Kamis, 09 Mei 2013

Ngawur Ngelantur

ini sekedar tulisan ngawur dan ngelantur karena susah tidur. padahal esok hari harus berangkat ke solo. aha yang epnting malam ini ngetik dulu. biasanya kalau baca-baca buku atau menulis sedikit-sedikit mata akan redup dengan sendirinya, kemudian ngantuk melanda. semoga. mari masuk dunia ngawur dan ngelantur.

cahaya entah dimana | sumber gambar : pixabay.com
cahaya, kau sebenaranya hanyal sebuah tipuan warna yang tak pernah bisa dijamah manusia. rinduku padamu adalah gejolak cinta tak terbatas waktu. cahaya yang kau anggap sesungguhnya rasa warna dan memiliki panas penuh aroma. cahaya kecil itu menyala dari sumbu lilin di atas tumpukan makanan.

tanggan ini aku kepalkan bersamaan dengan mata yang kupejamkan, catat! aku bukan majusi yang berdoa di atas api pada lapisan roti. aku manusia menghadap cahaya seperti ritual orang saat mengucap harapan ketika ulang tahun di rayakan. namun kini aku tak ulang tahun, aku bahkan tak ingat kapan aku lahir. lalu apa yang aku doakan, permohonan pengampunan dosa dimasa lampau ataukah harapan kehidupan di masa depan. itu semua omong kosong.

omong, hanyalah sebuah ucap yang tak terlalu penting sebenarnya. sekedar retorika kata di hadapan hadirin yang datang tanpa kado, tapi menyiksa lalu berharap dapat makan gratis. sial. kosong karena sesungguhnya semua itu tak bermakna sama sekali. kecuali sekedar pemanis lidah di hadapan khalayak yang juga tak terlalu diharap. lalu dimana cahaya?

padam. ketika angin kuhembuskan pada nyala kuning lentera di atas sumbu lilin berwarna putih. harusnya tak ada perayaan, harusnya terdiam, merenungi satu tahun usia telah padam. cahaya yang padam. lihatlah cahaya itu, sementara. dia dinyalakan, lalu padam, entah ketika sumbu habis terbakar ataukah sengaja dipadamkan sebelum sumbu terbakar hingga ujung.

pada dasarnya tulisan ini tak tahu akan berakhir dimana selain sekedar meniti malam, menanti pagi. tulisan ini tak berarti apa-apa. hanya sekedar ucap retorika tanpa makna, tak usah dihiraukan. tangan saya tak mau berhenti menari di atas tombol-tombol putih penuh huruf. tolong hentikan jari ini untuk berjalan. putaran ini memelahkan.

ah semakin tidak jelas kemana arahnya, cahaya? samapai mana tadi aku sudah lupa. tolong siapa saja biarkan tulisan ini aku akhiri. mereka berontak. jari-jari di luar kendali. otak sudah mulai menyepi, merehatkan sepruh saraf untuk beristirahat.

aku peduli pada mimpi-mimpi malam ini. selamat malam, entah jika mereka menyambut pagi setelah lewat pukul duapuluh empat. ini pagi, ada yang mengatakan dini hari, sebagian menyebutnya sepertiga malam terakhir. enatah apa itu. yang pasti tulisan ini hanyalah ngawur dan ngelantur.

siapapun anda bersyukurlah ketika mampu memejamkan mata lalu membukanya kembali.
salam dari sisi selatan kaki merapi, ketika bulan tengah bersembunyi.

----
sedikit update
semalam sebenarnya ga tau nulis apa, ngelantur, anehnya ngelantur bin ngawur itu juga ga sengaja ya nyerempet-nyerempet ulang tahun (bisa di baca tulisan di atas). hahaha eh ga taunya pagi ini liat TL twittter ada seorang kawan sedang berulang tahun, namanya dyas larasati, ga terlalu kenal sih, hanya tau namanya saja. cuma pernah sekelas di beberapa mata kuliah, ya kenal di situ. Tuhan kadang emang Maha Bercanda. ga ada maksud apa-apa. hanya unik saja, kok bisa. yo, selamat ulang tahun buatmu kawan (mungkin dia juga ga tau nama ku dan juga ga sempet juga baca tulisan ini) hahahhaha. yo wes ga pa-pa. selamat ualang tahun, semoga hari-hari kedepan penuh kebaikan.

Selasa, 07 Mei 2013

Kematian Tidak Pernah Lucu

tadi siang, kami (saya dan teman-teman) makan siang di sebuah tempat makan cukup nyaman di sekitar jalan  kaliurang. kami berenam sebenarnya hanya ingin menutup minggu-minggu melelahkan di beberapa deret hari terakhir ini. seperti biasa banyak hal yang dibicarakan, sedikit gelak tawa dan canda gurau yang menggema. namun ada satu hal dari canda gurau yang membuat saya terus memikirkannya hiangga pulang. yaitu ketika kami menertawakan kematian. kematian? iya!. kematian.

apa yang ditertawakan dari sebuah kematian?, itu yang masih saya renungi hingga sekarang. tadi kami membicarakan kematian dari kecelakaan yang terjadi beberapa hari kemarin di jogja, yang termuat di media, yang pernah kami dengar ceritanya dan macam-macam lainnya. ada sisi yang lucu dari setiap berita kematian yang kami tertawakan, kami buat bercandaan supaya lucu. menyenangkan ? iya. bahkan menggali sisi humor dari setiap peristiwa kematian ternyata unik juga.

lalu pertanyaan yang berkecamuk dalam diri saya adalah, apakah iya kematian memiliki sisi lucu yang bisa kita tertawakan atau sesungguhnya kematian tidak memiliki sisi humor samasekali. ini yang menjadi renungan saya. lalu saya berada pada satu nadir dimana kemtian tidak pernah lucu dan tidak bisa ditertawakan.

