Jumat, 16 September 2011

Catatan Sepi di Titik Nol

29 comments
ilustrasi saja
ini pertengahan bulan september, artinya sudah dua bulan saya membiarkan blog ini teronggok tak terurus, tiba-tiba rasa bersalah itu muncul, saya kehilangan teman berbagi, karena sejak dulu tempat berbagi paling asik dan menyenangkan adalah menulis, dan blog ini menemani tiap jejak tulisan saya sehari-hari, walau sebagain besar tulisan-tulisan di masa lampau saya unpublishd  hanya sekedar untuk menyembunyikan masa lampau yang berbeda kisah. hari-hari terakhir ini saya menghabiskan banyak buku, dari "agama saya jurnalisme" karya andreas harsono, catatan-catatan harian terbitan LP3ES seperti soe hok gie dalam "catatan seorang demonstran" dan kumpulan pemikiran ahmad wahib "pergolakan pemikiran islam" yang banyak menuai kontroversi itu. terakhir saya menyelesaikan buku biografi J. Paul srtre, seorang yang menurut saya luar biasa sebagai seorang penulis. membaca biografi sederhana srtre seperti membawa saya pada fragmen masa lampau, masa dimana saya mengalami masa kecil yang hampir tak jauh berbeda dengan sartre.

tengah malam tadi saya menghabiskan sedikit waktu luang saya di titik nol kilometer jogja, hal yang sejak setahun lampau adalah tempat paling mengasikan untuk berbagi tawa. duduk lesehan di trotoar beralas tikar robek di angkringan milik ibu-ibu gendut yang terlihat semakin menua, lesehan ini adalah salah satu tempat paling memorial dalam perjalanan saya sebagai seorang mahasiswa dan blogger, tempat berkumpul dalam kesedrhanaan dan egaliter bersama kawan-kawan blogger jogja saat kopdar. tawa, ceria, keramaian serta kegilaan tertuang menghiasi malam-malam dimala lalu. tawa itu kini mulai tak terdengar lagi, senyum lebar itu kini kian menipis. malam tadi terasa amat sangat sunyi, sunyi bukan saja karena memang itu malam jum'at dan tidak banyak orang di titik nol, tapi juga sunyi dalam arti kegilaan yang meredup hilang.

menyisakan 3 orang 3 teh hangat 5 gorengan 1 sate kerang dan 2 arem-arem. menghiasi sisa obrolan penuh diam semalam. terasa lebih sunyi dari biasanya. sepi atau sendiri sebenarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari buat saya, tapi saya tidak mengerti kenapa sepi kali ini terasa sangat berbeda. apakah bener kata seorang teman yang sedang berjuang mencari serat centhini itu, bahwa mungkin satu plot cerita dari buku 5cm bisa dimaknai dan diterapkan, ah saya merasa akan sangat rindu atau saya perlu meng-iya-kan argumennya. tapi, lihat saja nanti, waktu memberi jeda untuk sebuah jawaban karena waktu tak pernah memberi jawaban.

malam tadi tentu bukan malam-malam 1 tahun lalu, sepi kali ini harusnya dirayakan. banyak sudah yang berubah dalam dimensi lembar tikar sobek di atas trotoar depan gedung bank indonesia. banyak kemajuan dan perbuatan yang dicapai, banyak peserta duduk dan peserta tawa yang yang telah membuat dirinya ada di dalam dimensi kemajuan dan saya masih duduk ditempat yang sama tanpa perubahan. entah kenapa malam itu saya merasa tikar yang saya duduki seperti mendaulat orang-orang bersila sebagai para pegiat sosial, atau kini saya justru mencari keriunduan untuk sekedar berbagi tawa, sekeder menggila, berbicara dalam bahasa sederhana.

sungguh sepi seperti tak pernah serumit ini, tak sesesak ini, dan tak semistis ini. seorang kawan sambil menyeruput teh hangat berujar, "de javu kah" mungkin iya, tapi saya rasa saat ini bukan setahun lalu, saat ini bukan saat bertemu untuk tertawa dan bergembira. lain kali kita mungkin akan kembali menggila tapi tidak dalam waktu dekat ini, entahlah kapan, mungkin sampai ada satu moment di mana Tuhan akan mengijinkan sebuah pertemuan. ah kini sudah banyak yang jadi orang-orang waras.
Read More...

Kamis, 08 September 2011

Sehisap Sesruput

Leave a Comment
kamar-isolasi.blogspot.com

sebotol tequila dan selinting ganja tak cukup menenangkanku malam ini. kamar mulai penuh asap putih menggelembung dan cipratan air tak bertuan. penat mengurai waktu tersisa, berwisata kemasasa yang lama, waktu dimana putarannya penuh noda, gelimang duka tak tertutup rasa suka. ku ingin pergi meninggalkan sebaris luka, untuk kau yang kucinta, untuk mereka yang bergelut berselimut nestapa. hadir diseiap mimpi anak-anak jalanan, sekedar bercengkrama berjuang untuk sesuap makanan. tetes darah menjadi hal lumrah untuk disaksikan di panggung peradaban. dan jalan kehidupan tak pernah lepas dari sebuah pertunjukan sandiwara anak-anak manusia.

ikan-ikan yang lebih kecil secara bergerombol menyerang menerkam dan memakan dengan mencabik-cabik ikan yang lebih besar, besar tanpa keberanian adalah mangsa para pemberani walau lebih kecil.  dihabisi dikuliti, hingga tak bersisa walau sebatang duri dan sebutir kepala. sebuah pelajaran dari para ikan di akuarium yang mulai keruh. seekor kecoak habis dikroyok semut saat dia terbalik tak berdaya, antene yang dimiliki menjadi tak punya arti, tubuhnya yang terbalik membuatnya tak lebih sebuah batu diam, tubuhnya hancur menjadi santapan semut, kecoap memiliki kecepatan dan pengamatan, tapi dia tidak pernah bisa kembali dan berbalik, optimis yang membunuh. cicak bergriliya mengincar nyamuk dengan penuh ketenangan dan sigap, hanya bisa diam di tembok incarannya adalah makhluk terbang, cicak hanya butuh ketenangan untuk membuat dirinya bertahan hidup.

hisap ganja malam ini, buat dirimu terbang dalam batas yang tak pernah dilarang, ciptakan ketenangan dan ringankan tenggorokan dengan sebotol tequila. nikmati saja hidup malam ini di kamar penat yang berantakan, bersama tragedi dalam akuarium, tragedi di sudut kamar, tragedi di atap dekat lampu. saat ganja itu habis, saat tequila mencapai tetes terakhir, rebahkan diri dal dekap dingin malam penuh kerinduan, aku merindukanmu Tuhan.
Read More...