Selasa, 24 April 2012

Twitter Membuat Wartawan Seperti Penipu

1 comment

tulisan ini tidak akan panjang, hanya sedikit dari kegelisahan saya bagaimana wartawan membuat judul tulisan yang membuatnya menjadi seperti “tukang fitnah” ditegaskan dalam tanda kutip. permasalahannya bukan tentang tulisan yang ditulis tapi soal pemilihan judul hingga menimbulkan salah presepsi memahami konteks.

verastic.com | ilustrasi
contoh judul ini yang diterbitkan tempo “kim khadarsian pake anting KW” dan di twiit, orang jelas akan berfikir dan meng-RT bahwa kim pake anting palsu jadi kemudian muncul komentar “RT-twit” wah artis pake anting palsu. padahal kim memakai anting yang terukir huruf K dan W yang tak lain adalah inisial dari kekasihnya.

atau judul dari detik yang di twit “mentri main golf bersama jhon key”  apa yang ada dibenak anda membaca judul ini? wow ada bos ngester main golf bersama mentri. maka RT kecaman bertaburan di twitter tapi setelah dibaca penonton kecewa, karena jhon key yang dimaksud adalah perdana mentri selandia baru. sayangnya caci maki sudah muncul di-twitter.

tentu saja ada juga judul-judul nyeleneh di kompas yang bisa menimbulkan salah tafsir. 
masalahnya begini, itu terjadi hampir di semua portal berita online yang me-twit berita yang mereka sajikan. judul tidak mencerminkan isi tulisan secara jelas hingga pembaca menjadikannya salah tafsir. dan kadang sudah mencaci-maki walau tak sesuai konteks. kedua judul di atas hanyalah 2 contoh yang kebetulan saya liat dan saya ingat. jadi wahai wartawan bikinlah judul yang jujur, karena twitter berfungsi bagaimana 140 karakter berisi padat namun jelas. jangan bikin judul multi-tafsir hingga membuat orang “terlanjur” bikin dosa karena judul prematur dan multi-tafsir
Read More...

Sabtu, 21 April 2012

Kompasiana Memang Tempat Para Amatir

1 comment

Hari ini saya membaca sebuah kirimian link dari teman sesama kompasianer. i itu mengarah pada tulisan wari darmadi seorang kompasianer asal purwokerto, orang yang dulu -katanya- OB dan sekarang sudah jadi wartawan setelah si bos melihat tulisannya di kompasiana. tapi saya tak peduli dan tidak terlalu tertarik dengan tulisan yang dia buat, apalagi setalh dia menyatakan mudur dahulu kala lalu balik lagi setelah tulisannnya di plagiat kompasianer sesama purwokerto. oke stop membicarakan orang yang pernah perang opini dengan faizal assegaf tersebut. saya justru tertarik dengan komentar dari om admin senior, alias om isjet oke kesannya tua ya, saya tulis mas isjet.
coba cermati apa komentar beliau,
“untuk saat ini saya cuma mau bilang: anda salah besar menganggap kompasiana sebagai tempat amatir. karena istilah amatir hanya tersedia di media atau di tempat mainstream (arus utama). kompasiana adalah tempat umum, setiap orang boleh masuk, berbagi dan berinteraksi di sini.”
kalimat itu menarik karena menggap para penulis di kompasaian katanya bukanlah amatir, disini ada kesalahan konklusi dan diasambiguitas soal makna kata amatir. dan yang membuat saya mengertitkan dahi hingga kedua alis saya hampir berciuman. karena kalimat ini keluar dari pegiat jurnalisme warga dan merupakan chif editor portal jurnalisme warga terbesar di indonesia. ada beberapa hal yang menjadi catatan saya.
ilustrasi | zenith-404.blogspot.com

pertama tentang mengajukan sebuah bantahan bahwa kompasaina bukan sebagai tempat “amatir”. kemelesetan berfikir kita adalah bahwa amatir seolah-olah adalah “jelek”, “buruk”, “tidak berkemampuan” hingga “kompetensi rendah” ini selalu disandingkan dengan antonim “profesional” bahwa profesional itu “terdidik”, “berkemampuan”, “hebat” dan ber ISO:1945. padahal amatir dalam makna sebenarnya mengacu pada Kamus Besar Bahasan Indonesia “amatir adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah” intinya amatir adalah orang yang melakukan sesuatu untuk kesenangan bukan untuk uang.

dalam hal ini saya kira orang yang menulis di kompasiana tidak bertujuan untuk mencari uang tapi untuk kesenangan. tapi memang ada yang untuk mencari uang seperti untuk masuk freez atau untuk ikut lomba, tapi itu tetap dilakukan bukan atas dasar penghidupan dan profesi. dan saya masih cukup yakin tetap didasarkan pada kesenangan, dan inilah yang dinamakan amatir. hal ini terjadi dalam dunia tinju atau sepakbola misalnya. itulah kenapa petinju yang masuk olimpiade disebut petinju amatir, itu karena mereka bertinju bukan petinju seperti yang diorbitkan promotor (yang berbasis) untuk meraih gelar dunia misalnya, dan tidak menjadikan bertinju sebagai profesi. begitu juga dalam sepakbola ada kompetisi amatir, itu bukan mereka kualitas buruk tapi memang kompetisinya berbeda dengan kompetisi profesional.

kedua, istilah amatir yang hanya ada di media arus utama, menilik ke atas sebenarnya tidak sejalur. di media arus utama tidak mengenal kata amatir, karena di media arus utama mereka yang bekerja (menulis) adalah orang yang di bayar untuk bekerja dan pelakunya berprofesi dan berkemampuan menulis. dan inilah yang dinamakan “profesional ” bersangkutan dengn profesi, memiliki kemampuan khusus, dan mengharuskan adanya pembayaran” . maka jelas media arus utama tidak mengenal kata amatir yang menajalankan sesuatu hanya atas dasar kesenangan dan bukan uang.

terakhir saya setuju bahwa kompasiana adalah tempat umum dan siapa saja boleh berbagi dan berinteraksi. inilah tempat amatir tempat orang-orang berbagi (tulisan khususnya) atas dasar kesenangan dan bukan uang. jurnalis warga bukanlah kontributor apalagi wartawan tapi adalah orang-orang yang menikmati menulis dan berbagi wacana, opini, hingga cerita atas dasar kesenangan. inilah kompasiana, tempat para amatir bersenang-senang. maka tak perlu risau dipanggil amatir karena amatir adalah orang yang melakuakn denangan cinta tanpa iming-iming harta benda.

namun, mengacu pada ungkapan Virginia Woolf, seorang sastrawati paling berpengaruh inggris di awal 1900an Writing is like sex. First you do it for love, then you do it for your friends, and then you do it for money” sampai kapan kita akan berbadi (menulis) atas dasar kita mencintai menulis? itu pertanyaan besar bagi kita sendiri sebenarnya. waris darmadi yang memancing om eh mas admin membuat pernyataan adalah bukti dari uangkapan satrawati yang wafat bunuh diri di sebuah sungai ini, beliau pertama mungkin menulis di kompasiana karena memang suka menulis, setelah itu dia menulis untuk temannya seperti masa-masa ribut dengan faizal assegah, dan kini setelah jadi wartawan mas waris menulis untuk mendapat uang.

syahdan, mengacu pada quote tante Virginia Woolf…. untuk apakah kita menulis sekarang wahai para amtir…… cinta, teman, atau uang…
Read More...

