah ini tanah tumpah darahmu maka percayalah di tanah ini darah akan terus tumpah.
Read More...

Selasa, 02 Agustus 2011

Nyekar yang Berakar, Telaah Arah dan Sejarah Ziarah

Leave a Comment

akhir sya’ban, adalah masa dimana pemakaman khususnya di indonesia terlihat lebih cerah dan terang dariapada biasanya. begitu juga dengan pemakaman umum yang hanya berjarak 100 meter dari tempat tinggal saya.  rumput-rumput liar serta ranting-ranting pohon yang menjulang terlihat dibersihkan. semua ini bukannya tanpa sebab, karena akhir sya’ban, tepat beberapa hari menjelang ramadhan adalah saat dimana masyarakat indonesia terutama orang-orang jawa menjadikan ziarah kubur sebagai “ritual” tahunan menjelang bulan ramadhan tiba. ritual yang sudah mendarah daging, sebagai bagian yang sulit dipisahkan dari akulturasi masuknya islam dalam budaya jawa.

ziarah yang dalam bahasa jawa lebih terkenal dengan istilah nyekar, berasal dari kata dalam bahasa jawa yaitu kata “sekar” yang berarti “bunga” dalam bahasa indonesia, secara filosofi nyekar berarti menabur bunga, yaitu “ritual” yang tak pernah tertinggal dari serangkaian prosesi ziarah, selain berdoa tentunya. dalam tahap selanjutnya ada pergeseran makna dimana nyekar bisa diartikan juga ziarah.
sumber foto : infopublik.kominfo.go.id

ziarah dalam hal ini sebenarnya tidak hanya milik islam atau jawa saja, setiap agama memiliki budaya ziarah tersendiri, pemeluk buddha misalnya berziarah ke kavilavastu dan bodh gaya, diaman sang buddha dilahirkan dan mendapat pencerahan selain benares dan kusinagara. umat khatolik mengunjungi nazaret sampai bukit golgata, bahkan sendangsono di jogja. islam tentu juga memiliki tempat-tempat suci yang dijadikan sebagai tempat ziarah, seperti makkah dan madinah, terutama saat mengunjungi madinah para jamaah bisa dipastikan menengok makam nabi muhammad sampai makam para syuhada perang badar.

namun keunikan muslim indonesia adalah akulturasinya dengan budaya lokal salah satunya akulturasi dengan budaya jawa, dan dalam konteks ziarah adalah terletak pada ritus nyekar. fenomena yang oleh kalangan muslim moderenis dianggap bid’ah hingga menjadi penyebabrusaknya akidah umat. dalam perkembangannya ritual ziarah makam di bulan sya’ban terjadi pada dua mode pamahaman para peziarah, pertama peziarah tradisional sufisme jawa, dan peziarah tradisi faham modern.

pada golongan yang pertama yaitu peziarah tradisional sufisme jawa, peziarah ini sudah mulai berkurang, namun konsep awal dari golongan inilah yang kemudian menjadi panutan yang menyebar di masa kini. orang-orang jawa (masa lampau) percaya bahwa pada akhir bulansya’ban, arwah orang-orang mati akan kembali ke dunia untuk menjenguk keluarga, oleh sebab itu bulan sya’ban dinamai ruwah dalam horoscope jawa, yang berarti arwah yaitu buntuk jamak dari ruh. bulan itu dianggap bulan yang baik untuk ziarah sebelum bulan ramadhan.

golongan kedua yaitu peziarah tradisi faham modern, peziarah ini tidak lagi menganut konsep asal nyekar, tapi tetap menjalankan tradisinya. golongan kedua tetap menjalankan tradisi nyekardengan alasan dan konsep berbeda, golongan ini yang banyak pada zaman modern, golongan kedua melakukan ziarah di akhir bulan sya’ban dengan alasan refleksi pada kematian, serta berbagi doa dengan keluarga yang sudah meninggal, hingga sekedar pengobat rindu atau bahkan ada yang sekedar ikut-ikutan. konsep ini dianggap lebih islami dan jauh dari sikap bid’ahdan syirik.

tapi tentu saja ziarah tidak lepas dari pertentangan berkepanjangan, apalagi ritus ziarah di bulan sya’ban. Sejarah dalam konteks pemahaman awal saja sudah pengalami benturan besar dalam gharis-garis sekte islam, terutama wahabi dan non-wahabi. Kaum wahabi menggap segala bentuk ziarah sebagian besar berentuk bid’ah dan mendekatkan pada syirik. Suara kritik keras akan ritus ziarah keluar dari beberapa ulama seperti Ibn Aqil (1119 m), ibn Taimiya (1328 m), ibn qayim al-jawziyya (1350) dan puncaknya saa muhammad b. Abd al-wahab dan muhammad b. Sa’ud menguasai makkah dan madinah. Dan mengembangkan pemahaman konsep wahabi, salah satunya melakukan pelarangan ritus ziarah karena mendekatkan dengan syirik dan bid’ah.

