Rabu, 28 Desember 2011

selamat ulang tahun wi


lilin dari jogja, selamat ulang tahun wi

Selamat ulang tahun wi, lama kita tak saling bicara walau itu hanya lewat sepanggal kata di layar. Kita justru terakhir bicara tat kala kau datang mengunjungi  jogja. Walau sebenarnya kala itu kau enggan berjumpa. Seperti kawan lama yang datang bersua, seperti itu rasa mengenang ulang tahunmu. Kita tak pernah merayakannya bersama. Hanya saja ucapa selamat ulang tahun untuk seorang kawan wajib rasanya untuk disampaikan walau dengan cara sederhana. Tak ada kado atau hadiah sebagai bentuk ucapan sambung rasa. Hanya sebaris doa terlantun untunk engkau kawan. tak banyak sebaris saja, tak juga rumit begitu sederhana. tentang pertemanan kita yang berawal dari dunia maya. ah apa kabarmu kini wi

Mengenang kembali awal perkenalan kita saat berdebat tentang arti  dan makna nama kita, atau saat kita bersepakat untuk saling memanggil dengan nama belakang, tiwi begitu aku memanggilmu. Apa kabar ulang tahunmu kini? Sepertinya ulang tahunmu kini terasa lebih ringan dari tahun-tahun sebelumnya, kini rasa hatimu mulai lepas dari beban seseorang yang terus membayangi dan membuatmu merasa bersalah, ulang tahunmu kini tak lagi ditemani tetes air mata dan beban pikiran tentang syarat-syarat kelulusan dari satuan pendidikan.

Sebenarnya aku berharap kau akan mengajaku sekedar makan-makan di pinggir jalan, ah tak apa itu hanya utopia saja. Akau sadar itu tak mungkin terlaksana, yang penting kau bahagia, sudah lebih dari cukup untukku sebagai kabar berita. Di tulisan ini tak kusertakan doa untukmu, tak juga kumuat kata-kata indah seperti di kata-kata ucapan selamat ulang tahun untukmu tahun lalu. Di deret tulis ini mewakilkan ucapan yang tak sempat tersurat lewat pesan singkat dan pesan dinding, aku harap kau baik-baik saja, sehat dan bahagia

Wi, sebagai seorang kawan aku meindukanmu, merindukan renyah tawa, atau duet hancur kita di kala malam. teriring doa tak ada lagi air mata kepedihan mengalir dari matamu, kalaupun air mata itu menetes yakinlah ada mentari yang akan hadir menjadikan bulir air itu menjadi pelangi. jika kau jatuh dan terpuruk ingatlah aku, mungkin saja aku bisa mengentaskanmu dari keterpurukan itu. saat kau senang lupakanlah aku, bila kau takut aku akan merusak kebahagiaan yang kau jalani. Sekali lagi selamat ulang tahun kawan...
telisik lebih dalam...

Minggu, 11 Desember 2011

(Nominator GVlog) Hikayat Odha di Pulau Dewata

Sebuah Bus berwarna putih kertas meluncur pelan,  ikut merayap dalam keramaian lalu lintas Denpasar. Di sekitar jalan Tukad Buaji yang sempit, tak jauh dari belokan terakhir sang sopir mengejak pedal rem. Rombongan AusAID turun dari kendaraan, mereka adalah 10 blogger, 3 orang dari AusAID, 1 orang HCPI, 1 orang dari yayasan Spiritia, dan tentu saja 2 orang dari vivanews. Bang Dani berjalan didepan, berperan sebagai penunjuk jalan, melangkahkan kaki menyusuri gang Lotus. Langkah kaki terhenti di sebuah rumah sederhana bernomer 30, dengan sebuah papan kecil di atas jendela bertuliskan “Yayasan Spirit Paramacita”. Sesampai  di beranda rombongan disambut oleh para anggota dan pengurus yayasan yang dulu bernama “Bali Plus” ini, tak butuh waktu lama untuk  membuat suasana menjadi cair dan bersahabat.

“selamat datang di pulau bali, dan selamat datang di bali plus” ucap perempuan cantik dengan pakaian batik menyambut kedatangan rombongan AusAID

Pada awalnya Yayasan Spirit Paramacita bernama Bali+ (bali plus), plus berarti positif dan diartikan dalam dua makna , Poritif HIV dan tetap memiliki pandangan positif untuk masa depan. Yayasan ini diinisiasi oleh 6 orang ODHA pada tahun 2001, tujuannya untuk saling memberi motivasi dan berbagi antar sesama ODHA yang terkadang dijauhi oleh beberapa komunitas masyarakat akibat stigma yang melekat pada orang dengan HIV.

“beban terberat ODHA adalah tekanan sosial, yang berakibat pada tekanan psikologis, ini yang sangat memberatkan ODHA, bukan sekedar fisik, karena kalau fisik ODHA tidak ada bedanya dengan yang lain” jelas Putu Utami salah satu dari kelompok penggagas.


Bisa dibilang Yayasan Spirit Paramacita adalah salah satu kelompok yang berhasil menggalang dukungan, bantuan serta berbagi motivasi, bahkan juga edukasi, baik tentang perlawanan terhadap bahaya HIV dan dukungan terhadap orang dengan HIV.Dibawah kelompok penggagas ini, terdapat kelompok-kelompok sebaya, seperti HOMBOYS dan WARCAN, kelompok-kelompok in berperan dalam pengorganisasian komunitas, dengan adanya kelompok sebaya maka memudahkan penjangkauan kampanya sampai akar rumput pada populasi kunci. Yang dimaksud populasi kunci yaitu komunitas dan kelompok masyarakat yang rawan tertular HIV, seperti PS (pekerja seks), waria, pelanggan, Penasun (Pengguna Narkoba Suntik), dan lain sebagainya. 

di KPAP Bali (foto @Eko Nugroho)

Bali+ tidak hanya bergerak pada kelompok sebaya dalam komunitas-komunitas, tapi juga berperan dalam kelompok sebaya di tingkat daerah seperti kabupaten. Dari sembilan kabupaten di sudah terdapat kelompok sebaya di enam kabupaten, beberapa diantaranya berhasil menjadi contoh bagus. Seperti di Singaraja yang dimotori oleh orangtua ODHA, Jembrana yang digawangi para kader Desa, dan salah satu yang mendapat raport bagus di mata Bali+ ada di kabupaten Tabanan.

Keberhasilan-keberhasilan yang dicapai Yayasan Spirit Paramacita, tidaklah berjalan mulus. Dilapangan masih saja banyak hambatan-hambatan yang muncul. Beberapa diantaranya seperti stigma buruk terhadap ODHA yang masih belum sepenuhnya dihilangkan.  Seperti yang terjadi di Gianyar ada tiga jenazah yang mengalami kesuliatn dalam prosesi pemandian, dikarenakan warga setempat masih takut akibat stigma yang melekat pada ODHA. Selain itu kesulitan-kesulitan lain seperti susahnya akses dokter anak seperti di utarakan Putu Utami

Namun susahnya dokter anak ini disanggah oleh Dr. Kt. Subrata dari dinas kesehatan,

“sekarang pemerintah mengaktifkan PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmision) di rumah sakit seperti di sanglah, ini memudahkan akses dokter-dokter anak” ujar dokter ketut

Tapi data mencengangkan berbicara soal penanganan HIV pada anak-anak. Data ini disampaikan oleh Drh. Made Suprapta dari KPA (Komisi Penanggulangan Aids) Bali per september 2011. Ada 83 anak usia 1-4 tahun, 10 anak 5-14 tahun, dan sebanyak 44 anak dibawah 1 tahun.  Ada sekitar 137 anak terinveksi virus HIV. Melihat jalur-jalur penularan HIV yang didominasi oleh hubungan seks dan Narkoba jarum sunitik, jelas bahwa anak-anak tidak tertular lewat jalur ini. kemungkinan besar adalah lewat jalur Perinatal (Ibu ke janin). Artinya adalah masih kurangnya edukasi pada ODHA yang berniat memiliki anak, supaya anak-anaknya tidak menjadi ODHA. Danny Yatim dari HCPI (HIV Coorporation Program for Indonesia)menjelaskan tingginya presentase jalur Perinatal

“Ada 33% penularan HIV lewat interaksi ibu ke janin, ini tinggi akibat rendahnya eduksi padaODHA itu sendiri”  ujar Danny tegas.

Itulah sebabnya edukasi tetap memegang peranan penting dalam memutus mata rantai penularan virus HIV. Tidak hanya dari ibu ke janin, tapi juga pada jalur-jalur lain seperti, IDU atau Penasun, hubungan seks lawan jenis ataupun sejenis seperti MSM (gay).

Dalam program kunjungan rombongan AusAID tidak hanya bertemu dengan stakeholder yang ada seperti KPA (komisi Penanggulangan AIDS) dan Dinas Kesehatan, serta yayasan-yayasan yang peduli HIV/AIDS. Tapi juga mengunjungi tempat-tempat penanganan dan konseling HIV seperi Kisara-PKBI dan puskesmas kuta serta klinik. Bahkan diajak langsung melihat titik-titik populasi kunci, seperti lokalisasi sekitar Ubung dan kehidupan malam di Seminyak

***

Fokus edukasi tentang HIV memang tetap berpegang pada dua hal utama, pencegahan penularan dan menghapus stigma buruk pada ODHA. Dan ini bukanlah pekerjaan mudah serta juga bukan tanggungjawab satu fihak. Disini semua berperan tidak hanya urusan pemerintah lewat dinas hingga program trans-nation seperti program AusAID lewat HCPI. Justru dari  akar rumput seperti kelompok sebaya, organisas-organisasi, komunitas, bahkan kelompok kepemudaan.

Di Bali sebenarnya sistem cekal (cegah tangkal) penularan virus HIV sebetulnya sudah berjalan baik, bahkan mungkin salah satu yang terbaik di Indonesia. Tidak hanya pemerintah saja disini, tapi juga kerjasama antar pemerintah seperti program AusAID. Ini bukti bahwa HIV bukan sekedar masalah satu negara saja tapi sudah menjadi masalah global, hingga dalam penanganannya perlu adanya kerjasama antar negara.

Dimulai dari pencegahan di tingkat akar rumput dengan pembagian kondom gratis dan pembagian jarum suntik steril. Dua hal ini bukanlah melegalkan sex bebas dan penggunaan narkotika, tapi sebagai proses pencegahan awal di titik pertama. Tapi tetap pencegahan utama adalah edukasi untuk tidak melakukan prilaku beresiko.

“kondom dan jarum suntik steril, dibagikan pada pupulasi kunci untuk mengurani prilaku beresiko, ini penting pada pencegahan di awal, dan itu tetap dilakukan walau masih tersendat, seperti jumlah jarum suntik yang dikembalikan masih jauh lebih sedikit dari pada yang disebarkan, selain tentu saja program Methadone” ujar dr. Elly dari puskesmas kuta satu dengan nada prihatin.