Jumat, 30 Maret 2012

SBY-Boediono Tidak Boleh Turun Sebelum 2014

1 comment

tulisan ini mungkin tidak akan terlalu panjang, saya hanya mau menuli sedikit tentang salah satu suara yang sering diutarakan para pendemo, khususnya mahasiswa dari elemen tertentu. kenapa saya bilang tertentu, karena dalam isu demonstrasi BBM ini semua serikat buruh jelas menyatakan tuntutannya adalah tuntutan BBM tidak naik, dan beberapa elemen mahasiswa seperti BEM-SI misalnya konsen pada BBM bukan turunnya SBY. saya juga tidak akan membahas banyak, karena saya hanya akan melihat dari satu sisi saja jika presiden turun.
tuntutan untuk turunnya presiden adalah tuntutan paling konyol saat ini, meminta SBY turun ongkosnya terlalu besar, ada banyak sudut melihatnya dari sisi politik, ekonomi, stabilitas, hingga keamanan. namun kini saya coba memandang dari satu sudut sederhana yang jarang dibicarakan, yaitu bagaimana konstitusi membuat skema turunnya presiden ditengah jalan. SBY sebagai presiden jelas tidak bisa ujug-ujug turun, ada jalan panjang lewat mahkamah konstitusi.

panjang menjelaskan skemanya, anggap saja kita ambil jalan singkat presiden dan jelas tentu saja bisa dipastikan wapres juga berhenti setelah lewat sebuah proses panjang. pertanyaannya kembali seperti diatas? siapa yang akan memimpin negara? jawabannya adalah mendagri, atau bisa juga menko-menko. masalahnya bukan disitu, bagaimana jika sebelum presiden turun, sang presiden dan wapres tentunya membubarkan kabinet. jawabannya tidak ada mendagri atau menko karena mentri adalah bagian dari kabinet. jreng-jreng…
tribunnews.com

jika itu semua terjadi, maka yang akan memimpin negara akan memilih dalam struktur pemerintahan tapi tapi bukan bagian dari kabinet yang diangkat langsung oleh presiden, yaitu Panglima TNI dan KAPOLRI. jawabannya diantara keduanya siapa yang berhak? posisinya jelas setara ada dua pilihan salah satu legowo, kalau salah satu tidak ada yang ikhlas maka keduanya bisa “berperang” dan jelas terjadi chaos yang lebih parah. anggap saja salah satu ikhlas dan kemungkinan di tampuk pimpinan negara adalah Panglima TNI, maka indonesia resmi berada di bawah junta militer. dan sangat absolut republik berada di bawah kekuasaan militer murni dan resmi tanpa kudeta, persis yang terjadi saat soeharto naik dalam tampuk kekuasaan.

berada dibawah kekuasaan militer dengan periode panjang dan melelahkan sangat beresiku dan mengelurkan ongkos lebih besar bagi masyarakat indonesia. dimasa apapun dan dinegara manapun jika militer dalam tampuk kekuasaan tetap tidak baik, dari musolini di eropa, idi amin di afrika, fidel castro di amerika, hingga kim jung il di asia. jika ada pertanyaan masa sekarang jelas beda dengan masa lalu, benar maka mari berkaca pada tetangga ASEAN kita saat militer dalam tampuk kekuasaan, Thailand dan Myanmar. perlu waktu yang panjang untuk sebuah transisi mengembalikan negara pada kekuasaan sipil murni.

jika benar-benar benci pada SBY dan seluruh yang tersangkut dirinya, hingga kebencian itu membuat susah berlaku adil maka bersabarlah. jika kesabaran sudah habis maka tambah saja kesabaran itu. tinggal 2 tahun lagi dia ditampuk kekuasaan,  jangan hawa nafsu sesaat mengorbankan hal yang lebih besar.

terakhir, penutup yang tidak ada hubungannya dengan tulisan diatas,
saya hanya berharap BBM tidak naik dan unjukrasa tidak anarkis. dan jikapun iya BBM naik saya harap pemerintah menepati janjinya untuk infrastruktur walau saya ragu janji itu benar-benar ditepati, kita tahu semua infrastruktur adalah ladang korupsi lewat rekayasa tender. namun saya ingat kata-kata Doa almarhum kakek saya,

Allahumma laa tusallith ‘alainaa bidzunuubinaa man laa yakhaafuKa walaa yarhamunaa
(Ya Allah ya Tuhan kami, janganlah kuasakan atas kami - karena dosa-dosa kami - penguasa yang tidak takut kepadaMu dan tidak mempunyai belas kasihan kepada kami)
Read More...

Jumat, 16 Maret 2012

Imaji dalam Semangkuk Sotoji

4 comments
Sebelum membuat tulisan tentang sotoji saya ingin mengucapkan terimakasih terlebih dahulu atas kiriman paket berwarna coklat dengan isi 3 bungkus mie instan berwarna hijau muda alias “SOTOJI”. Mungkin ini pertamakalinya sebuah brand produk mengirim sample produknya secara gratis untuk “diuji coba” oleh khalayak umum. Saya rasa pertimbangannya mungkin karena “SOTOJI” belum ada dipasaran, setidaknya indikasi sederhana yang bisa saya sampaikan, produk mie instan ini belum masuk rak-rak minimarket berlabel ‘mart’ yang tersebar sampai plosok indonesia. Inilah poin pertama yang ingin saya apresiasi dari pihak “SOTOJI” secara marketing. Sebenarnya paket kiriman datang beberapa hari yang lalu, mungkin sekitar awal maret dan diterima oleh teman kost saya. Isinya langsung saya buka, berisi 3 bungkus mie instan “SOTOJI”. Namun baru kemarin saya mulai berkreasi meracik “SOTOJI”. Awalnya juga tidak berniat masak, tapi karena lapar melilit pas tengah malam dan lagi males ke angkringan, iseng-iseng saya masak “SOTOJI” tengah malam. Setidaknya bikin otak kembali fresh mengejar deadline dari dosen yang bikin kepala nyut-nyutan, kan kalo perut tenang, otak juga aman.
3 bungkus sotoji dalam paket

