Kamis, 20 Agustus 2009

"Pasar Kembang" dalam Kontroversi

59 comments
Ada pepatah mengatakan jika ingin membangun mesjid, maka bangunlah toiletnya. jika ingin membangun kota maka bangunlah lokalisasinya (prostitusinya). pepatah yang penuh kontroversial. banyak yang mendukung, tapi tak sedikit dari kita yang menolak, bahkan mengatasnamakan agama.

Jika Surabaya punya Gang Dolly, Bandung punya Saritem, Semarang punya Sunan Kuning, Purwokerto punya Gang Sadar, Cilacap punya Slarang, maka Jogja punya Sarkem. Sebuah kawasan remang-remang yang banyak di datangi oleh siapa saja, terutama lelaki hidung belang, celana dalamnya juga belang-belang.

Jakarta kok ga dimasukin ? mau tahu penjelasannya ? nih dia : Jakarta itu sendiri gudang prostitusi. nggak hanya satu kawasan tertentu. Tapi setiap sudut di seluruh jalan dan gang di Jakarta merupakan tempat prostitusi. wakakakakakaka... lebay. Jadi, Jakarta itu tarafnya internasional. sedangkan kita lagi ngobrol yang taraf lokal. Nggak percaya ? baca saja Jakarta Undercover-nya Moamar Emka atau laporan beberapa majalah Jakarta tentang dunia yang kayak begituan.
dimanamakah letak lokasinya ?
di alam semesta
tata surya
bumi
asia
indonesia
jawa
DIY
jogja
sosrowijayan
sarkem
Nama sebuah jalan yang merupakan kependekan Pasar Kembang. Tepatnya di sebrang jalan, selatan stasiun Tugu. Dinamakan Pasar Kembang karena banyak kembangnya, janda kembang, kembang gula, kembang melati, dan kembang jantan (itu mah "kambing jantan" yang ada filmnya), he he he....

Lokasinya masuk gang-gang kecil jika dilihat dari pinggir jalan, seperti nggak terjadi apa-apa. tapi setelah masuk kedalam lorong-lorong yang penuh "bidadari" itu maka kita akan disambut bak raja dalam sebuah kerajaan. lokasii ini tepat bagi para lelaki hidung belang. kupu-kupu malam siap melayani pelanggan atau para pendatang denagn berbagai paket hemat yang telah disediakan. mulai dari kelas ciblek (cilik-cilik betah melek) hingga paruh baya. mulai dari kelas gopek hingga ratusan ribu. Mulai dari kelas remaja hingga janda. Semua siap tersaji. kayak menu makanan.

Bagi tokoh agama dan tokoh masyarakat, sarkem tentu sangat meresahkan banyak orang. Bahkan organisasi keagamaan "garis keras" tak jarang mengkampanyekan untuk menutup dan membakar lokasi itu. Tetapi gladiator-gladiator yang berdiri sebagai pembela keberadaan lokasi ini siap bertempur melawan mereka yang dianggap ingin menghancurkan lokasi ini. Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu sumber pendapatan pemkot berasal dari lokalosasi. Bahkan pernah ada usulan kepada Sri Sultan Hamangkubowono untuk menjadikan sarkem menjadi lokasi wisata resmi, namun di tolak mentah-mentah, walaupun sultan juga tetap "membiarkan' lokasi tersebut beroprasi. Ali Sadikin, Gubernur Jakarta pada era orde Baru, menyatakan akan memberlakukan tempat perjudian dan prostitusi sebagai pendapatan terbesar daerah ibukota DKI Jakarta. "hasilnya untuk membangun daerah perkumuhan di ibukota," kira-kira demikian ungkapan Bang Ali di Majalah Tempo. karena itu tak heran jika sarkem ikut menymbang kekayaan Jogja.