Untuk menembus akar rumput dalam edukasi, jelas pemerintah susah masuk. Cara terbaik adalah masuk lewat komunitas, disinilah komunitas-komunitas berperan. Peran komunitas sangatlah penting dalam hal ini, karena terkadang populasi kunci memiliki ikatan khusus dalam komunitasnya. Arya misalnya dari GAYa Dewata menuturkan, masih ada kesulitan dalam melakukan edukasi pencegahan seperti pemakaian kondom, ini karena hal itu menyentuh privacy masing-masing. Tapi buat A yang merupakan aktivis di HOMBOYS dan WARCAN, punya peraturan lain. Ini dikarenakan anggota HOMBOYS  dan WARCAN berada pada populasi kunci paling beresiko, karena kebanyakan PS (Pekerja Seks), mereka diwajibkan tindakan “perlindungan diri” bagi anggotanya dan ada sanksi.


yayasan kerti praja (foto @Eko Nugroho)


Selain peran komunitas di gerbang awal, ada juga peranan pemerintah. Di Bali komitmen pemerintah cukup tinggi, ini dilihat dari “Komitmen Sanur” tahun 2004. Komitmen ini berisi 9 komitmen pemerintah dan juga 7 prioritas rencana 2008-2011, dari mulai pencegahan, perawatan, hingga pada kesinambungan penanggulangan dan pada akhirnya berfokus pada satu titik menghentikan penularan HIV. Untuk itulah pemerintah Bali mempermudah akses VCT (Voluntary Counseling and Testing- tes dan konseling sukarela). Ini sebagai langkah awal, dan bisa dilakukan dibanyak tempat di Bali terutama Denpasar, dari Klinik Kisara-PKBI, Klinik yayasan seperti di Kerti Praja, dan juga puskesmas.

Seandainya terbukti “reaktif” terduga akan dirujuk seperti ke RS. Sanglah untuk melakukan tes CD4 (sel darah putih). Selanjutnya  jika melalui tes darah ada bukti terkena HIV, pemerintah Bali memudahkan akses ARV (Anti Retrovial Drugs). ARV sebenarnya gratis, namun terkadang susah di akses, namun di  Bali cukup mudah di dapatkan.

***

Seperti diungkapkan diatas, masalah HIV tidak hanya masalah sebuah negara saja tapi juga menjadi permasalahan dunia. Itulah kenapa pemerintah Australia menjali kerjasama dengan Indonesia dalam penanganan HIV melalui program AusAID, dengan fokus utama di Papua, Papua Barat, dan Bali, selain tentu saja daerah-daerah lain di Indonesia. Dan di Indonesia dalam penanganan HIV/AIDS, fihak AusAID mendelegasikannya lewat HCPI.

Australia memberikan komitmen hingga A$100juta dalam kemitraan Australia untuk HIV 2008-2015, untuk mengurangi penyebaran HIV dan peningkatan kualitas hidup ODHA. Utamanya di bali lewat HCPI AusAID membantu berbagai program seperti yang digalakan di Puskesmas Kuta, yayasan spirit paramacita, yayasan kerti praja, dan berbagai program lain di KPA.

Prinsip kerjasama ini, berdasarkan pada komitmen jangka panjang dan sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia. Selain itu berjalan pada semua level dari daerah hingga nasionalserta berfokus pada wilayah tertentu yang benar-benar membutuhkan.

Hal ini menunjukan bahwa teman-teman ODHA tidaklah sendiri, begitu banyak orang yang peduli. Namun terkadang stigma yang ada dimasyarakat hingga memunculkan diskriminasi  membuat teman-teman ODHA cendrung menutup diri. Itulah kenapa fokus utama dalam penanggulangan HIV/AIDS tidak saja pada pencegahan penularan tapi juga pada penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Jauhi virus-nya  rangkul teman-teman ODHA.




telisik lebih dalam...

Jumat, 25 November 2011

(GoVlog) Odha Sahabat Kita

Chanda hanya bisa terdiam membisu disamping ibunya yang terus terisak, tak ada yang bisa dilakukan gadis kecil itu didepan adik kecilnya yang terbaring lemas tanpa nafas. air matanya sudah kering, dan matanya menatap kosong meja logam tempat dimana sang adik terbaring dengan penuh tanya. Namun, Chanda memiliki tanggung jawab terakhir yang istimewa, yaitu mempercantik sang adik di hari terakhirnya di dunia. Ia mencoba tegar dan merias bayi mungil itu dengan seadanya, mendandaninya dengan pakaian terbaik yang tersedia serta ia pula yang meletakannya dalam peti sederhana dari kayu berwarna coklat. gadis 12 tahun ini menunjukan ketangguhan diri dan kedewasaan menghadapi kengerian situasi yang harus dia alami. 

Mari lindungi Odha, dan jadikan mereka juga bagian dari kita, kamu tidak sendiri.
( Foto ilustrasi : copyright shutterstock)

Itulah sepenggal kisah, sebuah cuplikan frame dari film berjudul "Life, Above All", film yang didedikasikan untuk anak-anak yatim akibat AIDS dan ber-setting di Afrika Selatan. Film yang diadaptasi dari novel berjudul "Chanda's Secret" karya penulis asal kanada Allan Stratton. karya dari sutradara Oliver Schmitz dan naskah skenarionya ditulis oleh Dennis Telepon serta Schmitz sendiri. Sebenarnya tidak hanya menyajikan kisah sedih saja, namun justru di dominasi oleh perjuangan dan kisah inspiratif persahabatan Chanda dan Esther. Esther dikisahkan seorang anak yang tinggal sendiri karena semua anggota keluarganya meninggal karena AIDS, dalam ketakutannya itulah Chanda hadir sebagai sahabat yang tetap akan menggenggam erat tangannya walau apapun yang terjadi. sikap Chanda adalah sebuah inspirasi keteguhan dan perjuangan seorang anak berusia 12 tahun melawan stereotip dan prasangka masyarakat, bagaimana dia melindungi sahabat dan keluarganya dari tuduhan-tuduhan menyakitkan. Film ini menceritakan sebuah kisah ketahanan tanpa klise tentang kemenangan semangat manusia atau tanpa janji-janji palsu tentang masa depan yang tak berawan.

Kisah seorang tokoh "Chanda" sebenarnya tidak hanya hadir dalam film "life, Above All" ataupun novel "Chanda's Secret". Namun, juga hadir dalam diri kebanyakan orang indonesia yang peduli HIV/AIDS.  Siti Nurdjana Solatif misalnya, yang sejak tahun 1998 memutuskan menjadi relawan penderita AIDS tidak hanya merawat numun juga memberi motivasi dan perhatian. Siti juga menjadi salah satu inisiasi Jayapura Suport Group (JSG) yang setiap senin sampai minggu meluangkan waktu untuk memberikan perhatian dan cinta kasih pada teman-teman Odha. Karena sebenarnya Odha tidak harus -malahan dengan tegas dikatakan- tidak boleh dikucilkan, mereka sama saja seperti kita-kita, seperti kebanyakan orang hanya saja "ketitipan" suatu penyakit yang cukup berat. teman-teman Odha tidak harus ditinggalkan malah harus didekati, sayang sekali anggapan masyarakat yang menganggap penyakit ini penyakit kotor belum juga bisa di eliminir seutuhnya.

Sebuah wacana bahwa istilah kata "Odha" bukan singkatan atau akronim tapi kata yang mengacu kepada Orang dengan HIV/AIDS sehingga tidak semua hurufnya kapital. Istilah ini sendiri dianjurkan oleh Prof Dr Anton M. Moeliono, ketika itu Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, kepada aktivis YPI al. Husein Habsyi dan alm. Suzana Murni (16/11-1995). Menurut Prof Anton pemakaian kata Odha lebih netral dan dinamis daripada menyebut penderita, pengidap, korban, dll. (Syaiful W Harahap/kompasiana).

Tentu saja anggapan bahwa HIV/AIDS sebagai penyakit "menjijikan" masih saja ada di masyarakat, meski dengan kampanye yang dilakukan akhir-akhir ini anggapan tersebut bisa mulai tergerus namun masih belum sepenuhnya terhapus. Kesimpulan pendek tersebut terkadang di ambil dari kisah  tertularnya teman-teman Odha yang didominasi sex bebas dan narkoba. Namun sesungguhnya ada juga yang mengidap bukan karena narkoba maupun perilaku sex menyimpang. Seperti yang di tuturkan Nancy, teman saya di relawan kanker anak Rumah Sakit Sardjito, yang juga jadi relawan di SPAY (Solidaritas Peduli HIV/AIDS Yogyakarta). menurut Nancy, ada juga yang mengidap HIV/AIDS saat jadi relawan gempa dan tertular dari korban gempa ketika melakukan penanganan medis.

Perjuangan untuk mencegah pandangan buruk masyarakat tentang AIDS bahkan sudah digalakan sejak 80an. sebuah film berjudul "AIDS Phobia" yang diproduksi tahun 1986 dan dibintang Jamal Mirdad serta disutradarai Abenudin SE. film ini mengajak penontonya untuk lebih terbuka dan tidak membeda-bedakan teman-teman Odha. memang belum banyak film yang memuat tentang edukasi tentang AIDS diperfileman nasional saat ini, namun edukasi itu harus tetap kita kumandangkan.

Odha tidak selalu identik dengan lemah dan tak berdaya, tapi justru malah banyak juga Odha yang bisa survive dan bahkan bisa berprestasi. Deradjat Ginandjar misalnya,berhasil membuktikan bahwa dia mampu membawa harum nama bangsa di kancah internasional. Di ajang Homeless World Cup 2011 yang dihelat di Paris, Agustus lalu, Ginan meraih predikat sebagai pemain terbaik. Homeless World Cup 2011 adalah ajang sepak bola jalanan yang diikuti komunitas tunawisma. Pesertanya anggota komunitas yang kurang beruntung yang ada diseluruh dunia. Ginan adalah salah satu contoh Odha yang berprestasi, masih banyak Ginan-Ginan lain di sekitar kita yang mampu survive dan bahkan berprestasi lebih.

Apapun alasannya kita tidak berhak membeda-bedakan bahkan mengucilkan teman-teman Odha, mereka sama seperti kita. Mereka juga punya kesempatan dan kompetensi yang sama. Kita harusnya menjadi sahabat Odha, memberi dorongan dan motivasi. Sekaligus juga memberi edukasi kepada masyarakat, tidak hanya edukasi tentang HIV/AIDS itu sendiri tapi juga edukasi bahwa Odha juga bagian dari masyarakat yang harus kita dekati dan tidak boleh dihindari. Dengan itu kita bisa memberi motivasi kepada teman-teman Odha, bahwa kamu tidak sendiri.

Aziz Abdul Ngashim, Yogyakarta
sekian
telisik lebih dalam...