Diawal, sebelum membuka saya bertanya-tanya kenapa namanya “SOTOJI”, mungkin kepanjangan Soto Jamur Instan (ternyata benar setelah saya tanya mbah google). Asumsinya, mie instan rasa soto (udah biasa dan tidak aneh) dan ada jamur instan (ini baru dan bikin penasaran). Kenapa aneh, karena saya tidak pernah makan soto jamur, paling juga makan soto ayam yang lewat tiap pagi depan kost. Ini korelasi unik setidaknya salah satu produk makanan unik pertama yang saya temui di tahun 2012 soto+jamur = mie instan soun. Rasa? Saya belum bisa menyimpulkan sampai saya menghabisi –setidaknya- satu bungkus dengan lahap.

Bermodal peralatan masak ala anak kost, keluarkan kompor portable, semacam panci kecil bergagang (ga tau apa namanya), dan sendok. Semua mie instan punya standar sama dalam proses memasak. Bedanya, dalam memasak “SOTOJI” harus mengikutkan jamur-nya untuk direbus, inilah letak kesalahan pertama saya dalam memasak “SOTOJI”, jamurnya tidak ikut saya rebus. Perhatian, ternyata petunjuk memasak untuk mekanan atau petunjuk pemakaian sebuah alat walau terkesan sederhana dan remeh-temeh, penting untuk diperhatikan.

Jadilah “SOTOJI” ala anak kost alias ala kadarnya, jelas beda tampilan “SOTOJI” yang saya buat dengan tampilan di kemasan hijau yang penuh dengan “asesoris”. Toh itu semua tidak mengurangi rasa, untuk anak kost tampilan tidak perlu cantik karena makanan bukan buat di lihat tapi dimakan. Masak, matang, makan 3M prinsip anak kost kelaparan tengah malam. Lalu bagaimana rasanya? Sepertinya untuk satu ini saya perlu jujur. Rasanya cukup enak, jika dipaksa lebih maka saya akan bilang “SOTOJI” enak, saya tidak bisa kasih lebih rate lebih dari itu, karena makanan “paling enak” diatas kata “enak” adalah makanan rumah buatan ibu yang selalu membuat saya rindu pulang kampung.


pamer peralatan sebelum masak

Si Hijau yang Kenyal

Menikmati “SOTOJI” adalah sebuah sensasi baru dalam menikmati mie instan. Setidaknya produk ini berani tampil beda. Dimulai dari sebuah UBB (Usaha Bakal Besar) alias UKM (Usaha Kelas Miliyaran), -nama adalah doa dari nama muncul pemikiran positif untuk maju- dengan melakukan ekspansi nekad, saya bilang nekad. Sebuah pertaruhan besar jika “usaha rumahan” menantang industri besar dalam bisnis makanan, jelas incaran “SOTOJI” adalah pangsa pasar “mi kuning”. Saya kira “SOTOJI” dimunculkan bukan seperti bungkisan saleh atau produk makanan oleh-oleh, si hijau ini muncul untuk masuk sebagai industri besar. Masuk dalam percaturan bisnis makanan instan saja adalah sebuah langkah berani, apalagi masuk dalam percaturan bisnis mie instan yang sangat ketat.

Mengambil pasar konsumen mie kuning yang disuguhi “ayam” dan “sapi” dan menggantinya dengan mie putih jamur adalah tantang berat, hil yang mustahal kalau menurut srimulat, kalau kata Ethan Hunt mission impossibel. tapi kalau kata simbah saya “impossible is nothing” bung, jadi jangan percaya srimulat dan Ethan Hunt, percaya kata-kata simbah saya. Memang mengambil pasar mi kuning terlalu beresiko, tafsir saya “SOTOJI” mengincar penyuka mie putih dan “jamurjunkis” ini lebih rasional sepertinya. Sebuah pencapaian puncak dimulai dari langkah kecil, dan “SOTOJI” sudah memulainya.

ini masak mie, jamur-nya ketinggalan

Diatas saya menulis menikmati “SOTOJI” adalah sebuah sensasi baru, sensasi dalam dua hal pertama produk makanan itu sendiri yang unik dan baru serta sensasi perjuangan memulai bisnis dan industri. Sayu beritahu satu hal yang diberikan “SOTOJI” sebagai mie instan tapi tidak diberikan produk lain. Yaitu, “SOTOJI” tidak hanya memberikan jiwa (baca: rasa) tapi juga raga (baca: jamur). Jika produk sejenis hanya meberikan rasa, seperti mie rasa ayam, rasa rendang, rasa sapi dan sebagainya, “SOTOJI” hadir dengan rasa jamur juga dengan dihadirkannya wujud nyata jamur dalam setiap bungkusnya. Ini yang tidak diberikan produk lain yang sejenis, ini senjata yang harus dimanfaatkan.

Jamur yang kenyal dan mi putih yang menggoda selera ditambah harumnya bumbu. Si hijau harusnya bisa eksis di dunia industri makanan. Setidaknya begitu harapan saya, bisa melihatnya di jogja menemani malam-malam saya mengerjakan tugas doesn yang bikin setres kepala. Tentunya tanpa perlu order online artinya distribusinya udah luas.

ini hasilnya, tampilan ga penting yang enting enak dan kenyang

Terakhir dari saya, tentang si hijau yang berisi soun dan jamur, saya suka makanan ini. saya suka rasa baru, “SOTOJI” memberi alternatif lain tentang mi instan. Buat anak kost seperti saya mi instan adalah bagian hidup yang sulit terpisahkan. Dan apabila “SOTOJI” bisa hadir di rak-rak warung klontong jogja tentu suatu saat nanti “SOTOJI” bisa jadi bagian dari sejarah hidup yang menemani saya, mengisi perut kala malam. saya kira ini bukan hanya imajinasi saya, meliaht "SOTOJI" ada di rak-rak makanan seluruh indonesia tentu saja utamanya jogja.
Read More...