Para pendatang yang ingin mencicipi nikmatnya kupu-kupu malam sangat beragam. Ada orang lokal, ada pula turis-turis dari mancanegara. justru salah satu ketertarikan para turis datang ke jogja karena ada pusat jajanan seks ala Asia. Sarkem adalah salah satu daya tarik bagi mereka. Jika anda pernah masuk kedalam lorong-lorong sempit itu maka anda akan mememukan beberapa selogan mirip slogan puitis ala warteg atau RM Padang,

Anda Puas, Saya Lemas
Jika kecewa, kasih tau kami. jika puas beritahu teman.
untuk itulah istilah sarkem yang diambil dari Pasar Kembang banyak berubah makna menjadi "Pasar Kelamin" atau "Saluran Kemaluan"

Jogja nggak hanya menyediakan oleh-oleh bakpia, salak pondoh, atau gudeg saja. Tapi menyediakan ceweknya juga, hi hi hi,... Maksudnya kamu bisa berkenalan dengan cewek-cewek jogja, bro. Para lelaki hidung belang pasti sudah tahu lokasi sarkem. Tanya saja sama mereka. kalau belum tahu mereka pasti belum layak mendapat gelar S. HB alias "Sarjana Hidung Belang"". wakakakaka... Buat para lelaki hidung belang, setiap awal tahun ada wisuda S.HB. Daftar saja di sarkem. Pasti dikasih formulir pendaftarannya.

Sarkem ibarat sebuah tioilet, banyak yang benci, tapi kalo sudah kebelet mereka rela antri, bahkan berani membayarnya. kita tentu sepakat, bahwa tempat pelacuran seperti ini melanggar norma. Tetapi di sisi lain, kita harus melihat bahwa pelacur juga memiliki andil yang cukup penting dalam mengurangi angka pemerkosaan. Coba bayangkan, jika para bujangan atau duda, bahakan lelaki yang sudah beristri, tidak mendapatkan pelampiasan dari pelacur, bisa jadi pemerkosaan membanjiri halaman demi halama surat kabar harian. sekalipun tempat pelacuran sudah banyak, toh pemerkosaan masih saja terjadi. Bagaimana jika tidak ada ?

Seorang pelacur bernah berujar "sebagai pelacur, kami ibarat toiletnya masyarakat. kami memang kotor, tapi kami harus ada," akunya.
"harus ada ya ?"
"kau bayangkan, deh. sebuah rumah tanpa ruang tamu atau kamar tidur ga terlalu jadi masalah, tapi tanpa toilet sebagai tempat membuang kotoran adalah nggak mungkin."
"kalau pelacur memiliki arti yang sangat penting, aku jadi bingung dengan Tuhan ?"
"bingung kenapa ?"
"kalau pelacuran itu penting sehingga manusia sulit menahannya, mengapa Tuhan melarangnya ?"
"mungkin Tuhan suka pertunjukan drama. perlu ada pelacur sebagai pemeran antagonis."
seperti Firaun pada zaman nabi Musa, Naambrdz zaman nabi Ibrahim, atau Abu jahal paada masa Rasulluloh Muhammad. atau mungkin seperti nasib Noordin M Top di Indonesia pada masa sekarang ini. Pemeran antagonis selalu ada dalam sebuah sistem kehidupan suka atau tidak itulah kenyataan yang kita hadapi sekarang.

Sebuah cerita yang kadang tak masuk akal, lokasi seperti ini akan tetap menjadi situs yang akan selalu dihinggapi kumbang kemanapun perginya. Karena nafsu seks tak pernah mengenal kata "sabar".

ada beberapa puisi yang saya sadur, puisi dari W.S Rendra (pelacur-pelacur kota jakarta) dan Ridho "bukan" rhoma (duh, sarkem) akan menutup postingan saya kali ini.