Jumat, 16 September 2011

Catatan Sepi di Titik Nol

ilustrasi saja
ini pertengahan bulan september, artinya sudah dua bulan saya membiarkan blog ini teronggok tak terurus, tiba-tiba rasa bersalah itu muncul, saya kehilangan teman berbagi, karena sejak dulu tempat berbagi paling asik dan menyenangkan adalah menulis, dan blog ini menemani tiap jejak tulisan saya sehari-hari, walau sebagain besar tulisan-tulisan di masa lampau saya unpublishd  hanya sekedar untuk menyembunyikan masa lampau yang berbeda kisah. hari-hari terakhir ini saya menghabiskan banyak buku, dari "agama saya jurnalisme" karya andreas harsono, catatan-catatan harian terbitan LP3ES seperti soe hok gie dalam "catatan seorang demonstran" dan kumpulan pemikiran ahmad wahib "pergolakan pemikiran islam" yang banyak menuai kontroversi itu. terakhir saya menyelesaikan buku biografi J. Paul srtre, seorang yang menurut saya luar biasa sebagai seorang penulis. membaca biografi sederhana srtre seperti membawa saya pada fragmen masa lampau, masa dimana saya mengalami masa kecil yang hampir tak jauh berbeda dengan sartre.

tengah malam tadi saya menghabiskan sedikit waktu luang saya di titik nol kilometer jogja, hal yang sejak setahun lampau adalah tempat paling mengasikan untuk berbagi tawa. duduk lesehan di trotoar beralas tikar robek di angkringan milik ibu-ibu gendut yang terlihat semakin menua, lesehan ini adalah salah satu tempat paling memorial dalam perjalanan saya sebagai seorang mahasiswa dan blogger, tempat berkumpul dalam kesedrhanaan dan egaliter bersama kawan-kawan blogger jogja saat kopdar. tawa, ceria, keramaian serta kegilaan tertuang menghiasi malam-malam dimala lalu. tawa itu kini mulai tak terdengar lagi, senyum lebar itu kini kian menipis. malam tadi terasa amat sangat sunyi, sunyi bukan saja karena memang itu malam jum'at dan tidak banyak orang di titik nol, tapi juga sunyi dalam arti kegilaan yang meredup hilang.

menyisakan 3 orang 3 teh hangat 5 gorengan 1 sate kerang dan 2 arem-arem. menghiasi sisa obrolan penuh diam semalam. terasa lebih sunyi dari biasanya. sepi atau sendiri sebenarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari buat saya, tapi saya tidak mengerti kenapa sepi kali ini terasa sangat berbeda. apakah bener kata seorang teman yang sedang berjuang mencari serat centhini itu, bahwa mungkin satu plot cerita dari buku 5cm bisa dimaknai dan diterapkan, ah saya merasa akan sangat rindu atau saya perlu meng-iya-kan argumennya. tapi, lihat saja nanti, waktu memberi jeda untuk sebuah jawaban karena waktu tak pernah memberi jawaban.

malam tadi tentu bukan malam-malam 1 tahun lalu, sepi kali ini harusnya dirayakan. banyak sudah yang berubah dalam dimensi lembar tikar sobek di atas trotoar depan gedung bank indonesia. banyak kemajuan dan perbuatan yang dicapai, banyak peserta duduk dan peserta tawa yang yang telah membuat dirinya ada di dalam dimensi kemajuan dan saya masih duduk ditempat yang sama tanpa perubahan. entah kenapa malam itu saya merasa tikar yang saya duduki seperti mendaulat orang-orang bersila sebagai para pegiat sosial, atau kini saya justru mencari keriunduan untuk sekedar berbagi tawa, sekeder menggila, berbicara dalam bahasa sederhana.

sungguh sepi seperti tak pernah serumit ini, tak sesesak ini, dan tak semistis ini. seorang kawan sambil menyeruput teh hangat berujar, "de javu kah" mungkin iya, tapi saya rasa saat ini bukan setahun lalu, saat ini bukan saat bertemu untuk tertawa dan bergembira. lain kali kita mungkin akan kembali menggila tapi tidak dalam waktu dekat ini, entahlah kapan, mungkin sampai ada satu moment di mana Tuhan akan mengijinkan sebuah pertemuan. ah kini sudah banyak yang jadi orang-orang waras.
telisik lebih dalam...

Rabu, 15 Juni 2011

Keajaiban Ngelanggeran

inilah petualangan kecil saya bersama beberapa kawan,

matahari pagi, memberi lebih dari sekedar kehangatan

dari pendopo di pos pertama, lima orang anak manusia menatap nanar ke udara. langit tak kunjung bersahabat, hujan deras menyapa sejak senja tiba. terpampang didepan deretan bukit berbatu berdiri angkuh menantang untuk direngkuh. tak ada pilihan lain kecuali beranjak naik walau grimis yang romantis terus berselancar dari angkasa.


mendaki dalam gemericik, dari grimis yang rintik

hujan menemani pendakian, dan airnya menelisik di celah-celah bebatun, menyatukan aliran. rintik hujan bergerak ritmik menjadikan suara gemericik menjadi orkestra indah menemani perjalanan melawan lelah. murninya air yang turun penuh kesegaran dan kesucian tanpa pernah terjamah tang-tangan berlumpur dosa.

angin menjadi sahabat perjalanan dan peristirahatan. hembusannya membuat dahan dan ranting menari, membuat daun-daun kanopi saling berbisik di tengah kesunyian malam. fisiknya tak terlihat tapi hempasannya ke arah wajah, menghilangkan semua kepenatan. terasa memberi energi luar biasa. wanginya menusuk laksana parfum memberi kesegaran tiada tara.


di sela-sela bebatuan, meniti celah kehidupan

jogja terlihat berwarna dari angkasa, kelap-kelip lampu kota seolah berbicara dalam kode-kode rahasia. merah, hijau, kuning dan jingga, adalah bahasa lampu kota kepada mata. kota yang terus bersengketa untuk satu kata bernama “istimewa” tetap terlihat jumawa, memberi pesan dengan kedipan cahaya kepada manusia.

kabut bergerak dari gunung ke arah kota. menghadirkan ilusi lautan di antara ngarai-ngarai di sela perbukitan. menutup pandangan memberi kesunyian. gerakannya yang tak berarah menghiasi kegelapan, fibrasi ilusi membuat cahaya-cahaya terdistorsi membaur dalam celah partikel, memberinya keajaiban malam yang monumental.




kebersamaan selalu diatas segalanya, api unggun saksinya

Tuhan selalu punya rahasia di awal dan menyiapkan keajaiban di akhir.

sekian
telisik lebih dalam...

Selasa, 31 Mei 2011

Erupsi Literasi di Kaki Merapi



erupsi merapi yang baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu masih terasa dampaknya hingga kini. bukan hanya materi vulkanik saat letusan seperti abu dan batu yang masih tersisa tapi juga hantaran lahar dingin yang tak kunjung berhenti hingga kini. matrial-matrial vulkanik masih bisa dilihat dan di saksikan di jogja bahkan hampir di setiap sudut kaki gunung merapi.namun erupsi merapi yang terjadi beberapa waktu lalu sebenarnya sudah di dahului oleh sebuah erupsi dahsyat dari akar rumput, erupsi ini bernama erupsi literasi. sebuah letusan kesadaran masyarakat lapisan bawah yang sadar bahwa pendidikan, kemampuan baca-tulis dalam hal ini adalah modal utama kemajuan individu yang pana pada masa depan menjadi kemajuan sebuah komunitas baik itu lokal maupun nasional.

letupan-letupan kecil di setiap sudut di wilayah kaki merapi sangat terasa, tak besar memang namun konsisten dan terus-menerus sehingga suatu saat nanti kawasan kaki merapi terutama yogyakarta yang terkenal dengan kota pendidikan bisa menjadi rujukan utama sistem pendidikan. hal ini tentu didasari pada keprihatinan akan kurangnya pendidikan pada anak-anak. hilangnya budaya membaca menjadi budaya menonton sungguh sangat kontradiktif, anak-anak yang hampir setiap hari dipaksa untuk menjadi penonton yang diam dan berjingkrak hingga lupa akan proses pembelajaran pada dirinya. dan tanpa disadari membuat anak-anak menjadi terbengkalai pendidikan.

hal-hal sederhana semacam inilah yang sepertinya melecut para pemuda-pemuda di kawasan yogyakarta untuk bergerak bagi lingkungannya, dari ruang sempit hingga lembar demi lembar buku untuk mengenalkan budaya literasi pada anak-anak di “pelosok” yang tidak tersentuh kue manis pendidikan yang berbudget 2triliun rupiah di negeri ini. gerakan-gerakan itu terlihat dengan nyata di sudut-sudut yogyakarta. dimana keinginan untuk membantu sesama sangatlah tinggi, erupsi tidak hanya terjadi pada merapi yang memuntahkan matrial vulkanik tapi juga terjadi di hati orang-orang hebat di tanah jogja, erpsi yang diletupkan berupa erupsi literasi, seperti perpustakaan-perpustakaan desa hingga berlanjut menjadi sanggar belajar.

jika bertanya, kenapa harus literasi? jawabannya adalah buku dan tulisan adalah jawaban dari setiap persoalan, tempat dimana kembali belajar dan mencari kemudian menuliskannya kembali untuk berbagi dan memberi. ini filosofi sederhana dari lierasi yang banyak di galakan teman-teman di kawasan kaki merapi, yogyakarta. sanggar-sanggar belajar berupa perpustakaan lokal ini mampu menghadirkan secercah harapan bagi masa depan yang lebih baik. lihat saja, contohnya ada “sekolah mbrosot” sebuah perpustakaan dan sanggar belajar di kawasan kulonprogo, ada juga “kolam bebek” sebuah sanggar belajar dengan tempat unik sepertu rumah eskimo, ada juga “rumah bambu” yang termasuk di dalam kota di pinggiran sungai winongo yogyakarta, hingga “studio biru” di kawasan perbukitan prambanan.

“Books are the plane, and the train, and the road. They are the destination, and the journey. They are home. kata Anna Quindlen dalam bukunya berjudul “How Reading Changed My Life” bagaimana Anna mengungkapkan bahwa buku adalah alat transportasi sekaligus tujuan dimana berlabuh. bukulah yang membuat kita mengerti banyak hal, untuk itulah pemberdayaan literasi secara swadaya menjadi letupan yeng terus bergejolak di tanah sang sultan. merapi boleh erupsi namun ada erupsi lebih besar di kaki merapi yaitu erupsi literasi. erupsi yang akan memunculkan orang-orang tanggu penjaga peradaban, dengan membaca maka akan menulis.

saya mungkin bisa sependapat dengan Jose Luis Borges yang bermimpi bahwa surga seperti perpustakaan, saya terima atau tidak bahwa jika kita masuk perpustakaan rasanya sulit untuk keluar, kenyamanan serasa berada dalam sebuah ruang penuh harta-karun dan buku seperti cinta mengaduk-aduk emosi manusia. untuk mengaduk emosi perlu menulis dan untuk menjadi penulis harus membaca. dan semuanya tidak harus selalu berasal dari ruang mewah bernama sekolah tapi bisa muncul dari ruang-ruang berdinding bambu namun penuh ke-ikhlas-an dalam berbuat.

sebagai kawasan kaki merapi jogja memang istimewa, tak salah bukan karena daerahnya tapi yang lebih penting karena orang-orangnya, banyak julukan untuk kota ini, dari kota budaya hingga kota pendidikan. saat demonstaru UU keistimewaan tidak ada anrkisme, orang-orang kreatif jogja justru melakukan kirab budaya di sepanjang kraton hingga malioboro, begitu juga di dunia musik seperti jogja hiphop fundation hingga acapela mataraman berkreasi, di dunia maya sindiran-sindiran keras berupa paspor berlambang kraton menohok dengan keras. tak perlu kekerasan tapi hanya butuh sedikit sentuhan kreatifitas.