Rabu, 14 Maret 2012

Negeri 5 Menara : Kesuksesan Butuh Lebih Dari Sekedar Harapan

Leave a Comment
Banyak orang –terutama “mantan” santri- yang merasa seperti mengembalikan memori masa-masa lucu, unik, haru, suka bahkan mungkin saja derita saat menyaksikan film negeri 5 menara. Film ini memberi “bau” (meminjam istilah edwin sineas indonesia penerima New Talent Award di Asian Film Awards (AFA)) artinya ada kemungkinan secara visual sebuah film bisa memicu memori seseorang akan bau. Memori saja, bukan secara fisik ada baunya. Banyak sekali ingatan yang hilang karena situasi di luar tidak memungkinkan orang menyimpan ingatan itu. Dan film dengan sinema mampu menggali momen-momen yang tersimpan lama. Film ini mungkin hanya membuat sebagian kecil saja penonton yang me-refleksi masa santri-nya. Namun film yang diangkat dari semi-otobiografi Ahmad Fuadi justru menghasilkan sesuatu yang lebih besar, yakini memberi gambaran sebuah pesantren modern secara umum. Affandi sebagai sutradara seperti berhasil membongkar setereotip pesantren di bioskop yang digambarkan oleh Nurman Hakim (3 doa 3 cinta) Hanung Bramantyo (Perempuan Berkalung Sorban ) yang kaku kolot dan terkucil. Negeri 5 menara memberi gambaran pesantren dan model pendidikan boarding school dengan elegan langsung dari pesantren itu sendiri sebagai lokasi. bukan seperti film-film yang saya sebuatkan diatas yang membut pesantren buatan.

Film Negeri 5 Menara bisa saja disandingkan dengan Laskar Pelangi dan Semesta Mendukung, dalam visualisasi cerita Dengan mejadikan harapan, mimpi, kesederhanaan, dan persahabatan menjadi modal iklan menarik penonton. Tapi secara emosi Negeri 5 Menara lebih dekat dengan Laskar pelangi, setidaknya itu yang selalu digambarkan tak hanya oleh para kritikus film tapi juga semua orang yang menyaksikan film ini. keduanya seperti sauadara sepupu, ada ekspektasi yang kurang lebih sama dari para penonton di bioskop. Berangkat dari novel laris, kehidupan lokal indonesia, perjuangan, harapan, mimpi dan persahabatan menjadi senjata keduanya.

Membandingkan Negeri 5 Menara dan Laskar Pelangi memang bukan seperti membandingkan “Ronggeng Dukuh Paruk” 2011 dan “Darah dan Mahkota Ronggeng” 1983 diamana keduanya sama-sama berasal dari novel yang sama karya Ahmad Tohari. Mungkin Negeri 5 Menara dan Laskar pelangi adalah dua kisah, setting, penokohan hingga akhir cerita yang berbeda. Keduanya memiliki sebuah nilai yang sama persahabatan, keyakinan, dan harapan nilai yang mulai hilang ditelan zaman. Tapi keduanya memiliki sebuah garis pembeda yang sangat esensial, yaitu nilai kesuksesan. Jika laskar pelangi menjadikan individu sebagai sebuah nilai sukses, maka Negeri 5 menara menjadikan kebersamaan sebagai objek utama.

sumber gambar | madamafm.com


Kesuksesan, Perjuangan dan Mantra

Pemandangan danau maninjau di Sumatra Barat menjadi gerbang pembuka sekaligus penanda dimana tokoh Alif (Gazza Zubizareta) berasal. Dimulai dengan pertentangan dan proses “pembuangan” Alif ke pesantren untuk memenuhi keinginan sang ibu nan jauh di pulau sebrang. Alif berada dalam dua pilihan sulit, mengikuti cita-cita dirinya untuk kuliah di ITB bersama kawan kecilnya Randai (Sakurata Ginting) atau menjalankan mandat kedua orangtuanya untuk masuk pondok pesantren. Alif akhirnyamengikuti keinginan ibu dan ayahnya untuk berangkat ke ponorogo untuk belajar di pondok pesantren gontor dengan keterpaksaan. Rasa berat dan terpaksa Alif perlahan luluh saat di pesantren bertemu dengan kawan-kawan baru yang kemudian menjadi sahabatnya yakni Baso (Billy Sandy) yang berasal dari Sulawesi Selatan, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Atang (Rizki Ramdani) dari Bandung, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, dan Dulmajid (Aris Adnanda Putra) dari Madura. Hingga mereka menjadi sebuah geng bandel di Gontor, geng yang terkenal dengan sebutan sohibul menara.

Setelah itu cerita cendung berlangsung datar, tanpa konflik dan potongan-potongan plot yang saling meloncat. film ini seperti merengkuh dan mencoba menjadikan setiap tokoh punya cerita masing-masing. Alif dengan kisah cintanya bersama putri kiyai hingga pidato bahasa inggris Baso, bahkan urusan perbaikan genset oleh Atang. Film kemudian berlangsung tidak fokus pada satu cerita. Seperti serpihan-serpihan mozaik yang coba disatukan film ini susah untuk mencari kedalam cerita. Penonton cukup dibuat tertawa oleh tingkah para “gengster” sohibul menara kemudian tegang saat mereka tertangkap basah hingga kemudian mengguk mengikuti nasehat para guru.

Film ini memang film motivasi dan inspiratif mencoba menyajikan kesederhanaan cerita untuk supaya penonton mengambil hikmah. Ada beberapa plot dimana muncul konflik sebenarnya, namun terhenti disitu. Seperti saat Alif berkunjung kebandung menemui sahabat lamanya di ITB terbersit keinginan untuk brontak dan mengjar cita-cita namun pertentangan itu tak berlangsung lama hingga Alis kembali ke Gontor. Ada nilai bagaimana Negeri 5 Menara mengajarkan untuk membuat keputusan dalam keadaan terjepit. Tak hanya Alif saat terpaksa harus belajar di gontor dengan keterpaksaan, begitu juga saat Baso memutuskan untuk meninggalkan Gontor dengan berat hati kala neneknya sakit keras.

Manjadda wa Jadda, pekikan yang diteriakan ustad Salman (Dony Alamsyah) selepas mematahkan kayu dengan sebilah golok. Seperti menjadi teriakan kata Merdeka dalam film “Janur Kuning” selau terulang sebagai kata-kata penyemangat dalam perjuangan. Mantra arab yang berarti “siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil” menjadi azimat dalam setiap permasalahan, mengingatkan saya akan Allizwell dalam film india berjudul “3 idiot” yang dibintangi Amir Khan. Frasa ini membuat penyadaran publik bahwa untuk meraih kesuksesan kita membutuhkan perjuangan dan kala dalam perjuangan ada proses terjatuh kita terkadang membutuhkan mantra motivasi untuk kembali bangkit. Manjadda wa Jadda.