W.S Rendra
pelacur-pelacur kota jakarta

saudari-saudariku, bersatulah
ambilah galah
kibarkan kutang-kutangmu di ujungnya
araklah keliling kota
sebagai panji-panji yang telah mereka nodai
kini giliranmu menuntut
katakanlah kepada mereka :
mengusulkan mengganyang pelacuran
tanpa menganjurkan
mengawini para bekas pelacur adalah omong kosong,

pelacur-pelacur kota jakarta
saudari-saudariku.
jangan melulu keder pada lelaki
dengan mudah
kalian bisa telanjangi kaum palsu
naikan tarifmu dua kali lipat
dan mereka akan kelabakan
mogoklah satu bulan
dan mereka akan puyeng
lalu mereka akan berzina
dengan istri saudaramu

ridho "bukan" rhoma
duh, sarkem

duh sarkem,..
jogja siang kota pelajar
malam kota pelacur
kau saksi bisu atas itu
lokasi lainnya menjadi bukti penguat
salon plus-plus, panti pijat esek-esek, telaga biru...

ciblek hingga paruh baya
gopek hingga ratusan ribu
remaja hingga janda
semua siap tersaji di sana

duh, sarkem...
kau dibenci, tapi selalu dicari
kau dikucilkan, tapi selalu diinginkan
kau dihina, tapi diam-diam dipuja
kau ingin dihancurkan, tapi tak sedikit yang mempertahankan

kau ibalat toilet di pasar umum
banyak orang yang benci baumu
namun secara sembunya-sembunyi mereka rela antri dan membayarmu

remaja, mahasiswa,
jejaka, duda, kakek tua
buruh, bos, pengusaha
semua rindu padamu

duh, sarkem...
kaulah salah satu pendapatan kota
mengalahkan lainnya
mereka tak sadar itu

kupu-kupu lugu itu sungguh kasihan
mereka hanya korban
tak jjarang dari mereka yang ingin keluar
tapi mereka selalu dinanti si hidung belang
dari kumpulan kutang yang hilang (wakakakakak, ga nyambung)

duh, sarkem...
sebegitu nistanya dikau


Tulisan di atas banyak disadur dari buku "Jogja edan, bro" dan tidak dimaksudkan untuk mendeskreditkan atau menyerang siapapun, itu hanya sebuah tulisan sedikit dari sebuah realita yang ada di sekitar kita.

59 komentar:

  1. puisi Rendra sangat to the point dan penuh sindiran, aku suka gayanya.

    pelacuran memang susah dibrantas, kecuali kaum hidung belang benar2 udah tobat dan hidungnya gak belang2 lagi.

    BalasHapus
  2. bahkan dari jaman kerajaan pun pelacuran sudah ada

    BalasHapus
  3. Ada yang bilang kalau 3Ta adalah salah satu bentuk ujian keimanan seseorang. TahTA, harTA dan waniTa. sekali lagi saya hanya bisa bertanya pada diri sendiri dan menjawab. Entahlah :(

    BalasHapus
  4. WAH kebetulan ku juga kost di jogja... jadi tahu sarkem di mana, tapi ku belum pernah mencoba ya, bukan berarti ku impoten.. hehehe.. tapi karena itu perbuatan keji yang di larang keras agama...

    nice article.. thanks

    BalasHapus
  5. gak ditempat ente aja yang ada prostitusi bos..... ditempat ane juga banyak dan gak jarang menimbulkan kontroversinya

    BalasHapus
  6. hmm, yang bikin saya heran ternyata pelacur sungguh bijak dan penuh wawasan, jawaban pertanyaan sebagai toilet masyarakat sama sekali gak kepikiran oleh saya, namun bermakna. Aneh..

    BalasHapus
  7. Prostitusi selalu ada dimana-mana
    dan tak akan pernah usai..

    Puisi Rendra mengingatkan akan sosok burung merak itu
    Padat dan menyengat

    BalasHapus
  8. Nice artikel..tiap dunia tidak pernah lepas dari hal itu..tinggal bagaimana kita menghindarinya saja...and..mhn maaf lahir dan batin..

    BalasHapus
  9. wow
    puisi Rendra emang tajam banget

    tp memang sih prostitusi itu susah dibrantas krn memang bny pria2 hidung zebra yg selalu berkeliaran dimana2...yg penting sih iman aja and takut akan Tuhan pasti gk akan pernah kepikiran ke daearh itu

    BalasHapus
  10. prostitusi itu tetap ada juga karena campur tangan pihak2 diatas sono..

