Tampilkan postingan dengan label sajadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajadah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Desember 2012

Kontroversi Ucapan "selamat natal"

Leave a Comment
timeline beranda facebook lagi rame apa hukum mengucapkan "selamat natal". di sisi lain itu di seperti "kiamat 2012" yang di kooptasi media dan industri hiburan menjadi film, tayangan reality show, talkshow. seperti itu juga ucapan "selamat natal" di jual oleh yang sebenarnya tidak merayakannya. kelompok lain mengundang tokoh2nya untuk berbicara dan berargumen yang mana mereka sudah membuat kesimpulan, sedangkan kelompok lainnya membuat acara yang sama dimana kesimpulan dibuat dengan hasil yang berbeda.

saya membaca banyak tulisan dan mendengar banyak diskusi tentang pro-kontra "Selamat natal". hebatnya ikhtilaf tentang "frasa sakti" tersebut tak hanya menjadi diskusi pada tataran "Furu' Juz'iyah" namun diskusinya hingga dibawa pada tataran "Ushul Kulliyah". anehnya lagi perdebatan (mungkin sudah bukan diskusi lagi) tentang akhlak (prilaku) berakhir dalam kesimpulan tentang aqidah (keyakinan). dan akhirnya dalam kebodohan, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. orang lain yang hari raya lah orang kita malah "ribut". ampppuuunnn........

damai aja ya | foto : kaskus
sebenarnya saya bingung juga mau mulai dari mana, ini agak susah membuat kesimpulan karena menyangkut keyakinan. jadi saya tidak akan membuat kesimpulan di akhir tulisan. saya hanya mencoba meraba dari kedua belah sisi yang berlawanan. pihak yang mengatakan halal berpendapat karena ucapan itu hanya soal akhlak saja, hubungan habluminannas dengan pemeluk agama yang berbeda. sikap ini hanyalah ungapak saling memberi selamat saat hari raya, tidak ada maksud lebih apalagi sampai menyentuh aqidah sang pengucap. 

sedangkan untuk yang mengharamkan berpendapat hubungannya terletak pada kata "natal" yang berarti kelahiran. siapa yang dilahirkan? yaitu "yesus". peringatan kelahiran yesus yang dianggap tuhan oleh teman-teman nasrani ini dirayakan dalam bentuk natal. ucapan "selamat natal" berarti adalah pengejawantahan dari sikap persetujuan atas kelahiran tuhan, padahal dalam islam soal ketuhanan adalah soal akidah. sehingga ucapan itu dianggap persoalan "uslull".

ulama dan tokoh, baik yang mengharamkan maupun yang menghalalkan saya akui keilmuannya dan saya hormati masing-masing pribabdinya. maka siapakah saya ini berani berbendapat berbeda dengan mereka.

saya dalam batas kemampuan saya tidak bisa memberi kesimpulan ataupun asumsi atas iktilaf yang terjadi. saya hanya hanya mencoba menarik garis tengah saja, mari kita hormati yang merayakan natal, mari kita hormati yang menganggap mengucapkan "selamat natal" semata soal akhlak, mari kita hormati pula yang menganggap mengucapkan "selamat natal" itu persoalan akidah. jika perbedaan agama saja bisa membuat kita damai berdampingan tentu persoalan ucapan tidak akan memecah belah persatuan kita.
Read More...

Sabtu, 18 Agustus 2012

Putih Tidak Selalu Suci

1 comment

esok hari gelegar takbir, tasbih dan tahmid menggelegar dari seluruh penjuru bumi untuk merayakan hari kemenangan. hari dimana seluruh muslim berada pada titik suci kehidupan. ya itu menurut para ustadz yang berceramah dari panggung kepanggung. tapi apakah esok hari kita semua benar-benar merasakan hari kemenangan dan jiwa kita benar-benar suci kembali. pernahkah pertanyaan itu meraung dan menggema di ujung lubuk sanubari terdalam?.

dua hal yang akan selalu ada yaitu terlihat dan terdengar di hari idul fitri adalah kalimat takbir dan pakaian putih. takbir selalu di identikan dengan sebuah ungkapan bahagia dan kemenangan di medan laga sedangkan putih selalu di identikan dengan makna suci, putih dan bersih. namun perlu kita ingat bersama bahwa saat idul fitri takbir tidak pernah berdiri sendiri, tapi juga selalu diikuti dengan kalimat tahmid dan tasbih serta tahlil. Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walilah ilham.

Ketenangan batin tersimpan dalam gema dzikir yang bertalu-talu, dalam denting tahmid yang mendayu-dayu. Dalam kalimat tauhid yang menggebu dan dalam tasbih yang bergelora menghangatkan jiwa. dengan pakaian putih yang suci berjalan gagah menuju masjid -hanya- untuk sholat sunnah. ya hanya sholat sunnah, karena Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah mu’akkadah menurut Syafi’iyah dan Malikiyah. Sedangkan menurut Hanbali hukumnya Fardlu Kifayah dan menurut Hanafiyah hukumnya Wajib. melihat dominasi mazhab syafi’i di Indonesia maka buat kebanyakan orang di nusantara ini sholat id adalah sunnah.