Film dengan plot yang meloncat-loncat dan irama yang datar serta tidak ada keterkaitan antar setiap cerita yang dihadirkan menjadikan film terasa agak aneh dan hambar. Bahkan sang ustad motivator yang menggebu-gebu tiba-tiba seperti harus lenyap begitu saja seperti tanpa jejak. Entah tokoh ini dimunculkan kemudian dilenyapkan begitu saja. Begitu juga dengan peran sang kiyai yang dimainkan oleh Ikang Fwazi. Menjadikan “sang preman” yang tiap hari menyanyi “ejakakulasi dini” di depan televisi sebagai seorang kiyai kharismatik adalah sebuah pertaruhan besar untuk Affandi Abdul Rahman sebagai sutradara. Tapi sepertinya pertaruhan ini cukup berhasil, ikang fawzi cukup kharismatik dengan wajah kusut dan serius terutama saat menasehati 6 anak bandel di sofa.

Terlepas dari plot yang saling terlepas, jalinan cerita yang dirangkai oleh Affandi lewat sekenario Salman Arsito sangat enak dinikmati. Ringan dan sederhana, mungkin nilai kesederhanaan ini yang coba diberikan, disinilah sisi lain yang saya lihat sebagai kekuatan. Kesederhanaan yang menggambarkan sikap manusiawi memang menjadi poin tersendiri di dalam film ini, persahabatan dan saling menguatkan cukup untuk membuat penonton terbawa suasana. Terkadang tertawa oleh tingkah nakal dan kemudian serius mendegar petuah.

Yang tidak boleh terlewatkan dari film ini sebenarnya adalah departemen akting dan lokasi. Dua kekuatan film Negeri 5 menara yang menjadi pondasi film ini. menjadikan orang-orang awam film, yang dimana sebelumnya tak saling mengenal kembali menjadi pertaruhan besar. Entah kenapa saya suka melihat para pemeran utama yang diperoleh dari sebuah roadshow audisi ini, keenamnya cukup total walau sepertinya agak kesulitan dalam pelafalan logat daerah untuk satu ini saya angkat dua jempol. Sepertinya ikatan pasa sohibul menara terbentuk begitu kuat seperti dalam adegan pulangnya baso ke tanah kelahiran, walau original score/ backsoundnya kurang dramatis namun akting para pemeran utamanya menutup celah itu sangat dramatis dan luar biasa.

Selain departemen akting yang patut diacungi dua jempol adalah lokasi, keputusan untuk pengambilan gambar di danau maninjau sumatra barat, masuk kedalam pondok pesantren gontor di ponorogo, bandung hingga london tentu adalah keputusan berani terutama unruk urusan dompet. Totalitas sepertinya yang membuat film ini dibuat sangat detail untuk urusan lokasi. Sayangnya pertemuan london agak dipaksakan, seperti penggambaran Kabah dalam film Emak Ingin Naik Haji cukup memberi nilai di ending cerita walau Negeri 5 Menara menjadikannya lebih sensaional. Mungkin ini dikarenakan dibatasi durasi.

Hal ketiga yang sangat elegan dari film ini adalah detail yang jarang terlihat di film indonesia. setting 80-an termasuk segala ornamen dan properti termasuk iklan, hingga logat-logat bahasa daerah termasuk aran dan inggris di gontor yang sangat diperhatikan. Yang jangan kita lewatkan adalah score dari trio Aghi Narottama-Bemby Gusti-Raymondo Gascaro dan themesong karya Yovie Widianto yang menjadikan film terasa lebih berwarna. Sekali lagi luar biasa.

Syahdan

Jika kita berfikir menonton Negeri 5 Menara hanya untuk menyaksikan bagaimana mantra Manjadda wa Jadda bisa menjadikan orang sukses maka kita salah besar. Affandi Abdul Rachman sebagai sutradara memberi lebih dari sekedar itu. Film ini menghadirkan bagaimana seseorang dihadapkan pada pilihan untuk meletakan kepentingan keluarga diatas individu. Itu terlihat dari Alif yang mematuhi orang tuanya dan baso yang pulang demi neneknya. Film ini menghadirkan mozaik dan metafora ke-Indonesia-an yang penuh pesona warna budaya. Menggambarkan islam dan pesantren yang moderat dan yang terbuka. Memberi gambaran guru yang tak sekedar mengajar tapi juga mendidik serta memotivasi. Dan yang utama adalah persahabatan saling melengkapi dan saling mendampingi.

 Dari sisi teknis, diluar plot yang meloncat dan irama yang datar seperti tanpa konflik yang meletup. film ini sesungguhnya menghadirkan kesederhanaan dan konflik yang manusiawi. Potongan-potongan plot dirangkai menjadi mozaik yang memberi warna baru. Diluar itu sebenarnya penokohan, setting, lokasi hingga detail-detail yang dihadirkan adalah nilai tersendiri untuk film Negeri 5 Menara. Semua kekurangan seperti berhasil ditutupi oleh akting para pemain yang total dan natural. Kita seperti dibawa dari indah dan asrinya Danau Maninjau menuju glamornya Trafalgar Square di Inggris dengan melewati sebuah tempat yang dinamakan Pondok Pesantren.

Terakhir film Negeri 5 Menara tidak hanya menghadirkan mantra Manjadda wa Jadda, tapi juga dibuat dengan menggunakan mantra tersebut. Dibuat dengan begitu sungguh-sungguh, maka mari penuhi ruang bioskop, mari kita lihat setinggi apa menara yang mampi kita bangun. Karena kesuksesan butuh lebih dari sekedar harapan, tapi perjuangan bahkan terkadang sebuah mantra.
Read More...

Rabu, 29 Februari 2012

Prof, Kembalikan Timnas Kami

8 comments

hanya ilustrasi

Sejak sore teman-teman sudah berkumpul di beranda depan, tivi dari kamar sengaja dikeluarkan dan di taruh di emperan selasar kamar kost. Rintik gerimas tak menghalangi kami untuk berpesta, setidaknya itulah gambaran beberapa jam kedepan dari sebuah siaran langsung di sebuah televisi swasta nasional. Menjelang gelap teman-teman mulai berkumpul  ditemani bakaran pisang sebagai pelangkap pesta. Semuanya seperti berjalan begitu sempurna hingga kick off babak pertama dimulai. Bahkan sorak sorai terus membahana kala andik vermansyah membuat indonesia unggul di babak pertama. Kami bersorak seolah tak ingin kalah dengan ribuan saudara kami di berunai sana yang memerahkan negeri kuning. Namun sayang keceriaan, tawa dan kebahagiaan serta sorak sorai kami terhenti tat kala Kyaw Zayar Win menyamakan kedudukan saat paruh kedua belum genap 150 detik. Kami terdiam sejenak dan berharap garuda muda akan bisa membalikan keadaan, tapi itu semua hanyalah mimpi saat Kyaw Ko Ko membuat dua gol yang membuat 200juta penduduk indonesia tertunduk lesu penuh duka.