    BalasHapus
  11. aq baca puisinya WS. Rendra
    duuuuhhh bener2 mantap....
    gak bisa berkata apa-apa dech aq...

    BalasHapus
  12. euhm, cara kamu menyampaikan kerasa bnget sobat, keep share, uda saia follow jgn lupa di follow balik iah

    BalasHapus
  13. Aku jelas menentang prostitusi sampai kapan pun. But reading ur article has given me the other side of story... (loh koq jadi cirlish - cirebon english, hehe...).

    BalasHapus
  14. wuiiih parah juga yaa..
    aga geli dan merinding kalo liat tempat2 kaya ginian..apalagi kalo emang liat cewek2nya..iiihh..
    tapi bner lho, di ibukota, temapt gue tinggal, hampir semua ada..bahkan di pinggir tol..

    BalasHapus
  15. Menarik nih artikelnya. Faktanya, prostitusi itu sudah ada dari zaman baheula... sulit dihapus karena pasarnya tidak pernah sepi. Apalagi di masa sulit sekarang, kesulitan ekonomi sering dijadikan alasan untuk terjun ke bisnis prostitusi. Memberi makan anak dengan uang haram tidak akan membuat anak tumbuh menjadi anak baik...

    BalasHapus
  16. wah..puisinya berani ya...langsung tonjok.
    Btw,I'm sure pelacuran akan berhenti kalau hidung belangnya musnah.Thanks kunjungannya.

    BalasHapus
  17. apa kabar para ulama di Jogja?

    BalasHapus
  18. hello... hapi blogging... have a nice day! just visiting here....

    BalasHapus
  19. tanjung katung airnya biru
    tempat anak mencari ikan
    ramadhan datang di hari sabtu
    salah dan silap mohon dimaafkan

    BalasHapus
  20. Mantabb, semoga kasus prostitusi bisa segera terakiri dan semuanya puas hati...

    BalasHapus
  21. Hmmmm, memang ini masalah klassik ya, mungkin kah kalo si idung belangnya nggak ada prostitusi ikutan nggak ada...?

    BalasHapus
  22. waah tuk masalah yg satu ini memang agak bingung niy...btw aq sebagai wanita cuma bisa berdoa meski prostitusi sukar diberantas / tidak berkurang at least semoga tidak bertambah...

    BalasHapus
  23. O ya thx dah mampir yah ...

    BalasHapus
  24. Astagfirullah.. saya sih tetep ga setuju, berarti bangun kota yg tidak halal, pantes kena bencana terus... harammmm!

    maaf baru mampir yaaah...

    BalasHapus
  25. biar aq tinggal di Jkt..tp sebenernya balik ke pribadi masing2..so, kalau masih mau disayang ama Allah, jangan dekati tempat2 gituan

    BalasHapus
  26. yg kayak beginian sepertinya ga akan pernah tuntas yah,, yah seperti dibaratkan tadi,, pelacur seperti toilet.. ckckckck....

    BalasHapus
  27. Oleh2 dari djogja pas PULKAM beberapa waktu silam, sebuah kaos berlambang MATA, bertuliskan :

    "Sarkerm, Jual-Beli alat kelamin bekas....."

    BalasHapus
  28. itu blog satunya knp off kang??!?!
    'Anda Puas, Saya Lemas
    Jika kecewa, kasih tau kami. jika puas beritahu teman.' itu sii jargon di dua tempat yang berbeda tuu kang.. hueheheheheh

    Marhaban Ya Ramadhan
    Selamat menunaikan ibadah puasa Kang.
    Mohon maaf lahir dan batin.

    BalasHapus
  29. Jakarta itu sendiri gudang prostitusi. ? Wah? Ha Ha ha..- Bisa ngomel2 tuh orang Jakarte

    BalasHapus
  30. Wehe.. s0al sarkem.
    Aku gak tau sarkem dimana. Dirimu k0g tau banyak. Pernah kesana? *nyengir iblis.

    Btw anak ugm jg yah?
    Salam kenal.