ketika kita heran kenapa orang bisa meninggal karena sesuatu yang uni dan sepele, lalu kita menertawakannya. pada saat yang sama kita ternyata sedang menertawakan diri kita pada satu titik dimana kita belum benar-benar mengerti apa itu mati. ketika orang lain mati kita bisa mengomentarinya dengan beragam hal, termasuk dalam sisi lucu. tapi saat kematian itu ada di sekitar  kita, misal saudara kita sendiri. kita tak akan pernah bisa tertawa, kecuali mencoba tersenyum di hadapan para pelayat.

kematian tidak pernah lucu kawan, kita bisa saja tertawa hari ini pada kematian orang lain, tapi ketika kematian itu ada di sekitar kita, sesungguhnya kita berada dalam tekanan untuk tidak mampu bahkan untuk tersenyum sekalipun. jikapun bisa itu tak lebih wajah anda, karena saat orang dekat kita di jemput malaikat wajah bisa bertahan, tapi siapa yang mampu membohongi hati yang hancur.

selamat malam, selamat menyambut kematian, entah kapan, tapi pasti akan datang
sisi selatan kaki merapi, saat malam menunggu pagi.

Senin, 06 Mei 2013

Bubur Jujur

korupsi yang menjamur di indonesia selalu membuat orang saling curiga. dibuatlah sistem seketat mungkin supaya orang tidak bisa berbuat jahat lalu dibuat pula pengawasan seketat mungkin supaya orang tidak berbuat curang. semua itu di dasari satu hal, tidak adanya kepercayaan pada sesama manusia. atasan tidak percaya pada karyawan atau setiap orang pada rekan dan teman masing-masing. semua sistem dibuat supaya mencegah bahakan atau minimal meminimalisir terjadinya kkejahatan, seperti korupsi misalnya. maka tak sadar sesungguhnya berada dalam pandora sesat yang membut kita dipaksa saling curiga antar sesama.

itu semua dibuat dalam lingkungan sistem profesional, padahal sejujurnya di masyarakat-masyarakat bawah yang saya alami misalnya, semakin longgar sistem justru semakin baik. saat sistem diperketat, orang tak nyaman dalam kondisi seperti itu. namun di sistem yang longgar orang justru merasa nyaman, termasuk dalam berbuat jujur. misalnya hal-hal yang sering saya rasakan sendiri ketika makan.

di restoran-restoran tertentu misalnya saya disuruh bayar dulu sebelum makan, kadang itu menimbulkan pertanyaan, "makan aja belum udah suruh bayar". sistem itu dibuat pada dasarnya karena ada ketidakpercayaan pada pembeli, mungkin ditakutkan kabur setelah makan. bisa dibilang, belum apa-apa udah curiga. tapi pemndangan seperti itu tidak pernah saya dapatkan di tempat biasa saya makan di jogja, warung burjo, angkringan, soto grobak atau penjual bubur ayam. rata-rata semuanya menarik bayaran setelah orang selesai makan, kemudian pembeli menyebutkan dengan apa saja dia makan.

yang terjalin dari pemandangan itu adalah adanya kepercayaan dari penjual ke pembeli, dan pembeli ke penjual. ya pembeli ke penjual, karena terkadang pembeli bisa menaksir harga setiap yang dimakan dan penjual tidak akan menaikan harga secara "ghaib". maka makanpun jadi nyaman.

lalu apa hubungannya dengan judul "bubur jujur". ini pengalama unik saya akhir-akhir ini ketika makan bubur ayam saat sarapan. warung buburnya semi permanen, berada di jalan pandega marta yogyakarta, persisnya di depan rumah batik Apip's. beberapa kali saya makan bubur disitu dan terkadang entah karena terlalu pagi atau terlalu siang, uang yang saya bayarkan terkadang tidak ada kembalian. harga bububurnya Rp.5000 kadang-kadang saat saya bayar pake RP.50.000 tidak ada kembalian.

dalam kondisi seperti itu, penjual bubur dengan santai hanya mengatakan "bawa dulu saja uangnya mas, kapan-kapan kalau kesini lagi bayarnya". dalam sistem pencegahan korupsi yaang digadang-gadangkan orang-orang besar kata itu adalah aneh, wah, luar biasa atau justru mungkin omong kosong, tapi dalam sistem kehidupan lokal itu adalah kata-kata biasa. sang tukang bubur yang -bisa dibilang- pendapatannya tak seberapa di bandaing waralaba asing itu begitu percaya pada pelanggannya kalau sang pelanggan tidak akan kabur atau tidak bayar.

kepercayaan antar sesama manusia inilah yang mulai menipis, ini bukan tentang sistem bisnis, atau ilmu marketing. ini tentang kehidupan sosial kita dalam berteman dan bermasyarakat. kehilangan kepercayaan kita sesungguhnya tidak hanya terjadi pada urusan uang semata tapi juga dalam kehidupan. mozaik kecil dari jogja ini hanyalah satu dari jutaan serpihan kebijaksanaan yang membuat kita yakin, negeri ini tak memiliki tradisi korupsi, namun justru mempunya tradisi kejujuran. sekian

senin pagi ketika matahari sudah menampakan diri di sisi selatan kaki merapi

Minggu, 05 Mei 2013

Ganti Judul


blog ini ganti judul, untuk pertama kali. jika desain sudah beberapa kali gonta-ganti, sekarang giliran judul diganti. namun masih belum dan sepertinya tidak berani untuk mengganti domain. masih cukup nyaman dengan gubukaziz, ya emang gubuk, mau diapain lagi, masa ganti rumah atau istana kan ga mungkin. hehheh.

sebelumnya blog ini bernama "rumah singgah sederhana" tapi dipikir-pikir ini blog kok judulnya aneh banget, tanpa ada rencana dan tiba-tiba kepikiran buat ganti nama, kebetulan ini hari minggu lagi iseng di depan si biru (notebook) terus kepikiran buat ganti judul. langsung aja ganti, tanpa pikir-pikir lagi. toh judul tidak terlalu berpengaruh, yang mungkin haram diganti adalah URL blog. ini sih udah kartu mati.