Prof, kami tidak marah pada para pemain, kami tahu mereka sudah berjuang dalam batas mereka. Kami tahu mereka bersedih dan mungkin jauh lebih sedih dari kami. Kami membayangkan bagaimana suasana ruang ganti yang penuh dinamika. Saat akan dimulai babak pertama wajah-wajah tegang penuh optimisme hadir disana, saat istirahat paruh kedua wajah kegembiraan dan kebanggana muncul, dan kala pertandingan berakhir kami yakin guratan lesu dan duka penuh kecewa mewarnai kondisi ruang ganti. Kami tahu mereka sudah bekerja keras, tapi kerja keras selama 90 menit tak cukup untuk memenangkan pertandingan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada seluruh pemain yang hadir di brunai, kami yakin line up yang di bawa bukan yang terbaik yang ada di indonesia. sehingga pasca pertandingan tak salah saat teman kost saya mengatakan ini bukan Timnas inonesia U21. Tapi, LPI Slection U21.

Prof, dulu orang-orang liga ilegal yang kini menjadi liga resmi berteriak bahwa semua orang berhak membela Timnas apapun klubnya. Kini kemana suara itu saat liga yang dulu dianggap pembangkang kini menjadi penguasa. Mana suara yang menyatakan setiap pemain boleh berbaju dengan garuda di dada tanpa diskriminasi klub dan jenis liga. Kenapa pemain harus dikorbankan dalam konflik ini. jikalau memang sebagai otoritas tertinggi melarang pemain-pemain muda berkualitas seperti, seperti Ramdhani Lestaluhu (Persija), Lucas Mandowe(Persipura), Moses Banggo (Persipura), Jeki Arisandi (Sriwijaya), bahkan hingga Octavianus Maniani (Persiram), hanya karena bermain di liga yang dianggap ilegal. Tentu tak salah jika otoritas tertinggi memanggil Muhammad Zainal Haq (Penarol-Uruguay),  Manahati Letusen (Penarol-Uruguay),  Abdul Rahman Lestaluhu (Penarol-Uruguay), dan  Mokhamad Syaifuddin (Universidad de Conception-Chilie),  Feri Firmansyah (Universidad de Conception-Chilie), serta Syamsir Alam (CS Vise-Belgia), Yandi Sofyan(CS Vise-Belgia),  Alfin Tuassalamony (CS Vise-Belgia), dan Yericho Christiantoko (CS Vise-Belgia), bahkan hingga Arthur Irawan (Espanyol-Spanyol).  Walau mungkin tidak bisa memanggil Stefano Lilipay (Utrech-Belanda) untuk timnas U21 karena usianya genap 22 tahun 10 januari kemarin.

Prof, Timnas entah itu U21, U23, dan Timnas senior bukanlah milik personil liga resmi semata, siapapun dia jika dia mampu dan mau tentu tak berhak dihalangi. Bukankah konstitusi kita menjamin hak warganya untuk melakukan bela negara. Mari berkaca pada Amerika Serikat, tanyakan pada Toni Meola (kiper), Marcelo Balboa (bek/belakang), dan Paul Caligiuri (Gelandang/tengah) yang bermain di dua piala dunia walau kedunya tidak bermain di klub prefesional alias hanya “tarkam”. Atau mari belajar pada tentangga kita Selandia Baru, yang  memiliki 2 dua pemain tanpa klub, Simon Elliot sama David Mulligan, keduanya unattached.  Serta yang main di liga non-professional (tarkam-indonesia/pen)  ada 3 orang yakni, Ivan Vicelich, Aaron Clapham, dan James Bannatyne. Dan tentu ingatan kita masih kuat saat Boaz Salossa di tahun 2004 membela Timnas senior walau masih duduk di bangku SMA.

Prof, kita punya banyak pemain hebat dan berbakat di Indonesia, tak semuanya ada di liga resmi. Kembalikan kebanggan kami, kembalikan Timnas kami, bukan liga resmi selection. Trik apalagi yang anda gunakan untuk menahan hasrat serta kebanggan rakyat indonesia. Jangan letakan kepentingan dan dendam golongan diatas kebanggan akan prestasi sebuah bangsa. Kami tidak menyuarakan anda mundur seperti saat memaksa pendahulu anda untuk mundur dengan paksa. Kami bukan pendukung pendahulu anda, kami hanya tak rela reformasi ini dirampas dan seolah-olah menjadi jasa seseorang. Kami tak ingin revolusi kita hanya menimbulkan perpecahan baru yang semakin parah. Kami ingin perubahan dimana pemimpin berdiri di atas semua golongan, menghapus semua dendam walau itu pasti berat untuk dilakukan.

Prof, keindahan sepakbola terletak pada sepakbola itu sendiri. Bukankah anda pernah menjadi seorang pemain, berapa gol yang anda sarangkan, berapa kemanangan yang anda daptkan. Gali kembali memori saat anda berlari dan menendang bola dilapangan, rasakan kembali momen saat saling berpelukan dengan teman saat merayakan sebuah keberhasilan. Berapa deras keringat yang tercurah dan seberapa perih rasa sakit saat bertanding dan berlatih. Kini mungkin anda sudah bergelut dengan sederet tabel, data, profil dan statistik serta naskah-naskah perhitungan diatas kertas. Tapi kami yakin anda masih punya “rasa” sebagai pemain sepakbola.  Maka dari itu kami berharap sebagai pemimpin berdirilah di atas semua golongan, sebagai olahragawan junjung tinggi fair play dimana yang terbaik yang berhak tampil. serta mari kita junjung sportifitas, singkirkan rasisme dalam sepakbola tidak hanya tentang warna kulit tapi juga warna kaos tim.

Prof, kembalikan tim nasional kami, jangan renggut harapan kami.  anggaplah ini suara seorang seporter dengan kaos merah di tribune yang tak pernah lelah mendukung dan menanti Garuda untuk terbang lebih tinggi. Kami masih berharap melihat U21 berhasil memegang trofi di akhir laga.
Read More...