Ied-ud-Fithr terdiri dari dua kata, yaitu ied yang artinya hari raya, dari asal kata ‘ayada yg artinya kembali.Kata kedua fithr yang artinya fitrah, kesucian dan kebersihan jiwa. Ini karena pada hari itu seorang hamba merayakan kebersihannya dari noda-noda dosa karena beribadah dan bartubat secara intensif selama sebulan penuh. Maka ada yang menyebut hari idul fitri sebagai hari kemenangan karena kita berhasil mengalahkan hawa nafsu kita selama sebulan penuh. ada juga mengatakan kemenangan karena tujuan berpuasa adalah untuk menambah taqwa, dan didasarkan pada Firman Allah dalam Al Qur’an Surat An-Naba’ ayat (31) yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.”.

suci dan kemenangan
apakah puasa di bulan ramadhan kali ini menmbah ketaqwaan dan membuat kita suci sehingga berhak menyandang predikat pemenang di hari kemenangan?. apakah pakaian putih yang kita pakai adalah lambang kesucian, atau mungkin saja pakaian putih itu justru lambang kekalahan, karena dalam peperangan putih adalah perlambang menyerah dan kalah. dan “peperangan” di bulan ramadhan ini dalam melawan hawa nafsu baik dari luar maupun daam benar-benar telah menjadikan kita menjadi pemenang.

jika iya kita sudah menang, maka itu belum selesai, karena seperti kata pepatah, “lebih sulit mempertahankan daripada memenangkan”. apa yang akan kita perbuat setelah kemanangn ini saat jiwa kembali menjadi suci. apakah kita akan berlomba kembali untuk tetap istiqomah menjalankan sholat sunnah bukan hanya sholat sunnah seperti id saja. akankah kita tetap berzakat dan shodakoh seperti bulan mulia ini. apakah kita akan tetap meng-khatam-kan Al Quran seperti kita mengamalkannya dalam bulan ramadhan.

inilah PR sebenarnya dari esensi ramadhan, bukan sekedar menukmati “ngabuburit” atau “perayaan” saja. apakah silaturahmi pasca lebaran hanya menjadikan kita sebagai manusia gemar pesta yang justru acara itu keluar dari esensi silaturahmi sebenanrnya. apakah kita esok hari berhak untuk merayakan kesucian diri dan merasa menjadi pemenang? apakah kita telah berhasil perang melawan hawa nafsu dan menjadikan kita lebih taqwa hingga jiwa bisa menjadi suci seutuhnya. ataukah itu semua hanya retorika panggung para da’i yang dianggap nyata oleh ummat.

pakaian putih yang kita pakai dan seluruh tawa gembira kita di hari idul fitri mungkin hanya berada dalam raga dunia, karena bisa saja dalam lubuk jiwa terdalam dan jauh di mata Allah Subhanahu Wa’taala pakaian putih yang kita pakai bukanlah lambang kesucian tapi lambang kekalahan dan gema tawa yang kita dengungkan di dunia namun dimata Allah justru seperti tangis kekalahan. jika kita menjadi bagian orang yang beruntung untuk merasakan kemanangan sesungguhnya maka tantangan yang paling nyata adalah bagaimana mempertahankan kemenangan itu.
Read More...

Jumat, 10 Agustus 2012

Jualan Tuhan di Pasar

1 comment

panas yang menyengat bumi jogja tertutupi langit biru berhias gelombang putih awan yang menari liar terhipnotis hembusan angin. damainya angkasa tanpa riak badai yang menerjang. indah rasanya menemani jiwa-jiwa yang sepi. tubuh semakin pasrah dalam jejak-jejak langkah pada tanah yang merekah. nasib manusia-manusia kalah, dilempar sicaci, dimaki, tuhan diumbar saat batu dilempar. tuhan mengiasi setiap fatwa-fatwa keji yang tak manusiawi. tuhan dijual dalam khotbah-khotbah agama, diobral dalam fatwa-fatwa ulama, batu dilempar tuhan diumbar, golok menyambar tuhan diumbar, tangan menampar tuhan kembali diumbar, tuhan terdengar sangat keji di bumi ini.

menempatkan tuhan dalam bangunan suci agama, dalam pelor-pelor senjata, yang diarahkan pada sodara sesama manusia, tingkah polah yang mengku bertuhan bak binatang yang tak punya emansipasi kemanusiaan, dalam kesombongan dan amaran yang kau atasnamakan iman, kau bungkus iman kejammu dalam kotak amarah yang tak terarah. darahmu telah bercampur amarah dan kau bunuh iman yang penuh kedamaian, kau jual kembali tuhan dalam kekejaman. tuhan kau tempatkan dalam amarah, kau dagangkan tuhan kegeraman.
helai demi helai, surat demi surat, ayat demi ayat, kau dengungkan bak pendekar akhirat. syahadat kau lantunkan, sholat kau dirikan, zakat kau tunaikan, puasa kau laksanakan, tapi kenapa hinaan masih kau dendangkan, amarah kau  pertahankan, prilakumu masih garang, dan masih betah menyimbah darah.

kau tak hanya menjual tuhan dalam prilakumu, kau menjadikan dirimu tuhan bagi saudaramu, kau hapus gemira dengan sengsara, kau hilangkan suka dengn duka, ka tambah sedih menjadi perih. ayat-ayat suci tuhan yang kau ucapkan kau aku sebagai jalan hidup sesamamu, kau jadikan dirimu tuhan dengan ayat-ayat tuhan higga kau merasa berhak untuk tidak dibantah, kau kejar kau lempar mereka yang tak satu ajar dalam belajar.

kau jadikan tuhan menjadi mesin, hingga semua menjadi mesin, sholatmu mesin, darahmu mesin, zakatmu mesin, jiwamu mesin, cintamu mesin, doamu mesin, dzikirmu musin, hati nuranimu mesin. saat mesin-mesin aus rusak, kau jula mesin-mesin nurani dan jiwamu, kepasar-pasar loak, kau jual murah imanmu pada amarah, kau akui tuhan maha kasih sayang tapi kau jadikan amarah sebagi tuhn yang garang.

kau bilang aku kafir saat berfikir, kau bilang aku sesat saat berfilsafat, kau bilan aku murtad karena berbeda pendapat, kau bilang aku liberal karena menggunakan akal, kau bilang aku syirik kau bilang aku zondik, kau bilang aku munafik, terus kau bilang apa dirimu?
aku ingin mengatakan padamu, aku seperti melihatmu menjual tuhan dalam pasa loak, agama dijajakan seperi barang dagangan, dan ada diskon iman besar-besaran di hadapan zaman, kudengar orang ribut, soal agama illegal, ada agama bajakan, lalu tiba-tiba kemanusiaanpun di lelang, agama di lelang, moralitas di lelang, kitab suci lelang,oh tuhan, di neraka apa aku sekarang berada?

kekuasaan dan kekejaman kau jadikan tuhan kini, dengan lembar-lembar kitab yang kau omong kosongkan, kau obral tuhan dalam setiap amarah dan prilaku kejimu, kau tuhankan batu yang kau lempar, kau tuhankan kepalan tangan, kau tuhankan hunusan pedang, hingga kau tuhankan batu yang kaulempar. kau bilang dengan itu kau ingin menegakan iman, iman tauhid ketuhanan. tapi tauhid iman tuhan yang mana yang sedang kau perjuangkan, bukankah Tuhan itu Maha Kasih Sayang….
Read More...