seperti dulu, setiap ganti desain selalu di komentarin kalau pergantian desain menyebabkan turunnya pege rank dan SEO yang "rusak". namun, buat saya SEO atau page rank tidak terlalu penting, karena saya ngebol ya cuma buat asik-asik dan enjoy-enjoy aja, tidak seperti teman-teman lain yang beberapa diantranya emang serius bisnis misalnya. jadi SEO maupun page rank ga terlalu berpengaruh. begitupun dengan pergantiann judul atau nama blog. kalau besok mau ganti lagi, siapa tau kan.

ngeblog berjuta makna | sumber gambar : thefec.org
ini sekedar catatan ringan saja, buat ngisi blog yang selama bulan kemarin tidak di update lama-lama kasihan juga ini blog. hehehehe... semoga kedepannya kembali aktif nulis di blog seperti dulu. walaupun sekedar iseng kan lumayan, buat menghilangkan penat. apalagi ketika menulis sekarang saya ga terlalu semangat juga buat di sebarin, untuk sementara cukup buat kesenangan sendiri aja.

oh iya, tanggal sembilan mei 2013 saya kebagian undangan untuk acara asean blogger di solo, semoga acaranya menyenangkan dan dapat menambah teman baru dari seluruh indonesia. so buat yang ikut asean blogger sampai jumpa di solo bro. ehhehe

satu lagi, tulisan ini mungkin dibuat dengan gaya berbeda dibanding tulisan-tulisan sebelumnya, di blog. bukan apa-apa, saya hanya mau mencoba berbagai gaya dalam penulisan. semoga dengan itu saya dapat menyesuaikan diri dengan berbagai macam orang dan kalangan. dengan mencoba berbagai gaya penulisan saya harap dapat menemukan gaya yang pas dan nyaman. lagipula akhir-akhir ini sedang mencanangkan program (mirip bahasa politik aja heheheh) menulis tiap hari di blog meskipun mungkin hanya satu paragraf. karena saya selalu kagum pada sebuah konsitensi, itu yang akan terus saya pelajari.

ada adigum kalau menulis itu mudah tapi menulis bagus itu yang susah. namun buat saya, yang paling susah adalah menulis dengan konsisten. itulah yang saya pelajari dari pramodya ananta toer, bukan tentang tetralogi pulau buru -nya yang melegenda, namun konsistensi dalam menulis bahkan ketika dirinya dalam penjara. yang membuat saya cukup menaruh hormat padanya. konsistensi menulis pula yang membuat Kartini menjadi "lebih terkenal" dibanding pejuang perempuan yang lain pra kemerdekaan. jadi semoga dengan ganti judul bisa membut saya lebih konsisten dalam menulis di blog. sekian.

selamat menikmati masa depan kawan-kawan
mari tetap konsisten ngeblog, mari belajar bersama

Kamis, 21 Maret 2013

Ketika Sang Bangsat Bertutur


Pernah baca cerita sangat pendek? Jika belum saya rekomendasikan anda untuk membaca buku berjudul “coretan untuk seorang bangsat” yang di tulis oleh rina tri lestari. Ada 39 tulisan cerita –sangat- pendek yang dibukukan. Kenapa saya bilang sangat pendek, karena semua kisah yang disajikan terlelu singkat jika di bilang cerpen dan terlalu panjang pula jika dikatakan fiksimini. Namun kisah-kisah singkat yang diceritakan memiliki makna yang sangat dalam. Beberapa –bbisa dikatakan semua- kisah memuat judul yang menggoda dan isi tulisan yang menohok pembaca.

Salah satu yang membuat saya menyukainya adalah tulisan dalam buku ini adalah setiap penggal cerita yang terhampar selalu menghadirkan kejutan. di akhir cerita bahkan mengajak pembaca memberi tafsir sendiri atas setiap karya.

Buku ini dibuka dengan tulisan berjudul “janda beranak satu”, sebuah cerita yang bisa dibilang paling panjang dalam buku ini. Kisahnya ternyata justru menghadirkan firman sebagai tokoh utama dan dalam tafsir saya sang janda beranak satu justru menjadi subjek penuh kejutan saat cerita ini ditutup di atas nisan. Beberapa cerita yang cukup berkesan buat saya adalah “hamili aku mas” serta “kuberikan tubuhku, seluruhnya”. Simak penggalan cerita dalam judul kedua yang saya sebutkan

kuberikan diriku padamu
tangan untuk digenggam, pipi untuk dicium, tubuh untuk dipeluk, semuanya?
tidak, tidak sekarang
belum, mungkin secepatnya, setelah kamu membuktikan padaku bahwa kamu tidak sedang mendua

penggalam tulisan diatas bercerita bagaimana seseorang bisa memiliki tubuh tapi tak mampu memiliki hati dan cinta. Ada juga cerita-cerita nakal yang membuat saya mengerutkan dahi seperti, “tiga laki-laki”, “kutang merah” atau kisah tentang cak haji di tulisan berjudul “terlalu banyak masjid di kota ini” dan “aku seneng koen, cuk” yang membuat saya berangguk penuh senyuman. Ada pula cerita-cerita yang membuat “ngeri” seperti “perempuan penyambut pagi”, “bunuh aku, yah” hingga "coretan tahun baru seorang pelacur".

Saya tidak bisa menceritakan semua kisah di buku ini, anda harus membeli bukunya jika mau masuk dalam ruang imajinasi rina tri lestari, ruang imajinasi nakal tapi penuh kedalaman emosi. Rina mengingatkan saya pada bint el shati seorang penulis perempuan asal mesir yang pernah mencicipi hadiah nobel.