Sabtu, 18 Februari 2012

Orang Islam Kampungan

Leave a Comment

sejak pertama kali menginjakan kaki di jogja ada banyak hal yang membuat saya terkaget-kaget, ntah sindrom apa ini namanya, tapi yang pasti banyak hal di joja yeng membuat saya mengerutkan dahi. diantaranya, mengapa untuk bermain bola saja saya harus menyewa lapangan kecil dengan waktu yang dibatasi, padahal di kampung, main bola dilapangan desa sampai pekarangan rumah seharian tidak pernah dapat masalah. atua kenapa ketika masuk ruangan saya begitu kedinginan dan ketika keluar kemudian kepanasan. dan semua “keanehan” ini juga terjadi dalam kehidupan beragama.

dalam kehidupan beragama ternyata saya harus sadar, bahwa saya sedang dibenturkan dalam aneka keilmuan yang tak pernah saya pelajari. saya merasa menjadi “amatir agama” ditengah diskusi keilmuan dan berbagai istilah yang sangat kompleks. semakin lama saya hampir tidak mengerti bagaimana islam memiliki pakaian kebesaran. tentu saja dalam hal ini adalah Islam.

entah kenapa di jogja, masjid terasa begitu sepi. hanya ada suara adzan dan iqomah. selain itu tidak ada suara lagi. orang sholat berjamaah terus pulang. saya mencoba untuk faham bahwa orang-orang kota cendrung sibuk dan tidak sempat duduk lama untuk ber-wirid. atau bersholawat mengisi waktu menuju sholat. banyak hal dalam masjid yang jauh dari kehidupan kampung, tidak ada lagi cengkrama sosial dan diskusi kecil di masjid. masjid terasa amat sangat sepi.

begitu juga dengan imam saat sholat, imam di kota sering menggunakan suat-surat panjang dengan ayat-ayat yang panjang pula. beda dengan orang kampung seperti saya, yang bisanya hanya surat-surat pendek. langganannya ya surat-surat pendek, macam An-nas, At-takasur, Al-ikhlas, lebih jelasnya, saya lebih suka surat-surat di juz ama. bukan hanya karena pendek dan mudah di ingat, tapi juga karena maknanya lebih muah di fahami, seperti surat Al-ikhlas, yang berbicaa tentang ke-esa-an Tuhan. atau Al-kafirun yang bebicara dengan jelas bagaimana menyikapi sebuah pebedaan dalam beragama. saya yang amatir dan orang kampung hanya belajar ngaji di surau ini kalah jauh dari “muslim kota” atau penyeru jihad, yang lebih suka ayat-ayat panjang guna memantapkan legitimai “alim” yang tahu benar sudut-sudut kitab suci.

jujur ketika saya belajar mengaji di surau kampung saya tidak pernah menemukan kata-kata seperti liberal atau pluralisme hingga khilafah atau berbagai macam dagangan agama yang diperdebatkan oleh mereka yang berintelektual dalam agama. belum lagi jual beli fatwa oleh mereka yang mengaku ulama yag tergabung dalam sebuah majelis.

dan saya sadar satu hal, bahwa jadi orang kampungan termasuk dalam beragama itu ternyata membawa ketenangan, tidak pusing dengan problema dan perdebatan berkepanjangan tentang istilah-istilah yang -mungkin saja- tidak mereka ketahui maknanya. menjadi orang islam kampungan sangatlah membahagiakan. kalau ada yang meledek atau mendebat ibadah saya, saya tinggal bilang, “saya kan orang islam kampungan.”

—————————————-
tulisan ini hanya sedikit keterkejutan saya dengan kehidupan kota jogja, dan tidak sama sekali bermaksud mendeskriditkan atau mengkotak-kotakan kota atau desa.
Read More...

Senin, 13 Februari 2012

Jembatan Kelabu

Leave a Comment

jembatan kulalui malam ini sangatlah rapuh
diantara dua prasangka yang selalu mengeluh
terbayang indah masa silam yang akan kutempuh
kini hanya bisa membuat kisah hiudp semakin gaduh

meninggalkan setiap lorong dalam langkah tak pasti
dengan hasrat menjadi lebih baik di masa nanti
hidup hanyalah sebuah proses menjadi mati
tapi setidaknya bisa berarti walau hanya satu kali

dibawah kolong langit yang kelabu
saat awan hitam menutup angkasa biru
menanti berharap munculnya bintang
ditengah tumpukan masalah yang terus datang

rintik hujan perlahan mengalirkan asa
menghilangkan kehangatan yang tersisa
biarlah kini aku hidup tanpa rasa
berharap harapan itu segera tercipta
Read More...

Selasa, 07 Februari 2012

tangis yang pecah di kala sunyi

4 comments

kakek (peci putih) dan nenek (jilbab coklat) dengan beberapa cucu-cucu kecilnya

fajar shidiq belum terbit tapi itu adalah kala detik-detik akhir dimana malam akan tergelincir, lirih terdengar suara telpon berdering diantara kantuk yang merayap mata. ibu, samar terlihat nama didinding layar. terisak, itulah suara ibu yang terdengar dari ujung telpon, nada yang terdengar paru saat mengabarkan bahwa kakek meninggal dunia. keget, haru, antara percaya dan tidak, bercampur aduk. ini waktu malam menjelang subuh, sunyi sekali seoalh suara ibu yang lirih terdengar menggema dan di seluruh kamar dan berdengung di setiap sudut kepala. kabar duku yang datang tiba-tiba

jam 1 malam saya sempat mengirim sms pada ibu, bahwa sayang mau pulang. entah kenapa memang kondisi akhir-akhir ini banyak menimbulkan hal-hal yang kurang enak dan serasa tidak nyaman. dimulai sejak mimpi gigi graham lepas 2 minggu lalu, yang menurut orang-orang berarti akan kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. disusul berturut kunci motor dan kran air yang patah tanpa sebab, gelas yang pecah atau hingga foto keluarga yang terjatuh. saat foto keluarga terjatuh dan saya katakan ada firasat buruk, seorang kawan berujar "masih percaya hal2 kaya gitu shim?" akhirnya percaya tidak percaya, firasat memang selalu hadir di hulu tapi terkadang kita menyadarinya di hilir. saya juga sempat pamit tanpa alasan pada teman-teman untuk tidak hadir pada sebuah acara yang-mungkin-penting, tanpa alasan yang tak bisa saya uraikan. saya seperti yakin bahwa saya tidak hadir dalam beberapa situasi yang sudah direncanakan di jogja, tanpa tahu alasannya.

beberapa waktu lalu saat berkumpul dengan beberapa kawan untuk sekedar membicarakan kegiatan. saya memilih berdiam sendiri untuk membaca salah satu karya leo tolstoy. cerpen berjudul "kebahagiaan keluarga" yang sangat panjang bercerita tentang kehidupan seorang anak dan juga keluarga setelah sang ayah meninggal, cerpen tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan seorang anak setelah ayah mereka meninggal. tak lama setelah menyelesaikan cerita tersebut, kematian menjadi barang candaan penuh tawa di lesehan. tak panjang tapi cukup untuk berkelakar. tapi kini saya sadari kematian tidaklah lucu dan pantas untuk ditertawakan saat kita benar-benar pada situasi kehilangan.