Gugatan atas sepak terjang wahabi masa itu diserukan oleh syakh ja’far subhani lewat kitab berjudul “wahhabiyah fi-l-mizan”. Namun jauh sebelum itu, sebetulnya al-ghazali sudah merumuskan konsep “jalan tengah” bahwa konsep ziarah berarti penyerahan diri. Konsep itu yang juga berarti kata islam. Hal ini didasarkan al-ghazali pada hadist nabi “mengunjungi makam-makam menjadi anjuran dengan tujuan untuk membuat pengenangan (dhikir) dan sekaligus mengadakan permenungan (i’tibar) …. semula Allah melakukan pelarangan kunjungan ke makam-makam, tapi kemudian ia mengizinkannya.

Dalam tataran ritus jawa konsep ziarah dengan pendekatan islami secara bertahap dilakukan oleh para wali terutama para walisongo, seperti sunan kalijaga, sunan bonang, sunan giri, hingga syaikh maulana ishak di pasai. Sumber-sumber awal ini bisa dicari di munaskrip sastra jawa seperti suluk wujil, suluk sukarsa dan beberapa suiluk lain dalam konsep sufisme jawa, ziarah adalah proses kembali keawal. Konsep ini berasal dari kalimat innalilahi wa innailaihi roji’un“berasal dari Allah dan kembali pada Allah” dalam prosesi ziarah adalah menelusuri asal usul kejadian (sangkan paraning dumadi). Sesungguhnya para wali memberi gambaran dan mengajarkan penyebaran islam tanpa kekerasan dalam bentuk apapun, maka ziarah juga bukanlah sebuah proses kekenesan atau mencari pelarian. Sebab dalam ritus ziarah ada kenangan akan nilai kemanusiaan yang agung.

Syahdan, pendekatan apapun yang tertuang dalam konsep ziarah kubur akhirnya bermuara pada satu hal yaitu kematian. Ziarah dalam konsep jawa kuno memang sudah mulai ditinggalkan walau ritusnya tidak, artinya pemahaman nyekar di bulan rewah (sya’ban) tidak lagi didasari pada pemahaman kuno jawa tapi lebih pada proses pendekatan diri kepada Allah lewat i’tibar dan perenungan kematian, namun disisi lain masyarakat tetap menjalankan ritual nyekar sebelum ramadhan. Dan satu hal penting yang harus difahami nyekar atau ziarah mendekati bulan ramadhan bukanlah prosesi ngalap (meminta) berkah pada jenazah atau arwah.
Read More...

Minggu, 10 Juli 2011

Foundation

Leave a Comment
tempat dimana saya berharap bisa berguna untuk sesama baik sebagai relawan di sebuah FSG serta tergabung sebagai bagian dari gerakan literasi.

Yayasan FSG Tunas Bangsa :

Sejak 2010 saya menjadi relawan di FSG ini sebagai relawan pendamping untuk anak-anak dengan kanker di RSUD Sardjito.  Family Supporting Group (FSG) Tunas Bangsa adalah organisasi nirlaba yang didirikan di bawah Yayasan Tunas Bangsa. Dan bertujuan untuk mendampingi pasien serta keluarga pasien penyakit Thallasaemia, Haemofilia dan Kanker Anak. Didirikan pada tanggal 1 Maret 2008 dan dalam memberikan dukungan psikologis dalam bentuk hiburan dan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu yang sakit, khususnya penderita kanker dan kelainan darah. FSG Tunas Bangsa menggelar aksi rutin setiap hari Minggu pagi di Ruang Nuri RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dan setiap hari biasa dilaksanakan di ruang kepompong, sebuah ruang bermain anak di kompleks RSUD Sardjito yang di inisiasi oleh FSG Tunas Bangsa.