Sabtu, 18 Februari 2012

Orang Islam Kampungan

Leave a Comment

sejak pertama kali menginjakan kaki di jogja ada banyak hal yang membuat saya terkaget-kaget, ntah sindrom apa ini namanya, tapi yang pasti banyak hal di joja yeng membuat saya mengerutkan dahi. diantaranya, mengapa untuk bermain bola saja saya harus menyewa lapangan kecil dengan waktu yang dibatasi, padahal di kampung, main bola dilapangan desa sampai pekarangan rumah seharian tidak pernah dapat masalah. atua kenapa ketika masuk ruangan saya begitu kedinginan dan ketika keluar kemudian kepanasan. dan semua “keanehan” ini juga terjadi dalam kehidupan beragama.

dalam kehidupan beragama ternyata saya harus sadar, bahwa saya sedang dibenturkan dalam aneka keilmuan yang tak pernah saya pelajari. saya merasa menjadi “amatir agama” ditengah diskusi keilmuan dan berbagai istilah yang sangat kompleks. semakin lama saya hampir tidak mengerti bagaimana islam memiliki pakaian kebesaran. tentu saja dalam hal ini adalah Islam.

entah kenapa di jogja, masjid terasa begitu sepi. hanya ada suara adzan dan iqomah. selain itu tidak ada suara lagi. orang sholat berjamaah terus pulang. saya mencoba untuk faham bahwa orang-orang kota cendrung sibuk dan tidak sempat duduk lama untuk ber-wirid. atau bersholawat mengisi waktu menuju sholat. banyak hal dalam masjid yang jauh dari kehidupan kampung, tidak ada lagi cengkrama sosial dan diskusi kecil di masjid. masjid terasa amat sangat sepi.

begitu juga dengan imam saat sholat, imam di kota sering menggunakan suat-surat panjang dengan ayat-ayat yang panjang pula. beda dengan orang kampung seperti saya, yang bisanya hanya surat-surat pendek. langganannya ya surat-surat pendek, macam An-nas, At-takasur, Al-ikhlas, lebih jelasnya, saya lebih suka surat-surat di juz ama. bukan hanya karena pendek dan mudah di ingat, tapi juga karena maknanya lebih muah di fahami, seperti surat Al-ikhlas, yang berbicaa tentang ke-esa-an Tuhan. atau Al-kafirun yang bebicara dengan jelas bagaimana menyikapi sebuah pebedaan dalam beragama. saya yang amatir dan orang kampung hanya belajar ngaji di surau ini kalah jauh dari “muslim kota” atau penyeru jihad, yang lebih suka ayat-ayat panjang guna memantapkan legitimai “alim” yang tahu benar sudut-sudut kitab suci.

jujur ketika saya belajar mengaji di surau kampung saya tidak pernah menemukan kata-kata seperti liberal atau pluralisme hingga khilafah atau berbagai macam dagangan agama yang diperdebatkan oleh mereka yang berintelektual dalam agama. belum lagi jual beli fatwa oleh mereka yang mengaku ulama yag tergabung dalam sebuah majelis.

dan saya sadar satu hal, bahwa jadi orang kampungan termasuk dalam beragama itu ternyata membawa ketenangan, tidak pusing dengan problema dan perdebatan berkepanjangan tentang istilah-istilah yang -mungkin saja- tidak mereka ketahui maknanya. menjadi orang islam kampungan sangatlah membahagiakan. kalau ada yang meledek atau mendebat ibadah saya, saya tinggal bilang, “saya kan orang islam kampungan.”

—————————————-
tulisan ini hanya sedikit keterkejutan saya dengan kehidupan kota jogja, dan tidak sama sekali bermaksud mendeskriditkan atau mengkotak-kotakan kota atau desa.
Read More...

Rabu, 21 Desember 2011

Mencari Islam yang Paling Benar

Leave a Comment

entah tulisan ini bermanfaat atau tidak, tapi daripada ga ada ide untuk menulis mungkin tidak ada salahnya untuk ikut menambah peredaran kata di rumah sehat ini. tadi malam saya bertemu beberapa kawan dan sekedar melepas kangen di angkringan lek man deket tugu. di tengah tawa tidak jelas, tiba-tiba ada yang nyeletuk, bertanya membuka ruang diskusi yang cukup meredakan tawa.

seorang kawan itu bertanya, tentang perdebatan kekerasan FPI dan keyakinan Ahmadiyah, atau antara JIL dan HTI dalam menghadapi pertentangan khilafah. semakin malam semakin serius, beberapa diantaranya mengeluarkan senjata hujjahterbaiknya. perdebatan mereka berlangsung seru hingga bulan terus bergerak hampir melewati titik puncaknya. dan saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan perdebatan soal agama, jadi tetap mendengarkan walau tangan dan mulut tidak bisa lepas dari aneka makanan dan kopi joss.

malam berhawa dingin dengan suasana panas itu memang berakhir dengan tawa dan senyuman, dan tentu saja dengan egoisme masing-masing manusia. egoisme dalam keyakinan dalam beragama dan egoisme tak acuh saya. saya senang karena diskusi itu tidak berefek terlalu jauh, setidaknya untuk persahabatan kami, walau saya pribadi agak sedikit rugi, gara-gara tidak ambil pusing dengan perdebatan itu, tangan saya tidak berhenti bergeriliya di tengah hamparan makanan, dan tebak saja hasilnya, saya tekor…

pembicaraan itu buat saya tidaklah terlalu substantif, dalam permasalahan agama. pandangan bahwa keyakinannya adalah yang terbaik terkadang membuat saya geli, seolah dialah sang pemilik kuasa atas garis-garis agama. pemilik tonggak yang paling benar.beberapa golongan yang menganggap alirannya yang paling benar dan yang lain salah bagi saya pribadi seperti menambah persoalan hidup yang tak kunjung reda.