begitu juga dengan erupsi literasi yang terjadi di jogjakarta, protes akan mahalnya pendidikan dan susahnya akses, bukan dilawan deng kekerasan tapi dengan berbuat yang nyata dari diri dan lingkungan sendiri. protes atas mahalnya dan susahnya akses pendidikan dilawan dengan membuat tempat-tempat belajar gratis dengan modal “hati” itulah mengapa sudut-sudut literasi sederhana di jogja berkembang pesat, bahkan selain yang disebutkan tadi di atas, ada juga “rumah pelangi” di sudut kaki merapi yang lain.

budaya lisan dan tulisan

Budaya literasi (baca-tulis) merupakan hal yang sangat penting untuk dipunyai manusia guna memajukan peradaban hidupnya. Mengakarnya budaya literasi akan membuat masyarakat terbiasa berpikir kritis dan melakukan telaah ulang atas segala hal yang ada di sekitarnya. sehingga dapat mencegah anrkisme berkelanjutan. Kenyataan itu memaparkan bahwa masyarakat kita masih belum terbiasa dengan budaya baca. Budaya lisan yang telah mengakar kuat belum bisa digantikan oleh budaya baca. Malah, kini ada budaya lisan baru bersifat audio visual, yang ditampilkan oleh televisi, yang nyatanya lebih disukai dibanding budaya mengolah informsai dari sumber bacaan tertulis. Ignas Kleden menyebutnya sebagai budaya kelisanan sekunder.

kita tak perlu menyalahkan siapapun atas “kebodohan kultural” ini, yang harus dilakukan sekarang adlah bergandengan tangan untuk memperbaikinya dai sudut terkecil yang bisa kita lakukan, itulah yang banyak di lakukan oleh para pemuda di kaki merapi. Walter Ong adalah salah satu yang membongkar kelemahan tradisi lisan dalam karyanya yang fenomenal, Literacy and Orality. Setiap peradaban tentu saja mewariskan pengetahuan dan kebijaksanaan. Kita tak perlu meragukan pengetahuan masyarakat Baduy yang tak melek huruf dalam melestarikan lingkungan. Kepakaran, yang dalam tradisi lisan diperoleh dengan mendengar, magang, mengingat simbol dan ilmu dalam bentuk syair, tetap tidak bisa disebut proses pembelajaran kognitif, karena tradisi lisan tak mengenal proses abstraksi, mengklasifikasi, dan menjelaskan fenomena secara deduktif. Karenanya menurut Ong, menulis tak hanya melestarikan jejak sebuah peradaban, tetapi juga upaya untuk menyempurnakan potensi kemanusiaan.

Kiranya tak berlebihan seandainya Catherine Prendergast menyebutkan bahwa literasi adalah properti, atau milik kelas tertentu. Dalam bukunya Literacy and Racial Justice, Prendergast menunjukkan bahwa dalam sejarah literasi selalu menjadi alat bagi bangsa-bangsa kolonial untuk mengukuhkan hegemoninya. Literasi tak hanya menjadi hak milik mereka yang dulu tak bisa diakses oleh bangsa yang terjajah, namun juga sesuatu yang kini dibagi-bagikan dengan kemasan ‘kesetaraan, kemajuan, dan modernitas.’ Sepertinya, negara-negara maju tengah mendistribusikan sesuatu milik mereka agar negara berkembang tumbuh bersama-sama. Padahal, yang tercipta adalah suatu bentuk ketergantungan baru. Kita akan terus-menerus mengejar sesuatu itu seperti menggapai fatamorgana, hingga entah kapan. Mungkin sudah saatnya kita bertanya, benarkah literasi menawarkan wacana pembebasan? (sofie dewayani: 2010)

erupsi hati yang meletup perlahan dari jiwa-jiwa pemuda di kaki merapi terutama sekitar yogyakarta dan sekitarnya menunjukan bahwa Literasi bukanlah sebuah entitas yang netral. Literasi juga bukan sekadar kemampuan baca-tulis. Literasi seharusnya dipahami sebagai proses interaksi antara diri, teks, dan konteks.pemahaman akan diri dan lingkungan kultural. pemahama yang tidak hanya mengantarkan pada kemajuan indovidu tapi pada masanya nanti pada kesejahteraan suatu komunitas hingga bangsa.
telisik lebih dalam...

Rabu, 25 Mei 2011

Wajah Indonesia


saat saya menyelesaikan setiap lembaran-lembaran perjalanan terakhir saya dari perbatasan, masih ada beberapa penguasa dan pejabat yang bertindak sewenang-wenang. daerah-daerah kaya di indonesia masih di monopoli asing dan jakarta. semakin banyak dukungan untuk aksi terorisme dan anarkisme. mahasiswa berubah dari kaum intelektual menjadi kaum bar-bar yang hobi turun kejalan. sistem agama antara hubungan manusia dan Tuhan di monopoli oleh sekelompok organisasi dan sekte yang merasa ajarannya paling benar. masih ada kota-kota yang hancur lebur di timpa bencana alam, dan nasib ratusan juta rakyat Indonesia hanya terletak di tangan dan omongan segelintir elit di jakarta.

ada ribuan tahanan di penjara yang tak mendapat keadilan yang sebenranya. hingga koruptor yang bergaya bak pahlawan di depan media. kota-kota besar membangun dengan menggusur sesama anak manusia, dan kota-kota kecil terus kehilangan penduduk produktif yang eksodus atas nama mimpi kemakmuran di kota-kota utama. kelaparan dan kurangnya pendidikanterus terjadi setidaknya di wilayah-wilayah perbatasan. sistem ekonomi yang diagungkan tak pernah mampu mengangkat kesejahteraan dan perusahaan-perusahaan besar berkongsi menguasai tanah negeri. anak-anak di paksa memeras keringat di sudut-sudut pabrik dan persimpangan jalan. puluhan juta rakyat berada di bawah garis “imajiner” kemiskinan. kemajuan teknologi yang dinikmati sebagian orang menjadi palung pemisah yang tak dapat di cegah. penyakit dan serangan alam terus bermunculan padahal yang lama masih belum teratasi.

tapi, apakah ini wajah Indonesia yang saya diami?

tentu saja tidak. ketika saya menyusuri salah satu sisi perbatasan, ada wajah-wajah yang terus yakin akan kejayaan Indonesia, wajah-wajah yang tak pernah menyerah.
telisik lebih dalam...

Kamis, 19 Mei 2011

Menjadi Indonesia Dengan Sederhana


ada satu ungkapan unik tentang negara yang diungkapkan oleh Orson Weles, seorang pengiat seni dari panggung perfilman Amerika, berbeda dari ungkapan kebanyakan yang sering kita dengar yaitu “jangan tanyakan apa yang sudah kau dapatkan dari negara tapi apa yang sudah kau lakukan kepada negara”, Orson Weles justru membuat sebuah kutipan unik yaitu “Ask not what you can do for your country. Ask what’s for lunch” jangan tanyakan apa yang dapat kau berikan untuk negara, tanyakan dengan apa anda makan siang” begitu kira-kira terjemahan bebasnya. kutipan unik ini tiba-tiba terngiang dalam telinga saya setelah sore tadi saya bertegur sap seperlunya dengan seorang loper koran di per-empat-an depan gramedia kotabaru yogyakarta.

tak banyak yang saya bicarakan dengan loper koran tersebut, tapi ada satu hal yang saya ingat dan berhubungan dengan kata-kata Orson, yaitu saat saya bertanya, “piye, laris ya…” kemudian dia jawab“wah, ng’go mangan wae esih kurang mas”. saya yakin loper koran ini tidak pernah berfikir negara atau nasionalisme hingga demokrasi libralisasi, buatnya yang penting jualan korannya bisa cukup untuk makan siang. tak peduli sumbangan terhadap negara yang penting pembeli korannya bayar dengan uang pas. begitula kira-kira wajah orang-orang Indonesia. saya katakan orang-orang Indonesia. bukan bangsa Indonesia.

itu karena saya agak sependapat dengan apa yang pernah di ungkapkan Pramodya bahwa tidak ada namanya bangsa Indonesia, yang ada adalah kumpulan bangsa-bangsa dari bangsa melayu,batak, minang, dayak, jawa, sunda, bugis, maluku, hingga papua dan ratusan suku-suku lan di kepulauan nusantara. yang saling bersatu membentuk sebuah Negara Kesatuan bernama Republik Indonesia. negara besar dimana setiap kepulauannya dihubungkan dengan lautan bukan dipisahkan karena suatu saat nanti saya percaya bahwa laut yang membentang bukanlah pemisah tapi sebuah penghubung, Indonesia Negeri kepulauan yang diikat oleh lautan.

kembali kisah saya di perempatan jalan bersama loper koran tadi, sambil memberi kembalian uang saya, penjaja koran itu nyeletuk ”mas, kok koran ga ono sing boso jowo yo… padahal kan neng jogja…”belum sempet saya pertanyaannya karena lampu sudah hijau, dan sekilas saja saya ambil kembalian saya tadi walau belum sempat saya jawab pertanyaannya tadi. sampai rumah terkenang-kenang saya dengan pertanyaan loper koran tadi. namun saya melihat lebih jauh, kenapa Indonesia pake bahasa Indonesia yang dekat dengan Melayu bukan Jawa, padahal komposisi warga penyusun Indonesia kebanykan Jawa. namun saya masih belum menemukan jawabannya, karena saya yakin dengung “Bahasa Indonesia adalah Bahasa Persatuan” seperti yang digema-kan dalam sumpah pemuda tahun 1928 tidak sekedar kebetulan.

berbicara tentang bahasa Indonesia tidak bisa lepas dari bahasa melayu dan ketika berbicara melayu tidak bisa lepar dari sebuh kerajaan bernama Riau dengan ibukota kerajaan Tanjungpinang, kerajaan yang wilayah-wilayahnya pecah menjadi beberapa negara lain diantaranya, malaysia, berunai, singapura dan tentunya Indonesia. dan traktat london -lah yang ditandatangani 17 mei 1824 memecah belah wilayah Riau-Lingga-Johor-Pahang menjadi terpecah belah atas dasar politik kolonial Belanda-Inggris. tapi saya sama seklai tidak akan membicarakan rumitnya sejarah perpecahan ini.

melayu yang terpecah belah ini menjadikan sebuah “perpecahan” bahasa dari rumpun kelompok bahasa melayu-polinesia ini dan ang di Indonesia terkenal dengan sebutan “melayu yang lebih luas”. bahasa melayu perlahan menjadi bahasa Indonesia yang tertera dalam UUD 1945 sebagai bahasa resmi. namun pada perkembangannya melayu sebagai bahasa mulai terpengaruh banyak hal, dimana malaysia mulai terkooptasi inggris-me dan di indonesia lebih dicampuri oleh bahasa daerah lain sehingga semakin kaya akan budaya lokal.

berbicara bahasa maka berbicara budaya, seorang pemikir kulit hitam bernama Frantz Fanon pernah menulis buku berjudul Black Skin, White Masks . penulis asal Martinique itu menyindir sikap orang-orang sebangsanya yang kehilangan akar budayanya, budaya dalam hal ini tidak sekedar tari dan musik tapi lebih jauh pada sikat, adat dan etis. lebih jauh Fanon memandang anak-anak kolonial perlahan menjadi corong kolonial itu sendiri maksudnya dalam bahasa sederhan bekas jajahan perlahan menjadi penjajah bagi bangsanya sendiri. simaklah sebuah novel trilogi yang meng-amiin-i buku dari Fanon tersebut, novel trilogi karya penulis nigeria bernama Chinua Achebe yaitu trilogi Faal Apart, No Longer at Ease, Arrow of God. menggambarkan kepala suku bernama Okonkow yang berusaha keras mempertahankan budaya dan adatnya harus menerima kenyataan bahwa anaknya sendiri diremukan dari marwahnya oleh orang-orang kulir putih. anak Okonkwo memeluk agama kulit putih, belajar ke luar negeri mendapat jabatan bagus dan akhirnya korupsi dan menjadi penjajah negerinya sendiri.