Gerakan 1000 Burung Kertas :

sebuah gerakan yang di inisiasi oleh Komunitas (blogger) Canting Yogyakarta untuk pengembangan literasi di wilayah pinggiran jogja. selain memberikan pelatihan dan bimbingan, gerakan ini juga membangun perpustakaan di sanggar, tempat dimana anak-anak belajar dan bermain. contohnya di dusun ripungan, desa sumberharjo, kecamatan prambanan, yogyakarta.
Read More...

Selasa, 28 Juni 2011

“Kumpulan Cerpen Kompas”

Leave a Comment

jika akhir-akhir ini anda seorang tweps dan termasuk penggemar cerpen kompas, terutama folowwer fajar arcana mungkin anda tahu kabar sebaran undangan untuk datang ke acara pemilihan cerpen terbaik kompas 2011.  atau mungkin anda adalah salah satu dari yang beruntung untuk hadir pada acara senin malam tanggal 27 juni 2011 saat menyaksikan Rikard Bagun (pimpinan redaktur kompas) menyerahkan buku “kumpulan cerpen kompas 2011″ sebagai tanda “peresmian” kepada Seno Gumira Ajidarma sang  jawara cerpen pilihan kompas 2011 dengan judul Dodolidodolibret . seremonila di bentara budaya jakarta itu akhirnya menasbihkan 18 cerpen terpilih berhak dibukukan sebagai kitab ke-20 cerpen pilihan kompas, menyingkirkan 52 karya yang dimuat kompas minggu dalam 1 tahun, dan bahkan menyingkirkan sekitar 3.600 cerpen yang berakhir di meja redaksi kompas dalam kurun waktu 12 bulan.

menurut fajar,sembilan hingga sepuluh cerpen diterimanya setiap hari. Dalam setahun, ada sekitar 3.600 cerpen. Sebuah angka yang fantastis. namun anda jangan kaget karena menurut catatan alex supartono, redaktur koran tertentu tak kurang menerima 3-40 cerpen perminggu, bahkan ada satu koran kedatangan 60-100 cerpen per minggunya. dan diperkirakan setiap tahun 6000 naskah cerpen berkahir di tempat sampah pada kantor redaksi koran-koran yang dianggap barometer perkembangan sastra cerpen indonesia. sungguh sebuah ironi dalam paradoks perkembangan sastra indonesia. ini belum termasuk ratusan hingga ribuan cerpen lain di koran-koran lokal, mungkin jika dilakukan penelitian angka-angka itu akan sangat mencengangkan.

dodolidodolibret
sebagian mengatakan cerpen masuk koran selain untuk “nama” juga cari uang. khusus untuk para pencari nama anggapan ini buat saya meleset, lihatlah daftar cerpen pilihan kompas 2011 yang masih di dominasi nama-nama lama yang sudah punya gaung dalam perkembangan sastra indonesia. sehingga muncul selentingan miring bahwa supaya cerpen anda dimuat di surat kabar terutama yang nasional dan sudah punya nama besar ada tiga cara, pertama cerpen anda benar-benar berkualitas dan sesuai selera redaktur, kedua walaupun cerpen tidak terlalu bagus dan tidak sesuai selera redaktur, minimal nama anda sudah terkenal di dunia kepenulisan dan bisa jadi jaminan, ketiga ini yang agak kurang baik, yaitu memanfaatkan hubungan baik dengan redaktur alias PDKT, ini yang ketiga agak kurang baik.

kembali ke cerpen pilihan kompas, sebagai sebuah media nasional yang besar, kompas sudah memiliki reputasi besar dibidang jurnalisme dikalangan pembaca koran terutama di indonesia. latar belakang dan “kebesaran” nama kompas ini yang membuat sebagian orang tidak ragu dengan hal-hal bawaan kompas seperti kompas.com, kompasiana, hingga termasuk didalamnya cerpen yang tiap minggu mengisi lembaran khusus di hari bertanggal merah tersebut. walaupun sesungguhnya dalam pandangan saya latar belakang jurnalisme mumupuni yang ternama dalam diri kompas bisa mempengaruhi bahwa cerpen pilihan kompas merupakan deretan terbaik sehingga mendistorsi cerpen-cerpen lain. namun bisa disimpulkan bahwa deretan naskah dalam kumpulan cerpen kompas dalam 20 tahun terakhir ini adalah yang terbaik yang pihak kompas pilih.