Seperti bint el shati yang melakukan pembelaan pada hak-hak perempuan melalui tulisannya, rina juga melakukan hal yang sama namun pada skala yang berbeda. Rina sebagai seorang penulis perempuan mencoba menafsir “serangan” pada perempuan baik itu sikap dan tubuh menjadi sebuah serangan balik yang lebih menohok. Hampir disemua ceirta yang dituliskan rina selalu mengambil sudut pandang perempuan dalam melakuakan penggembaran atas fenomena sederhana yang selalu mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Misal dalam kisah “hamili aku mas”, dalam realitas sosial perempuan tak akan pernah mau hamil diluar nikah dengan segudang alasan. Namun imajinasi rina akan membuat kita mengerutkan dahi. Si tokoh perempuan justru digambarkan minta dihamili kekasihnya, karena dengan itu kisah cintanya bisa direstui orang tua.

Apa yang dilakukan rina dalam bukunya “coretan untuk seorang bangsat” menurut saya adalah merupakan dekonstruksi terhadap kehidupan nyata namun dia menfsirkannya dalam bentuk tulisan. Pemfokusan bahwa sesuatu yang marjinal di dalam sosial kemasyarakatan, semisal karakter non-utama, justru merupakan ‘pusat’ atau sesuatu yang ‘mengontrol’  seluruh makna teks. Contoh yang bagus adalah semisal pembacaan dekonstruktif terhadap kisah-kisah perempuan yang marjinalkan seperti perempuan penggangu, hamil diluar nikah, hingga pelacur dibalik menjadi seuatu yang haq. Proposisi yang bisa dimunculkan adalah pergeseran status tokoh di dalam cerita-cerita tersebut. Jika terketahui bahwa penggambaran kehidupan nyata saat ini memiliki latar sosio-historis pelecehan pada kondisi perempuan (yang teraniaya), rina justru menjadikan “perempuan terpinggirkan” sebagai tokoh utama yang membalikan kisah dari sudut pandang berbeda.

Menutup tulisan ini saya ingin mengutip salah satu cerita, yang merupakan kisah paling pendek yang terjadi dalam buku ini. Ceritanya berjudul “aku memaafkanmu karena telah membuatku jatuh cinta”

                Laki-laki itu berdiri. Rokok di ujung jarinya masih menyala. Deburan ombak di hadapannya tak lebih keras dari gemuruh yang mendera dadanya. Matanya lurus menatap laut tak berujung.

                “Aku memaafkanmu…
                karena telah membuatku jatuh cinta…”

tebak sudut pandang apa yang coba dilukiskan rina dari seorang manusia yang telah disakiti kekasihnya ?

rina memang benar-benar “Seorang bangsat”, 39 imajinasinya yang tersaji dalam buku ini membuat kita yang membacanya harus menata ulang otak dan prespektif  dalam memandang kehidupan sosio-kultural, terutama terhadap perempuan.


Selasa, 01 Januari 2013

Berapa Harga Uang

berapa harga uang? atau saya rubah judulnya menjadi "seberapa berharga uang?" mungkin kemudian ada banyak orang punya tips dan trik untuk memuat tulisan dengan tema "bagaimana menghargai uang" toh semua jaring-jaring pertanyaan dalam rangkaian syaraf di otak saya saat ini dikomandoi oleh 3 hal yang baru saya alami, pertama sebuah film amerika, kedua tulisan di buku yang baru saya baca, dan ketiga kata-kata ibu yang dimasa lampau yang masih terekam. semuanya berujung pada kata sakral yaitu "uang". hampir tidak ada manusia di dunia yang tidak tahu uang, dunia modren memaksa ada satu alat ukur yang disepakati bersama sebagai pedoman jual beli dan uanglah jawabannya. maka anekdot "semua hal bisa diukur dengan uang" tentu masih bisa diterima akal sehat walau tak semua harus setuju.

tapi benarkah semua bisa diukur dengan uang? ya... mungkin bisa tapi "tidak semua bisa dibeli dengan uang"  film berjudul "Arthur" yang di sutradarai oleh Jason Winer memberi gambaran bahwa uang ternyata bisa menjadikan penjara. film yang naskahnya ditulis oleh Peter Bayenhm dan Steve Gordon ini menceritakan seorang pemuda bernama Arthur (Rusel Brand) yang kaya raya dan kerjanya setiap hari menghabiskan uang yang seolah tanpa batas, uang membuat Arthur menjadi manja dan kekanak-kanakan hingga di usianya yang sudah dewasa (diceritakan berusia 30 tahun) masih dalam pengawasan seorang pengasuh bernama Hobson (Helen Miren). Arthur bahkan memiliki jarak -hubungan- yang sangat jauh dengan Vivienne (Geraldine James), tidak ada nilai hubungan ibu dan anak kecuali ikatan darah diantara keduanya. bakan Arthur mengatakan ingatan terbaiknya dengan sang ibu ketika dirinya berada dalam rahim. 

secara singkat film ini menceritakan bagaimana uang memutus hubungan antara ibu dan anak, itu membuat sang anak justru lebih dekat dengan pengasuhnya. uang di satu sisi membuat arthur bisa melakukan segalanya termasuk membeli mobil-mobil keren hingga menyewa sebuah stasiun Grand Central yang membuat ratusan perjalanan kereta tertunda. tapi uang di sisi lain menjadikan Arthur dalam penjara yang membuatnya tak bisa lepas dari lingkaran setan emas yang mengelilinginya. arthur berontak dari penjara uang sang ibu meski di akhir cerita sang tokoh utama kembali dalam selimut uang ibunya. film ini lebih ber genre  komedi cum romantis. karena memuat juga kisah percintaan antara Arthur dengan gadis miskin bernama Naomi (Greta Gerwig). 

arthur mampu membeli suasana dan semua sistem serta benda untuk membuat Naomi bahagia lalu membuatnya jatuh cinta. tapi apa daya uang tidak mempu menyihir hati sang cinderela tersebut, karena Naomi punya ukuran lain tentang cinta. lalu pertanyaannya apa saja yang dapat dibeli dengan uang? 