wajah-wajah itulah yang seperti tergambarkan pada orang-orang indonesia kita kini. wajah-wajah kebanyakan yang sudah mulai kehilangan anggah-ungguh serta etis budaya, mulai melupakan adat-istiadat suku bangsa, menjadi internasional namun mengikis habis budaya lokal, mengejar banyak hal namun menyingkirkan yang lainnya. hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi pada saat-saat abad milenium kini saja dimana akses sudah sangat mudah, bahkan pada tahun 1960-70an kebudayaan mengalami pancaroba yang dahsyat, hingga sebuah gerakan-gerakan “nasionalisme” mulai muncul pada tahun 1970an, dari sastra, budaya, animasi hingga arsitektur. di sastra misalnya, selepas gebrakanPengakuan Pariyem yang kental budaya jawa dari Linus Suryadi hingga Upacara dari Korrie Layun Rampan yang kental budaya Kalimantan, kini mulai dariLaskar pelangi ala belitong hingga Negeri 5 Menara dari minang mulai merambah dunia sastra.

perlahan kebenaran dari pemikiran Franz Fanon mulai terabaca Di Indonesia tapi di saat yang sama keyakinan saya bahwa masih banyak sebagian Masyarakat Indonesia yang tetap memegang teguh akar budayanya dan yang sadar akan budayanya juga semakin banyak. dunia ini rimba siapa yang akan bertahan, masih misteri. namun Indonesia tetaplah Indonesia, bangsa yang terbentuk dari ratusan suku bangsa, diikat oleh Bahasa Persatuan bahasa Indonesia, bahasa yang tak hanya sebatas bahasa resmi tapi juga sebuah jembatan komunikasi antar suku yang berbeda makna kata.

diawal saya menulis agak setuju dengan kata-kata Pramodya tentang bangsa indonesia, artinya ada sebagian yang tidak saya setujui. saat Pramodya mengatakan tidak ada bangsa Indonesia, maka saya bisa katakan bangsa Indonesia itu ada, yaitu Bangsa yang terdiri dari ratusan rumpun suku bangsa. inilah hal yang paling Indonesia dan tidak akan ada dinegara manapun, sebuah negara yang terdiri dari ratusan juta manusia, yang terbagi dalam ratusan rumpun suku adat dan tersebar di ribuan pulau, diikat oleh bahasa, dihubungkan oleh lautan menjadikan negeri ini penuh dengan anugrah Tuhan. mari cintai dan menjadi manusia-manusia Indonesia yang sederhana, tak perlu ikut larut dalam segala pertentangan dan perseteruan elit penguasa, nukamtilah menjadi rakyat menjadi manusia Indonesia, tanpa kekerasa dalam persatuan penuh senyuman.
telisik lebih dalam...

Rabu, 02 Maret 2011

wahai bunga, aku hanya segenggam tanah


rabu ini tercatat tanggal 2 maret 2011 di kalender baru yang terpampang di dinding kamar, persis di samping sebelah kiri layar monitor. pagi yang diselimuti langit mendung, bahkan sejak ba'da subuh tadi rintik grimis mendayu membawa suasana mistis di bumi jogja. harusnya matahari sudah muncul seperti biasa menyinari kota membakar mimpi-mimpi semalam yang penuh luka. suasana ini menyeret kisah masa lalu ke masa kini, di mana memori yang telah lama usang kembali terkuak penuh brontak. alunan sel-sel otak bersetubuh dengan ratapan hati, mengingatmu kembali, penuh tanya "dimana engkau kini?", masihkah kau mengingatku seperti aku mengingatmu di kala sendiri. ya aku sendiri hanyalah segenggam tanah dalam gumpalan tak berarti. yang tak memiliki hak apapun atas dirimu, aku hanya memiliki kewajiban menjadi tempatmu tumbuh dari sebiji tak bermakna untuk tumbuh besar, indah dan penuh pesona. karena aku hanya segenggam tanah...


aku tak pernah ingin jadi kumbang atau kupu-kupu yang terus mengelilingi dan memujimu selalu.
aku hanyalah segenggam tanah dimana kau tumbuh dan menancapkan akarmu.
aku hanyalah segenggam tanah yang bergelimang cacing dan akan semakin lacur tat kala air menerpaku. tapi itu semua aku terima untuk menjagamu agar terus tumbuh dan tegak hingga kau menjadi pesona.
aku hanyalah segenggam tanah dimana saat sebagian diriku menyentuhmu, pemujamu akan menyingkirkanku.
aku hanyalah segenggam tanah yang terus menemanimu kala panas dan hujan menerpa.
aku hanyalah segenggam tanah yang menyaksikanmu dirampas paksa.
aku hanyalah segenggam tanah yang tak punya kuasa atas dirimu yang penuh pesona.

kini kau pergi, dengan sisa kelopak layu yang menguning jatuh menerpaku sebagai sebuah tanda perpisahan. namun sepertinya dunia begitu nyata menolak persatuan kita, sisa kelopak layu yang sudah menguning itupun seperti tak rela mengurai bersatu bersamaku karena angin menerbangkannya enta kemana.

kini, dimana engkau berada, masihkah kau mengingatku seperti aku mengingatmu kini, wahai bunga, aku masih disini tepat dimana kau tumbuh.
telisik lebih dalam...

Senin, 14 Februari 2011

kembali menulis


setelah lama vakum dari dunia tulis menulis, senang rasanya bisa kembali lagi. kembali menjetikian jari di atas papan keyboard yang sudah mulai berdebu ini. menulis buat saya adalah bernafas, tanpa menulis sesak rasanya. menulis adalah teman bicara tanpa suara, mendokumentasikan semua mimpi, cita, suka dan duka. kadang duka menyelimuti setiap sisi mimipi yang mendampingi esensi dari tulisan yang terangkai dari kata demi kata. menulis adalah sebuah ekspresi sebuah karnaval yang menghasilkan sebuah estetika tersendiri. Saya suka menulis, saya suka keramaian dan ayunan kata-kata karena mereka kusut dengan emosi manusia.

tulisan adalah sebuah jembatan luas yang menghubungkan cakar mata dan luasnya cakrawala, menggali semua yang ada dan menyebarkannya keseluruh dunia. tulisan adalah sebuah dokumentasi otentik paling estetik,karena tulisan tidak hanya bisa menyatukan dua hati dalam asmara tapi juga menyebabkan perang antar dua negara. dan kembali menulis adalah kembali ke dunia dimana saya merasa saya ada. terkadang itu yang membuat lupa, bahwa menulislah yang membuat saya berada dalam posisi saya sekarang baik dalam kurang dan lebih yang tengah saya alami kini.

menulislah yang membuat saya menjalani perjalanan dan pertemanan dengan orang-orang hebat di seluruh indonesia. menyambut tamu dan bertemu dengan komunitas-komunitas yang luar biasa. menulis membuat saya berada di panggung juara 1 writing contest pesta blogger 2010, menulis yang membuat saya punya sahabat-sahabat yang menjadi sebuah keluarga dalam komunitas kecil. menulis adalah hidup, karena dengan menulis saya ada dan saya bermakna.

Jean-Baptiste Poquelin atau yang lebih terkenal dengan nama Moliere penulis naskah drama dan theater terkenal dari Prancis pada tahun 1600an pernah berujar "Writing is like prostitution. First you do it for love, and then for a few close friends, and then for money." entah benar atau tidak kata-katanya tapi saya masih yakin saya melakukannya untuk tahap yang pertama.

video canting jogja (-hanya salah satu-komunitas bloggerdi jogja)saat jalan-jalan ke Solo




video : Youtube
gambar : shutterstock
@aziz_miring
telisik lebih dalam...

Senin, 04 Oktober 2010

Sketsa Keberagaman di Sudut Jogja

Ketika saya mengetahui adanya kontes menulis atau dalam bahasa David Beckham disebut Writing contest akan diadakan dalam rangka meramaikan Pesta Blogger 2010, saya terkejut dan sibuk sendiri. sibuk bukan sembarang sibuk tapi sibuk karena terkejut bahwa tema yang diusung seperti filosofi kalimat pusaka Indonesia "bhineka tunggal ika" dan oleh para blogger bahasanya disederhanakan menjadi "merayakan keberagaman". secara filosofis kedua frase kata itu memiliki makna yang sama, untuk itulah saya mengobrak-abrik 3 rak buku di kamar saya untuk mencari refrensi makna dari "keberagaman".

saya memang menemukan beberapa literatur sebagai refrensi tulisan, seperti tentang kisah Ibnu Rusyd yang pernah berfriksi dengan Imam Al-Ghazali tentang filsafat dan agama sehingga di ujung kisah ,Ibnu Rusyd mendapat gelar filusuf peletak tonggak perbedaan atas tiga prinsip dasar yang beliau kemukakan, tiga prinsip dasar itu antara lain, Pertama, keharusan untuk memahami yang lain dalam sistem referensinya sendiri. kedua, adalah prinsip menciptakan kembali hubungan yang subur antara dua kutub dengan mengedepankan hak untuk berbeda. dan yang ketiga, mengembangkan sikap toleransi.


bahkan dalam rangka pengobrak-abrikan rak buku saya menemukan dua buku yang mengulas keberagaman satu fiks dani satu lagi nonfiksi. buku fiksi yaitu novel karya Oki Madasari berjudul "Entok". novel yang terbit zaman orde baru ini menceitakan kisah perlawanan melawan anti-keberagaman. sedangkan buku non fiksi yang berhasil saya temukan buku berjudul "Rethinking Multiculutralism, Keberagaman Budaya dan Teori Politik". tapi semua itu tidak memuaskan dahaga saya untuk memaknai arti dari "merayakan Keberagaman".

sebagian kwana-kawan yang hadir minus yg telat (canting doc)
beberapa angota komunitas blogger canting

ditengah keputusasaan minimnya refrensi yang saya coba untuk dapatkan, saya justru mendapat SMS dari seorang kawan blogger "inget, ya.... nanti sore jam4 kumpul di TBY, seperti biasa jangan telat dan bawa konsumsi sendiri". ya, itu adalah pesan pendek pemberitahuan untuk kopadar komunitas "canting", komunitas blogger kecil-kecilan di Jogja. tanpa pikir panjang saya balas pesan pendek itu dengan kata "YA...".

akhirnya, dalam kata-kata "canting", "blogger", "komunitas", "keberagaman". sebuah garis kata imajiner yang membuat saya bisa menarik benang lurus yang tidak kusut dalam memaknai frasa "merayakan keberagaman" yang di usung dalam pesta blogger 2010. sebuah pesan pendek dari kawan blogger itu menarik memori saya jauh kebelakang, kepada teman-teman yang sering kopdar, tentang para blogger dari berbagai macam suku dan agama serta pemahaman yang berbeda dapat disatukan dalam sebuah komunitas kecil bernama "canting".