mythonomia kumpulan cerpen kompas, seharusnya tidak dipandang sebagai kumpulan terbaik dari yang terbaik di indonesia tapi terbaik dalam subjektifitas “juri” kompas itu sendiri, dan tentu saja tak lepas dari nama-nama besar yang megiringi kebanyakan nama yang termaktub dalam kitab cerpen ini setiap tahunnya. boleh saja mengatakan bahwa cerpen pilihan kompas adalah terbaik, namun harus diingat bahwa mitos terbaik dari kompas sesungguhnya harus kita reduksi sebagai bagian dari perkembangan dunia sastra terutama cerpen.

mitos-mitos ini bukan tanpa alasan, karena secara tidak langsung mythonomia ini sengaja diciptakan, terlihat dari buku-buku kumpulan cerpen kompas hingga pernyataan beberpa sastrawan, seperti kata-kata nirwan dewanto dalam cerpen pilihan kompas 1993, “harus kita akui bahwa cerpen-cerpen terbaik indonesia dalam lima tahun terakhir ini muncul di kompas dan matra, bukan di (majalah sastra) horison. sunggu mengagetkan, begitu kita menyadari tiba-tiba, bahwa ‘kesehatan’ sastra kita tergantung pada redaktur cerpen itu”. saya tidak sedang mau melawan atau dalam posisi yang berhadapan dengan kritikus senior yang sudah punya nama macam nirwan dewanto, tapi saya berada dalam posisi besebrangan dengan pendapatnya.

seolah mitor-mitos itu sudah dibaptis sejak tahun 1993 sehingga setiap tahunnya menunggu cerpen pilihan kompas seperti menunggu kelahiran “anak dewa” yang membuat orang berdebar-debar siapa mereka yang terbaik di tahun ini. pernyataan tersebut seperti di amiin-i oleh binhad nurohmat, menurut binhad ada dua mainstrem (tradisi cerpen koran) dari tradisi sub-genre cerpen indonesia, yaitu tradisi “cerpen koran” republika dan kompas yang sosial-realis (dengan tokoh seno gumira ajidarma, joni aridinata dan agus noor sebagi tokoh dan tonggaknya) serta tradisi media indonesia dan tempo yang alternatif dalam keliaran gagasan alternatif dan segi pencitraan dan eksplorasi bahasa cerpen korannya (hudan hidayat dan phutut ea adalah “generasi baru”nya disini).

pernyataan nirwan dan binhad tentu saja seperti generalisasi otoriter terhadap perkembangan cerpen-cerpen dalam sastra indonesia. tentu saja patut di duga bukan hanya pernyataan beliau berdua saja yang membuat mythonomia “kumpulan cerpen kompas” sehingga menimbulkan canonisasi sastra baik secara langsung maupun tidak langsung serta baik secara sengaja maupun tidak sengaja. canon sastra ini sepertinya telah membuat jarak dan dinding tentang sipa gold, siapa silver dan siapa yang bronze.

dalam dunia kepenulisan dikenal dengan politica litencia atau dalam bahasa sederhana bisa kita tafsirkan yaitu kebebasan menulis atau dalam bahasa lebih luas, setiap orang punya ciri dan gaya khas dalam proses kepenulisan dan menciptakan tulisan. dan dalam dunia kepengarangan beberapa pengarang sangat yakin akan “substansi” sastra, yang konon universal dan apolitis (bebas-nilai) serta abdai. namun penilaian dalam kepengarangan juga ditentukan oleh apa yang dinamakan subjektifitas tanpa kriteria, hingga nilai kepengarangan dan sastra dinilai dari publikasi dan kritisasi media. hingga memiliki daya publikasi lebih besar. sehingga nilai sastra terreduksi seperti prinsip ekonomi, bukan soal rasa tapi soal promosi, dan promosi yang diciptakan oleh media memiliki pasar lebih besar, inilah yang secara tidak langsung menimbulkan trah dalam dunia kepenulisan.

trah adalah tingkatan, atau lebih dikenal dengan canon, canon berasal dari bahasa yunani kuno yang berarti buluh atau tongkat, yang berguna sebagai alat pengukur. dan dalam tahap selanjutnya memiliki tambahan “peraturan” dan “hukum”. sehingga dikemudian hari istilah canon memiliki arti sleksi untuk memilih pengarang yang karyanya pantas untuk diabadikan. dan dalam hal ini cerpen pilihan kompas telah menjadi mythonomia tersendiri dalam canon sastra di indonesia.