maka jawabannya ada pada syair "The House of Wisdom" dari buku The Dance of Change tulisan Jusuf Sutanto "what money can buy! a bed but no sleep, computer but not brains, food but not appetite, finery but not beauty, a house but not a home, medicine but not health, luxuries but not culture, amusement but not happiness, sex but not love". kata-kata itu saya dapatkan dari buku "deticom legenda media online" karya A Sapto Anggoro (mantan wapemred detikcom) , tapi lebih spesifik kata-kata itu saya dapatkan pada tulisan Yogi Arif Nugraha (wantan wartawan detikcom yang sekarang berkarir di Kompas TV) pada bab pengakuan para sahabat. 

saya coba artikan kata-kata tersebut versi bebas "apa yang dapat dibeli dengan uang! sebuah kasur tapi bukan tidur, komputer tapi bukan otak, makanan tapi bukan nafsu makan, perhiasan tapi bukan kecantikan, rumah tapi bukan tempat tinggal, obat tapi bukan kesehatan, kemewahan tapi bukan peradaban, hiburan tapi bukan kebahagiaan, seks tapi bukan cinta." maka tak salah jika saya coba akulturasi dengan fatwa yang lebih singkat Emha Ainun Najib bahwa uang bisa membeli benda tapi tidak bisa membeli nilai. 

saya jadi teringat dengan klub sepak bola asal london dan manchaster yaitu chelsea dan manchaster city yang menggelontorkan dana sangat banyak untuk merengkuh gelar juara. tapi tetap saja juara bukanlah benda tapi sebuah nilai dan nilai tak pernah bisa dibeli. kita hanya bisa membeli kasur tapi tak bisa membeli tidur, kita bisa membeli obat tapi bukan kesehatan. kasur atau obat hanyalah shirottol mustaqim untuk mendapatkan tidur yang nyenyak dan tubuh yang sehat. tapi kasur dan obat terkadang tidak memberikan itu, terkadang orang bisa tidur nyenyak di alas tikar atau sehat hanya dengan pola hidup. tapi banyak juga orang membeli benda untuk tujuan nilai. chelsea dan manchaster city membeli benda untuk mendapat nilai, mereka membeli pemain hebat untuk mendapat gelar. apakah berhasil, jawabannya bisa saja iya dan tentu saja iya. tapi tetap memiliki disclaimer tak selalu dan tak semua. jawabannya adalah bisa jadi barcelona yang tak membeli pemain hebat dengan harga selangit namun lebih memilih menghasilkan pemain (benda) lewat pembinaan di akademi untuk mendapatkan gelar. ada proses yang berbeda bisa sama-sama bisa mendapatkan gelar namun memiliki nilai yang berbeda.

kita kembali ke judul awal, berapa harga uang? uang ternyata tak berharga karena dirinyalah (baca : uang) ukuran harga, namun jika ditanya berapa nilai uang, maka itu tergantung manusianya bagaimana sang manusia tersebut memaknainya. saya jadi ingat kata-kata ibu saya bahwa tak semuanya memang tentang uang atau bisa diukur dengan uang, namun dimasa modern seperti sekarang ini uang adalah salah hal yang sangat penting. uang memang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang.

selamat menikmati tahun baru 2013
dari kota jogja dimana malam tahun baru diguyur hujan deras

sumber foto : disini, disini, disini

Selasa, 25 Desember 2012

Tanya Rapor


pagi ini agak lain dari biasa, mungkin karena libur panjang. musim-musim libur gini emang lebih enak liburan di kamar saja, ke sekitaran kota jogja juga percuma, macet dimana-mana penuh kendaraan luar kota. mau wisata keluar kota juga bukan pilihan baik, karena harga tiket dijamin jelas naik juga. maka pilihan paling rasional adalah tetap di kamar. biasanya pagi selepas sholat subuh di isi baca buku sambil berharap akan kembali terlelap.

rapor merah | gambar : www.bisd303.org
tapi pagi ini beda, iseng-iseng hari ini saya ngajakin ngobrol 2 malaikat yang kerjanya mengawasi saya tiap hari. lagi pula bosa juga kalau ngobrol sama setan terus, saya pikir ga salah ngobrol dengan malaikat, siapa tau ada kabar baik. lagi pula ini sudah mau tutup tahun, boleh lah kalau bisa menyelidiki sedikit isi rapor catatan amal. berharap-harap cemas rokib-atid mau berbaik hati dengan saya.

saya coba menyapa kedua malaikat setia itu,
"hey kakak....." saya coba akrab
"tumben abis subuh masih melek, biasanya tidur lagi" kata malaikat  rokib, dan dengan santainya malaikat atid cengengesansambil menertawakanku

"heheh, iya nih.... eh apa kabar kalian berdua"
"udah, ga usah berlagak akrab, dasar manusia, pasti ada maunya kan" kata sang malaikat bernada sinis

"ah bisa aja, sebenarnya da yang ingin aku tanyakan" jawabku mantap
"hahahha, nah tuh kan... dasar manusia.... bilang langsung aja, apa maumu" kata malakat atid tegas

begini kakak malaikat atid dan rokib, kalau boleh tahu gimina nilai rapor saya tahun ini?" tanyaku penuh ragu
"hahahhahahahhaha.... hahhahahhahahahha....." tawa kedua malaikat itu meledak seakan penuh ejekan....

"hey serius nih, malah diketawain..."
"iya, iya.... coba ulangi pertanyaanya.... maap maap..."

"begini, kalau boleh aku ingin tahu nilai rapor amalku...." kuajukan pertanyaan ini untuk keduakalinya
"baiklah, sebenarnya agak berat juga kasih tahunya, tapi ga apa-apa lah, toh ini amal kamu, jadi ga ada salahnya kamu tahu" jawab malaikat rokib penuh nada kasihan, dan atid masih saja cengar-cengir belum mampu menahan tawanya itu....