malam itu ada seorang kawan yang bertanya, tentang pendapat saya akan perdebatan yang sedang berjalan, saat itu saya hanya menjawab dengan senyuman dan mulut penuh makanan. saya pikir keilmuan saya soal agama masih sangat cetek dan kecil, saya takut jika ikut urun pendapat justru malah mengacaukan suasana. sepertinya kawan itu memahami kebodohan saya.

saya percaya bahwa Allah mengetahui kebenaran mutlak. dengan begitu, sebenarnya hampir mustahil bagi seorang manusia untuk menjangkau realitas islam dalam kesempurnaannya. dalam keterbatasan diri dan pengetahuan yang ada pada diri saya, saya tidak berhak atas klaim kebenaran. bahkan saya justru beranggapan bahwa tak ada satupun manusia di masa modern kini yang berhak atas sebuah klaim kebenaran beragama dalam suatu agama.

dalam penilaian saya, pemahaman umat muslim terhadap doktrin-doktrin keagamaan sebenarnya bersifat relatif dan karenanya suatu waktu dapat berubah dan beragam. contoh nyata ada beberapa aliran mahzab dalam khazanah keilmuan fiqih, dan bentuk-bentuk aliran dari syiah hingga sunni, dari HT hingga JIL. di Indonesia saja ada bermacam-macam bentuk dan jenisnya dengan menggunakan pemahaman dan penafsiran alirannya masing-masing.

dengan adanya keragaman penafsiran terhadap islam di satu sisi, memunculkan keindahan, karena  -katanya- keragaman adalah rahmah. dan dilain sisi, Islam semenjak meninggalnya Sayyidina wa Maulana Rasullulah Muhammad SAW, beragamnya penafsiran atas Al-Quran dan Hadist memang tidak bisa dibendung lagi. kenyataan ini membuktikan bahwa Islam tidak menganut sistem kependetaan dan keagamaan terpusat dalam beragama (la rahabaniyah fi al Islam). maka tak seorang pun dapat mengklaim bahwa pemahamannya atas islam yang paing benar dan otoratif di banding yang lain. karenanya penting sekali bagi kamum muslimin untuk mengembangakan toleransi beragama dalam, baik secara internal umat islam sendiri maupun ekternal dengan agama lain.

Terus terang saja, pengetahuan saya tentang Islam masih sangat minim sekali. Terhadap keislaman saya sendiri, saya masih belum yakin apakah sudah benar sesuai yang diridhai oleh Allah SWT. Karena itu saya tidak berani menilai keislaman bahkan keberagamaan orang lain; apalagi mengkafirkan dan menghalalkan darah orang. Jangan-jangan ketika saya menyalahkan orang, ternyata hakikatnya dalam pandangan Allah justru sayalah yang sesat. Karena kebenaran yang mutlak hanya milik Allah sendiri, saya sangat takut memutlakkan kebenaran pendapat saya; takut terjebak justru Men-Tuhan-kan pendapat saya, takut terjerumus syirik tanpa saya sadari. Na’udzu billahi mindzalik..
Read More...

Senin, 31 Mei 2010

Berdakwah dengan Kekerasan dan Kebencian, Haruskah?

Leave a Comment

mungkin ada Tuhan di suatu tempat, bersembunyi. Sebenarnya, jika Dia tetap tidak terlihat, mungkin itu karena Dia “malu” pada para -yang mengaku- pengikut-Nyayang merasa bertanggung jawab untuk mempromosikan nama-Nya dengan melakukan semua kekejaman dan kebodohan.

Allahuakbar ,semasa saya kecil kata itu hanya di teriakan dalam adzan, dan sekalinya di terikan adalah ketika menyambut dua hari raya besar idul fitri dan idul adha, teriakan itu tidak pernah terdengar di pasar apalagi di barengi dengan gerakan tangan memukul dan menghancurkan. dulu kata itu di terikan hanya saat memukul bedug dan kentongan, bukan memukuli manusia, melempar baru, hingga menghancurkan. dulu saat kecil yang meneriakan itu adalah anak-anak bercelana kolor berkaus oblong dengan peci hitam dan sarung yang dislempangkan di bahu. kata Allahuakbar begitu agung, hingga takbir hanya didengungkan dengan nyaring dan penuh hikmah ketika akan menymbut hari besar.

kini kata itu sangat pasaran, mereka yang berjubah, berpakaian persis orang-orang arab, sering berteriak dengan lantang di mana-mana, seolah esensi kata itu hanya untuk menghancurkan, untuk perang, seolah dengan kata itu, para “pendakwah” mendapat legitimasi Tuhan, dan merasa besar dan berhak berbuat seenaknya. tidakkah mereka memahami esensi dari takbir.

Takbir terucap ketika pangkal utama syaraf bergerak untuk berserah dan bersimpuh dihadapan sang khalik, takbir bukan membuat manusia mengepalkan tangan keatas, mata garang dan melotot kedepan dengan tongkat dan celurit, tapi esensi takbir adalah meletakan kedua tangan didada, menundukan kepala, khusyu menunduk, berserah diri, bahwa takbir itu Allahuakbar adalah menempatkan posisi Tuahan pada kebesaran yang maha dasyat dan manusia maha esensi yang sangat kecil. ketika takbir terucap saat itu adalah pengakuan bahwa manusia bukanlah apa-apa dan tidak berhak untuk menghancurkan, tidak berhak memukul karena bahwa sejatinya semua adalah makhluk yang dicipta Allah Subhanahu Wa’tala.
tapi mereka yang berjubah di jalanan selalu merasa berhak menjadi seolah penegak kebenaran sejati, seolah bahwa pemahamannya adalah yang paling benar, Hujjah-nya, tidak tanggung-tanggung seperti membela Islam, menegakkan syariat, amar makruf nahi munkar, memurnikan agama, dsb. Cirinya yang menonjol : sikap merasa benar sendiri dan karenanya bila bicara suka menghina dan melecehkan mereka yang tidak sepaham. Suka memaksa dan bertindak keras dan kasar kepada golongan lain yang mereka anggap sesat. Seandainya kita tidak melihat mereka berpakaian Arab dan sering meneriakkan “Allahu Akbar!”, kita sulit mengatakan mereka itu orang-orang Islam. Apalagi bila kita sudah mengenal pemimpin tertinggi dan panutan kaum muslimin, Nabi Muhmmad SAW.

Seperti kita ketahui, Nabi kita yang diutus Allah menyampaikan firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya, adalah contoh manusia paling manusia. Manusia yang mengerti manusia dan memanusiakan manusia. Rasulullah SAW seperti bisa dengan mudah kita kenal melalui sirah dan sejarah kehidupannya, adalah pribadi yang sangat lembut, ramah dan menarik. Diam dan bicaranya menyejukkan dan menyenangkan. Beliau tidak pernah bertindak atau berbicara kasar.

boleh saja mungkin mereka selalu menghapal hadist-hadist dan ayat Al Quran tentang perjuangan, dan segala macamnya, tapi mungkin saja mereka lupa atau melewatkan hadist
Sahabat Anas r.a yang lama melayani Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan imam Bukhari, menuturkan bahwa Rasulullah SAW bukanlah pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan orang yang kasar.
Sementara menurut riwayat Imam Turmudzi, dari sahabat Abu Hurairah r.a:Rasulullah SAW pribadinya tidak kasar, tidak keji, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar.
Jadi, saya tidak bisa mengerti bila ada umat Nabi Muhammad SAW, berlaku kasar, keras dan kejam. Ataukah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka yang begitu berbudi, lemah- lembut dan menyenangkan; atau mereka mempunyai panutan lain dengan doktrin lain.
saya hanya menyayangkan saja pakaian jubah putih khas Rosul itu harus ternoda dengn sikap yang sesungguhnya tidak mencerimnkan sikap dan sifat Rosul. bukankah Allah pernah berfirman dalam salah satu ayatnya Fabima rahmatin minallaahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika …” , Maka disebabkan rahmat dari Alllah, kamu lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu berperangai keras berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”

karena sikap yang penuh kebencian ini justru menjauhkan Islam dan wajah lemah-lembut. Kalau memang ya, bukankah kitab suci kita al-Quran sudah mewanti-wanti, berpesan dengan sangat agar kita tidak terseret oleh kebencian kita kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah (bukan karena yang lain-lain!), menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Baca Q. 5: 9).

Hampir semua orang Islam mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus utamanya untuk menyempurnakan budi pekerti. Berdakwah adalah menarik orang bukan membuat orang lari.dan bagaimana mungkin menarik dan mengjak orang berbuat kebaikan dengan sikap yang kasar dan dainya sangar-sangar. orang justru akan benci dan tidak simpatik, jika pun mungkin orang akan ikut, itu bisa jadi akibat ketakutan, bukan atas dasar hati yang tercerahkan.
Read More...

Kamis, 20 Mei 2010

Semoga Pembuat Karikatur Nabi Diberkati Tuhan

Leave a Comment

Islam itu Rahmatan lil alamin, agama universal, komprehensif (syumul), lengkap dengan dimensi edoterik dan eksoteriknya. Sebagai agama agama universal (rahmatan lil alamin), Islam mengenal sistem perpaduan antara apa yang disebut konstan-nonadaptabel (tsabuit) di satu sisi watak Islam yang ini tidak mengenal perubahan apa pun karena berkaitan dengan persoalan-persoalan ritus agama yang transenden, nash yang berkaitan dengan watak (konstan-nonadaptabel) ini dalam al-Qur’an maupun hadist sekitas 10%, yang berupa diktum-diktum ajaran agama yang bersifat kulli dan qoth’I yang konstan dan immutabel.

akhir-akhir ini gonjang-ganjing kartun nabi kembali marak, walaupun masih ada kecama keras, toh suaranya tidak sekeras dahulu, mungkin kebanyakan umat Islam sudah menjadi “maklum” atau umat islam justru menjadi masa bodoh. lalu apa yang harus umat islam lakukan? sebuah pertanyaan sederhana yang akan dapat menimbulkan banyak jawaban dan pendapat. dari yang munglaknat pelakunya hingga mungkin ada yang mem-fatwa-kan pembunuhan. semua orang bisa menjawab dengan beragam tafsir dan kegeraman masing-masing.

tapi saya akan mengajak menengok sejarah sedikit saja, untuk membuka kembali sejarah perjuangan Nabi Muhammad. menilik hijrah Nabi ke Thaif. Di sana Rasul dilempari batu dan dilempari kotoran oleh orang-orang kafir. Dan Nabi justru mendoakan mereka.Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun (Ya Allah berilah petunjuk kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengerti)…

mari kita renungkan apa yang akan dilakukan nabi jika melihat karikatur itu mungkin beliau juga akan menjawab, “Allahummahdi qaumi…“

“Jika seperti itu, beranikah kita tidak bilang seperti itu? Beranikah kita mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan ucapan Nabi?”

bagi orang yang tahu bahwa cinta Allah kepada Islam begitu besar, maka tak ada kesedihan. Itu layaknya kakang kawah adi ari-ari.

“siapa orang kafir yang paling melawan Rasul?” .Abu Jahal. Abu Sufyan, dll.

Pada saat fathu makkah ketika pasukan Islam dari MAdinah berhasil merebut kembali kota Mekkah, Rasul berbicara di depan orang-orang Islam dan musuh-musuh dan para tawanan perang. ‘Hadzal yaum laisa yaumul malhamah wa lakin hadzal yaum yaumul markhamah wa antumut tulaqa‘. Hari ini bukanlah hari kebencian, tetapi hari ini adalah hari kasih sayang. Dan kalian (para tawanan) adalah orang-orang yang saya bebaskan/merdekakan….,”

pasukan Islam mendengar pidato itu merasa schok dan terkejut. berjuang hidup mati, diperhinakan dilecehkan sekian lama, dan saata kemenangan di depan mata, saat berada di atas angin, ketika dendam yang menumpuk berkecamuk. Rosul justru mengampuni dan bahkan melarang uamt Islam untuk mengambil harta benda rampasan perang, semua harus dikembalikan. dan pasuka Islam tidak memperoleh apa-apa.

sehingga mengeluh dan memprotes, tapi nabi kemudian berpidato,

“sudah berapa lama kalian bersahabt denganku?”
mereka menjawab berfariasi, sekian tahun, sekian tahun, sekian tahun…

“selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

“tentu saja mencintai rasulluloh”

dan rosul mengakhiri pertanyaannya, “kalian lebih memilih mendapatkan unta, harta rampasan serta berhasil meluapkan kebencian dan dendam yang menumpuk ataukah kalian memilih cintaku?”

menangislah mereka karena cinta Rasulluloh kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan langit dan bumi.

saya tidaklah mengajak untuk menyepelekan atau membiarkan begitu saja, acara menggambar karikatur Nabi, tentu saja sebagai umat islam tidak bisa begitu saja kita diam, perlu ada sebuah action yang kita lakukan, sebuah sikap kita sebagai muslim yang Rahmatan Lil Alamin, seperti doa yang sering diucapkan, Bismillahirohmannirrohim,  dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. mari kita sikapi semua ini dengan rasa kasih sayang, dengan cinta, dengan kedamaian.

Cinta saya kepada Rasul tidak berkurang sedikit pun oleh penghinaan itu. Kasih sayang Rasul lebih luas dari semesta. Rasul bersegera kepada Allah untuk memintakan ampun bagi mereka. Cinta jangan membikin gupuh. Cinta jangan sampai bikin gampang jatuh, jangan gampang marah.

mungkin doa kita tidaklah, mengharap merekakemudian tobat dan masuk islam, tapi mari kita doakan suapay mereka yang melakukan penghinaan diberkati, diberi hidayah, dikasih pencerahan, bahwa minimal, mereka merasa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan yang menyakiti sebagian manusia di bumi. karena mungkin saja seperti -kata Rasulluloh- hanyalah fainnahum la ya’lamun….
Read More...

Jumat, 14 November 2008

Berdoa, Ala Indonesia

2 comments
pernahkah anda berdoa ??
saya yakin pertanyaan ini akan dijawab iya oleh hampir seluruh umat beragama termasuk orang indonesia, ya 99 % (tak ada kemungkinan yang 100%) orang akan manjawab "iya". lebih tepatnya "sering", bahkan mungkin bagi sebagian orang ada yang kerjanya hanya berdoa...

Lalu apa saja yang Anda baca dalam berdo’a? Ataukah permohonan apa sajak yang biasa Anda panjatkan? Mohon selamat? Rezeki? Masuk surga? Dihindari dari api neraka? Bahagia dunia akhirat?

biasa atau pernahkah anda berdoa, secara khusus kepada Allah sehubungan dengan kepentingan yang mendesak? Ditagih utang kanan-kiri, misalnya? Bagaimana pengalaman Anda selama ini; berapakah prosentase do’a Anda yang makbul? atau mungkin cari pasangan untuk menikah, atau bagi anak muda berdoa supaya cepat dapat pacar ?

memang selain membaca Al Quran berdoa merupakan salah satu ibadah yang dipujikan (bahkan sholat pun masuk dalam kategori berdoa, toh bacaan sholat juga merupakan doa)

Berdo’a, selain merupakan salah satu ibadat yang dipujikan, adalah sarana kita untuk memohon sesuatu kepada Tuhan Yang Maha Memiliki dan Mahamurah. Allah berfirman dalam kitab sucinya, “Ud’uunil astajib lakum” (Berdo’alah kamu kepada-ku, maka Aku akan mengabulkan untukmu.”) (Q.s. 40: 60).

Berdo’a, secara langsung atau tidak, juga bisa berarti pengakuan hamba akan kelemahannya dihadapan Tuhan Penciptanya.

Kalau dikalangan sufi banyak yang menolak berdo’a – karena bagi mereka, berdo’a sama saja dengan meragukan pengetahuan Tuhan terhadap hajat dan aspirasi hamba-hambaNya – bagi kita berdo’a justru merupakan tradisi misal yang luar biasa. Boleh jadi karena umumnya kita ini banyak mempunyai kepentingan dan keinginan – sedangkan tangan kita untuk meraihnya terbatas – berdo’a lalu menjadi amalan ibadat favorit. Apalagi dijaman yang tidak semakin menjanjikan terpuasinya aspirasi ini.

Mulai dari memohon hujan; memohon selamat dari banjir dan bencana alam; memohon kemenangan tim olah raga yang kurang latihan; memohon agar jagonya jadi lagi; hingga ber-istighatsah memohon agar organisasinya tidak digoyang OTB, organisasi tanpa bentuk.

(Cara berdo’a pun macam-macam. Do’a yang bersifat instansional biasanya juga dengan gaya bahasa laporan dinas atau laporan komendan kepada inspektur upacara; misalnya begini, “Ya Allah ya Tuhan kami; hari ini kami semua berkumpul di bangunan yang baru saja selesai dengan biaya… untuk melepas kontingen olah raga kami yang akan berjuang membela nama baik tanah air kami ke negeri orang. Ya Tuhan, berilah kemenangan kepada mereka, sehingga mereka dapat meraih medali sebanyak-banyaknya atas ridho-Mu ya Allah…” Atau begini, “Ya Allah ya Tuhan kami; hari ini kami memperingati hari ulang tahun organisasi kami….dan seterusnya.: atau, “Ya Allah ya Tuhan kami dalam pemilu yang akan dating….dan seterusnya.” Atau….).

Pertanyaan penting yang sering mengusik kemudian ialah: kita ini sudah berdo’a sekian lama – minta ini minta itu untuk diri kita sendiri atau untuk kepentingan umum – namun kok sepertinya tak ada tanda-tanda do’a kita dikabulkan-Nya? Bahkan kita sudah berdo’a di saat-saat suci, ketika berpuasa, setelah sholat, bahkan rela bangn tengah malam (hanya pada saat mendesak, karena mungkin kalo lagi suasana hati senang tidak pernah sama sekali) ini dan tampaknya do’a kita hanya seperti angin lalu saja...

Apakah etika berdo’a kita yang belum benar sehingga Allah belum berkenan mendengarkan do’a kita, atau bagaimana? Atau seperti kata ulama yang cukup menghibur itu: setiap do’a pasti dikabulkan, cuma kapan dan berupa apa hanya Allah sendiri yang menentukan dan mengetahuiNya. Wallahu a’lam.

Orang-orang Bashrah (Irak) tempo deoloe pernah mengajukan pertanyaan seperti itu kepada zahid mereka yang terkenal, Ibrahim bin Adham (hidup sekitar abad VIII Masehi) dan apa jawabannya? Tokoh sufi itu menjawab, “Itu disebabkan karena hati kalian mati dalam sepuluh hal:
(1) Kalian mengenal Allah, tapi tidak menunaikan hak-hak-Nya;
(2) Kalian membaca kitab Allah, tapi tidak mengamalkannya;
(3) Kalian mengaku mencintai Rasul Allah saw, tapi tidak mengikuti sunnahnya;
(4) Kalian mengaku membenci setan, tapi selalu menyetujuinya;
(5) Kalian yakin mati itu pasti, tapi tak pernah mempersiapkannya;
(6) Kalian bilang takut neraka, tapi terus membiarkan diri kalian ke sana;
(7) Kalian bilang mendambagan surga, tapi tak pernah beramal untuknya;
(8) Kalian sibuk dengan aib-aib orang lain dan mengabaikan aib-aib kalian sendiri;
(9) Kalian menikmati anugerah-anugerah tuhan, tapi tidak mensyukurinya;
(10) Kalian setiap kali mengubur jenazah-jenazah, tapi tak pernah mengambil pelajaran darinya.”

Nah, apakah jawaban Ibrahim bin Adham ini ada gunanya buat Anda yang suka berdo’a?
Selamat berdo’a!
Read More...

Selasa, 11 November 2008

islam di indonesia

Leave a Comment
Apabila kita amati kehidupan kaum muslimin di negeri kita ini sampai dengan penghujung tahun 1428, boleh jadi kita bingung mengatakannya. Apakah kehidupan kaum muslimin --yang merupakan mayoritas ini-- selama ini menggembirakan atau menyedihkan. Soalnya dari satu sisi, kehidupan keberagamaan terlihat begitu hebat di negeri ini.

Kitab suci al-Quran tidak hanya dibaca di mesjid, di mushalla, atau di rumah-rumah pada saat senggang, tapi juga dilomba-lagukan dalam MTQ-MTQ. Bahkan pada bulan Ramadan diteriakan oleh pengerassuara-pengeras suara tanpa pandang waktu. Lafal-lafalnya ditulis indah-indah dalam lukisan kaligrafi. Malah dibuatkan museum agar mereka yang sempat dapat melihat berbagai versi kitab suci itu dari yang produk kuno hingga yang modern; dari yang berbentuk mini hingga raksasa. Akan halnya nilai-nilai dan ajarannya, juga sesekali dijadikan bahan khotbah dan ceramah para ustadz. Didiskusikan di seminar-seminar dan halqah-halqah. Bahkan sering dicuplik oleh beberapa politisi muslim pada saat kampanye atau rapat-rapat partai..

Secara ‘ritual’ kehidupan beragama di negeri ini memang dahsyat. Lihatlah. Hampir tidak ada tempat ibadah yang jelek dan tak megah. Dan orang masih terus membangun dan membangun mesjid-mesjid secara gila-gilaan. Bahkan di Jakarta ada yang membangun mesjid berkubah emas. (Saya tidak tahu apa niat mereka yang sesungguhnya membangun rumah-rumah Tuhan sedemikian megah. Tentu bukan untuk menakut-nakuti hamba-hamba Tuhan yang miskin di sekitas rumah-rumah Tuhan itu. Tapi bila Anda bertanya kepada mereka, insya Allah mereka akan menjawab, “Agar dibangunkan Allah istana di surga kelak”. Mungkin dalam pikiran mereka, semakin indah dan besar mesjid yang dibangun, akan semakin besar dan indah istana mereka di surga kelak.


(Terus terang bila teringat fungsi mesjid dan kenyataan sepinya kebanyakan mesjid-mesjid itu dari jamaah yang salat bersama dan beri’tikaf, timbul su’uzhzhan saya: jangan-jangan mereka bermaksud menyogok Tuhan agar kelakuan mereka tidak dihisab).


Tidak ada musalla, apalagi mesjid, yang tidak memiliki pengeras suara yang dipasang menghadap ke 4 penjuru mata angin untuk melantunkan tidak hanya adzan. Bahkan ada yang sengaja membangun menara dengan beaya jutaan hanya untuk memasang corong-corong pengeras suara. Adzan pun yang semula mempunyai fungsi memberitahukan datangnya waktu salat, sudah berubah fungsi menjadi keharusan ‘syiar’ sebagai manifestasi fastabiqul khairaat; sehingga sering merepotkan mereka yang ingin melaksanakan anjuran Rasulullah SAW: untuk menyahuti adzan.


Jamaah dzikir, istighatsah, mujahadah, dan muhasabah menjamur di desa-desa dan kota-kota. Terutama di bulan Ramadan, tv-tv penuh dengan tayangan program-program ’keagamaan’. Artis-artis berbaur dan bersaing dengan para ustadz memberikan ‘siraman ruhani’ dan dzikir bersama yang menghibur.
Jumlah orang yang naik haji setiap tahun meningkat, hingga di samping ketetapan quota, Departemen Agama perlu mengeluarkan peraturan pembatasan. Setiap hari orang berumroh menyaingi mereka yang berpiknik ke negara-negara lain.


Jilbab dan sorban yang dulu ditertawakan, kini menjadi pakaian yang membanggakan. Kalimat thoyyibah, seperti Allahu Akbar dan Subhanallah tidak hanya diwirid-bisikkan di mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla, tapi juga diteriak-gemakan di jalan-jalan.


Label-label Islam tidak hanya terpasang di papan-papan sekolahan dan rumah sakit; tidak hanya di AD/ART-AD/ART organisasi sosial dan politik; tidak hanya di kaca-kaca mobil dan kaos-kaos oblong; tapi juga di lagu-lagu pop dan puisi-puisi.


Pemerintah Pancasila juga dengan serius ikut aktif mengatur pelaksanaan haji, penentuan awal Ramadan dan ‘Ied. MUI-nya mengeluarkan label halal (mengapa tidak label haram yang jumlahnya lebih sedikit?) demi menyelamatkan perut kaum muslimin dari kemasukan makanan haram.


Pejuang-pejuang Islam dengan semangat jihad fii sabiilillah mengawasi dan kalau perlu menindak –atas nama amar ma’ruuf dan nahi ‘anil munkar-- mereka yang dianggap melakukan kemungkaran dan melanggar peraturan Tuhan. Tidak cukup dengan fatwa-fatwa MUI, daerah-daerah terutama yang mayoritas penduduknya beragama Islam pun berlomba-lomba membuat perda syareat.


Semangat keagamaan dan kegiatan keberagamaan kaum muslimin di negeri ini memang luar biasa. Begitu luar biasanya hingga daratan, lautan, dan udara di negeri ini seolah-olah hanya milik kaum muslimin. Takbir menggema dimana-mana, siang dan malam. Meski namanya negara Pancasila dengan penduduk majmuk, berbagai agama diakui, namun banyak kaum muslimin –terutama di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam— seperti merasa paling memiliki negara ini. Barangkali karena itulah, banyak yang menyebut bangsa negeri ini sebagai bangsa religius.


Namun, marilah kita tengok sisi lain untuk melihat kenyataan yang ironis dalam kehidupan bangsa yang religius ini. Semudah melihat maraknya kehidupan ritual keagamaan yang sudah disinggung tadi, dengan mudah pula kita bisa melihat banyak ajaran dan nilai-nilai mulia agama yang seolah-olah benda-benda asing yang tak begitu dikenal.


Tengoklah. Kebohongan dan kemunafikan sedemikian dominannya hingga membuat orang-orang yang masih jujur kesepian dan rendah diri.


Rasa malu yang menjadi ciri utama pemimpin agung Muhammad SAW dan para shahabatnya, tergusur dari kehidupan oleh kepentingan-kepentingan terselubung dan ketamakan.
Disiplin yang dididikkan agama seperti azan pada waktunya, salat pada watunya, haji pada waktunya, dsb. tidak sanggup mengubah perangai ngawur dan melecehkan waktu dalam kehidupan kaum beragama.
Plakat-plakat bertuliskan “An-nazhaafatu minal iimaan” dengan terjemahan jelas “Kebersihan adalah bagian dari iman”, diejek oleh kekumuhan, tumpukan sampah, dan kekotoran hati di mana-mana.
Kesungguhan yang diajarkan Quran dan dicontohkan Nabi tak mampu mempengaruhi tabiat malas dan suka mengambil jalan pintas.


Di atas, korupsi merajalela (Bahkan mantan presiden 32 tahun negeri ini dikabarkan menyandang gelar pencuri harta rakyat terbesar di dunia). Sementara di bawah, maling dan copet merebak.
Jumlah orang miskin dan pengangguran seolah-olah berlomba dengan jumlah koruptor dan mereka yang naik haji setiap tahun.


Nasib hukum juga tidak kalah mengenaskan. Tak perlulah kita capek terus bicara soal mafia peradilan dan banyaknya vonis hukum yang melukai sanubari publik untuk membuktikan buruknya kondisi penegakan hukum negeri ini. Cukuplah satu berita ini: KPK baru-baru ini menangkap Koordinator Bidang Pengawasan Kehormatan Keluhuran Martabat dan Perilaku Hakim Komisi Yudisial saat menerima suap.
Penegak-penegak keadilan sering kali justru melecehkan keadilan. Penegak kebenaran justru sering kali berlaku tidak benar.


Maniak kekuasaan menghinggapi mereka yang pantas dan yang tidak pantas. Mereka berebut kekuasaan seolah-olah kekuasaan merupakan baju all size yang patut dipakai oleh siapa saja yang kepingin, tidak peduli potongan dan bentuk badannya..


Tidak hanya sesama saudara sebangsa, tidak hanya sesama saudara seagama, bahkan sesama anggota organisasi keagamaan yang satu, setiap hari tidak hanya berbeda pendapat, tapi bertikai. Seolah-olah kebenaran hanya milik masing-masing. Pemutlakan kebenaran sendiri seolah-olah ingin melawan fitrah perbedaan.


Kekerasan dan kebencian, bahkan keganasan, seolah-olah menantang missi Rasulullah SAW: rahmatan lil ‘aalamiin, mengasihi seluruh alam, dan tatmiimu makaarimil akhlaaq, menyempurnakan akhlak yang mulia.
Penghargaan kepada manusia yang dimuliakan Tuhan seperti sudah mulai sirna dari hati. Termasuk penghargaan kepada diri sendiri.


Waba’du; jangan-jangan selama ini –meski kita selalu menyanyikan ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”—hanya badan saja yang kita bangun. Jiwa kita lupakan. Daging saja yang kita gemukkan, ruh kita biarkan merana. Sehingga sampai ibadah dan beragama pun masih belum melampaui batas daging. Lalu, bila benar, ini sampai kapan?

sumber : gusmus.net
Read More...