jujur saya menyadari, saya terlalu rumit berfikir tentang keberagaman. saya berfikir dan memaknainya terlalu filosofis dan akademis untuk mencari refrensi yang memuaskan, tapi ternyata saya justru menemukannya di sekeliling saya sendiri. keberagaman dan blogger dua kata yang saya temukan dalam satu kata "canting". sebuah komunitas blogger kecil di jogja yang nomaden tapi memiliki sebuah makna yang mendalam.

di "canting" inilah saya menemukan kawan-kawan blogger dalam satu komunitas yang disatukan oleh perbedaan namun mengusung visi yang sama. disatukan oleh perbedaan disitu kata kuncinya. kami di komunitas canting bersama bukan karena kami sama tapi bersama karena kami berbeda. di komunitas ini budaya egaliter tercermin dari kebiasaan kami saat kopdar yang selalu bergaya lesehan entah itu di Taman Budaya Yogyakarta maupun di Trotoar Titik Nol Jogja.

disini saya bisa bertemu berbagi macam orang dan latar belakang mapun sudut pandang berfikir. saat duduk sebagai blogger tidak pernah ada yang berdiri angkuh memamerkan latar belakang dirinya tapi semua bersatu dalam satu kata yaitu blogger, ada fotografer, pengusaha, jurnalis, teknisi, guru, mahasiswa (dari berbagai jurusan), anak SMA, dosen, penulis, editor buku, dan berbagai macam latar belakang. selain latar belakang pendidikan dan profesi komunitas ini berasal dari berbagai macam agama dan suku. ada mas Amrul dan mas Agung yang dari Sulawesi hingga mas Mumu dari lampung dan mas Sigit dari Padang. keberagaman itu semua disatukan dalam dua hal blogger dan Jogja. jadi keberagaman juga perlu disatukan dalam sebuah bentuk, dan bentuk itu berupa dua kata blogger dan Jogja.

perbedaan dan keberagaman inilah yang akhirnya memunculkan ide-ide dan konsep baru dari setiap pertemuan dan diskusi baik di alam maya maupun dunia nyata. hingga muncul ide-ide yang luar biasa yang berhasil disimpulkan dari masukan yang terkumpul. disinilah letak nilai dari keberagaman yang sesungguhnya, dari keberagaman akhirnya dapat membentuk sesuatu yang baru dan lebih baik. semakin beragam semakin bik asal juga diilhami untuk saling memahami dan mengerti.

kebersamaan dan keceriaan serta tawa ini semoga tidak cepat berlalu
salah satu aksi sosial di sanggar anak

lalu bagaimana bisa bersama padahal berbeda?
canting memang diusung dari hal yang sederhana, saat beberapa bogger kompasiana mengadakan kopdar, lama berlangsung ada keinginan untuk membentuk sebuah komunitas blogger jogja sebagai wadah untuk saling berinteraksi sesama kompasianer (blogger) di wilayah jogja dan sekitarnya. akhirnya di usung nama canting, sebuah alat untuk membatik dengan filosofi sederhana bahwa anggota canting akan "membatik" blog dan dunia dengan tulisan-tulisan tentang jogja dari berbagai sudut pandang.

di "canting" inilah kami tidak dituntut untuk disatukan dalam satu "ruang" walaupun cikal bakalnya berasal dari blogger kompasiana. kami tetap bebas menulis di blog-blog masing-masing ada yang aktif di kompasiana, di blogspot, di multiply, di wordpress, dan bermaca-macam blog pribadi. namun saat kami kopdar tidak pernah mengusung nama blognya. karena saat kopdar itulah mendapat ilmu selain keakraban. saat bertemu banyak yang dibahas, dari mulai tukar-menukar buku, diskusi film terbaru hingga aksi sosial dari pinggir pantai dengan menanam mangrove hingga bantaran kali sebagai aksi untuk anak-anak kurang mampu. dan kini masih dala persiapan membangun sangar anak untuk korn gempa jogja di wilayah perbukitan perambanan, sebagai pembuktian bahwa manusia-manusia maya dapat berguna didunia nyata.

ada hal kecil disekitar kita sebagai sebuah pembelajaran yang justru sangat luar biasa. saya tidak pernah bisa menarik makna dari keberagaman dalam setiap buku refrensi maupun kisah yang saya dengar, tapi saya justru menemukannya di lingkungan sekitar yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam hitungan. saya akhirnya sedikit mengerti tagline yang diusung oleh pesta blogger tentang keberagaman.

bersantai di trotoar sambil nungu teman yang lain (canting doc)
kebiasaan kopdar lesehan di trotoar (egaliter, keberagaman dan kebersamaan)

I had jumped off the edge, and then, at the very last moment, something reached out and caught me in midair. That something is what I define as diversty. It is the one thing that can stop a man from falling, powerful enough to negate the laws of gravity. ada sebuah sketsa kecil di sudut jogja tentang sebuah makna dari keberagaman, fragmen-fragmen yang tersaji seperti sebuah mimpi tak terbeli. di sudut inilah dalam sebuah komunitas kecil tersaji sebuah keberagaman yang bukan sebatas ilusi.
satu kata satu perbuatan. kebersamaan itulah harga paling mahal yang tak bisa dibayar dengan uang tapi bisa dibeli dengan saling memahami. mari menerima perbedaan dengan senyuman.

Dalam kaitan semua hal itu pula, risiko keberagaman yang sepantasnya dirayakan, tak perlu melahirkan hero baru. Sebagaimana analogi dalam dunia industri, siapa pun sah menulis apapun dalam blognya asal dibarengi rasa tanggungjawab. Sebagaimana dalam lingkungan petani, maka menjadi lumrah jika siapa pun yang sanggup menanam dan memelihara padi, ya, tanamlah dan peliharalah padi tersebut. Eghm, kini, momentum para blogger Indonesia untuk unjuk gigi, mengkarnavalkan dirinya sudah tiba, karena tuntutan situasi. Di luar tetek-bengek persoalan bangsa saat ini, sebagai konsekuensi seleksi alam kita tinggal menunggu waktu, apakah blogger-blogger Indonesia akan menjadi pualam, melabu, ataukah malah bertalu, meraih zaman keemasannya.

Hiduplah para blogger dalam keberagaman eksperimentasi karnaval estetika.
telisik lebih dalam...

Kamis, 29 Juli 2010

Menelisik Makam Raja Jawa

sunyi dan sedikit mistis, itulah perasaan pertama yang saya rasakan ketika melewati jembatan kecil yang menjadi gerbang masuk pertama ke makam Sultan Agung di Imgori yang sangat terkenal. Berada sekitar 20 kilometer di sisi selatan kota Yogyakarta, bukit Imogiri benar-benar menyimpan misteri setelah dijadikan makam raja-raja Mataram.

Berbeda dengan bukit-bukit lainnya di bagian selatan Yogyakarta yang kebanyakan sudah gundul, maka karena kesakralan makam itu, pepohonan di Imogiri tumbuh subur. Ada pohon jati yang berusia 300 tahun lebih, ada pula pohon beringin, kepel, pala, bambu, dan pepohonan lain yang tumbuh tak terusik tangan manusia. Kicau burung, angin semilir yang sejuk, merupakan hasil keseimbangan ekosistem yang terjaga lantaran kesakralan itu. senyum ramah terurai dari seorang setengah baya yang bertugas sebagai penjaga parkir. hembusan angin sore menyeruak dari celah-celah daun di sekeliling makam. sebuah sambutan alam yang cukuup untuk membuat pengunjung lebih berhati-hati.

gerbang utama ke makam para raja, batas pengunjung biasa (aziz doc)

belum cukup sampai disitu, karena untuk menuju kompleks makam utama pengunjung harus menempuh anak tangga yang cukup panjang. saya secara pribadi membaginya dalam 3 jenis tangga utama. pertama, tangga awal yang cukup landai tapi panjang tidak terlalu curam tapi cukup panjang dan melelahkan, di sebelah kiri berupa hutan dan ada beberapa makam warga, sedangkan di sebelah kanannya berupa perumahan warga yang beberapa diantaranya berupa ruko. setelah melalui tangga tahap pertama ini pengunjung akan sampai pada pemberhentian pertama di sebuah Masjid dan joglo kecil yang cukup untuk melepas lelah. Masjid itu merupakan masjid tradisional yang di bangun kira-kira pada masa Sultan Agung .

secara umum bangunanya masih asli hanya pada bagian serambinya saja yang mengalami perubahan yaitu pada bagian lantainya. Masjidnya beratap sirap , tetapi kini bagian atasnya dilapisi seng. sehingga atap, sirap hanya bisa dilihat dart dalam masjid saja. Unsur kekunoan lain pada masjid ini adalah pawestren dan kolam di halaman depan . Pada serambi masjid terdapat tubuh (Bedeng), besar dengan diameter 99 cm, panjang 146 cm. Menurut juru kunci makam tabuh ini di buat semasa dengan masjid. Unsur asli yang lain adalah saka guru dari kayu jati yang di sangga umpak persegi dari batu kali. Mihrap berupa relung pada dinding barat, dan mimbar berhias ukir-ukiran diantaranya ada yang manyerupai kala.

tak dinyana dan tak di duga, ternyata kedatangan saya kesana berbarengan dengan adanya pengambilan gambar acara Si Bolang TransTV. lumayan untuk melepas lelah sambil melihat tingkah polah anak-anak lugu di depan kamera. ternyata makam mistis ini menjadi daya tarik tersendiri untuk setting sebuah tayangan televisi.


shoting Si Bolang, di sekitar kompleks makam (aziz doc)

kembali ke makam Sultan Agung dan Raja-raja jawa, terutama Mataram dan semua keturunannya. Kompleks ini berada di Ginirejo Imogiri. Makam ini didirikan oleh Sultan Agung antara tahun 1632 - 1640M merupakan bangunan milik Mataram dan di jaga oleh dua pendopo dari Yogyakarta yang berada di sebelah kiri dan Surakarta di sebelah kanan gerbang utama makam. tapi sebelum kesana persiapkan fisik dulu untuk mendaki tangga dengan panjang lebih dari 200m dengan kemiringan 45°. jumlah tangganya 4009 anak tangga dengan pembagian masing-masing yang juga memiliki filosofi.

tangga menuju makam. puncak'y belum keliatan tuh :P (aziz doc)

sebelum masuk kompleks utama makam, pengunjung harus melewati gerbang utama yang berbentuk gapura seperti candi-candi hindu. menurut cerita dari seorang penjaga makam di pendopo penjagaan Yogyakarta yang merupakan abdi dalem kraton bernama mbah Jamidi atau Ngabei Sidohandono (nama yang di dapat dari kraton), dan buku sejarah. berbentuk gapura bentar yaitu gapura yang berbentuk seperti candi terbelah, tanpa atap dan tanpa daun pintu. ukuran panjang 220 cm. lebar 150 cm, dan terbuat dan batu bata . Pada bagian kaki terdapat hiasan giometris. Di sebelah menyebelah kori supit urang ada dua padhasan, dengan lapik berhias tumpal.

gapura, gerbang pertama,

plakat prasasti penghargaan, pahlawan dari keluarga kraton termasuk sultan Agung

tepat di depan gerbang uatma di jaga oleh 6 gentong air. atau yang di kenal dengan nama padasan. 2 buah terdapat di luar gerbang supit urang dan 4 buah terdapat dihalaman Kamandhungan dan biasanya disebut enceh atau Kong. Dua buah enceh yang berada di timur tangga regol Sri Manganti 1 dinamai Kyai Mendhung dan Nyai Siyem. Kedua enceh ini merupakan persembahan dari raja Ngerum (Turki) dan Siyem (Thailand). Sedang yang berada, di sebelah barat tangga bernama Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti, berasal dari Aceh dan Palembang.