"oke, akan kami bacakan, tidak semua... sebagian saja ya...."
aku hanya mengangguk untuk menjawabnya, sambil berharap-harap penuh cemas,
syahdan, mulai
intensitas mendekatkan diripada Allah (C)
kesalehanmu tahun ini dapat (C)
sholat berjamaah (C)
sholat sunnah (C)
puasa sunnah lebih parah dapat (D)
muhasabah mu juga (C)

amalan wajib juga paling tinggi (B) tidak ada yang bernilai "A", sikap mu pada orang tau dan saudaramu dapat (B-), intensitasmu mengingat dan meng-esa kan Allah malah dapat (C), lalu.....

dan aku semakin pusing mendengarnya lalu terjerambab dalam kegelapan kala matahari mulai bersinar pagi ini.....

Minggu, 23 Desember 2012

Menikmati Subuh

buat sebagian orang subuh mungkin agak berat untuk dilakukan, dan saya adalah bagian dari orang-orang yang berpendapat demikian. bangun lebih pagi dibanding jutaan orang yang merasakan dimensi lokasi dan waktu yang sama, tentu memerlukan perjuangan lebih. dan yang lebih berat dari itu semua adalah membiasakannya. itulah sangat sulit rasanya mengejar waktu awal subuh hingga bisa berjamaah di masjid.  namun saya masih bersyukur masih bisa sholat subuh sebelum fajar menyingsing. 

buat saya subuh memiliki dimensi waktu yang menakjubkan, itulah titik dimana kegelapan perlahan dihempaskan, serta digantikan oleh cahaya terang. disanalah saya mencoba menafsir bahwa orang-orang yang melihat serta merasakan prosesi perubahan itu adalah orang-orang yang beruntung. di titik ini pula terjadi proses dingin perlahan berubah menjadi hangat, kebeukan perlahan mencair. dan disanalah semangat baru selalu muncul.

damai, sunyi, penuh makna | foto : nur-muslim.blogspot.com
menikmati waktu-waktu subuh adalah melihat orang-orang hebat memulai aktifitas. dan di waktu ini saya selalu dihentak oleh para manusia yang sudah lanjut usia. jika saya hadir di masjid kebanyakan pengisi shaf adalah para kakek-nenek yang sudah berusia senja. melihat orang-orang senja adalah pembuka fajar, mungkin saya semakin diingatkan akan sebuah titik balik kemanusiaan tesebuah pendekatan akan kematian. 

boleh banyak orang mencintai dan menyukai lembayung senja, tapi saya yakin anda akan kesilitan mencari teman bernama senja. dan sebaliknya teman-teman akan banyak menemukan orang bernama fajar. fajar adalah semangat, awal diaman kehidupan manusia dimulai setelah bangkit dari kematiannya, karena tidur adalah sistem peringatan terhadap manusia akan sebuah kematian. manusia tidak akan selamanya terjada, adakalanya harus tertidur. manusia tak selamanya hidup adakalanya akan meninggal.

waktu subuh memberi saya mata kuliah kehidupan tentang itu. materi tentang bagaimana mengawali kehidupan. sekali-kali jika bangun pagi (waktu subuh) sudah menjadi rutinitas, maka cobalah keluar rumah setelah sholat, dan perhatikan beberapa orang yang memulai aktifitasnya, lalu nikmati bagaimana langit berubah perlahan. temukan cinta dan kedamaian disana. selamat menikmati minggu pagi yang cerah...

dari sisi selatan kaki merapi

Sabtu, 22 Desember 2012

Kontroversi Ucapan "selamat natal"

timeline beranda facebook lagi rame apa hukum mengucapkan "selamat natal". di sisi lain itu di seperti "kiamat 2012" yang di kooptasi media dan industri hiburan menjadi film, tayangan reality show, talkshow. seperti itu juga ucapan "selamat natal" di jual oleh yang sebenarnya tidak merayakannya. kelompok lain mengundang tokoh2nya untuk berbicara dan berargumen yang mana mereka sudah membuat kesimpulan, sedangkan kelompok lainnya membuat acara yang sama dimana kesimpulan dibuat dengan hasil yang berbeda.

saya membaca banyak tulisan dan mendengar banyak diskusi tentang pro-kontra "Selamat natal". hebatnya ikhtilaf tentang "frasa sakti" tersebut tak hanya menjadi diskusi pada tataran "Furu' Juz'iyah" namun diskusinya hingga dibawa pada tataran "Ushul Kulliyah". anehnya lagi perdebatan (mungkin sudah bukan diskusi lagi) tentang akhlak (prilaku) berakhir dalam kesimpulan tentang aqidah (keyakinan). dan akhirnya dalam kebodohan, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. orang lain yang hari raya lah orang kita malah "ribut". ampppuuunnn........

damai aja ya | foto : kaskus
sebenarnya saya bingung juga mau mulai dari mana, ini agak susah membuat kesimpulan karena menyangkut keyakinan. jadi saya tidak akan membuat kesimpulan di akhir tulisan. saya hanya mencoba meraba dari kedua belah sisi yang berlawanan. pihak yang mengatakan halal berpendapat karena ucapan itu hanya soal akhlak saja, hubungan habluminannas dengan pemeluk agama yang berbeda. sikap ini hanyalah ungapak saling memberi selamat saat hari raya, tidak ada maksud lebih apalagi sampai menyentuh aqidah sang pengucap. 

sedangkan untuk yang mengharamkan berpendapat hubungannya terletak pada kata "natal" yang berarti kelahiran. siapa yang dilahirkan? yaitu "yesus". peringatan kelahiran yesus yang dianggap tuhan oleh teman-teman nasrani ini dirayakan dalam bentuk natal. ucapan "selamat natal" berarti adalah pengejawantahan dari sikap persetujuan atas kelahiran tuhan, padahal dalam islam soal ketuhanan adalah soal akidah. sehingga ucapan itu dianggap persoalan "uslull".

ulama dan tokoh, baik yang mengharamkan maupun yang menghalalkan saya akui keilmuannya dan saya hormati masing-masing pribabdinya. maka siapakah saya ini berani berbendapat berbeda dengan mereka.

saya dalam batas kemampuan saya tidak bisa memberi kesimpulan ataupun asumsi atas iktilaf yang terjadi. saya hanya hanya mencoba menarik garis tengah saja, mari kita hormati yang merayakan natal, mari kita hormati yang menganggap mengucapkan "selamat natal" semata soal akhlak, mari kita hormati pula yang menganggap mengucapkan "selamat natal" itu persoalan akidah. jika perbedaan agama saja bisa membuat kita damai berdampingan tentu persoalan ucapan tidak akan memecah belah persatuan kita.