    BalasHapus
  31. mampir yaa...ada yang baruu nii :)

    BalasHapus
  32. mampir...=w=
    jdi ingt ka2k sy yg di jogja..
    di ugm jg..
    kpn plgny mbk, adikmu menunggu
    bakpau chikyen yg legendris i2...
    kmbali ke topik, tw bgt y yg bgt2..
    klo di malang, aq twny
    banci2 yg nangkring di stasiun mlem2..
    menakutkn skali...

    BalasHapus
  33. Keberadaan tempat-tempat seperti itu sebenarnya menunjukkan bahwa kaum adam telah gagal menolong their fellow heaven-dwellers untuk hidup layak dan setara dengannya....justeru mereka telah menindasnya tanpa ampun...kejam nian dikau kaum adam! he..he...he....he....kau biarkan saudaramu tertidas tak terperi!

    BalasHapus
  34. yak inilah hidup emang seperti itu.. sayah ajah orang SoeROCKboyo asli mas, jug tak atauk tentang gang dolly atau palah, males yg kek gituan....

    BalasHapus
  35. hehehhe... trus di selatan sarkem, jangan lupa Pajeksan bro..
    hahaha

    BalasHapus
  36. Hmmm... masalah prostitusi no komen dah, semua dikembalikan ke hati nurani masing masing aja.

    BalasHapus
  37. Begitu terkenalnya Sarkem sampai sehingga kalau orang nyebut Sarkem, pasti konotasi ya yang gitu2 deeh...

    BalasHapus
  38. Pelacuran sudah ada sejak jaman purbakala... jadi memang sangat susah untuk diberantas...

    BalasHapus
  39. sindiran kamu mengena tu brooo??
    mantap wesss

    BalasHapus
  40. Salam kenal sahabatku, kunjungan perdana ini, masih bingung mau ngomong apa.
    Saya tunggu aja kunjungan baliknya di Mantan Copet Itu Akhirnya Jadi....

    BalasHapus
  41. waduh, kena sekali puisi ny.
    jangan salahkan pelacur2 itu, karena ngga ada orang yg mau menjadi pelacur. mereka jadi kek gitu karena keadaan yg memaksa.

    BalasHapus
  42. saya mohon maaf atas semua kesalahan saya, yach...
    :)

    BalasHapus
  43. memalukan ya?
    di Serang-Banten juga ada :'(
    oya ka, main dong k blog ak.
    ada award buat kaka ..
    hhe

    BalasHapus
  44. http://penuliskeciil.blogspot.com/2009/09/tengkiess-to-my-beloved-soza-hhi-award.html

    BalasHapus
  45. menarik bro.. benar sekali, seperti buah simalakama... dimakan bapak mati, ngga dimakan ibu mati..
    eniwey, selamat idul fitri, minal aidzin walfaizin.. mohon maafnya lahir dan batin

    BalasHapus
  46. Great postingan dech ... bdw met lebaran ya

    BalasHapus
  47. warisan nenek moyang kita tuh kayaknya.

    BalasHapus
  48. sikupu-kupu malam by .puspa

    BalasHapus
  49. wah indah nian nih rumah...salam kenal aja di tunggu kerdatangannya

    BalasHapus
  50. slogannya kereeen banget!!!
    hahahahahaaa...

    BalasHapus
  51. saia sering sekali dengerin soal sarkem...
    sering lewat juga..
    tapi gak pernah ngerti bagian mananya yang ada itunya..

    hihihi

    kunjungan perdana..

    salam kenalll

    BalasHapus
  52. kalo di kampungku Pasar kembang tuuh pasar di hari sebelum lebaran.....

    BalasHapus
  53. sarkem : pasar kembang, pas masuk gang ora kuwat mambu parfum....wuok ...

    BalasHapus
  54. Tergantung dari keimanan kita untuk pilihan hidup mau mengikuti setan atau bertakwa pada Tuhan, aku jga terkesan melihat puisi diatas tersebut. PSK setidaknya harus dikurangi saja, memang susahtuk dilenyapkan dri muka bumi, karena hidup adalah pilihan.

    BalasHapus

bagi komentar, saran dan kritiknya kawan.... (no spam)