Yang menarik adalah, Makam Imogiri - juga disebut Pajimatan Imogiri - terbagi menjadi tiga bagian. Jika kita datang menghadap ke makam itu, maka pada bagian tengah adalah makam Sultan Agung dan Susuhunan Paku Buwono I. Lalu di sebelah kanan berderet bangunan makam para sultan Kraton Yogyakarta, mulai dari Sultan Hamengku Buwono I, II, III yang disebut Kasuwargan. Disusul di sebelah kanan makam Sultan Hamengku Buwono IV,V, dan VI yang dinamakan Besiaran. Dan paling akhir di sisi paling kanan adalah makam Sultan HB VII, VIII, dan IX yang disebut Saptorenggo.

Pada sisi kiri berturut-turut adalah makam para sunan dari Kraton Surakarta, mulai dari Susuhunan Paku Buwono III (abang Sultan HB I) hingga Susuhunan Paku Buwono XI. Khusus makam Sultan Hamengku Buwono II, jenazahnya dimakamkan di Makam Senopaten di Kotagede, Yogyakarta, di dekat makam raja Mataram I, Panembahan Senopati yang ketika muda bernama Sutawijaya atau Panembahan Loring Pasar.

untuk masuk makam utama yaitu makam Sultan Agung harus melewati 3 gerbang lagi dan memakai pakaian khusus yang disediakan oleh pihak penjaga makam. selain itu juga terdapat banyak peraturan khusus dari mulai sikap hingga pakaian. selain itu setelah masuk kompleks gerbang pertama tidak boleh menggabil gambar atau foto.

jika ingin masuk ke dalam terutama makam raja-raja di perkenankan pada hari senin dan minggu pukul 10-13 WIB dan jum’at 13-16 WIB. pada waktu-waktu itu gerbang utama dibuka dan masyarakat umum boleh masuk dengan menyanggupi semua persyaratan yang diberlakuakan.

mbah jamidi alias ngabei sidohandoko penjaga di pendopo jogja (aziz doc)

harap maklum karena masuk makam raja-raja di jawa berbeda dengan berziarah ke pemakaman biasa. dan perlu di ketahui ternyata tanah di bukit merak yang menjadi puncak itu berbau harum, boleh percaya atau tidak. dan satu lagi ternyata jumenengan atau yang telah menjabat sebagai Raja atau Sultan tidak berhak dan tidak boleh untuk menginjakan kaki di kompleks makam. menurut penjaga di situ, peraturan itu sudah menjadi UU tak tertulis yang tak boleh dilanggar.

nyambung dikit : ternyata, gaji penjaga makam di sana hanya Rp. 7050,-dan mereka melakukan profesi (saya menggap sebagai profesi bkn sekedar pekerjaan) itu dengan bahagia.

masuk ke makam itu tidak di tarik biaya atau tiket, hanya ada uang parkir. tapi di setiap muka tangga atau bangunan ada kotak amal yang sebaiknya di isi se-ikhlas-nya.

segitu dulu ya, kapan-kapan jalan-jalannya di lanjut lagi….
telisik lebih dalam...

Selasa, 08 Juni 2010

Perubahan Itu

apa itu berubah dan apa itu perubahan jawabannya adalah omong kosong jika hanya diam, seharusnya perubahan itu adalah sebuah kebaikan. aha entahlah. yang pasti memang harus ada yang berubah minimal diri sendiri. tapi justru pertanyaan itu dikembalikan dengan kalimat "kenapa harus berubah?" adakah yang salah sehingga harus berubah..... ya mungkin banyak... apa itu dan kenapa itu memang masih harus dicari.

mundur perlahan beberapa langkah, berhenti sejenak, tarik nafas perlahan, yang panjang, tahan sebentar, keluarkan perlahan, pejamkan mata sejenak, buka mata dan tatap kedepan, meloncat sedikit, buat langkah kecil, perlahan, tambah tempo dan kecepatan, berlari, cepat, lebih cepat, siapkan sebuah langkah besar, lebih cepat, bertolak, loncat, lebih tinggi, lebih jauh. bersiaplah karena pada suatu waktu pasti akan turun kembali, dan bersiaplah untuk sebuha pendaratan yang terbaik.





bumi terus berputar, dan terus berputar, ditengah putaran itu juga bergerak mengelilingi. itulah hidup begitu juga manusia menjalani setiap detik waktunya, berputar, mengelilingi, dan seolah sama tapi berbeda artinya terjadi perubahan, dan perubahan apa yang diinginkan, baik atau buruk, kitalah manusia yang menentukan. dan Tuhan akan memberi kuasanya. mulai berubah untuk menjadi lebih baik

setiap manusia selalu punya pilihan paling rasional dalam hidupnya, walau orang lain memandangnya sebagai omong kosong,


berubahlah, dan bergeraklah
telisik lebih dalam...

Jumat, 07 Mei 2010

Mereka, Diakui Dunia Terhina di Negaranya

seberapa hebatkah manusia Indonesia ? saya tidak menyebutnya bangsa Indonesia tapi manusia Indonesia, bukan berarti saya makmum dengan pemahaman Pramoedya Ananta Toer yang menyatakan bahwa tidak ada yang namanya bangsa Indonesia tapi yang ada bangsa aceh, bangsa minang, bangsa melayu, bangsa jawa, bangsa dayak, bangsa sunda, bangsa bugis, bangsa papua, bangsa bali, bangsa ambon dll. tapi saya lebih memahami pada kata manusia indonesia sebagai individu bukan sebagai kesatuan manusia yang disebut dengan bangsa.

jika anda mungkin masih penasaran tentang kehebatan manusia Indonesia, silahkan cari dalam 5 tahun terakhir berapa banyak medali kejuaraan Internasional dibidang sains dan sosial termasuk tekhnologi dan budaya yang menghiasi podium kebanggaan. dan bandingkan dengan apa yang dihasilkan oleh tetangga di sekitar ASEAN, maka jikalau semua prestasi itu digabungkan di ASEAN (kecuali Indonesia) dan dibandingkan dengan Indonesia maka Indonesia akan berada pada posisi tak terkalahkan. sayangnya berita kehebatan itu tak pernah termuat dengan baik, mungkin media lebih senang dengan berita negatif. tapi bukan itu yang akan saya tulis sekarang, tapi menulis tentang mereka yang luar biasa tapi dinista.

Kebangga dunia, di nista di Indonesia,

sudah lama rasanya saya kehilangan seorang Pramodya yang luar biasa, mengingat kebali Begawan Ekonomi Soemitro dan rindu akan suara Soekarno, dan intelektualitas Habibie serta humor khas Gus Dur. bagi saya nasib mereka tak jauh beda dengan Sri Mulyani, bukannya saya mau latah dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini tapi toh saya juga tidak bisa menutup memori saya mengingatkan kembali ketika syahrir diasingkan karena politik busuk. benar bahwa politik memang kejam. mereka yang terbaik bisa disingkirkan dan dihakimi dengan celoteh burung camar politikus. entah senayan entah istana. politik memang kejam. saya ingin menulis banyak tentang beliau-beliau tapi keterbatasan waktu yang membaut saya harus memilih tiga orang sebagai contoh dengan tiga bidang keahlian dan tiga situasi yang berbeda tapi dihadapkan pada satu kondisi dimana mereka “dibunuh oleh politik” dalam negerinya sendiri.

PRAMODYA ANANTA TOER,

seorang maestro sastra yang belum tertandingi di mata saya, kesalahan beliau mungkin hanya terdampar dalam LEKRA sepulang dari pertukaran budaya di eropa, dan akhirnya harus malang-melintang dalam penjara dari nusakambangan hingga buru. karya-karya yang beliau hasilkan mengantarkannya menjadi salah satu nominasi peraih nobel sastra, tapi negara tidak pernah mendukung prestasinya di tingkat dunia, kealpaan beliau yang pernah bergabung dengan LEKRA selalu diumbar para politikus yang tak mengerti sastra sehingga para juri Nobel terus membuatnya mengambang, negara bukannya mendukung justru malah mengucilkannya di dalam rumah bahkan hingga akhir hanyatnya beliau harus wajib lapor tiap hari kamis ke koramil setempat. akhirnya dalam situsi tak jelas Pram harus bertemu izrail terlebih dahulu dan impian dan harapan Indonesia satu-satunya untuk memiliki seorang peraih Nobel pupus sudah.dia hanya terjebak dalam situasi yang salah serta tempat yang salah dan politk menutup semua prestasinya. politik menghukumnya dengan kejam.

BAHARUDIN JUSUF HABIBIE

peraih summa cum laude di bidang teknin mesin pesawat terbang ini adalah kebanggan Indonesia di bidang tekhnologi, orang ini pula yang membuka mata manusia di tenggara asia ini berbicara dan menghentak dunia ketika dengan jumawa menerbangkan pesawat terbang buatan sendiri, dan saat itu china dan india hanya bisa terbengong-bengong dengan mulut menganga serta mata melotot. dengan prestasinya beliau menduduki jabatan wakil CEO di sebuah perusahaan konstrusi peswat yang bonafit di dunia. akhirnya politik meruntuhkan kiprahnya, Habibie di suruh pulang oleh preisden saat itu Soeharto dan memberi titah “kau boleh membuat apa saja asala jangan pernah melakukan makar” . Habibie mulai bekerja didirikan PTDI sekaligus membuat BPPT sambil menjabat Menristek. kecerdasannya membuat Habibie menjadi tujuan langakah sebagaimana saya ketika menjalani masa kecil. politik menghentikan langkahnya, PTDI menjadi BUMN dan atas titah sang raja akhirnya Habibie menyerah dan menjadi wapres (kondisi yang sebenarnya tidak jauh beda dengan Boediono saat ini). masa awal pasca reformasi beliau dituduh antek orba, politik menghakimi seorang ilmuan dalam pergulatannya dalam dunia kelam bernama politik, Habibie tentu cerdas tapi politik itu kejam. ia adalah satu-satunya presiden yang dihina di parlemen saat akan membaca pidato pertanggungjawaban. politik merampas semuanya, PTDI, “kecerdasannya”, kebanggaan kita. dia hanya terjebak dalam situasi yang salah serta tempat yang salah dan politk menutup semua prestasinya. politik menghukumnya dengan kejam.