Sabtu, 15 Desember 2012

Balada Citra Sang Diva


kenal wajah ini?
jika belum mari saya perkenalkan, namanya Norma Jeane Mortenson. perempuan cantik yang tidak kenal ayahnya semenjak lahir serta di asuh oleh teman ibunya saat kecil hingga kemudian diserahkan ke panti asuhan yatim piatu. Siapa sangka, perempuan yang lahir 1 juni 1926 itu akhirnya menjadi simbol wanita paling terkenal dalam sejarh populer amerika dan menjadi bagian dari invasi budaya amerika paling radilkal dalam sejarah peradaban barat.

dipertengahan tahun 1940an Norma Jeane mendapat kontrak pertama dari "Twentiieh Century-Fox Studios" dan untuk kepentingan bisnis Jeane harus mengganti namanya menggunakan nama panggung. Dan kemudian pilihan nama panggung jatuh pada "Marilyn Monroe", nama yang kemudian membawanya dalam puncak ketenaran sekaligus penderitaan bagi sang diva. Saat awal karir di Hollywood Merilyn mengatakan "Hollywood adalah tempat dimana kamu akan dibayar seribu dollar untuk sebuah ciuman, dan lima puluh sen untuk jiwamu”.

karir Marilyn tidaklah dibangun dengan mudah, bahkan untuk berkarir di Hollywood dia harus menjual dirinya tak hanya di ruang casting, tapi juga di pesta-pesta malam para kaum film. Hingga akhirnya keberuntungan berpihak saat berhasil memikat Joe Schenck. Marilyn menemaninya main kartu, mengosongkan asbaknya, serta membiarkan payudaranya menjadi mainan menejer Fox tersebut.

tak butuh waktu lama bagi Marilyn untuk mencapai puncak ketenaran. dia hadir di saat yang tepat bagi kehausan bangsa amerika akan kebebasan. right women in right place, dialah sang “penerjemah” pandangan bapak psikoanalisis Sigmun Freud bahwa kebenarana terakhir manusia adalah naluri seksualnya. dan diri Marilyn Monroe menyediakan diri sebagai wadah bagi kebenaran itu, serta merelakan dirinya sebagai tubuh dan daging bagi kesadaran baru tentang sexsualitas.

Marly hadir sebagai gambaran imajinasi yang ada di benak para lelaki amerika 50an yang tenggelam dalam dunia rasis termasuk imajinsi bidadari impian. bentuk tubuh kenyal, semok dan seronok, langkah berjingkat seksi sambil menggoyangkan pinggul dengan mengoda. pantat kenyal montok dibarengan leher jenjang namun lembut. buah dada kencang menerawang seakan selalu telanjang. disertai bibir menantang dengan suara merintih mendesah dan otak rasis amerika yang menggap hanya yang berkulit putih dan berambut piranglah yang berhak sensual. maka sempurnalah Marilyn sebagai dewi kulit putih yang menghiasi ruang imajinasi hampir semua ruang imajinasi para keponakan Paman Sam.

namun Marilyn bukanlah sekedar penjual dada dan paha semata, dia juga mengurai ide dan prilaku itulah sebabnya dia menjadi simbol sekaligus objek bahkan subjek. Dia juga muncul saat studi kinsey tentang sexsualitas menjadi kontroversi di media, bersamaan dengan itu pula playboy melakukan propaganda hebat tentang sex. pandangan negatif tentang sex pada saat itu sebagai tabu, dosa, penyakit, dan penuh rasa malu. Dilawan oleh Playboy dengan propaganda yang tak kalah masif dan menampilkan gambaran sex itu sebagai kebahagiaan, keindahan, kenikmatan, dan perasaan cinta. Marilyn adalah penumbuh dari ideologi sexsual baru itu. ia tak pernah mengaitkan sexsnya dengan rasa malu atau tabu. ia juga tidak pernah merasa bersalah dan berdosa akan apa yang dia kerjakan. "aku tidak perlu malu, aku tidak melakukan sesuatu yang jahat. aku dipoto telanjang demi 50 dollar untuk reparasi mobil di bengkel" ujarnya saat foto untuk kalender Golden Dreams tahun 1949.

namun di tengah ke populran, Marilyn kehilangan dirinya. celakanya bagi seorang bintang seperti dia, identitas tidak pernah bisa dicari apalagi dibuat diluar citra yang dipasangkan publik pada dirinya. citra bagi seorang bintang bukanlah sesuatu yang personal, melainkan suatu sistem yang dibentuk oleh jalinan opini publik. kebenaran pada seorang bintang bukanlah kebenaran dirinya, melainkan kebenaran dari citra-citra tentang dirinya yang dibuat oleh jalinan opini media. sehingga Marilyn sadar dia tidak pernah berbicara dan berlaku sebagai dirinya, namun sebagai orang ketiga. Itu seperti dia harus membicarakan orang lain sebagai dirinya sendiri.