mendengar suara ibu yang terisak di ujung telpon nun jauh terpisah dalam bentang jarak ratusan kilometer seperti membawa terbang memori ke masa lampau. kakek buat saya adalah seorang teman, ayah, juga guru. beliaulah yang mematri sendi-sendi agama, mengajarkan bagaimana membaca Al Quran hingga sholat, diskusi dari hukum waris hingga zakat bahkan berbagi tentang aqidah dan tauhid. maka saat saya meninggalkan sholat atau lupa mengaji, sekarang terasa tak hanya menyepelekan diri sebagai seorang hamba Tuhan tapi juga seperti mengkhianati kakek. tapi buat ibu kakek jauh lebih dari itu, tahun-tahun terakhir kakek sakit ibu selalu ada disamping beliau.

tahun-tahun terakhir ini saat kondisi kakek menurun ibu hampir tak lepas dari samping kakek. ibu selalu ijin dari kantor saat kakek keluar-masuk rumah sakit, ibu menempatkan ayahnya di podium utama di banding karir dan pekerjaan. terkadang ibu harus bolak-balik kerumah kakek di desa saat kondisis kakek memburuk, dan kami selalu mengerti bahkan bapak sangat faham akan hal itu. kondisi sakit kakek tak hanya membuat tubuhnya terlihat lebih ringkih dan kuruh tapi ingatannya mulai kabur, terkadang sangat sensitif mudah menangis dan tersinggung. benar kata orang saat tubuh menua terkadang seperti kembali ke masa anak-anak.

ibu merubah dirinya menjadi kaki dan tangan kakek, menjadi tangannya saat menyuapkan makanan, menjadi tangannya untuk menggaruk saat gatal datang menyapa, bahkan ibu menjadi tangan kakek ketika kakek harus membersihkan badan. ibu menjadi kakinya untuk berjalan dan melangkah, saat kakek bosan duduk dan berbaring, bahkan hingga akhir hayatnya kini tak sekalipun kakek menggunakan tongkat untuk membatunya berjalan, selalu ada anak-anak hingga cucunya yang memapah beliau.

Seperti dulu ketika masih kecil, beliau mengajari bagaimana menggerakkan tangan dan berjalan, tahun-tahun terakhir ini sepertinya kini giliran ibu mengajari beliau hal yang sama. Jika dulu anak kecil yang manja minta diselimuti menjelang tidur, kini giliran menyelimuti beliau. Dulu beliau mengurus keseharian dengan tabah dan ikhlas, kali ini mesti melakukan hal yang sama: memapahnya ke kamar mandi, melayaninya jika ingin makan, minum obat dan bersedia melakukan banyak hal lain untuknya. Jika dulu ia terjaga semalaman menjaga anaknya, kali ini  juga mesti melakukannya, kalau-kalau beliau butuh sesuatu atau minta diantar ke kamar mandi.

kini ibu tak bisa melakukan itu lagi pada kakek, suatu saat nanti saya harap bisa merawat kedua orang tua saya ketika sakit, mungkin tak sebaik saat ibu merawat saya di waktu kecil atau kakek di masa tua-nya. terbayang perjuangan, tulus doa dan cinta kasih yang tek pernah letih. saya tak melihat lagi penyesalan, duka mendalam dan keterkejutan, yang hadir kini harapan serta doa serta keikhlasan.

perlu waktu yang tak sedikit untuk menyadari bahwa batas antara mati dan hidup beitu tipis, begitu sederhana namun sangat sulit unutk dicerna. sangat aneh rasanya merasakan situasi yang berbeda, orang-orang yang biasanya ada dan berbincang bersama kemudian pergi untuk selamanya, sebuah perpisahan yang terkadang tak pernah dirasakan pertandanya dan tanpa ucapan kata-kata.batas antara mati dan hidup hanyalah sedetakan jantung saja namun begitu rumit untuk difahami. Andai saja kita semua punya cukup waktu dalam hidup untuk memahami kematian.

tak perlu menggambarkan tentang tetesan darah korban dan penderitaan perang untuk menumpahkan kesedihanku. Tak perlu juga bercerita tentang bencana yang menelan ribuan korban jiwa untuk membuatku menangis. tak perlu mengabarkan tentang berjuta luka kemiskinan, penindasan serta ketidakadilan untuk memaksa aku mengeluarkan air mata. Cukup, cukup saja kau paksa aku diam lebih lama di hadapan seorang kakek tua yang terbaring terbungkus kafan ini, sungguh tak sedikit pun punya kuasa bagiku bisa menahan air mata ini

siang ini aku pulang sendirian dari jogja, kutatap langit membiru di hiasi awan putih bergumpal, mengingat kembali, canda tawa yang mungkin tak kan kembali tiba, kini aku tersenyum ikhlas melepasnya dengan mata yang berkaca-kaca ... dan terus berdoa supaya Allah memberikan tempat terbaik disisNya.....
Read More...

Sabtu, 28 Januari 2012

Sore Ini di Malioboro

Leave a Comment

sore ini, di malioboro…..

Seorang penjual koran menawarkan berita pembunuhan, kekerasan, penipuan, pemerasan, korupsi, pertengkaran, politik konyol, masailah hukum dan sebagainya. Kejadian-kejadian itu datang setiap hari di surat kabar, seperti rasa lapar…

Seorang pengamen bernyanyi buruk sekali. Suaranya tak enak didengar dan musiknya berantakan. Tapi aku tahu, acapkali kita memberinya uang disaat kita menyadari bahwa nyanyiannnya telah selesai. Lalu waktu terus mengejar, seperti rasa lapar…

seorang pedagang tak henti-hentinya menawarkan dagangannya. suaranya paru dengan wajah tetap memaksa untuk tersenyum walau urat dipipinya jelas menggambarkan kondisi ekonomi bangsa yang tengah menjeratnya dalam kubangan yang tak berakhir. panggilan itu terus bergema menembus kebisingan, seperti rasa lapar…

seorang kusir delman terus mengelus kudanya, menunggu penumpang yang tak kunjung datang. wajahnya semakin lesu, terlukis ribuan kilometer jarak yang telah dia tempuh dengan kudanya, perjalanan hidup berisi potret-potret wajah manusia dijalanan yang penuh dengan harapan-harapan yang tak terpenuhi, seperti rasa lapar…
Read More...