bila kita melihat lebih jauh kebelakang jauh sebelum cerpen pilihan kompas muncul 2 dekade lampau, pertanyaan besar muncul kenapa nama-nama kaliber maxim gorky, james joyce, virginia wolf, george orwel, paul eluard, jose luis borges hingga pramodya ananta toer tidak berhasil mendapatkan nobel di bidang sastra? maka jawabannya muncul dari jean paul srtre pada tahun 1964, nobel yang diberikan padanya dia tolak, karena dia merasa pablo neruda dari chili dianggap lebih pantas. benar saja anggapan bahwa pemenang nobel adalah orang liberal dan anti komunis bisa danggap benar, karena pablo neruda yang harusnya menjadi pemegang nobel sastra 1964 akhirnya dikalahkan karena dia anggota partai komunis chile.
maka kemudian akan muncul pertanyaan kenapa presiden penyair indonesia itu sutardji zoluzum bachri dengn “mantra”nya bukan w.s rendra dengan “blues untuk bonie”nya dan kenapa sang penyair romantis itu sapardi djoko damono bukan umbu landu paringgi? hingga pertanyaan kenapa cerita silat kho ping ho yang legendaris tidak ada di deretan rak-rak buku sekolah?

memang dalam konteks sastra indonesia yang berbudaya “timur” seorang pembaca belum bisa memisahkan antara penulis dan tulisan, sehingga tidak bisa dipaksa untuk semata-mata membaca teks dan konteks tanpa mempertanyakan siapa pengarangnya. maka anggapan yang timbul dari cerpen pilihan kompas tidak hanya sebuah usaha untuk memajukan perkembangan sastra nusantara tapi juga mythonomiabahwa kumpulan cerpen kompas jalan menuju kanonisasi sastra bisa saja di-iya-kan.

dapat dimaklumi dalam proses filterisasi sangat sulit menemukan mekanisme penjurian yang benar-benar meminimalisir unsur-unsur subjektifitas “selera sastra” masing-masing juri. karena rambu-rambu dalam penjurian sangat sulit digaris bawahi, maka akhirnya proses “penjurian” cerpen pilihan kompas bisa ditafsirkan “tanpa kriteria” seperti yang dituliskan dalam prakatan cerpen pilihan kompas 1993: “kami percaya bahwa setiap manusia memiliki sejenis estetika yang entah diperolehnya darimana, karena itu kami tidak menganut satu jenis estetika tertentu, tapi membenturkan estetika-estetika yang ada pada masing-masing penyeleksi”.
lepas dari itu nama-nama yang terukir dalam cerpen pilihan kompas setiap tahunnya yang kebanyakan nama-nama senior dan orang-orang lama, kita bisa baca cerpen-cerpen itu memang memiliki nilai tersendiri, dan saya ucapakan selamat kepada 18 nama penulis yang diabadikan di tahun ini. utamanya kepada beberapa kompasianer yang masuk dalam B-18 di tahun 2011 ini. inilah mereka,

Ke-18 cerpen terbaik itu adalah: 1. Pengunyah Sirih karya S Prasetyo 2. Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap karangan Timbul Nadeak 3. Ada Yang Menangis Sepanjang Hari, karya Agus Noor 4. Kue Gemblong Mak Saniah, karya Aba Mardjani5. Menjaga Perut, karya Adek Alwi 6. Di Kaki Hariara Dua Tahun Kemudian, karya Martin Aleida 7. Sepasang Mata Dinaya Yang Terpenjara karya Ni Komang Ariani  8. Klown Dengan Lelak Berkaki Satu, karya cerpenis Ratna Indraswari Ibrahim  9. Solilokui Bunga Kembajo, karya Cicilia Oday 10. Sonya Rury, karya Indra Tranggono 11. Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku, karya Herman RN 12. Ordil Jadi Gancan, karya Gde Aryantha Soethama 13.Rongga karya Noviana Kusumawardhani 14. Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma 15.Lebih Kuat Dari Mati, karya Mardi Luhung 16. Ikan Terbang Kufah karya Triyanto Triwikromo 17.Sirajatunda, karya Nukila Amal 18. Terakhir cerpen karya Budi Darma berjudul Pohon Jejawi.

cetak tebal   : teman-teman kompasianer

sekali lagi selamat kepada ke-18 penulis, semoga karya-karya beliau-beliau ini menjadi pelecut anak-anak muda indonesia untuk terus berkarya, dan suatu saat nanti mengantika mereka yng sudah senior dengan kualitas lebih baik, dan semoga usaha kompas untuk berperan menjadi bagian dari perkembangan demi kemajuan sastra indonesia tak berhenti hanya sebatas penerbitan kumpulan cerpen pilihan kompas saja.
Read More...