SRI MULYANI INDRAWATI

sebenarnya saya mau menulis tentang begawan ekonomi Soemitro, yang menjadi bagian dari 5 pendekar penjaga ekonomi dunia di PBB pada masa itu. tapi sepertinya menulis seorang Srikandi, sang kartini moderen, seorang Ibu, tentu akan lebih spesial. saya tentu tidak perlu menulis banyak hal tentang beliau, penghargaan dari Times yang memasukannya dalam 100 wanita berpengaruh di dunia dan perstasinya meraih predikat menteri keuangan terbaik asia 3 kali berturut-turut dan predikat mentrei keuangan terbaik dunia versi euromany, akhirnya kini bank dunia memangginya sebagai MD. salah satu alasan diterimanya Indonesia dalam G20 adalah keberadaan Sri Mulyani. akankah Sri Mulyani bernasib sama seperti Pramodya yang dikucilkan karena sebuah keputusan yang diambilnya dalam posisi terjepit dan akhirnya bernasib seperti Habibie yang “dinodai” parlemen. Sri Mulyani berada dalam posisi itu sekarang, dihakimi politikus dengan ilmu politik dan menutup semua prestasi yang beliau hasilkan untuk negeri ini. maka kita yang akan menjawabnya bersama seperti siapa nasib Ibu Sri, Syahrir yang disingkirkan Soekarno, Soekarno yang disingkirkan Soeharto. dan soeharto yang akhirnya menyerah. akankah Sri Mulyani nasibnya seperti Soemitro sebagai sesama ekonom. dan sejarah serta waktu yang akan menilai jawaban kita, saya, anda, word bank, euromany, times, DPR, Media, Pemerintah, hingga desir angin yang berhembus. seperti apa bangsa ini menilai manusianya.
telisik lebih dalam...

Jumat, 05 Maret 2010

dunia humor kita, kini

Jika ada Negara di muka bumi ini yang menjadikan kekerasan dan penderitaan orang lain adalah tontonan mengasikan dan bahkan salah satu sumber kebahagiaan, Indonesia adalah salah satu diantaranya yang berada di barisan paling depan.

Saya tidak tahu, bagaimana pilunya arwah Hardjodipoero dan Drs Raden Panji Purnomo Tedjokusumo mereka berdua di jaman Revolusi dulu sering duet di corong RRI sebagai Mang Cepot dan Mang Udel, menyaksikan tontonan humor yang biadab penuh kekerasan (baik fisik maupun verbal), penghinaan, serta pelecehan terhdap profesi dan kondisi fisik adalah suatu hal yang menarik yang dapat membuat kebanyakan orang Indonesia tertawa lepas dan menikmatinya.


Humor seperti halnya bentuk seni, penerimaan tergantung pada demografi sosial dan berbeda dari orang ke orang. Sepanjang sejarah, komedi telah digunakan sebagai bentuk hiburan di seluruh dunia, baik di pengadilan raja Barat atau desa-desa di Timur Jauh. Kedua etiket sosial dan kecerdasan tertentu dapat ditampilkan melalui bentuk-bentuk kecerdasan dan sarkasme. Abad kedelapan belas penulis Jerman Georg Lichtenberg mengatakan bahwa “semakin banyak yang anda tahu tentang humor, semakin anda menjadi menuntut kebaikan.” Itulah kenapa pelaku humor (bukan sekedar pelawak) banyak dianggap orang cerdas karena mampu menjungkirbalikan logika.

Dalam bahasa Sansekerta kuno drama, Bharata Muni’s Natya Shastra didefinisikan humor (hāsyam) sebagai salah satu dari sembilan nava rasas, atau prinsip rasas (respons emosional), yang mendapat inspirasi di antara penonton dengan bhavas, yang imitasi emosi yang dilakukan para aktor. Setiap rasa dikaitkan dengan bhavas tertentu digambarkan di atas panggung. Dalam kasus humor, itu berhubungan dengan kegembiraan (hasya).

Istilah “komedi” dan “sindiran” menjadi sinonim setelah puisi Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di abad pertengahan dunia Islam, di mana diuraikan di atas oleh penulis Arab dan filsuf Islam seperti Abu Bischr, muridnya Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Averroes . Karena perbedaan budaya, mereka memisahkan diri dari bahasa Yunani, setelah terjemahan Latin abad ke-12, istilah “komedi” memperoleh makna semantik baru dalam literatur Abad Pertengahan.

Bahkan Allan Calley pernah mengungkapkan dalam bukunya Humor in The Arts bahwa Perkembangan humor di Inggris sudah terlembaga sejak abad ke-16 Pada masa tersebut, terdapat penulis dan pemain teater humor yang sering disebut pemain komedi. Komedian yang terkenal yaitu Ben Johnson, yang satu karyanya berjudul Man Out of His Humor . karya tersebut memperlihatkan dua bentuk humor yang berbeda dalam kehidupan, yaitu humor dalam kata-kata dan humor dalam tingkah laku. Abad ke-17 merupakan zaman yang sangat pesat bagi perkembangan humor di Inggris, terutama dalam hal teater komedi dan naskah humor. Teater komedi akhirnya menjadi tradisi masa selanjutnya.

Pertengahan abad ke-18, teater humor bermetamorfosa menjadi satire. Sampai akhir abad ke-18, bentuk teater etrsebut menjadi mode di seluruh daratan Eropa. Abad ke-19, humor di Eropa menentukan bentuk baru dalam wujud komik. Abad itu ditandai dengan munculnya berbagai macam komik humor dari Jerman, yang kemudian menjadi kegemaran seluruh daratan Eropa bahkan sampai ke daratan Amerika dan Asia.

Dunia lawak di Indonesia, boleh dikatakan berdiri otonom dan tidak dipengaruhi oleh unsur impor, dalam tradisi lawak di Indonesia harus dilihat struktur kekuasaan sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam melihat dunia lawak kita. Ada arus utama budaya lokal yang berkembang di Indonesia. Di Indonesia, secara informal, humor juga sudah menjadi bagian dari kesenian rakyat, seperti ludruk, ketoprak, lenong, wayang kulit, wayang golek, dan sebagainya. Unsur humor di dalam kelompok kesenian menjadi unsur penunjang, bahkan menjadi unsur penentu daya tarik. Humor yang dalam istilah lainnya sering disebut dengan lawak, banyolan, dagelan, dan sebagainya, menjadi lebih terlembaga setelah Indonesia merdeka, seperti munculnya grup-grup lawak Atmonadi Cs, Kwartet Jaya, Srimulat, Surya Grup, dan lain-lain Masuknya Bing Slamet kedalam dunia lawak mendorong lahirnya jenis pelawak urban yang populer terutama dari kalangan Taman Siswa seperti : Ateng, Benyamin S, atau Edi Sud Trio EBI (Edi Sud, Bing Slamet dan Iskak), Ateng, Iskak, Bing Slamet dan Edi Sud membentuk Kwartet Jaya yang fenomenal sampai meninggalnya Bing Slamet awal tahun 70-an.

Hingga kemudian muncul para komedian group parodi Pancaran Sinar Petromak (PSP), Sersan Prambors., dan Warkop DKI ternyata hanya warkop yang mampu bertahan walaupun agak sedikit mengikuti selera pasar, itu dikarenakan tindakan repsesif orde baru, itu yang menyebabkan adanya perbedaan isi lawakan warkop di film dan radio, di radio lawakannya cendrung lebih provokatif terhadap orde baru.

Pasca awal reformasi perkembangan dunia humor Indonesia banyak di dominasi oleh opera komedi yang sebenarnya bukanlah seni melawak yang spontan, karena keterikatannya pada teks yang sedemikian kuat. Dibarengi dengan kemunculan para “pengikut” warkop jebolan Radio SK, ajang pencarian bakat, artis yang “ganti lahan” hingga perkembangan humor dunia politik yang sebenarnya tidak terlalu laku.

Bagi penulis awal kehancuran dunia lawak Indonesia adalah mulai pudarnya pelawak-pelawak seperti Alm. Bing Slamet, Eddy Sud, S Bagyo, Ateng, Mang Udel, Kang Ibing, Abah Us Us, dan bisa disebut juga Benyamin S, lawakan mereka yang cerdas dan hampir bersih dari “penghinaan dan kekerasan” sungguh berbeda dengan pelawak dan dunia lawak Indonesia kini, gaya melawak sekarang (pelawak yang kini membanjiri layar televisi) sungguh tidak membuat lawakan itu sebagai bahan renungan dan alat kritik yang bisa membuat orang reflektif terhadap kehidupannya, gaya lawakan mereka adalah lawakan yang bercanda, menyakiti (baik hati dan fisik) lawan main, lawakan “kebun binatang” dan kemudian tidak memberikan humor-humor cerdas. Ditambah pengaruh gaya yang di tiap detik kata-katanya adalah menghina orang, merendahkan lawan main, dan menangkis kata-kata dengan mencela fisik. Ini sungguh memprihatinkan. Dan ironisnya gaya lawakan yang tidak sesuai dengan tipe mereka disuruh minggir.

Sementara gaya lawakan yang spontan, membuat orang merenung dan menyikapi kondisi sosial dengan gayanya yang cerdas sama, belum muncul. kita ingat bagaimana Krisbiantoro mampu melawak dalam bahasa Perancis, ataupun Ebet Kadarusman yang melawak berjam-jam di radio Australia dengan bahasa Inggris, Sukarno yang membuat orang terpingkal-pingkal di dalam pidatonya, Churchill yang santai dan sempat membuat anekdot sebelum mendeklarasikan perang dengan Jerman ataupun Gus Dur yang mampu menyembunyikan kesulitan-kesulitannya dalam memecahkan problem-problem sosial-keagamaannya dengan melucu, spontanitas yang cerdas, masih menjadi impian dalam dunia lawak kita yang sedang hancur lebur ini.

Namun sekarang kita –hanya- bisa saksikan semua kelucuan yang dibuat haruslah menyengsarakan orang, yang lebih menarik ini bukan hanya terjadi di acara yang notabene temanya adalah komedi, baik acara kuis, musik bahkan acara yang menemani kaum muslim sahur dibulan ramadhan harus pakai “properti yang tidak berbahaya” untuk dapat rating tinggi maka sejahteralah komedian kita yang memang spesialis untuk dikerjain bahkan di gebukin. Semoga bangsa kita tidak termasuk bangsa yang baru merasa terhibur jika melihat orang lain menderita, jika penderitaan yang bisa membuat kita bahagia, mungkin bangsa ini akan bahagia sampai penderitaan itu habis di negeri ini.
telisik lebih dalam...

pemilik gubuk

Foto Saya
yogyakarta, D.I Yogyakarta, Indonesia
Penikmat Kopi, Pecinta Kegilaan, menyukai Susur Pantai dan Mendaki Gunung. hobi Mengejar Pelangi dan Menjaring Matahari. suka melihat kombinasi Awan Putih dengan warna Biru dari Langit, Gunung dan Laut. Kesurupan kalau mengkaji sejarah yang kontroversi {motto hidup : "setiap orang punya pilihan paling rasional dalam hidupnya meski orang lain menggapnya omong kosong"} -aziz-

kabar lewat surat

lapak populer

arsip gubuk

Stat

Add to Technorati Favorites

blog-indonesia.com



Free Counters
Clothing Dept Store

tempat nongkrong (gabung yuk...)

rumah keroyokan (ngikut yuk...)

sahabat

serba-serbi (award & banner)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
jika kau jatuh dan terpuruk ingatlah aku, mungkin saja aku bisa mengentaskanmu dari keterpurukan itu. saat kau senang lupakanlah aku, bila kau takut aku akan merusak kebahagiaanmu. sampai kapanpun !!!
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates