Tampilkan postingan dengan label bingkai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bingkai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

ah

2 comments
ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa saya mengerti sebagai seorang manusia. akal saya gagal faham dengan yang terjadi di bumi milik Tuhan ini. mungkin ini hanya sebuah ungkapan kecil atau sekedar ungkapan yang tak terlalu berarti. dunia ini terlalu aneh dan terlalu misterius untuk bisa saya cerna dengan akal dan hati. bahkan saya tidak tahu dimana Nabi Muhammad akan menempatkan diri dalam begitu banyak pertentangan yang ada di masa sekarang. 14 abad yang lalu bukanlah masa kini, dalam agama setiap orang punya tafsirnya sendiri-sendiri. setiap orang merasa punya otoritas atas orang lain, setiap orang merasa punya hak atas diri manusia lain. saya bahkan tidak bisa menempatkan diri dalam sebuah lahan yang tak terbentuk seperti sekarang.

beberapa saat saya melangkahkan kaki menyentuh dua batas yang tak saya percaya. kemudian langkah berpindah, lalu bergerak dan tak bisa menetap. saya gagal berdiri diantara komnitas. atau mungkin saya harus berada dalam komunitas yang saya buat serta saya kendalikan sendiri. dunia ini terlalu risih untuk ditinggali, terlalu padat akan pendapat hingga membuat penat. ketika semua orang mengkalim sebuah kebenaran lalu siapa yang benar, maka orang-orang putus asa selalu berpendapat semua benar.

suatu waktu saya lebih senang mengasingkan diri, sekedar menutup hidup dari dunia luar untuk beberapa saat. lalu kembali pada keramaian, melihat wajah-wajah baru hingga pertikaian baru. saya tidak berfikir untuk mendapat wahyu seperti seorang pemuda cucu abdul muthalib yang disapa malaikat di dalam goa. jika suatu saat saya kedinginan dan berselimut itu mungkin hanya angin malam yang tiba-tiba datang menyapa.

saya yakin Tuhan meilhat semua kejadian di dunia ini, entah bagaimana caranya, entah teknologi apa yang digunakan, dan entah, entah, entahlah. jika dia mlihat tentu Tuhan tahu betul ada dua takbir bergema namun saling bertentangan. eh Tuhan tentu engkau tidak tidur.
tulisan ga jelas, gambar ga nyambung, hancur sudah ini postingan.
 | tidak berguna |

saya tidak akan membicarakan Tuhan dengan takbir -yang mengaku- umatnya. saya hanya sedang berfikir siapa nabi baru yang akan muncul setelah Muhammad. ini tentang  masa depan, bukan masa lalu. kenapa kita tidak berfikir iseng atau berandai-andai, ada nabi yang lahir dan besar di las vegas atau justru lahir di pedalaman papua. apa yang akan dia lakukan? kembali ke pernyataan awal, saya terlalu bodoh untuk mengerti banyak hal.

tidak penting juga untuk dibicarakan, tulisan ini hanya sekedar mengisi blog yang sudah lama tak terjamah. bukan tentang resah, bukan juga sebuah kisah, tapi entahlah. mungkin karena jogja basah, saya hanya bisa pasrah seperti air yang terjebak dalam lubang tanah, menunggu terpisah secara alamiah.
Read More...

Selasa, 25 Desember 2012

Tanya Rapor

2 comments

pagi ini agak lain dari biasa, mungkin karena libur panjang. musim-musim libur gini emang lebih enak liburan di kamar saja, ke sekitaran kota jogja juga percuma, macet dimana-mana penuh kendaraan luar kota. mau wisata keluar kota juga bukan pilihan baik, karena harga tiket dijamin jelas naik juga. maka pilihan paling rasional adalah tetap di kamar. biasanya pagi selepas sholat subuh di isi baca buku sambil berharap akan kembali terlelap.

rapor merah | gambar : www.bisd303.org
tapi pagi ini beda, iseng-iseng hari ini saya ngajakin ngobrol 2 malaikat yang kerjanya mengawasi saya tiap hari. lagi pula bosa juga kalau ngobrol sama setan terus, saya pikir ga salah ngobrol dengan malaikat, siapa tau ada kabar baik. lagi pula ini sudah mau tutup tahun, boleh lah kalau bisa menyelidiki sedikit isi rapor catatan amal. berharap-harap cemas rokib-atid mau berbaik hati dengan saya.

saya coba menyapa kedua malaikat setia itu,
"hey kakak....." saya coba akrab
"tumben abis subuh masih melek, biasanya tidur lagi" kata malaikat  rokib, dan dengan santainya malaikat atid cengengesansambil menertawakanku

"heheh, iya nih.... eh apa kabar kalian berdua"
"udah, ga usah berlagak akrab, dasar manusia, pasti ada maunya kan" kata sang malaikat bernada sinis

"ah bisa aja, sebenarnya da yang ingin aku tanyakan" jawabku mantap
"hahahha, nah tuh kan... dasar manusia.... bilang langsung aja, apa maumu" kata malakat atid tegas

begini kakak malaikat atid dan rokib, kalau boleh tahu gimina nilai rapor saya tahun ini?" tanyaku penuh ragu
"hahahhahahahhaha.... hahhahahhahahahha....." tawa kedua malaikat itu meledak seakan penuh ejekan....

"hey serius nih, malah diketawain..."
"iya, iya.... coba ulangi pertanyaanya.... maap maap..."

"begini, kalau boleh aku ingin tahu nilai rapor amalku...." kuajukan pertanyaan ini untuk keduakalinya
"baiklah, sebenarnya agak berat juga kasih tahunya, tapi ga apa-apa lah, toh ini amal kamu, jadi ga ada salahnya kamu tahu" jawab malaikat rokib penuh nada kasihan, dan atid masih saja cengar-cengir belum mampu menahan tawanya itu....

"oke, akan kami bacakan, tidak semua... sebagian saja ya...."
aku hanya mengangguk untuk menjawabnya, sambil berharap-harap penuh cemas,
syahdan, mulai
intensitas mendekatkan diripada Allah (C)
kesalehanmu tahun ini dapat (C)
sholat berjamaah (C)
sholat sunnah (C)
puasa sunnah lebih parah dapat (D)
muhasabah mu juga (C)

amalan wajib juga paling tinggi (B) tidak ada yang bernilai "A", sikap mu pada orang tau dan saudaramu dapat (B-), intensitasmu mengingat dan meng-esa kan Allah malah dapat (C), lalu.....

dan aku semakin pusing mendengarnya lalu terjerambab dalam kegelapan kala matahari mulai bersinar pagi ini.....
Read More...

Minggu, 23 Desember 2012

Menikmati Subuh

Leave a Comment
buat sebagian orang subuh mungkin agak berat untuk dilakukan, dan saya adalah bagian dari orang-orang yang berpendapat demikian. bangun lebih pagi dibanding jutaan orang yang merasakan dimensi lokasi dan waktu yang sama, tentu memerlukan perjuangan lebih. dan yang lebih berat dari itu semua adalah membiasakannya. itulah sangat sulit rasanya mengejar waktu awal subuh hingga bisa berjamaah di masjid.  namun saya masih bersyukur masih bisa sholat subuh sebelum fajar menyingsing. 

buat saya subuh memiliki dimensi waktu yang menakjubkan, itulah titik dimana kegelapan perlahan dihempaskan, serta digantikan oleh cahaya terang. disanalah saya mencoba menafsir bahwa orang-orang yang melihat serta merasakan prosesi perubahan itu adalah orang-orang yang beruntung. di titik ini pula terjadi proses dingin perlahan berubah menjadi hangat, kebeukan perlahan mencair. dan disanalah semangat baru selalu muncul.

damai, sunyi, penuh makna | foto : nur-muslim.blogspot.com
menikmati waktu-waktu subuh adalah melihat orang-orang hebat memulai aktifitas. dan di waktu ini saya selalu dihentak oleh para manusia yang sudah lanjut usia. jika saya hadir di masjid kebanyakan pengisi shaf adalah para kakek-nenek yang sudah berusia senja. melihat orang-orang senja adalah pembuka fajar, mungkin saya semakin diingatkan akan sebuah titik balik kemanusiaan tesebuah pendekatan akan kematian. 

boleh banyak orang mencintai dan menyukai lembayung senja, tapi saya yakin anda akan kesilitan mencari teman bernama senja. dan sebaliknya teman-teman akan banyak menemukan orang bernama fajar. fajar adalah semangat, awal diaman kehidupan manusia dimulai setelah bangkit dari kematiannya, karena tidur adalah sistem peringatan terhadap manusia akan sebuah kematian. manusia tidak akan selamanya terjada, adakalanya harus tertidur. manusia tak selamanya hidup adakalanya akan meninggal.

waktu subuh memberi saya mata kuliah kehidupan tentang itu. materi tentang bagaimana mengawali kehidupan. sekali-kali jika bangun pagi (waktu subuh) sudah menjadi rutinitas, maka cobalah keluar rumah setelah sholat, dan perhatikan beberapa orang yang memulai aktifitasnya, lalu nikmati bagaimana langit berubah perlahan. temukan cinta dan kedamaian disana. selamat menikmati minggu pagi yang cerah...

dari sisi selatan kaki merapi
Read More...

Sabtu, 15 Desember 2012

ganti wajah (lagi)

2 comments
tampilan lama yang sangat "ramai"
akhirnya akhir pekan ini diisi dengan merubah tampilan blog menjadi lebih sederhana dari sebelumnya. tidak ada alasan khusus sebenarnya, hanya saja tiba-tiba muncul ide kalau tampilan sebelumnya terlalu ramai dan agak berlebihan. agak berat memang jika harus mengganti tampilan atau desain blog karena tiap tampilan memiliki kenangan. dari awal blog ini dibuat kalau tidak salah sudah mengalami 4 kali ganti wajah, dan ini yang keempat. tampilan awal sederhana dan sesuai standar, kedua juga tidak terlalu ramai dengan memberi unsur desain kecil-kecilan pada header.

nah pergantian tampilan ketiga yang kemarin itu memang mencoba untuk sedikit eksekutif, tapi rasanya kurang cocok dengan gaya saya yang cendrung santai dan simpel. untuk itulah tampilan kemarin yang ramai dan glamor itu agak kurang sreg di hati walau terkesan lebih mewah.

tampilan baru ini dibuat dengan sangat simpel dan dan bisa dibilang sangat minimalis. hanya mengguanakan 2 warna yaitu putih sebagai dasar dan hitam untuk tulisan, serta menggunakan fornt comic sains MS untuk default bagian body. dasarnya sih suapya lebih elegan dan enak dibaca. hampir semua widget yang pernah hadir dihapus kecuali beberapa saja yang saya sisakan. hanya tersisa jam digital dan sedikit "bumbu seo" seperti link page rank. selain itu saya pasang beberapa bantuak kecil standar seperti "popular post", "arsip", dan beberapa "lebel" tertentu. oia, saya beri satu sedikit pemanis supaya tidak serlalu membosankan yaitu sebuah lentera kecil dengan api yang bergoyang.

saya berharap dengan tampilan baru ini saya bisa lebih fokus pada menulis, toh tujuan awal membuat blog kan untuk menulis. soooo....... selamat menikmati
Read More...

Jumat, 10 Agustus 2012

Antara Kematian dan Perpisahan, Misteri Tanpa Ilusi

Leave a Comment

seperti apa rasanya kematian?

belum pernah saya melihat orang bangkit dari kubur kemudian bercerita tentang kematian, tentang rasanya sakaratul maut saat izrail mencabut nyawa manusia atas intruksi Tuhan yang tertulis di Lauhil Mahfudz. kenapa ada orang begitu takut dengan kematian dn kenapa ada orang justru mengejar kematian, kematian inlah misteri terbesar manusi yang tak pernah terpecahkan, setidaknya dalam ruang lingkup pemikiran saya amat sangat terbatas sebagai makhluk Tuhan.

kematian adalah sebuah perpisahan, berpisah dengan kehidupan, berpisahnya nyawa dengan raga. waktu SD saya pernah melihat seorang nenek-nenek berada dalam sakaratul maut, meregang nyawa yang nyata, nafasnya tersenggal-senggal, matanya melotot, tubuhnya seperti cacing kepanasan, dengan mulut terbuka lidah menjulur keluar, dan beberapa orang disekitarnya ada yang menangis serta membaca ayat-ayat Tuhan. entah bagaimana meninggalnya nenek itu, saya lupa, tapi memori masa kecil saya masih merekam dengan jelas prosesi saat manusia meregang nyawa.

sumber foto: mta-online.com
beranjak SMP saya semakin sering melihat orang-orang meninggal dunia tapi entah kenapa saya tida pernah merasa bersedih. mungkin hati ini sudah bebal. suatu waktu di depan sekolah saya ada sebuah kecelakaan dimana seorang pengendara mototr mengalami keclakaan dan meregang nyawa dengan berlumuran darah setelh terjadi kecelakaan dengan mobil pengangkut ban dan sebuah truk. saya tidak perlu menceritakan betapa parahnya kndisi pengendara motor itu, tapi melihat bagaimana dia meregang nyawa lewat proses menggeliat lebih lama, saya bisa menebak betapa sakitnyaa kematian itu.

bahkan Rasulluloh pun menangis saat izrail datang menjemput, merasakan bagaimana sakitnya kematian. ajal memang penuh misteri, dan ketika kematian itu datang sebuah prosesi perpisahan tak terelakan, tak ada yang dapat menolak. kata orang jika kematian ditangisi artinya dicintai dan jika kematian itu dibarengi tertawa yang hidup maka orang itu dibenci. tai suatau waktu nanti saya ingin kematian saya tidak usah terlalu ditangisi toh semuanya juga akan kembali.

saya jadi ingat dulu saat mendengar nenek yang di kebumen meninggal dunia, saya di telephon kalau nenek meninggal. saat itu saya langsung memacu motor legenda kesayangan saya dari jogja menuju kebumen pagi-pagi buta, sesampai di sana saya belum begitu melihat kesibukan berarti karena nenek saya meninggal di kroya tempat paman. tapi sat mendengar kabar bahwa nenek sudah di bawa dengan ambulans, kesibukan di rumah mulai terasa. beberapa orang mulai menyiapkan ruangan dan kursi serta tempat tidur untuk jenazah, suasana begitu ramai namun sunyi, wajah beberapa orang terlihat lebih tegang.

saat ambulance sampai di rumah dan jenazah sudah dibaringkan di ruang tengah, tak ada air mata yang mengalir di wajah. Saya sibuk memikirkan : apakah kematian itu sebenarnya?apa yang menyebabkan semua ini bisa terjadi? Wajah yang selalu tersenyum itu, kini tidak lagi memancarkan ekspresi. tangan yang biasanya kucium itu kini sudah salin menggenggam di dada.

padahal beberapa saat yang lalu saya bertemu nenek, ketika mampir ke kebumen dan mampir sebentar sebelum melanjutka perjalanan dari cilacap menuju jogja. lama berlalu perpisahan itu tak terlalu begitu nyata, tapi saat lebaran ketika saya kembail berkunjung kekebumen, saya meliaht pemandangan yang unik yatu rumah kuno peninggalan simbah sudah rata dengan tanah. tapi bukan itu yang membuat sya bertanya dalam hati, yang menganjal di hati saya yaitu tak ada lagi tangan keriput yang biasa saya cium.

perlu lebih dari satu hari untuk menyadarkan saya bahwa batas antara mati dan hidup beitu tipis, begitu sederhana namun sangat sulit unutk dicerna. lain nenek lain pula teman saya, seseorang yang biasa bersanda gurau sehari-hari namun tiba-tiba meninggal, sangat aneh rasanya merasakan situasi yang berbeda, orang-orang yang biasanya ada dan berbincang bersama kemudian pergi untuk selamanya, sebuah perpisahan yang terkadang tak pernah dirasakan pertandanya dan tanpa ucapan kata-kata.

batas antara mati dan hidup hanyalah sedetakan jantung saja namun begitu rumit untuk difahami. Andai saja kita semua punya cukup waktu dalam hidup untuk memahami kematian. Tapi waktu tidak pernah cukup untuk menjawab semua pertanyaan.  bermacam-macam fragmen kematian yang saya saksikan dari kecil hingga kini, memberi sebuah pemahaman sederhana dalam diri saya bahwa tubuh bukanlah manusia dan tubuh bukanlah kehidupan.

Tubuh memang tidak memahami apa-apa. Ada jiwa yang hidup di dalamnya yang memberikan tujuan kepada tubuh. Tangan, kaki, paru-paru, jantung dan otak, semuanya berhenti bekerja ketika jiwa itu pulang ke tempat asalnya, sesuai waktu yang telah ditentukan baginya. Yang terbaring dalam diam itu hanyalah tubuh, dan orang-orang yang terbaing kemudian dikubur itu bukanlah nenek, teman atau kerabat saya, kara itu semua hanya tubuh sedangkan mereka sebenarnya telah pergi. Andai saja ada waktu yang cukup untuk memahami segalanya. Tapi hidup ini memang tidak pernah cukup untuk menjawab semua pertanyaan, dan akal saya pun tidak cukup mampu untuk mencarikan semua jawaban.

apa yang terjadi pada saya tak kan jauh beda, saat kemaian itu tiba dan membuat sebuah perpisahan paling nyata dengan dunia, maka saya bukalah apa-apa, hanya seonggok tubuh tak berdaya tanpa nyawa tanpa jiwa. saat itulah saya tak kan lagi berdaya, hanya seonggk bangkai yang menerima apa saja yang dilakuka terhadap tubuh saya, hingga dikubur kemudian menjadi makanan cacing tanah. bermacam-macam feragmn dan sketsa kematian yang tampak di mata saya selama bertahun-tahun masih belum juga membuat saya memahami kematian. Saya takjub dengan sebuah kekuatan yang mampu memisahkan tubuh dan jiwa, kemudian membuat situasi menjadi begitu berbeda. Segalanya berubah ketika jiwa berpulang ke kampung halamannya.

saat kematian menyapa apalah daya anak manusia, seperti juga mereka yang megalami genosida, atau korban-korban perang dari berbagai negara hingga yang mengalami kematian dalam kecelakaan bahkan bencana, semuanya tak bisa apa-apa. akhirnya semua terkubur dalam gundukan tanah basah. dalam sebuah kesepian yang nyata. Mungkin untuk beberapa hari setelah kematianku, aku masih diingat dan masih banyak orang yang berkunjung ke kuburanku, tapi itu tidak akan lama. Pasti diri ini akan dilupakan. dan saya tidak tahu itu. Waktulah yang akan menjawabnya…….

Selamat jalan untuk diriku yang telah wafat……….
Read More...

Sabtu, 23 Juni 2012

23 Juni

Leave a Comment
sungguh betapa sulit melawan arus usia, betapa susah menghentikan laju detiknya. Sebab usia terdengar seperti suara tangan-tangan gaib yang melintasi ingatan, meninggalkan gema ketukan di sepanjang perjalananku  yang gugup diantara harapan dan kesementaraan. Ternyata menjalani hidup ini seperti berjalan mundur, sebelum akhirnya hancur. Kita bergerak pada arah yang tak berpeta, arah yang tak bisa diterka; arah ketika manusia berusaha mengekalkan silam dengan ingatan yang setengah tenggelam, dan berupaya membaca masa yang akan datang dengan sebutir bintang yang kelak padam. Kita berulangkali bersahutan dengan rencana-rencana yang tak sempurna. Dan kecemasan menemui kita, menyelinap ke dalam ruang kecil diantara jarak cinta dan air mata. Di sanalah diam-diam kita tersesat dalam kesulitan yang letih  membedakan antara kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesedihan, sebelum akhirnya kita tiba pada takdir mimpi yang tiba-tiba sepi, tangis yang benar-benar habis, dan nyawa yang tiba-tiba direbut maut…

Terima Kasih untuk semua sahabat yang berdoa di hari ulang tahun saya.
Saya bersyukur pada Tuhan karena masih diberi umur yang panjang, itu artinya masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan berkarya. Saya bersyukur punya sahabat-sahabat yang mau mendoakan saya. Ya, bagi saya, doa sangat penting dalam hidup ini, sebuah hadiah berharga. Doa ibarat angin yang mendorong layar perahu hidup saya. Hm, momen-momen usia bertambah, adalah momen intropeksi diri. Dalam geliat usia yang bertambah, fitrah kemanusiaan kita selalu menyimpan cita-cita dasar dalam hidup, yaitu bisa memberi manfaat bagi orang lain. 

Saya senang mendengar orang berdoa untuk saya. Saya tak mau meremehkan doa, meskipun dari seorang pengemis.  Apalagi dari kawan-kawan yang sudah mengenal saya sejak lama hingga yang berkenalan dii dunia maya. baik itu lewat dari Facebook, twitter, ada yang lewat email, bahkan sms yang masuk di HP saya… walaupun mungkin sebagian di antara kita belum bertemu, terimakasih semuanya… terimakasih….

Read More...

Selasa, 07 Februari 2012

tangis yang pecah di kala sunyi

4 comments

kakek (peci putih) dan nenek (jilbab coklat) dengan beberapa cucu-cucu kecilnya

fajar shidiq belum terbit tapi itu adalah kala detik-detik akhir dimana malam akan tergelincir, lirih terdengar suara telpon berdering diantara kantuk yang merayap mata. ibu, samar terlihat nama didinding layar. terisak, itulah suara ibu yang terdengar dari ujung telpon, nada yang terdengar paru saat mengabarkan bahwa kakek meninggal dunia. keget, haru, antara percaya dan tidak, bercampur aduk. ini waktu malam menjelang subuh, sunyi sekali seoalh suara ibu yang lirih terdengar menggema dan di seluruh kamar dan berdengung di setiap sudut kepala. kabar duku yang datang tiba-tiba

jam 1 malam saya sempat mengirim sms pada ibu, bahwa sayang mau pulang. entah kenapa memang kondisi akhir-akhir ini banyak menimbulkan hal-hal yang kurang enak dan serasa tidak nyaman. dimulai sejak mimpi gigi graham lepas 2 minggu lalu, yang menurut orang-orang berarti akan kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. disusul berturut kunci motor dan kran air yang patah tanpa sebab, gelas yang pecah atau hingga foto keluarga yang terjatuh. saat foto keluarga terjatuh dan saya katakan ada firasat buruk, seorang kawan berujar "masih percaya hal2 kaya gitu shim?" akhirnya percaya tidak percaya, firasat memang selalu hadir di hulu tapi terkadang kita menyadarinya di hilir. saya juga sempat pamit tanpa alasan pada teman-teman untuk tidak hadir pada sebuah acara yang-mungkin-penting, tanpa alasan yang tak bisa saya uraikan. saya seperti yakin bahwa saya tidak hadir dalam beberapa situasi yang sudah direncanakan di jogja, tanpa tahu alasannya.

beberapa waktu lalu saat berkumpul dengan beberapa kawan untuk sekedar membicarakan kegiatan. saya memilih berdiam sendiri untuk membaca salah satu karya leo tolstoy. cerpen berjudul "kebahagiaan keluarga" yang sangat panjang bercerita tentang kehidupan seorang anak dan juga keluarga setelah sang ayah meninggal, cerpen tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan seorang anak setelah ayah mereka meninggal. tak lama setelah menyelesaikan cerita tersebut, kematian menjadi barang candaan penuh tawa di lesehan. tak panjang tapi cukup untuk berkelakar. tapi kini saya sadari kematian tidaklah lucu dan pantas untuk ditertawakan saat kita benar-benar pada situasi kehilangan.

mendengar suara ibu yang terisak di ujung telpon nun jauh terpisah dalam bentang jarak ratusan kilometer seperti membawa terbang memori ke masa lampau. kakek buat saya adalah seorang teman, ayah, juga guru. beliaulah yang mematri sendi-sendi agama, mengajarkan bagaimana membaca Al Quran hingga sholat, diskusi dari hukum waris hingga zakat bahkan berbagi tentang aqidah dan tauhid. maka saat saya meninggalkan sholat atau lupa mengaji, sekarang terasa tak hanya menyepelekan diri sebagai seorang hamba Tuhan tapi juga seperti mengkhianati kakek. tapi buat ibu kakek jauh lebih dari itu, tahun-tahun terakhir kakek sakit ibu selalu ada disamping beliau.

tahun-tahun terakhir ini saat kondisi kakek menurun ibu hampir tak lepas dari samping kakek. ibu selalu ijin dari kantor saat kakek keluar-masuk rumah sakit, ibu menempatkan ayahnya di podium utama di banding karir dan pekerjaan. terkadang ibu harus bolak-balik kerumah kakek di desa saat kondisis kakek memburuk, dan kami selalu mengerti bahkan bapak sangat faham akan hal itu. kondisi sakit kakek tak hanya membuat tubuhnya terlihat lebih ringkih dan kuruh tapi ingatannya mulai kabur, terkadang sangat sensitif mudah menangis dan tersinggung. benar kata orang saat tubuh menua terkadang seperti kembali ke masa anak-anak.

ibu merubah dirinya menjadi kaki dan tangan kakek, menjadi tangannya saat menyuapkan makanan, menjadi tangannya untuk menggaruk saat gatal datang menyapa, bahkan ibu menjadi tangan kakek ketika kakek harus membersihkan badan. ibu menjadi kakinya untuk berjalan dan melangkah, saat kakek bosan duduk dan berbaring, bahkan hingga akhir hayatnya kini tak sekalipun kakek menggunakan tongkat untuk membatunya berjalan, selalu ada anak-anak hingga cucunya yang memapah beliau.

Seperti dulu ketika masih kecil, beliau mengajari bagaimana menggerakkan tangan dan berjalan, tahun-tahun terakhir ini sepertinya kini giliran ibu mengajari beliau hal yang sama. Jika dulu anak kecil yang manja minta diselimuti menjelang tidur, kini giliran menyelimuti beliau. Dulu beliau mengurus keseharian dengan tabah dan ikhlas, kali ini mesti melakukan hal yang sama: memapahnya ke kamar mandi, melayaninya jika ingin makan, minum obat dan bersedia melakukan banyak hal lain untuknya. Jika dulu ia terjaga semalaman menjaga anaknya, kali ini  juga mesti melakukannya, kalau-kalau beliau butuh sesuatu atau minta diantar ke kamar mandi.

kini ibu tak bisa melakukan itu lagi pada kakek, suatu saat nanti saya harap bisa merawat kedua orang tua saya ketika sakit, mungkin tak sebaik saat ibu merawat saya di waktu kecil atau kakek di masa tua-nya. terbayang perjuangan, tulus doa dan cinta kasih yang tek pernah letih. saya tak melihat lagi penyesalan, duka mendalam dan keterkejutan, yang hadir kini harapan serta doa serta keikhlasan.

perlu waktu yang tak sedikit untuk menyadari bahwa batas antara mati dan hidup beitu tipis, begitu sederhana namun sangat sulit unutk dicerna. sangat aneh rasanya merasakan situasi yang berbeda, orang-orang yang biasanya ada dan berbincang bersama kemudian pergi untuk selamanya, sebuah perpisahan yang terkadang tak pernah dirasakan pertandanya dan tanpa ucapan kata-kata.batas antara mati dan hidup hanyalah sedetakan jantung saja namun begitu rumit untuk difahami. Andai saja kita semua punya cukup waktu dalam hidup untuk memahami kematian.

tak perlu menggambarkan tentang tetesan darah korban dan penderitaan perang untuk menumpahkan kesedihanku. Tak perlu juga bercerita tentang bencana yang menelan ribuan korban jiwa untuk membuatku menangis. tak perlu mengabarkan tentang berjuta luka kemiskinan, penindasan serta ketidakadilan untuk memaksa aku mengeluarkan air mata. Cukup, cukup saja kau paksa aku diam lebih lama di hadapan seorang kakek tua yang terbaring terbungkus kafan ini, sungguh tak sedikit pun punya kuasa bagiku bisa menahan air mata ini

siang ini aku pulang sendirian dari jogja, kutatap langit membiru di hiasi awan putih bergumpal, mengingat kembali, canda tawa yang mungkin tak kan kembali tiba, kini aku tersenyum ikhlas melepasnya dengan mata yang berkaca-kaca ... dan terus berdoa supaya Allah memberikan tempat terbaik disisNya.....
Read More...

Jumat, 16 September 2011

Catatan Sepi di Titik Nol

28 comments
ilustrasi saja
ini pertengahan bulan september, artinya sudah dua bulan saya membiarkan blog ini teronggok tak terurus, tiba-tiba rasa bersalah itu muncul, saya kehilangan teman berbagi, karena sejak dulu tempat berbagi paling asik dan menyenangkan adalah menulis, dan blog ini menemani tiap jejak tulisan saya sehari-hari, walau sebagain besar tulisan-tulisan di masa lampau saya unpublishd  hanya sekedar untuk menyembunyikan masa lampau yang berbeda kisah. hari-hari terakhir ini saya menghabiskan banyak buku, dari "agama saya jurnalisme" karya andreas harsono, catatan-catatan harian terbitan LP3ES seperti soe hok gie dalam "catatan seorang demonstran" dan kumpulan pemikiran ahmad wahib "pergolakan pemikiran islam" yang banyak menuai kontroversi itu. terakhir saya menyelesaikan buku biografi J. Paul srtre, seorang yang menurut saya luar biasa sebagai seorang penulis. membaca biografi sederhana srtre seperti membawa saya pada fragmen masa lampau, masa dimana saya mengalami masa kecil yang hampir tak jauh berbeda dengan sartre.

tengah malam tadi saya menghabiskan sedikit waktu luang saya di titik nol kilometer jogja, hal yang sejak setahun lampau adalah tempat paling mengasikan untuk berbagi tawa. duduk lesehan di trotoar beralas tikar robek di angkringan milik ibu-ibu gendut yang terlihat semakin menua, lesehan ini adalah salah satu tempat paling memorial dalam perjalanan saya sebagai seorang mahasiswa dan blogger, tempat berkumpul dalam kesedrhanaan dan egaliter bersama kawan-kawan blogger jogja saat kopdar. tawa, ceria, keramaian serta kegilaan tertuang menghiasi malam-malam dimala lalu. tawa itu kini mulai tak terdengar lagi, senyum lebar itu kini kian menipis. malam tadi terasa amat sangat sunyi, sunyi bukan saja karena memang itu malam jum'at dan tidak banyak orang di titik nol, tapi juga sunyi dalam arti kegilaan yang meredup hilang.

menyisakan 3 orang 3 teh hangat 5 gorengan 1 sate kerang dan 2 arem-arem. menghiasi sisa obrolan penuh diam semalam. terasa lebih sunyi dari biasanya. sepi atau sendiri sebenarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari buat saya, tapi saya tidak mengerti kenapa sepi kali ini terasa sangat berbeda. apakah bener kata seorang teman yang sedang berjuang mencari serat centhini itu, bahwa mungkin satu plot cerita dari buku 5cm bisa dimaknai dan diterapkan, ah saya merasa akan sangat rindu atau saya perlu meng-iya-kan argumennya. tapi, lihat saja nanti, waktu memberi jeda untuk sebuah jawaban karena waktu tak pernah memberi jawaban.

malam tadi tentu bukan malam-malam 1 tahun lalu, sepi kali ini harusnya dirayakan. banyak sudah yang berubah dalam dimensi lembar tikar sobek di atas trotoar depan gedung bank indonesia. banyak kemajuan dan perbuatan yang dicapai, banyak peserta duduk dan peserta tawa yang yang telah membuat dirinya ada di dalam dimensi kemajuan dan saya masih duduk ditempat yang sama tanpa perubahan. entah kenapa malam itu saya merasa tikar yang saya duduki seperti mendaulat orang-orang bersila sebagai para pegiat sosial, atau kini saya justru mencari keriunduan untuk sekedar berbagi tawa, sekeder menggila, berbicara dalam bahasa sederhana.

sungguh sepi seperti tak pernah serumit ini, tak sesesak ini, dan tak semistis ini. seorang kawan sambil menyeruput teh hangat berujar, "de javu kah" mungkin iya, tapi saya rasa saat ini bukan setahun lalu, saat ini bukan saat bertemu untuk tertawa dan bergembira. lain kali kita mungkin akan kembali menggila tapi tidak dalam waktu dekat ini, entahlah kapan, mungkin sampai ada satu moment di mana Tuhan akan mengijinkan sebuah pertemuan. ah kini sudah banyak yang jadi orang-orang waras.
Read More...

Minggu, 21 Agustus 2011

Bu

Leave a Comment
ilustrasi :  dejulogy.wordpress.com

bu, apa kabar pagi dini hari ini, sebagian orang bilang jam-jam segini sebagai tengah malam ada juga yang bilang ini sebagai sepertiga malam terakhir, bahkan ada juga yang bilang jam segini sudah masuk pagi, entah mana yang benar, dan entah kenapa lewat jam 12 orang menggapnya sudah pagi, padahal sebagian orang bilang pagi itu saat lembayung terlihat di ufuk timur. sebagian hal kecil ini membuat anakmu ini semakin tidak percaya dengan dunia dan manusia.

bu, apa kabar rumah, mungkin rumah sudah menjadi semakin sepi, kala adek si bungsu hijrah ke kota sebelh untuk melanjutkan pendidikan yang lebih baik, dan engkau restui dengan berat hati penuh harap, rumah akan semakin membuat ibu dan bapak serasa hening, sepi beraroma romantisme pengantin baru, tak ada lagi teriakan adik yang menangis, dan ibu serta bapak tak perlu lagi marah padaku yang membuat si perempuan bungsu menangis.

bu, apa kabar bapak, apakah tangan kanannya masih sering sakit, atau bapak semakin menikmati kegiatan sorenya mengajar ngaji anak-anak kampung sekitar rumah, ah lama rasanya tidak mendengar bapak mengomel setengah berteriak membangunkanku tidur sambil menyuruh sholat, mandi dan mengaji. lama rasanya tidak menikmati sawah setiap pagi bersama beliau, atau sekedar sore menengok kolam ikan. bu apa kabar bakap, semoga beliau sehat dan lebih kuat. semenjak bapak menjadi yatim-piatu saat mbah di kebumen meninggal serta pade juga ikut menyusul beberapa waktu lalu, saya yakin ibu adalah orang terdekat saat ini bahkan dari dulu.

bu, apa kabar adek kecilku si ciwek itu, kabarnya dia pulang kerumah kemarin waktu, semoga saat dia beranjak remaja tidak tambah membuat ribet isi rumah, walau rasanya tidak mungkin, anak perempuan ibu satu-satunya itu memang anak paling baik, paling pintas dan paling berbakti. semoga si bungsu bisa jadi pengobat rindu, pada keramaian rumah yang semakin sepi. sampaikan salam kakaknya ini, katakan “aku tak kan pernah berhenti menjahilimu”
bu, apa kabar engkau, aku rindu. sudah 7 tahun lamanya aku selalu merasakan puasa di tanah orang, dan pulang hanya saat mendekati akhir lebaran. kali ini akan selalu begitu. bu lama kita tak bertemu walau baru kemarin rasanya kita berjumpa di sebuah perjalanan mimpi. bu apa kabar, engkau…. semoga baik-baik saja dan Allah selalu melindungi, melindungi dari perbuatan anakmua yang selelu membuat engkau kecewa.

bu, kau mengajari aku banyak hal, kaulah orang pertama yang mengajari aku bagaimana mengucap dan mengeja kata, tiap hari dengan sabar engkau berucap mengajariku huruf demi huruf hingga kata demi kata, ah aku lupa kapan pertama kali kusebut ibu, engkau ajari aku kata-kata bagus tanpa cela, namun kini, lidahku begitu buruk dengan sering mengumpat, maaf bu… lidahku begitu kotor hingga tak berani menatap engkau yang mengajariku kata-kata bagus dan terpuji

bu, dengan kesabaranlah engkau merawatku dengan keihklasan, dengan ketulusan, dengan cinta kasih yang tak mampu kubalas dengan apapun di dunia ini. saat kecil bisa saja kau membungku ketempat sampah atau membunuhku yang selalu membuatmu kerepotan, namun cintamu menglahkan itu, engkau curahkan kasihmu tanpa batas, hingga Tuhan meletakan surga dibawah telapak kakimu yang semakin hari semakin melepuh, jejakmu surga bu. maaf bu… cintaku begitu kotor hingga was-was jika engkau menelpon, karena hanya takut akan omelanmu yang penuh cinta.

bu, hatimu begitu murni dan suci, hingga tak pernah kudengar engkau mengumpat dan mengutuku. tiap hari hidup anakmu yang rusak ini di topang oleh doa-doa mustajab yang terucap disertai derai airmata di kala tahajud. tiap hari doa yang aku terima dari engkau dan tak pernah kau mengutuku walau aku selalu membuatmu susah. maaf bu… aku mengotri doa indahmu dengan perbuatan terkutuk hingga aku begitu menderita tiap menatap binar matamu.
bu, tak ada surga di dunia ini kecuali saat engkau memeluku dengan penuh haru, tak ada sorga di dunia ini, tanpa belai halus tanganmu di keningku, tak ada sorga di dunia ini tanpa ucap merdu di tiap doamu, dan tak ada sorga di dunia ini tanpa hadirmu di dunia ini, engkau adalah sorga tanpa penggambaran dalam lebar kitab kalam Tuhan.  engkau adalah sebenar-benar sorga di langit tertinggi.

bu, engkaulah yang selalu rindu dan bertanya tentang kabar dan keadaanku di tanah jauh. engkaulah yang selalu khawatir, lebih khawatir bahkan dari diriku sendiri saat aku telat makan, engkau yang paling selalu ingin tahu akan kabarku lebih dari siapapun. namun aku bu, serasa tak pernah ingin tahu kabar engkau dirumah.

bu, engkaulah yang selalu lemas lunglai saat aku marah dan pergi, kemarahnku adalah dosa terkutuk tapi engkau selalu membalasnya dengan doa dan cinta serta senyum. engkaulah yang paling sedih saat aku marah. namun aku bu, serasa anak durhaka yang tak tahu akan arti dari cinta.

bu, engkaulah yang selalu menanggung perbuatan buruku selama ini, saat aku berprestasi orang akan sebut namaku, tapi saat aku berbuat jahat dan buruk orang akan bertanya anak siapa ini, engkaulah yang menanggung malu saat aku berbuat memalukan. namun aku bu, serasa anak tak tahu malu atas sikap dan salahku padamu.

bu, engkaulah yang selalu khawatir penuh tanya kemana dan dengan siapa aku pergi menghabiskan hari-hariku. dan doamulah yang mengiringi tiap langkah kepergianku yang penuh sesat ini. engkaulah yang selalu paling khawatir atas setiap jejak langkahku di bumi. namun aku bu, serasa tak pernah ingin tahu dimana dan bagaimana keadaanmu kini.

engkau adalah terbaik dari yang terbaik, terharum dari yang terharum tertinggi dari yang tertinggi, terindah dari yang terindah di dunia ini. engkaulah pondasi terkuat dalam diri dan jiwaku bu. engkaulah motovator paling dahsyat yang selalu menopang dari kejatuhanku, engkau yang selalu berkata, sabarlah nak dan jangan pernah kecewa pada dunia.

engkau adalah engkau bu, dengan bergetar kupanggil engkau ibu, ibu, adalah kata paling sakral dimana mengucapnya penuh dengan haru. tak ada kata apapun untuk memanggil perempuan yang rela memutuskan 40 urat nadinya demi membuatku melihat secercah sinar mentari yang membuatku bergetar kecuali kusebut IBU.

bu, ketika engkau tersenyum padaka maka cinta tak perlu lagi kucari darimu dan saat engkau memelukku maka tak perlu lagi ku cari surga di dunia ini.
Read More...

Sabtu, 01 Januari 2011

Tembang Bisu di Malam Tahun Baru

Leave a Comment

seperti malam-malam sebelumnya di tahun 2010 maka malam-malam yang akan datang di tahun 2011 juga tak akan jauh beda. hanya ada dua pilihan malam malam itu akan bertabur cahaya bintang dalam pijar indah rembulan atau akan gelap gulita tanpa cahaya. dan -kebetulan- malam ini di jogja diperkenankan oleh Allah untuk mendapat pilihan pertama. suasana cerah berbagi tawa anak-anak manusia yang menyambut datangnya tahun baru. tapi sesungguhnya entah suka cita apa yang dirayakan, kisah selama 2010 atau harapan di 2011. manusia tak pernaha tau apa yang akan terjadi nanti, seperti itupulalah hakikat manusia sebenarnya, selalu menjalani "sandiwara" yang di sutradarai Allah SWT.

antara desa dan kota

ketika secara perlahan hidup saya pindah dari desa ke kota maka sesungguhnya tanpa di sadari saya mengalami apa itu yang disebut "shock city" kekagetan akan kehidupan kota dengan segala macam tetek-bengeknya termasuk di dalamnya kekagetan dalam perayaan tahun baru. aya tak pernah betul-betul memahami, mengapa orang –khususnya di kota-kota–selalu menyambut Tahun Baru dengan suka ria.

Pesta-pesta dan hura-hura untuk memeriahkan pergantian tahun dilangsungkan dimana-mana bahkan sering kali dengan menghamburkan uang yang tidak sedikit. Apakah itu sekedar mengikuti tradisi yang sudah berjalan atau merupakan naluri dari kesenangan manusia terhadap sesuatu yang baru. Senang Tahun Baru seperti senang kepada baju atau sepatu baru, atau naluri senang kepada peningkatan dan pertambahan. padahal sesungguhnya esensi tahun baru beda dengan kata "baru" yang lain, karena tahun baru adalah lepasnya tahun-tahun yang telah lampau.

saat saya di kampung, tahun baru hampir tidak pernah spesial, berlengsung biasa saja, justru perayaan tahun baru hijriah lebih meriah diisi dengan pawai obor sambil bersholawat. mungkin masih kentalnya lingkup adat lokal dan agama membuat tahun baru diisi dengan bermuhasabah diri, bukan dengan pesta-pesta dan hura-hura. ini semua membuat saya rindu akan kampung di mana perayaan tahun baru diisi dengan "kesunyian".

tahun baru itu

tahun baru itu sesungguhnya adalah mengenang kembali perjuangan ketika ibumu rela memutuskan 40 urat nadi di dinding rahminya dengaun peluh keringat dan darah disertai jeritan perjuangan hanya untuk membuatmu melihat cerahnya mentari pagi dan engkau bisa menghirup nafas kehidupan, supaya kau tahu apa artinya sebuah cinta dan kasih sayang
tahun baru itu sesungguhnya adalah mengang kembali wajah khawatir bapakmu ketika bibirnya tak lepas dari doa ketika menyaksikan perjuangan ibumu. saat itu adalah saat dimana mendengarkan kembali alunan adzan yang terlauntun di telingamu sebagai awal suara pertama yang bapakmu isi sebagai bekal perjalanan hidupmu kelak, supaya kau tahu apa artinya kehormatan

sumber foto antara
tahun baru itu sesungguhnya adalah mengenang kembali waktu yang telah hilang dimasa lampau. merasakan kembali sejarah manis getir hidupmu yang telah kau lewati selama ini. semua yang ada pada dirimu saat ini adalah sebuah proyeksi atas apa yang telah kau lakukan dimasa hidup yang telah kau lewati dulu supaya kau tahu apa artinya kehidupan

tahun baru itu sesungguhnya adalah menatap laju kedepan sebagai sebuah persiapan mengejar cita-cita dan harapan. mempersiapkan diri untuk perjalanan dan lika-liku hidup yang penuh misteri yang tak pernah kau tahu akan hal itu karena kita dimasa depan adalah apa yang kita lakukan sekarang. lepaskan semua harapan dari belenggu kekahawatiran untuk cita dimasa depan supaya kau tahu apa artinya perjuangan

tahun baru itu sesungguhnya adalah melihat sisa usia pada diri kita yang penuh noda. karena pada setiap kembang api bersinar sekejap lalu padam yang padam, pada setiap  gema trompet yang kita tiup adalah pertanda mulai padam dan terpotongnya jatah usia kita untuk beribadah dan berbakti sebagai anak dan hamba. mozaik itu adalah epos nyata suaya kau tahu apa artinya pengabdian

tahun baru itu sesunggunya adalah menikmati setiap jejak langkah hidup kita yang bertabur, manis, pahit, asam dan asin. merasakan setiap titian langkah hidup yang penuh misteri dan kejutan tak beralas, mengurai kembail rangkaian benang-benang kusut yang membuat wajah kita berganti tawa ceria hingga duka penuh luka. semua itu akan menyadarkan kita akan apa artinya perjalanan

tahun baru itu sesungguhnya menyadari keberadaanmu sebagai manusia didunia. mengingatkanmu akan hak yang kau miliki dan kewajiban yang harus kau jalani. kehadiran dirimu sebagai individu dapat dipengaruhi dan bisa mempengaruhi orang lain sehingga membentuk karaktermu sendiri. itu semua terangkai dalam setiap kisah supaya kau tahu apa artinya tanggungjawab

tembang kebisuan

hingar-bingar beberapa menit yang penuh suara dan cahaya itu kembali hilang dalam sesaat. kegaduhan, keramaian, hura-hura, sekejap kemudian hilang. ditelah oleh kegelapan dan kesunyian. harapan dan sejarah berputar jadi satu dalam bianglala, terkadang di atas terkadang pula di bawah. seperti layaknya percikan kembang api, seperti itu pulalah hidup ini jika di sadari. hanya sekejap, bersinar dan bersuara dalam sekejap. setelah itu hilang tak berbekas, kembali lagi menjadi gelap dan sunyi seperti biasa dan malam-malam sebelumnya.

… yen ing tawang ono lintang cah ayu,
aku ngenteni tekamu…
marang mego ing angkoso, nimas
sun takokane pawartamu…

tembang nenek-nenek itu begitu lirih, mengurai notasi sunyi sambil menghitung uban yang merambat di kepalanya. walau uban itu terlihat hitam di malam ini, hanya sekelibatan kilat dari kembang api saja yang membuat uban nenek itu tampak bercahaya akibat pantulan.
di lingkungan kami (saya dan nenek itu) begitu sepi, mungkin sebagian besar penduduknya pergi keluar, ke pusat-pusat keramaian jogja. di sini hanya gemerisik angin di musim hujan saja yang menghalau setiap kegisuan yang di datangkan malam. di dipan kayu lusuh yang berada di depan rumahnya itu, sang nenek menembang, mengalunkan melodi-melodi mengiris hati, seolah menantang deru lutas kembang api dan terompet yang tak pernah henti.

suaranya terus meranggas dalam hutan-hutan beton, hingga terbawa angin malam kalah beradu dengan teriakan dari sound system di pelataran bundara+boulevard UGM. dari sudut rumahnya inilah sang nenek bisa melihat ribuan percik cahaya kembang api berkedip. terkenang semua kisah dan sejarah di masa lampau yang penuh asam garam kehidupan. tembangnya sendiri adalah sebuah romantisme mengenang hidup yang penuh perjuangan dari masa-masa sebelum kemerdekaan hingga sejarah di ancamnya keistimewaan di bumi jogja ini. sebuah nostalgia yang hanya bisa dia nikmati sendiri karena suaminya telah menghadap yang kuasa terlebih dahulu.

Nostalgia sang nenek di tahun baru mungkin juga nostalgia saya, Nostalgia emang asik. Banyak hal yang mungkin telah kita temukan. Banyak titik-titik yang ternyata menjadi garis yang mengantar kita hingga menjadi apa kita sekarang ini. Hati-hati lubang kesedihan menganga di setiap langkah yang telah terjejak, bahkan kegembiraan menjadi suatu hal yang pahit untuk dikenang karena maknanya menjadi berbeda kini. Dia yang dulu mungkin bergembira dengan kita telah tiada, dia yang dulu menjadi kesayangan orang lain, dan betapa singkatnya semua tertutup menjadi kenangan dibungkus waktu dalam kotak ingatan.
nyanyian sang nenek itu masih sangat terasa membius saya malm ini, hingga enggan beranjak untuk pergi, lantunannya benar-benar menyihir saya dalam remang kebisuan malam. tembang nenek itu adalah sebuah tembang harapan dan kenangan, entah harapan untuk apa dan kenangan akan siapa. tembang itu menjadi terasa bisu malam ini, dalam magis gemerlap kembang api sang nenek terus bernyanyi tanpa peduli karena mungkin buat nenek itu, malam ini tak jauh beda dengan malam-malam sebelumnya.

….yen ing tawang ono lintang cah ayu
aku ngenteni tekamu…

tembang magis ini beradu deru terompet dan ledakan kembang api, hingga mengurai melodi notasi yang membuatnya serasa penuh kebisuan.
Read More...

Selasa, 21 Desember 2010

Satu Hari di Kala Hujan Menyapa

Leave a Comment

entah sudah berapa lama saya mencoba lepas dari layar monitor baik itu PC maupun laptop, tak pernah saya hitung, pertama-tama terasa agak aneh kemudian ketika semakin lama saya mulai terbiasa. saya hanya mencoba menjauh dari teknologi, entah karena alasan apa saya melakukannya, tapi yang pasti mata saya semakin terbiasa. melepas diri dari gegap gempita kota jogja yang minggu-minggu terakhir ini di datangi hujan bahkan terkadang ditemani sambaran petir dahsyat. menjauh gari hingar-bingar sepakbola indonesia yang tengah menggelora, bahkan detak e-mail maupun notif tak terdengar lagi. tapi di lain itu saya merasa bersalah kepada kawan-kawan yang kemarin berbagi senyum dengan teman-teman kecil di perbukitan prambanan. bahkan HP saya pun sudah tak lagi berdering, hanya getar menyapa saat oprator memberi kabar tentang promosi layanan. ada satu-dua pesan masuk namun tak sempat saya balas karena pulsa saya sisakan 93 rupiah saja.

diawali dari sebuah ketidaksengajaan dan saya coba bertahan dari lingkup yang selama ini saya diami. apa rasanya, biasa saja tak berasa apapun. namun pagi ini saya mencoba keluar untuk sekedar menghirup udara segar dari satu sudut yang tak pernah saya hirup.  mencoba kembali menemukan sesuatu, entah apa sesuatu itu sesuatu yang sedang saya cari tapi di sisi lain saya tak tahu apa yang sebenarnya sedang saya cari. perjalanan tak berujung itu terhenti tatkala saya mendengar sayup-sayup kumandang adzan dari suatu sudut yang tak saya tahu. tak lama perjalanan saya terhenti ketika mata melihat sebuah menara kecil di sebuah sudut gang. tak salah lagi itu menara mushola, sejenak saya mencoba beristirahat, berwudhu, membasuh muka, dan kemudian sholat dzuhur disitu, sebuah daerah yang asing buat saya, namun anehnya saya tak merasa asing kala masuk dalam masjid dan sholat berjamaah.

sumber pengambilan gambar: kintarous.com
tak lama setelah sholat tiba-tiba grimis kecil menyapa dengan riang, saat tetesan air berdenting di atas genting. urung niat saya untuk beranjak pergi. sambil menanti hujan tiba-tiba saya di sapa seorang kakek-kakek yang tadi sholat bersama. sikakek tadi menyapa dengan lembut, terbaca dari suaranya yang samar, bahwa beliau sudah mulai renta. dialog terbuka dan basa-basi sederhana di mulai, dari nama hingga asal-usul keluarga dan hubungan dengan jogja, dari keistimewaan hingga sepakbola. tapi ada sesuatu hal menarik saat beliau bertanya kepada saya “apakah saya mengerti agama”. pertanyaan itu seperti sebuah petir yang menyambar di tengah hening grimis yang menyapa. kakek itu berbicara setengah protes namun dalam kesedihan penuh harap, tentang islam alias “mengerti islam”. beliau berbicara siapa yang sebenarnya mengerti islam, mereka yang NU atau Muhammadiyah, mereka yang sunni atau syiah, mereka yang berteriak bid’ah atau sunnah. bahkan beliau setengah protes saat harus berhari raya dengan hari berbeda. sebuah protes besar, kenapa harus berbeda dalam wadah yang sama.

lama sekali kakek itu bicara hingga ashar kembali datang walau langit tak kunjung tenang. sudah lewat ashar huujan mereda, langkah kaki saya lanjutkan dengan sebuah perpisahan berat dengan kakek yang tak saya tahu namanya itu. motor honda astrea legenda yang biasa saya tunggangi itu, kembai saya pacu di tengah basah aspal sisa hujan tadi. kembali melihat wajah-wajah basah, ada penjual es krim bermerek yang didorong, ada penjual susu, hingga penjual pecel. bahkan tukang parkir telah kembali ke jalan. jalanan masih berkabut dan terasa sendu, ah jogja terasa berbeda di luar lingkar kota dimana saya biasa berkelana. melihat senyum wajah-wajah ramah yang mulai jarang saya temui hingga seorang buta yang tengah berjalan dalam gelapnya. berburu waktu dengan sepeda ontel dengan penunggang yang penuh peluh keringat berpaut tetesan hujan. damai dan tenang, jogja sederhana yang akan selalu saya rindukan.

tapi tiba-tiba saya tersadar saat sekumpulan anak kecil berselempang sarung dan berpeci berjalan riang dalam satu arah, ah iya, senja mulai muncul dan teman-teman kecil itu pasti menuju mushola untuk memuja Tuhan-nya. tak ingin lagi terperangkan hujan, saya mencoba memacu kendaraan saya lebih kencang untuk pulang, tapi ternyata hujan  semakin deras, akhirnya keputusan diambil. saya berteduh sejenak di pinggi bangunan kecil tak bertuan dengan di dampingi rindang pohon. tak lama adzan kembali berkumandang, ini saatnya maghrib dan berbuka puasa, puasa sunah di hari senin. saya batalkan puasa saya dengan tetesan air hujan. alhamdulillah tak lama berselang bapak-bapak penjual mie ayam lewat, lumayan semangkuk 4000 rupiah cukup untuk mengganjal perut sampai nanti di rumah. kembali di tengah hujan ditemani pedas dan hangat mie ayam sambil bercengkrama dengan sang penjual saya menemukan banyak “pengakuan” hebat dari orang-orang yang Tuhan takdirkan bersapa tegur dengan saya dalam sebuah periode waktu yang menjadi rahasia Tuhan.

waktu maghrib yang singkat memaksa saya menembus hujan mencari tempat bersujud untuk bersyukur atas semua nikmat hari ini. sebuah tempat kecil dengan bantuan cucuran hujan saya basuh muka dalam niat berbudlu dan sebuah takbir siri saya ucapkan sebagai awal ibadah. kini saya bersujud seorang diri di tempat yang seharusnya saya terbiasa dengannya. semoga Tuhan mendengar doa saya kali ini. hujan mulai reda kembali saat waktu isya telah datang. 

kembali motor saya pacu, masuk kota kembali menyusuri jalan kecil di samping selokan, saya kenal betul jalan ini, sehingga tak ragu mampir ke greenz, tempat dimana saya biasa berbagi tawa dengan kawan-kawan yang sudah agak lama belum lagi saya sapa. ah saya rindu mereka. ternyata saya tak sia-sia, sekejap setelah saya duduk mas tosse datang menyapa, sebuah jabatan erat yang lama tak saya rasa. hangat penuh keakraban, ditengah hujan deras yang kembali datang menyapa. mendengar cerita mas tosse tentang perjalanannya ke studio biru dan rencana untuk berbagi tawa di akhir desember mengiringi pembicaraan kami, tentang canting dan studio biru di temani teh hangat yang tersaji.

hari semakin malam dan cuaca semakin dingin di jogja, gerimis telah reda, saatnya saya pulang untuk sholat isya kemudian tidur, sebuah syukur tak terhingga untuk yang kuasa atas hari ini yang luar biasa. saya rindu tawa di bangku kayu ini. di akhir hari ini saya punya jawaban atas pertanyaan seorang kakek yang saya temua siang tadi di mushola ujung gang, beliau bertanya apa cita-cita saya, dan saat itu saya tak bisa menjawabnya dengan kata, hanya saya jawab dengan segaris senyum. tapi di ujung malam ini saya punya jawabannnya, cita-cita saya adalah semua cita-cita kawan-kawan saya terwujud.
Read More...

Kamis, 30 September 2010

Ibu, dalam Duka dan Kata

Leave a Comment

ada kisah yang menarik tadi pagi, saat seorang anak kecil -mungkin- masih usia anak SD, ngamuk-ngamuk di sebuah kawasan pertokoan di jogja. ngamuk bukan sembarang ngamuk marah bukan sembarang marah, anak itu benar-benar dalam emosi tinggat tinggi dengan membentak orangtuanya gara-gara memilih baju. si anak dengan nada keras membentak orang ibunya dengan nada yang membuat saya bergetar.

mammaaaahhhh….. mamah ini bagaimana masa milih baju buat dedek yang ini, ade ga suak, ganti!!!” dengan nada kasar dan mata melotot si anak membentak ibunya, tidak sampai disana, si anak masih meneruskan eksistensinya “ade pengen yang merah, ga suka dengan ini, ganti” bahkan sandal yang dia paki dia tendangkan hingga terlempar, setelah itu si anak setengah merengek dengan nada perintah meminta ibunya mengambilkan sandal tadi. sedangkan si ibu dengan tersenyum menghadapi anaknya yang kurang ajar.

tak jauh lama setelah itu saya keluar dan menuju parkiran, frgmen yang hampir sama tersaji kira-kira anak seusia remaja dengan santainya memerintah dan membentak orang tuanya. mencap sang ibu dengan bermacam hal yang tidak sopan, sedangkan si ibu yang luga dan mungkin merasa kurang gaul tetap diam saja dan menurut sama anaknya. dan si anak merasa di atas angin memerintah ibunya seperti perintah pada jongos.

dua kisa yang tersaji di depan mata dalam satu hari ini seperti sebuah wajah yang tak bisa dihilangkan. perlahan si anak mulai nyaman dalam posisi bekuasa atas orang tua, dari mulai merengek, meminta, hingga berdiri dalam posisi berani memerintah hingga membentak dengan nada kasar. ada apa ini dan fenomena apa ini?.

sungguh akal sehat saya tidak bisa mengerti akan apa yang saya lihat apakah ini ada hunbungannya dengan film-film di layar kaca dimana tidak ada lagi penghormatan anak pada orang tua, inilah contoh yang dibuat media kemudian ditelan oleh anak maupun orang tua. penghormatan anak atas orang tua bukan semata-mata atas perintah agama penghormatan anak pada orang tua bukanlah hamba pada raja, penghormatan anak akan orang tua bukanlah penentangan atas faham egliterisme yang ada. tapi penghormatan anak atas orang tua adalah keharusan ke-tahudiri-an anak atas posisinya.

patuh pada orang tua bukanlah menghamba, tapi sopan dlam tindak-tanduk dan tata krama. ituah yang hilang, bukan soal perbedaan pendpat tapi bagaimana anak berposisi sebagai anak dan orang tua memposisikan diri dimana sebagai pengayom dan penyayang. entah bagaimana pemahaman  zaman sekarang, karena orang tua saya selalu bilang beda anak sekarang dengan dulu.

ibu saya pernah “protes” saat saya bertengkar dengan adik saya. beliau bilang “dulu ibu dua telor dibagi tujuh tidak pernah bertengkar dan selalu rukun, kenapa kini kalian yang dikasih satu butir telor masing-masing suka bertengkar“. mungkin saya adalah generasi dimana menatap mata orng tua adalah sebuah “dosa”. dilarang memotong saat orang tua bicara. sehingga saat itu saya berfikir apakah saya takut atau saya hormat. dan kini saya menemukan jawaban atas semua “kekerasan” orang tua atas didikannya.

hal inilah yang selalu membuat saya pulang saat lebaran tiba, keinginan dan kerinduan akan kasih sayang, bahwa saya tahu kemarahan itu adalah bentuk perhatian. penghormatan terhadap ibu bukanlah tuntutan ibu untuk di hormat tapi sebuah keharusan anak bukan untuk balas jasa, karena jasa itu tak mungkin di balas, tapi untuk sebuah ke-tahudiri-an seorang anak.

dulu wajah ibu begitu biasa tapi kini ketika waktu dan jarak memisahkan dalam segmentasi yang jauh dan lama, maka hal-hal kecil dari ibu menjadi bayang menyenangkan sekaligus mengerikan. bibirnya yang pucat tanpa pernah tersentuh lipstik itu menampakan dengan jelas sungai-sungai darah diantara kelupasan daging di bibirnya yang merekah. ibu adalah orang yang terakhir makan dan terakhir minum.

bagaimanapun juga ibu telah berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mengantarku menghirup udara dunia ini. ibu rela memutuskan 40 urat yang melintang dirahimnya hanya untuk mewujudkan hasrat segumpal daging menyaksikan indahnya sinar mentari. betapa inginnya aku menyentuh pipi ibuku dan menyeka air mata yang meleleh dari matanya yanga ayu itu. tapi aku tak berdaya sama sekali, aku hanya bisa terdiam, membisu dan sepi.

jikalau saja esok hari atau lusa, sinar mentari masi berkenan menyinari bumi dan sejuknya embun pagi singgah di antara rongga-rongga dada, mungkin saat itu aku akan tahu apa artinya cinta, kasih sayang, kesetiaan, bala budi dan harga diri.
Read More...

Selasa, 08 Juni 2010

Perubahan Itu

44 comments
apa itu berubah dan apa itu perubahan jawabannya adalah omong kosong jika hanya diam, seharusnya perubahan itu adalah sebuah kebaikan. aha entahlah. yang pasti memang harus ada yang berubah minimal diri sendiri. tapi justru pertanyaan itu dikembalikan dengan kalimat "kenapa harus berubah?" adakah yang salah sehingga harus berubah..... ya mungkin banyak... apa itu dan kenapa itu memang masih harus dicari.

mundur perlahan beberapa langkah, berhenti sejenak, tarik nafas perlahan, yang panjang, tahan sebentar, keluarkan perlahan, pejamkan mata sejenak, buka mata dan tatap kedepan, meloncat sedikit, buat langkah kecil, perlahan, tambah tempo dan kecepatan, berlari, cepat, lebih cepat, siapkan sebuah langkah besar, lebih cepat, bertolak, loncat, lebih tinggi, lebih jauh. bersiaplah karena pada suatu waktu pasti akan turun kembali, dan bersiaplah untuk sebuha pendaratan yang terbaik.





bumi terus berputar, dan terus berputar, ditengah putaran itu juga bergerak mengelilingi. itulah hidup begitu juga manusia menjalani setiap detik waktunya, berputar, mengelilingi, dan seolah sama tapi berbeda artinya terjadi perubahan, dan perubahan apa yang diinginkan, baik atau buruk, kitalah manusia yang menentukan. dan Tuhan akan memberi kuasanya. mulai berubah untuk menjadi lebih baik

setiap manusia selalu punya pilihan paling rasional dalam hidupnya, walau orang lain memandangnya sebagai omong kosong,


berubahlah, dan bergeraklah
Read More...

Sabtu, 17 April 2010

Nasib Indonesia Raya Kini

Leave a Comment

hari ini saya bertanya pada diri sendiri kapan terakhir kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau mungkin kapan saya terakhir kali mendengar lagu itu dinyanyikan. adalah sebuah pertanyaan yang belum bisa saya jawab untuk tapi untuk pertanyaan kedua sayup-sayup ingatan datang, iya terakhir kali saya mendengar lagu Indonesia Raya ketika pagi tadi salah satu televisi swasta.

mungkin pertanyaan “kapan terakhir indonesia raya dinyanyikan ?” tidak terlalu dirisaukan oleh anak-anak sekolah dari SD hingga SMA. dulu waktu saya mengenyam pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah) pendidikan setingkat SD, tepatnya kelas 5 hingga kelas 6 saya serig mendapat giliran memimpin upacara bendera hari senin, sebuah tugas yang menjadi kebanggan bagi siswa sekolah kampung ketika itu. dogma guru yang mengatakan bahwa menjadi petugas upacara adalah sebuah bentuk perjuangan dan pengabdian pada negara dan nilainya sama dengan perjoeangan Jendral Soedirman. menjadi petugas upacara -menurut guru saya ketika itu- adalah sebuah cara melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa. sebagai anak SD dari kampung yang selalu nonton film G30S/PKI versi pak harto dan hobi nonton suguhan film perjuangan bangsa seperti : “Pangeran Dipenogoro”, “Cut Nyak Dien”, “Nagabonar”, “Pahlawan Dari Goa Selarong”, “Janur Kuning”. tentu heroisme masih sangat terasa.

selain menjadi pemimpin upacara saya juga sering didaulat membaca prembeule UUD 1945, saya masih ingat warna map-nya merah, itu dilakukan untuk membedakan dengan map berisi doa yang berwarna hijau dan map pancasila yang biasa dipegang ajudan pembina upacara berwarna kuning. map-map itu begitu sakral dan tidak boleh dibuka kecuali ketika upacara akan dilakukan dan map-map itu hanya keluar dari lemari kantor ketika hari senin, setelah itu dimasukan kembali ke lemari.

semua peristiwa sakral berupa “upacara bendera hari senin” selalu diawali dengan sebuah dering lonceng yang terbuat dari potongan batang besi dari mobil yang dipukul gagang martil. lonceng yang kini mungkin tidak akan pernah tergantung lagi di sekolah-sekolah “Rintisan Sekolah Berstandar Internasional”. masih teringat dengan jelas dalam bayangan hitam putih jejeran kawan-kawan yang berbaris rapih dalam dua saff baris, tidak banyak murid kampung yang berfikiran sekolah ketika saya lulus dari MI saat itu hanya berjumlah 8 orang, 6 pria dan 2 wanita. itulah wajah-wajah anak-anak kampung yang percaya bahwa sekolah adalah hal pertama yang harus dilakukan sebelum berlari kesawah membantu orang tuanya.

dalam setiap baris masih ada sepatu bolong tanpa kaus kaki, hingga mereka yang memakai sepatu kulit “nyeker men” alias tanpa alas, bahkan pakaian merah putih anak-anak yang sudah menginjak kelas 5 dan 6, sudah -sebenarnya- mulai tidak pantas, baju putihnya sudah mulai kusam kekuning-kuningan hingga bintik-bintik hitam bekas keringat, maklum saya pakaian putih itu tidak hanya untuk sekolah tapi juga untuk mengaji di masjid dan pergi kesawah. sedangkan celana merah sudah mulai kusam kehitam-hitaman, dan yang tadinya berada di bawah lutut (filosofi ketika membuat seragam SD kelas satu selalu di panjangkan supaya awet) dan ketika menginjak kelas 5 dan 6, sudah berada jaub di atas lutut.

tapi semua itu tidak pernah mengurang rasa cinta tanah air dan pancasila serta kebencian tanpa dasar pada kompeni dan PKI, serta betapa wajah berkaca-kaca melihat “bapak pembangunan” tampil di TVRI mengangkat padi. ketika upacara bendera selalu sangat khusyu seperti sholat, dan nyanyian Indonesia Raya selalu terasa menggema seperti wirid sehabis sholat maghrib. ketika Indonesia Raya berkumandang bersamaan tangan kanan diangkat menghormat sang saka merah putih yang dikerek oleh siswa perempuan yang tanpa alas kaki selalu terasa begitu bermakna. para petani yang akan berangkat kesawah selalu berhenti sejenak ikut bernyanyi dan memandang merah putih walaupun tidak ikut menghormat karena tangannya memegang cangkul dan parang.

setelah itu semua selesai sayalah pemilik tanggung jawab terbesar untuk mengucapkan dengan lantang “tegap grak” sebuah kata yang menurut saya -ketika itu- adalah sebuah pengkhianatan atas nama bangsa. karena menurunkan tangan dan menyuruh orang berhenti memberi hormat.

kini tahun demi tahun berlalu, radio dan televisi swasta hampir tidak pernah lagi mengumandangkan indonesia raya, kebanggana itu lama-lama mulai pudar dari wajah anak-anak bangsa. anak SD sekarang lebih hafal lagu-lagu alay daripada lagu-lagu kebangsaan. Indonesia Raya -mungkin- kini hanya retorika sarapan pagi di hari senin, dan mengangkat tangan untuk memberi hormat justru -dianggap- membuat pegal tangan.

sebagai manusia yang pernah menjadi anak-anak dan murid SD, saya terkadang rindu untuk mendengar pembawa acara bersenandung “Pengibaran sang saka merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya” dan kemudian rindu untuk berteriak,
“PADA SANG SAKA MERAH PUTIH HORMAAAAAT      GRAK!”

serta sayup-sayup mengalun suara serak dan fals anak-anak kampung terpencil dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

…………
…………
Hiduplah Indonesia Raya
Read More...

Sabtu, 13 Maret 2010

Malam Ini Terperangkap Kisahmu

Leave a Comment

rasanya mata ini begitu lelah, kedua kelopak telah rindu untuk saling beradu, sekedar sekejap mengasingkan diri dari menyaksikan dunia. tubuhpun begitu rintih rasanya, ingin beristirahat dari semua gerakan, untuk merasakan kelembutan desiran dalam wahana istirah.

tapi, ruang hampa berisi labirin syaraf di kepala, masih bising dan penat oleh semua bayangan serta cerita yang tak kunjung berhenti.

ruang itu begitu sempit, namun terlalu banyak menampung bayangan dan kisah yang terjadi sehingga rasanya ruang dikepalaku begitu pening dengan seluruh hiruk-pikuknya. membuat syaraf tak kunjung mau untuk istirahat hingga menjadikan kepalaku begitu berat, menjadikan mata yang tak berkenan terpejam.

aku tetap berusaha memejamkan mata, namun justru aliran syaraf ini mulai menggali bayang kelam masa lalu yang telah terkubur.

kumatikan lampu, kutarik selimut, kututup mata, kutekan dengan buku untuk menutup semua kisah dan bayang yang merajalela.

bayangan dan cerita itu muncul seperti bangkit dari kubur, walaupun dirindukan terkadang justru mengerikan. aku ingin dan aku coba menguburnya kembali, tapi aku tak kuasa. kerinduanku akan bayangan mengalahkan kengerian yang terasa. kusadari semua kisah itu akan kembali. mau tidak mau semua bayangan dan kisah itu akan selalu muncul dan pergi tanpa mampu kucegah.

kubuka jendela, meski angin malam yang dingin begitu kencang berhembus. kubiarkan jendela itu terbuka, dan membiarkan angin yang menjawab. membawa dan menarik semua kisah itusemakin menumpuk menekan ruang di kepalaku atau membawanya pergi dalam hembusan mengeluarkannya dari kepalaku untuk mengistirahatkan rangkaian labirin syaraf dalam ruang kecil di kepala.
Read More...

Jumat, 25 Desember 2009

Refleksi Akhir Tahun

63 comments
Siapa yang paling senang dengan permainan sederhana tapi tak lekang zaman ;
“ciluk ba!”?
Tutup wajah dengan kedua tangan, terus buka! Maka tertawalah dia!

Siapa yang dengan ngotot mempertahankan argumentasi yang di saksikan di kotak ajaib bergambar, film kesatria, power rangers misalnya, itu robot asli padahal bagi yang sudah bangkotan tetep ngotot bilang itu hanya kostum saja, bukan dari besi.

Siapa yang berdebar-debar menyusuri jejak langkah mandor di hutan pinus ujung desa ? sudah merasa berpetualang dengan gagah berani, yang kalau di tempuh Cuma beberapa menit dari rumah.

Siapa yang berlari-lari bahagia dan dengan riangnya serasa sudah terbang hanya karena mengikat ujung sarung dileher sehingga berlagak seperti supermen.

Siapa yang kalau sedang sakit selalu bangga dikerok punggungnya padahal hanya menggunakan bawang putih! Bebas memilih makanan dari bakar lele hingga makanan-makanan ajaib lainnya.

Siapa yang dengan senjata obor setiap malam saat kemarau dan habis panen pergi kesawah mengikuti warga untuk menangkap belalang dan saat musim hujan menangkap laron kemudian di masak dan menjadi lauk pendamping nasi saat sarapan.

Siapa yang ketika bulan purnama sehabis sholat isya menyususri kebun belakang masjid untuk mencari jamur yang bisa bercahaya sambil berlarian menangkap kunang-kunang, dan protes pada orang tua karena jamur dan kunang-kunang tidak bercahaya lagi ketika akan berangkat sekolah.

Siapa yang kerjanya membantu memasukan bibit cabe yang sudah dicampur tanah dan kotoran kambing dalam bedeng plastik untuk di tanam, padahal kebun punya paman, kemudian di sanjung-sanjung karena dianggap bekerja?

Siapa yang ikut membungkus air yang diberi warna kemudian dimasukan kulkas hingga mengeras, terus dijualin di tremos es dan di bawa ketika berangkat sekolah. Dengan harga 100 rupiah tiap batang, tapi selalu merugi karena uang penjualan es di pakai untuk beli jajanan di warung sekolah.

Siapa yang bebas bermain di kebun tetangga ? dan ketika mangga masak, babas untuk mengambilnya tanpa takut diomelin pemilik.

Siapa yang baru juara makan krupuk saat perayaan agustusan sudah merasa keren sekali ? dengan ekspresi kayak menangin trophy apa gitu.

Siapa yang terkagum-lagum ketika mendengar kisah-kisah leluhur desa, kisah nabi dan rosul ? dengerin keajaiban dan mukjizat udah langsung senyum memamerkan gigi yang masih ompong, dan berbinar-binar penuh cahaya tuh mata kecil.

Siapa yang diajak ibunya pergi ke kota ? di bawa mampir dari pasar tradisional hingga toko swalayan dan dengan bangga membawa oleh-oleh ‘perahu kotok” yang terbuat dari seng dan dijalankan dengan minyak goreng, kemudian berjingkrak kegirangan melihat perahu dari kota berjalan di atas air dan berputar mengelilingi ember.

Siapa yang bangun jam 4 pagi lari ke masjid, kemudian berebut untuk adzan subuh setelah itu pulang kerumah untuk tidur lagi.

Siapa yang olahraganya banyak variasi dari pelataran sawah hingga di tepi sungai, bermain bola, engklek, maen petak umpet, dan bermacam permainan anak desa sambil sesekali menceburkan diri kesungai.

Siapa yang kalau lebaran selalu jadi buah bibir di setiap rumah yang dikunjungi ? mendadak jadi seleb yang ditanya-tanyain kegiatannya. Udah kelas berapa ? berapa umurnya ? siapa namanya ? mau ini? Mau itu?

Siapa yang sedari kecil sudah belajar jauh dari orang tua dan hidup bersama dua renta kakek dan nenek yang mengajari arti hidup.

Siapa yang lebih dahulu lancar membaca huruf hijaiyah berharokat daripada abjad A-Z dan lebih dahulu mempelajari kitab kuning gundul daripada memahami tullisan jawa kuno.

Siapa yang istirahatnyaa sambil mendengarkan kaset cerita drama hikayat petualang, tertawa bahagia menyimak KH. Zainudin MZ, suka-suka saja dengerin kisah surti dan tejo dari jamrud dan berjingkrak mendengar iwan fals dan gombloh bersenandung di radio.

Siapa yang setiap minggu pagi pergi ke sungai mengumpulkan batu untuk ditumpuk di samping sekolah karena sekolah tertua di desa itu semakin tergerus arus sungai hingga hampir ambruk.

Siapa yang setiap minggu siang memulai petualangan bersama teman-teman, persiapannya cukup dengan tempat air yang terbuat dari bambu dilengkapi senjata ketapel dan pisau dapur, nyari kayu bakar sambil mancing di kolam ikan entah punya siapa kemudian langsung di bakar tanpa bumbu apapun dan minum dari air kelapa yang juga entah punya siapa.

Siapa yang sayang-sayang belanjain duit-duit baru yang diberi sodara saat lebaran padahal hanya lembaran 100 rupiah, kemudian dimasukin celengan hingga busuk.

Siapa yang setiap memori hidupnya menikmati udara bebas dan segar, merasakan sepoi-sepoinya hembusan daun dan merasakan wanginya padi ketika mulai menguning, menyerap segarnya air sungai yang bebas di minum kapanpun tanpa perlu dimasak, berlari penuh tawa ketika tetes awan yang terkondensasi mulai menjadi bulir hujan sehabis itu merasakan harumnya tanah basah yang menusuk hidung hingga menjalar kejaringan syaraf otak, hingga album memori itu masih tersimpan.

Curigalah kalau semua yang diatas itu adalah secuil kenangan memori dari penulis ini. Curiga kalau itu semua cerita tentang kita. Kita yang masih muda beberapa tahun yang lalu. Siapapun yang pernah muda, sangat muda, anak-anak. Beberapa bagian mungkin tidak sama, tapi juga ada yang merangkai irisan kenangan yang telah ada. Yang dulu masa kecilnya di jaman-jaman Sembilan puluhan.

Masih ingatlah ya dengan si komo yang suka membuat macet jalan ? menahan mati bosan kalau sudah ada PON atau event olahraga yang menyerobot tayangan kartun kita. Saat adzan masih berkumandang di senja kala dari setiap stasiun televisi yang tayang mulai berhamburan pergi kemasjid.

Waktu itu sekolah masih indah ya? Ringan perasaan tanpa dihantui UN (dulu adanya EBTA & EBTANAS) yang nentuin kelulusan, NEM (Nilai Ebtanas – evluasi belajar tahap akhir nasional, kalo ga salah- Murni) masih berguna buat jadi tiket masuk ketingkat selanjutnya….. ya nggak? Enak masih karena sore hari banyak pilihan buat ngisi waktu, pergi kemasjid, main kelereng, nonton layar tancep kalo malem. Dan sejuta tawa tanpa rumus-rumus.

Nostalgia emang asik. Banyak hal yang mungkin telah kita temukan. Banyak titik-titik yang ternyata menjadi garis yang mengantar kita hingga menjadi apa kita sekarang ini. Hati-hati lubang kesedihan menganga di setiap langkah yang telah terjejak, bahkan kegembiraan menjadi suatu hal yang pahit untuk dikenang karena maknanya menjadi berbeda kini. Dia yang dulu mungkin bergembira dengan kita telah tiada, dia yang dulu menjadi kesayangan orang lain, dan betapa singkatnya semua tertutup menjadi kenangan dibungkus waktu dalam kotak ingatan. Kisah yang mungkin jika kita diminta untuk menceritakannya tidak bisa membuat kita bercerita lebih dari 12 jam. Itu pun sudah banyak ‘e’nya. Semua ketakutan akan kesalahan tersimpan rapi untuk ditemui lagi nanti. Keinginan yang diiringi ketidakmampuan untuk kembali ke masa-masa itu. Seringkali mengenang semua ini, dengan prangkat foto-foto, benda & barang yang mulai melapuk atau apapun yang menjadi tiket menuju terminal-terminal ingatan itu, menyita, merantaimu di tempat sekarang. Keinginan untuk melangkah mendadak hilang. Atau mungkin malah membuatmu berlari menuju kejalan kehidupan menduga-duga setiap kejutan keceriaan yang belum pernah kamu temui, karena setiap fase mempunyai momentumnya sendiri. Mempunyai rasanya sendiri, sampai yang terakhir, menutup album kehidupan. Satu cerita pendek berakhir, satu cerita pendek baru lahir.

Anak-anak dengan segala keliaran fantasinya, kebebasan imajinasinya. Anak-anak dengan semua hal-hal yang baru ditemui dan disukainya. Mendengar hal yang berbeda tanpa prasangka. Anak-anak dengan semua ketidakterkaitannya dengan waktu yang terjadwal. Anak-anak dengan semua daya tangkap dan ingatannya.
Kembali melangkah menuju pemberhentian. Setelah lelah berjalan dan bekal habis, berhentilah dulu, mengisi lagi. Untuk kembali riang menebar senyum disepanjang jalan. Berbagi bekal dengan semua yang menghampiri. Mari kembali merasakan kekosongan bekal kita, kembalilah membaca, melangkah ke tempat pemberhentian.

Belajar lagi. Kadang kita terlalu cepat melangkah dengan bekal seadanya, hingga tanpa sadar hanya sedikit yang tersisa padahal perjalanan masih panjang. Kita tidak tahu memang kapan perjalanan ini akan selesai, inilah menariknya jalan kehidupan.

Tanpa kembali lagi berdiam, membaca, merenung, mengolah lagi makanan pikiran dan jiwa yang kita baru dapat lagi. Tanpa pembacaan lagi, tanpa menggali sumur lebih dalam dan menemukan mata air tambahan, ilmu yang ada pada kita berputar di tempat dan membosankan bagi yang mendengar, membaca. Padahal ilmu manusia itu setinggi-tingginya tidak akan ada artinya dengan pemilik semua ilmu, Allah azza wa jalla, dan Allah adalah Maha Pemberi, maka mintalah ilmu itu pada tempat yang tepat dengan cara yang tepat pula. Anak-anak dengan perasaan kosong dan haus hal baru.

Kembali bermimpi seperti anak-anak, dimana tidak ada yang utopis untuk dibayangkan, diperjuangkan. Tapi jangan kembali menjawab cita-citamu dengan lima pilihan, presiden, pilot, supermen, jendral, doraemon ya!

---------------------------------------------++++++++------------------------------------------------
Menggugat dengan sederhana
Dari negeri kata-kata

Ba’da isya
Kotak 3X4 meter yang kumuh
yogyakarta
Read More...