Marilyn kehilangan dirinya tak hanya dalam karir tapi juga kelurganya. masa lalu yang suram tanpa ayah dan menghabiskan masa kecil di panti asuhan, dan tidak pernah berhasil membina hubungan rumah tangga dengan banyak laki-laki. meski dia pernah berkata, kalau dirinya punya banyak mimpi dan imajinasi tentang seorang ibu rumah tangga, namun tak pernah ia dapatkan. Bisa jadi itu dikarenakan para lelaki yang mendekati serta menikahinya tidak menginginkan cinta Merilyn, tapi lebih hanya mengejar citranya saja. hal itu juga yang membuatnya berada dalam skandal percintaan terbesar gedung putih bersama prsiden amerika Jhon Kennedy serta saudara laki-laki sang presiden yang menjadi jaksa agung yaitu Bobby Kennedy.

sang bintang sebenarnya hanya ingin menjadi orang biasa, ia mulai merasakan kehilangan jati dirinya sendiri, sehingga membuatnya merasa seorang diri. “I'm selfish, impatient and a little insecure. I make mistakes, I am out of control and at times hard to handle. But if you can't handle me at my worst, then you sure as hell don't deserve me at my best.” ujarnya.

Ketenaran ternyata tidak membuat dia mengenal dirinya sendiri. malahan ketenaran menjebaknya dalam kesia-siaan dan kenistaan atas apa yang telah dia peroleh. 

"ketenaran bagiku hanya perasaan keberuntungan sesaat dan secuil saja. ketenaran hanyalah sesuatu yang tidak dapat memenuhi dan mengisi diriku. ketenaran hanya menghangatkan sejenak saja, untuk kemudian segera pergi dariku." Ketenaran yang dia dapatkan jauh dari ekspektasi awal yang hanya ingin jadi model pemotretan demi menyambung hidup.

Marilyn memperoleh ketenaran itu, tapi justru karena itu ia tak memperoleh dirinya. ia tak mengenal siapa dia. yang dia kenal hanya buatan orang lain tentang dirinya. 

"diam-diam aku merasa, aku tak pernah setia, jujur dan apa adanya. aku merasa diriku hanyalah semacam pemalsuan yang dibuat dengan demikian sempurna. aku percaya setiap orang pernah merasakan itu. tapi dalam pengalamanku, pemalsuan itu terjadi dengan demikian jauh, sehingga akhirnya aku berfikir, aku hanyalah produk buatan orang lain belaka."

citra tidak menghidupkannya tapi menghancurkannya. citra tidak menghibur kesepiannya dan meredakan kegelisahannya, tidak pula mengisi kekosongan jiwanya. citra hanya merakusi dan melahapi daging serta tubuhnya yang cantik dan indah. citralah yang membuat dirinya bermusuhan dengan dirinya sendiri. hidup ini semestinya jalan bagi manusia untuk menemukan dirinya. sedangkan Mariyln dipaksa oranglain untuk menjalani hidup semata-mata untuk menemukan citra yang dibuat orang lain tentang dirinya. mungkin inilah gambaran nyata seperti sebuah novel karya paulo celho yang berjudul "the winner stands alone". novel yang menceritakan kompleksitas dan kepalsuan orang-orang film. Novel ini mengambil setting cerita festival film canes di prancis, dan tokoh-tokoh dalam novel itu menggambarkan kehidupan orang-orang film yang kesepian ditengah ketenaran yang didapatkan.

foto diatas adalah "Norma Jeane" sebelum menjadi "Marilyn Monroe" dan memberi gambaran pada kita tentang sisi lain sang mega bintang. rambut bergelombang yang pirang kecoklatan dan senyum jujurnya ditemani seekor domba memberi kita akan kepolosan hidup tanpa citra. disana Marilyn sebagai anak alami yang sekaligus sebagai keajaiban alami pula. foto yang diambil Andre de Dienes untuk sebuah majalah keluarga (bukan majalah dewasa) menyimpan keluguan dan jati diri seorang Marilyn sebelum menjadi Mariyln. dialah Norma sebelum berubah menjari Marilyn yang didandani dengan berbagai perhiasan gemerlap dan seolah tak tersentuh.

Marilyn dapat ditangisi sebagai putri amerika yang hilang, dipuji sebagai tokoh yang sukses luar biasa, disesali sebagai martir patriarki, didewakan sebagai prototipe semua kewanitaan, dirayakan sebagai tokoh komik yang berbakat, ditertawakan sebagai seorang bodoh tak berkemampuan, dicaci sebagai diva yang arogan, disayangi sebagai anak yang malang, diratapi sebagai korban konsumerisme, dikecam sebagai simbol ambisi invasi budaya pop amerika, dilecehkan sebagai orang tak waras, pun dicap sebagai agen komunis yang licik.

di atas itu semua Marilyn hanyalah seorang manusia. manusia biasa yang dipecah-pecah dan dibagi-bagi dalam berbagai citra yang saling bertentangan. dan itulah takdir mahabintang. namun seperti diperlihatkan sejarah mahabintang hanyalah ciptaan masyarakat yang membuat sang bintang tak pernah menjadi dirinya sendiri.

mahabintang itu pun akhirnya menyearah pada tekanan kesendirian. dia kesepian dalam keramaian. 5 agustus 1962 wanita dengan berat badan 106 pound dan tinggi 1,66 meter tersebut ditemukan meregang telanjang di atas ranjang sambil memegang gagang telepon. Marilyne Monroe seolah guru bagi Michael Jackson dan Wetney Huston yang meregang nyawa akibat overdosis alkohol dan obat penenang. ketenaran tidak membuat jiwa seseorang menjadi tenang. ketenaran dan keglamoran memaksa seseorang tidak menjadi dirinya sendiri namun menjadi yang orang lain inginkan. Dan hingga akhir hayatnya Marlyn Monroe tidak pernah bisa kembali menjadi Norma Jeane Mortenson.


NB: 
tulisan ini didasarkan "Die Aamerikanische venus", Der Spigel Nr.31/29.7.02
dan disarikan dari "yang cantik dan yang mati", Basis No.09-10,th51,02

 

sekedar vandalisme Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger