Minggu, 07 Desember 2008

Qurban Di Kotaku dan Di Kampungku

25 comments
Beberapa hari terakhir ini ketika saya mau ataupun pulang dari kampus, banyak sepanduk dan selebaran bertuliskan tentang qurban terpampang di jalan-jalan di jogja terutama di wilayah pemukiman dekat kost-kostan saya. Bukan ucapan selamat Idul Ad'ha yang tertulis pada sepanduk tersebut, tapi sepanduk dari penyedia jasa qurban. Isi sepanduk dan selebaran itu beragam, intinya berisi tentang promosi hewan yang dibuat semenarik mungkin -iklannya tidak kalah menarik di banding promosi caleg-. Tapi yang membuat saya heran dan tidak ada di kampung saya adalah adanya beberapa sepanduk yang tidak hanya menawarkan hewan qurban, tapi pihak penyedia jasa hewan qurban bersedia mengambil uang langsung dari konsumen. mudahnya begini, konsumen tinggal SMS alamat rumahnya, terus sang penyedia hewan kurban siap datang ke rumah konsumen untuk negosiasi. Setelah negosiasi selesai maka orang yang mau berkurban tinggal menyerahkan uang saja, urusan beres. sehingga orang yang akan berkurban tidak tahu atau bahkan mungkin tidak perlu tahu seperti apa hewan kurbannya. Begitu mudahnya urusan Qurban di kota.

Bandingkan dengan di kampung saya,
Di kampung saya tidak ada sistem seperti itu (mungkin karena tidak ada signal tel. seluler), orang yang akan berkurban biasanya membeli hewan kurban untuk Idul Ad'ha dari tetangga yang memiliki mungkin kalau kurang cocok biasanya tetangga saya akan mencari hewan ke pasar di kota. pembeli pun bisa leluasa memilih hewan sesuai dengan keinginannya bukan jual beli buta, tanpa barang. Ketika pagi hari Takbir berkumandang menandakan di akan dimulainya sholat Idul Ad'ha orang yang akan berkurban bersama keluarganya berangka kemasjid dengan membawa hewan qurban masing-masing. Tidak ada rasa malu, bahkan mereka bangga.

Setali tiga uang dengan mudahnya membeli hewan qurban, pembagian hewan kurban juga tidak terlalu memakan banyak waktu, setelah hewan di sembelih dan di potong tak berapa lama para kaum duafa yang harusnya menerima daging qurban, malahan mengambil. Konotasi menerima dan mengambil jelaslah berbeda. Orang mengambil adalah "datang ke-", sedangkan menerima tetap beriam di tempat menunggu ada yang mengantarkan. kalau tidak percaya liat saja di Masjid Istiqlal, orang sampai harus "bertarung" hanya demi seonggok daging, tengok pula beberapa masjid di Jogja, kaum duafalah yang harus berebut.

Ini sungguh bertolak belakang dengan sistem pemabagian hewan qurban di tempat saya, di kampung saya hewan qurban setelah di potong akan dibagikan kerumah-rumah warga oleh panitia sukarela (panitia yg penting pulang dapet kepala atau ceker), yang bertugas membagikan dengan berputar-putar kampung adalah para remaja. Biasanya setelah semuanya beres (menjelang dzuhur jg dah slese), para ukarelawan akan makan bersama dengan segala macam isi perut hewan qurban (usus dkk) yang telah di masak oleh para ibu-ibu. setelah dzuhur mereka mulai membereskan dan membersihkan tempat yang tadi digunakan.

Sebenarnya kehidupan didesa sangat menyenangkan, apalagi ketika akan bahkan pada saat ada acara besar, baik itu hari raya agama atau hari kemerdekaan, suasana desa saya selalu semarak bukan hanya pada saat kegiatan tapi juga pra kegiatan karena warga bergotong royong secara sukarela. Hal yang tak pernah saya lihat ketika saya menjadi siswa SMA di PWT dan apalagi ketika "jabatan" saya sudah meningkat menjadi mahasiswa di Jogja.

apakah benar, hidup di kota itu sulit, saya pikir mungkin terlalu mudah....
tapi kemudahan itu bagi saya tak memiliki makna.........
atau boleh saya bilang kemudahan yang hampa.......
Read More...

Jumat, 28 November 2008

Serangan Teroris di Mumbai, India

6 comments
Waktu pertama denger ada serangan terori di india dari TV saya setengah tak percaya, serangan itu seperti Film Hollywod amerika. Sangat rapih dan terencana, menyerang 10 objek vital di mumbai, India. Diantaranya 2 Hotel ternama Taj hotel dan Oberoi, belum lagi serangan di stasiun tersibuk di Mumbai. Ini nyata bukan Filem karya Bollywood.

saya kira bukan hanya saya yang terkejut, dunia pun terkejut, seperti waktu mendengar tragedi WTC 9/11, yang masih menjadi misteri hingga sekarang. serangan teror yang sangat di khawatirkan terjadi di Indonesia pasca hukuman mati Amrozi CS, justru terjadi di India. memang negara ini salah satu negara yang rentan konflik sosial keagamaan. kenapa india ? india bukanlah pendukung invasi Amerika dan sekutunya ke Timur Tengah. negara yang terkenal dengan tarian inipun bukanlah negara yang senang dengan militer, bahkan negara terbesar di asia selatan ini lebih senang bicara ekonomi dan industri daripada mengomentari masalah keamanan. Kenapa bukan Amerika atau Inggris bahkan Australia yang di serang ???

Memang benar dalam serangan yang berhasil menewaskan 125 (catatan terakhir detik.com) ini mencari warga berpaspor Amerika dan Inggris, tapi yang aneh tuntutan mereka justru tak ada hubungannya dengan kedua negara tersebut, yang menjadi tujuan dari teroris yang menamakan dirinya mujaheed decan ini adalah ketidaksukaan mereka akan prilaku militer india terhadap muslim di wilayah khasmir. jadi menurut konfirmasi terkahir yang saya dengar tujuan mereka bersifat lokal, tapi kembali yang menjadi pertanyaan saya kenapa mereka mengejar pemilik paspor Amerika dan Inggris ??? kenapa bukan pejabat pemerintah india ???

Tindakan yang masuk Teroris ini termasuk sanagt luar biasa dan menakjubkan,bukannya saya memuji apa yang mereka lakukan, justru saya sangat mengecam tindakan para teroris itu. yang menakjubkaan itu maksudnya keberhasilan mereka mengasasai 10 titik vital di mumbai dalam waktu kurang dari 24 jam dan melakukan penyandraan, bukanlah aksi teroris amatir. bahkan dalam berita terakhir yang saya peroleh. Dalam salah satu kontak senjata dengan polisi India mereka berhasil menewaskan 16 polisi india bahkan termasuk kepala khusus divisi anti teror india walalupun pihak teoris harus merelakan 6 anggotanya meregang nyawa.

Yang lebih mencengangkan para teroris itu masih berusia muda sekitar umur 20-30an. Siapa sebenarnya otak dibalik serangan ini ???. India sudah menganggap serangan ini sebagai serangan terhadap negara dan akan memberi balasan setimpal terhadap para teroris. Indeks saham di India turun drastis karena kota pusat perekonomian India tersebut lumpuh total seperti kota mati. tak ada orang berani keluar, semua kegiatan pelayanan umum (kecuali rumah sakit) lumpuh total, kantor pemerintahan tutup, sekolah-sekolah libur. Bahkan tempat lari terakhir yaitu bandara pun lumpuh, tidak ada penerbangan dari dan menuju mumbai.

Di luar itu dukungan terhadap Pemerintah India mengalir begitu deras termasuk Presiden RI yang ikut cengecam serangan tersebut, dukungan dari dunia luar juga di barengi kecaman terhadap para teroris. Bahkan pihak maskapai penerbangan Australia siap memberikan tumpangan gratis bagi para korban. beda dengan Australia negara maniak perang, Amerika malah menyiapkan FBI (pernyataan resmi G.W. Bush), untuk membantu India, yang kemudian di tolak.

Semoga serangan tak berprikemanusiaan itu tidak menjadi inspirasi bagi kelompok lain untuk ikut memperkeruh suasana dunia yang sudah keruh karena badai krisis ekonomi global yang melanda. saya ikut prihatin ata kejadian itu dan semoga parakorban dan keluarga korban di beri ketabahan oleh Yang Maha Kuasa. Amien.....
Read More...

Selasa, 25 November 2008

Cara Membuat Bom

30 comments
pernahkah anda membayangkan membuat bom itu sangat mudah ???
bahkan anda dapat membuatnya lebih dari 10 kali dalam satu hari...

proses sederahana itu dapat anda lakukan dirumah anda
pertama-tama anda harus menyiapkan bahan-bahan kimia utama seperti oksiogen, yang memiliki kadar nitrogen tinggi, untuk membuatnya lebih canggih andan bisa memperbanyak unsur hidrogen sulfida & merkaptan.Kedua senyawa ini mengandung sulfur belerang.

pertama-tama, kamu makan makanan yang berbau tajam, misal: bangke tikus, ee' kucing (nggak lah!). makan duren, petai, jengkol, dan kawan-kawannya.

kedua, setelah kamu makan itu semua, tiriskan beberapa saat (kurang lebih 2jam).

ketiga, setelah 2jam, di dalam perut kamu akan mengeluarkan reaksi asam yang sangat berbahaya... perut kamu akan bergejolak, itu adalah tanda2 BOM siap dilepaskan.

ke empat, Pilih sasaran target pengeboman. misal : guru kamu, adek kamu, atau pacar kamu (dosa tanggung sendiri).

ke lima, arahkan meriam kamu ke wajah target pengeboman kamu (angkat bokong kamu).

ke enam, Tembakkan dengan sekuat tenaga!! caranya, lepaskan tekanan yang maha dasyat dari perut, dan pusatkan kekuatan ke bokong kamu!

DIJAMIN, target pasti langsung tidur selamanya....
ampuh 100%.

-selamat mencoba-


yang ini serius,,,

Seperti kita ketahui, proses pencernaan dan penyerapan makanan terjadi dalam usus halus. Makanan yang tidak bisa dicerna dan diserap tubuh akan dibuang ke usus besar (kolon). Sisa-sisa makanan yang ada dalam usus besar ini merupakan makanan bagi bakteri penghuni usus. Di dalam usus besar ini pula terjadi proses fermentasi yang antara lain membentuk sejumlah gas.

Mengacu pada proses tersebut, bisa dimaklumi bila jenis makanan yang dikonsumsi menentukan produksi gas dalam usus. Semakin banyak seseorang mengonsumsi jenis makanan yang tidak dapat dicerna, semakin meningkat pula proses fermentasi oleh bakteri. Akibatnya, produksi gas pun mengalami peningkatan. Jenis gas yang diproduksi dalam usus antara lain karbondioksida (CO2), hidrogen (H2) dan metan. Kendati ada pula sumber gas dalam usus yang berasal dari udara luar, seperti nitrogen (N2) dan oksigen (O2). Udara luar ini dapat ikut tertelan akibat aktivitas makan yang tidak benar. Yakni kebiasaan mengunyah permen karet, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, dan sebagainya.

AROMA TAK SEDAP

Pada dasarnya tidak semua kentut mengeluarkan bau tak sedap. Angin yang satu ini bisa menjadi bau akibat adanya proses pembusukan oleh metabolisme bakteri di usus besar. Bau tak sedap yang mungkin timbul bisa juga berupa bau asam akibat mengonsumsi makanan yang tidak sesuai kemampuan organ pencernaannya. Selain itu, makanan berbau tajam, seperti petai, durian nangka dan cempedak juga dapat menyebabkan kentut berbau.

Kentut yang tidak berbau lazimnya terdiri atas 5 komponen gas, yakni gas nitrogen, oksigen, hidrogen, metan dan karbondioksida. Kelima gas inilah yang merupakan porsi terbesar dalam kentut. Sedangkan kentut yang bau umumnya merupakan campuran gas-gas yang berbau, seperti skatol, indol, hidrogen sulfida, dan asam lemak rantai pendek. Gas-gas ini walaupun terdapat dalam jumlah kecil mampu menimbulkan bau yang menusuk hidung.
Read More...

Selasa, 18 November 2008

Suara Hati Iblis

8 comments
dulu, aku ini makhluk yang paling tinggi derajatnya di sorga. aku lah azazil. aku sangat taat menyembah Tuhan, yang paling taat malah. sampai Tuhan bermaksud menciptakan khalifah di bumi bernama adam. malaekat protes karena katanya makhluk ini hanya akan merusak bumi. apa-apaan malaekat itu, kok berani mempertanyakan keputusan Tuhan. lihatlah aku yang patuh ini, Tuhan itu segalanya... malaekat! jadilah adam dan aku patuh. Tuhan bertitah lain, sujudlah pada adam!!! apa-apaan ini, kepalaku hanya aku tundukkan pada Tuhan! adam bukan Tuhan, lantas aku menolak. karena itu Tuhan memberi aku julukan, iblis. ga ada masalah kalau itu memang kemauan Tuhan. anehnya malaekat nurut saja sujud pada adam??? mikir dong malaekat, bukankah adam itu khalifah di bumi, dan sekarang ini kita di sorga... malaekat! disini aku lah yang paling tinggi derajatnya. Tuhan kemudian memberi instruksi supaya aku masuk ke neraka, aku patuh. aku teringat bahwa adam salah tempat, adam itu khalifah di bumi kok tinggal di sorga. maka aku dengan sepengetahuan Tuhan membuat adam diturunkan ke muka bumi. berhasil. adam ternyata merengek-rengek menolak instruksi Tuhan, masak makhluk seperti itu pantas aku bersujud kepadanya. tidak, tidak sekali pun aku sudi sujud pada makhluk yang berani menolak keputusan Tuhan. aku lantas diperintah menggoda anak-cucu adam sampai kiamat datang, dan aku selalu patuh. anak-cucu adam yang diperintah menyembah Tuhan malah banyak yang ingkar, kafir. apa-apaan manusia itu. wahai anak-cucu adam, tugasku mengajakmu ke neraka dan tugasmu menolak ajakanku. ikuti jejakku, patuhi Tuhan. jangan kafir! khalifah kok kayak githu...


kata-kata di atas bukanlah pembelaan terhadap Iblis, melainkan sebuah sindirin kepada manusia itu sendiri.
Read More...

Ibu, Seperti apa Pria Sejati

8 comments
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: Ibu, ceritakan padaku tentang pria sejati...

Sang Ibu tersenyum dan menjawab... pria Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya....

Pria sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.....

Pria sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa ...

Pria sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan...

Pria sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu...

Pria sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya...

Pria sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan...

Pria Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca...

....setelah itu, ia kembali bertanya...

" Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?"

Sang Ibu memberinya buku dan berkata.... "Pelajari tenteng dia..." ia pun mengambil buku itu

"MUHAMMAD", judul buku yang tertulis di buku itu
Read More...

Sabtu, 15 November 2008

Pendidikan Moral di Kampus

Leave a Comment
pernahkah anda berfikir, kenapa pendidikan moral di kampus "hanya" diberikan jatah 4 SKS ??? itupun sudah dibagi dalam dua mata kuliah yaitu pancasila dan agama,,,, (untuk jurusan-jurusan yang umum khususnya eksak).....

bahkan matakuliah itupun hanya sebagai mata kuliah tambahan dan/atau pilihan, padahal jika anda bertanya pada semua orang "pendidikan apa yang paling penting saat ini ?" maka sebagian besar penjawab anak menjawab pendidikan moral. kenapa ? saat ini masalah besar yang sedang dihadapi bangsa ini adalah degradasi moral masyarakatnya, sekarang sebagian orang tidak perlu berfikir halal atau haram, boleh atau tidak, sesuai norma atau melanggar, bagi mereka semua itu tidaklah penting. yang penting kenyang atau tidak , mati atau hidup ???


kembali pada masalah moral dikampus, bahkan mungkin disemua level satuan pendidikan, pendidikan moral atau keagamaan bahkan kalaupun kesemuanya digabung tidak akan menghasilkan 10% dari jumlah keseluruhan matakuliah atau pelajaran (pengecualian untuk sekolah berbasis agama). ada apa sebenarnya dengan pendidikan kita ???

tentu kita tidak usah kaget melihat para pejabat korupsi atau bahkan para kiyai dan seleberiti berlomba untuk jadi politisi supaya bisa mendapatkan kursi. karena toh mereka berjalan dalam satuan pendidikan yang membuncitkan pendidikan moral.

pertanyaan sederhana
mana yang lebih diperlukan ilmu matematika atau ilmu agama ?
maka kita akan menemukan mayoritas jawaban keduanya sama pentingnya karena saling melengkapi atau mungkin akan menjawab ilmu agama karena akan berguna juga untuk akhirat. okelah kita ambil jawaban yang pertama bahwa keduanya penting, maka akan timbul pertanyaan kedua,"kalau keduanya penting kenapa ilmu agama dan ilmu matematika memiliki kuota yang berbeda dalam pengajarannya ???

suatu pertanyaan yang akan membuat depdiknas dan depag,berada dalam kondisi dilema.
menurut anda apa jawaban kedua depertemen tersebut,,,

bahkan hal inipun membuat saya bingung sendiri sebagai mahasiswa....
Read More...

Jumat, 14 November 2008

Jujur, bohong atau tolol

3 comments
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “man kaana yu’minu billahi wal yaumil aakhir, fal yaqul khairan au liyasmut?” (Barang siapa sudah beriman kepada Allah dan ahri akhir, hendaklah berkata yang baik atau setidaknya diam).

Memang bicara dan diam ada tempatnya masing-masing. Diam pada saat harus bicara, sama buruknya dengan bicara pada saat harus diam. "

Sebaiknya kita memang harus tahu kapan kita mesti diam dan kapan mesti bicara. Kalau tidak, salah-salah bisa celaka. Antara lain karena kita diam pada saat harus bicara, maka kemungkaran pun akan terus berlangsung dan menyebabkan kerusakan negeri yang sangat parah. Namun sebaliknya, seringkali diam justru jauh lebih bermanfaat ketimbang bicara. Bahkan tidak jarang justru menimbulkan bencana, tidak hanya bagi orang yang bersangkutan, tapi juga kepada orang-orang lain. Perkelahian, bahkan peperangan bisa terjadi akibat omongan yang salah.

Dulu, di majelis penguasa yang agung, ketika semua orang yang hadir angkat bicara, dan umumnya memuji-muji sang penguasa, seorang arif yang ikut hadir dalam majelis itu hanya diam saja. Sehingga akhirnya sang penguasa pun bertanya,”Mengapa dari tadi kau diam saja, tidak ikut bicara seperti yang lain ?”

Orang arif itu menjawab,”Aku dari tadi diam, karena sedang mempertimbangkan dua hal yang sama-sama berat. Apakah aku akan bicara bohong seperti mereka untuk menyenangkan anda, atau bicara jujur dan membahayakan diri saya sendiri.”

Orang bijak menasehati kita, kalau kita akan bicara sebaiknya difikirkan dulu, agar bicara kita tidak menimbulkan hal-hal yang negatif. Tapi orang tolol biasanya malas berfikir, karena itu lebih dianjurkan untuk diam saja.
Read More...

Ustadz Pimpin Upacara

1 comment
Ada seorang Ustadz yang juga pengurus Syuriyah NU menjadi komandan upacara. upacara kemerdekaan 17 agustus.sebagaimana biasa, setiap awal upacara dilakukan pasti ada prosesi pelaporan kesiapan peserta upacara kepada inspektur upacara.
Dengan lantang sang ustadz yang menjadi komandan upacara melapor."
"lapor,seluruh peleton dan Kompi siap melaksanakan upacara...!!"lapornya dengan tegas,maklum mantan ketua Ranting Banser di desanya
Laporan itu kontan dijawab inspektur upacara dengan tegas juga
"kerjakan.....!!"
Komandan menyahuti "InsyaAllah...!!"
Inspektur Upacara menyahut "Alhamdulillah"
para peserta upacara dengan kompak menyahuti "Aminnnn.!!"
Read More...

Dakwah dengan Amar Ma'ruf perlukah Nahi Munkar ?

Leave a Comment
Mungkin bangsa kita adalah bangsa yang –paling tidak termasuk-- paling suka bikin istilah dan sekaligus mengacaukan istilah-istilah. Ada istilah-istilah yang sudah lazim dikacaukan menjadi tidak lazim dan sebaliknya yang tak lazim dilazim-lazimkan. Dan tidak jarang orang mempergunakan istilah tanpa mengerti maknanya, hanya karena ikut-ikutan sesuatu yang sudah populer sebagai istilah. Latah mungkin memang sudah menjadi salah satu perangai bangsa ini."

Kadang-kadang lucu. Ada tiga orang berdebat mengenai politik; yang satu pengertiannya tentang politik adalah A, yang satu mengartikan politik sebagai B, sementara bagi yang satunya lagi, politik ialah C. Maka perdebatan mereka pun ngalor-ngidul (seperti debat kusir yang juga entah dari mana istilah itu berasal) tidak karuan juntrungnya. Begitu juga halnya dengan istilah-istilah populer yang lain seperti agama, Islam, jihad, pemerintah, negara, nasionalis, Yahudi, zeonis, pruralisme, sekuler, liberal, syareat, ulama, teror, dakwah, amar makruf nahi munkar, dsb.

Boleh jadi hal itu --untuk yang suka bikin istilah-- terjadi karena kebiasaan suka pamer dan bergaya. Sedangkan bagi yang latah, mungkin karena kemalasan orang untuk melakukan tahqieq, menengok definisi, atau sekedar merunut maknanya. (Menganggap hal itu tidak penting; karena sejatinya yang penting hanyalah: kehendak dan pendapatnya sendiri). Dan hal seperti itu terus berlangsung, meskipun orang sudah melihat sendiri akibat buruk dari kerancuan istilah tersebut.

Kita ambil contoh dua istilah (saja) yang sudah populer digunakan: dakwah dan amar makruf (wan nahi ‘anil munkar). Kedua istilah ini sama-sama populer dan hampir setiap orang Islam –bahkan juga yang tidak—pernah mengucapkan atau mendengarkannya. Namun umumnya ya hanya mengucapkan dan mendengarkan. Seperti halnya ketika mengucapkan atau mendengarkan istilah politik, misalnya, orang tidak merasa perlu lagi melakukan tahqieq tentang pengertian dakwah dan amar makruf itu. Seolah-olah hal itu sudah ma’lumun fiddiini bidh-dharuurah, sesuatu yang sudah sangat dimengerti maknanya oleh semua orang. Padahal melihat sikap-sikap mereka yang mempergunakan –dan dalam kaitan-- istilah-istilah itu, menunjukkan kepada kita bahwa mereka mempunyai pengertian yang lain-lain.

Bila anda sudi meluangkan waktu, marilah kita coba melakukan tahqieq terhadap kedua istilah itu. Dakwah dan amar makruf itu.

Dakwah, seperti halnya banyak lafal yang berasal dari bahasa Arab, ketika masuk dalam perbendaharaan bahasa kita, mengalami pergeseran-pergeseran makna yang pada gilirannya juga berpengaruh kepada perilaku. Dakwah biasanya diartikan seruan dan propaganda. Dalam bahasa aslinya semula, dakwah mempunyai makna mengajak, memanggil, mengundang, meminta, memohon…Pendek kata makna-makna yang mengandung nuansa ‘halus’ dan ‘santun’. Sebagai istilah, dakwah yang kemudian dianggap sudah jelas maknanya ini, wallahu a’lam bish-shawab, tentunya bermula dari firman Allah seperti dalam Q. 16:125. “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’idzah hasanah (lafal-lafal yang ditulis miring, seperti diketahui, juga sudah menjadi istilah yang populer di kita) dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik…”

Perhatikanlah; dalam ayat itu perintah ‘Ud’u, Ajaklah tidak disertai maf’ul bih atau objeknya seperti lazimnya fiil muta’addie. Para mufassir, biasanya ‘mengisi’ objeknya dengan an-naas, manusia (Jadi, “Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu …dst”). Saya sendiri menganggap penambahan tafsir dengan objek berupa an-naas, manusia, itu kok tidak perlu. Sebab kata-kata “ke jalan Tuhanmu” sudah cukup menjelaskan siapa yang disuruh Allah ajak. Logikanya tentu –wallahu a’lam—yang diajak adalah mereka yang belum di “jalan Tuhan”. Karena mengajak orang yang belum di jalan Tuhan, maka –lagi-lagi wallahu a’lam—mesti dilakukan dengan hikmah dan mau’idzah hasanah. Kalau pun harus berbantah, mesti dengan cara yang lebih bagus dari lawan berbantah. Dan perintah ini dilaksanakan dengan sangat sempurna oleh Rasulullah saw. Dengan lembut dan penuh kasih, dengan bijaksana dan nasihat yang baik, Rasulullah mengajak mereka yang belum berada di jalan Allah. Bila perlu berbantahan, Rasulullah saw bersikap sangat santun. Hasilnya, dakwah beliau diterima dan orang-orang yang semula belum di jalan Allah pun berbondong-bondong menuju ke dan berjalan di jalanNya. Perintah ini juga dengan baik dilaksanakan oleh penerusnya; termasuk para wali, Wali Songo. (Bila penduduk negeri ini kemudian mayoritas berjalan di jalanNya, pastilah tidak terlepas dari dakwah mereka yang sesuai dengan arahan Quran itu). Bandingkanlah dengan dakwah masa kini yang nota bene hanya lebih kepada mereka yang sebenarnya sudah berada di jalan Allah.

Amar makruf, berbeda dengan dakwah, bukan sekedar ajakan, tapi perintah; sebagaimana nahi adalah larangan, bukan sekedar himbauan. Amar makruf nahi munkar, adalah ciri komunitas kaum beriman (Baca misalnya, Q. 3: 110; 9: 71; dlsb).

Sebagai ciri, ia sama sebanding dengan rahmatan lil ‘aalamien. Artinya –paling tidak menurut pemahaman saya—amar makruf nahi munkar itu tidak lain merupakan manivestasi atau pengejawentahan dari kasih sayang. Mengasihi dan menyayangi maka mengamar-makruf-nahi-munkari. Muslim yang mukmin yang melakukan amar-makruf nahi-munkar, ibarat dokter yang mengobati pasiennya karena ingin menyembuhkan. Dokter yang baik akan berusaha mengenali pasiennya dan mencari cara penyembuhan yang paling meringankan pasiennya. Jika harus memberi obat, sedapat mungkin mencarikan obat yang sesuai dengan pasiennya. Bila si pasien tidak mau disuntik atau tidak harus disuntik, sang dokter akan memberikan obat. Ini pun bila obat itu pahit, dipilihkan yang terbungkus kapsul, agar si pasien tidak merasakan pahitnya. Kalau pun terpaksa harus melakukan operasi, dokter tidak begitu saja membedah pasiennya, namun bermusyawarah dulu dengan keluarga si pasien. Karena dokter mengobati pasien, sebagaimana mukmin yang mengamar-makruf-nahi-munkari saudaranya, didasarkan kepada kasih sayang kemanusiaan. Bukan berdasarkan kebencian.

Mereka yang ber-amar-makruf-nahi(‘anil)munkar oleh dan dengan penuh kebencian, sebagaimana mereka yang berdakwah secara kasar dan provokatif, kiranya perlu meneliti diri mereka lagi. Apakah mereka melakukan itu atas dorongan ghirah keagamaan ataukah atas dorongan nafsu dan kepentingan lain. Atau mereka perlu lebih memperdalam pemahaman terhadap agama mereka, ajaran-ajaran, dan istilah-istilahnya. Jika tidak, disangkanya mendapatkan ridha Allah, alih-alih malah mendapatkan murkaNya. Nau’udzu billah.

sumber : gusmus.net
Read More...

Berdoa, Ala Indonesia

2 comments
pernahkah anda berdoa ??
saya yakin pertanyaan ini akan dijawab iya oleh hampir seluruh umat beragama termasuk orang indonesia, ya 99 % (tak ada kemungkinan yang 100%) orang akan manjawab "iya". lebih tepatnya "sering", bahkan mungkin bagi sebagian orang ada yang kerjanya hanya berdoa...

Lalu apa saja yang Anda baca dalam berdo’a? Ataukah permohonan apa sajak yang biasa Anda panjatkan? Mohon selamat? Rezeki? Masuk surga? Dihindari dari api neraka? Bahagia dunia akhirat?

biasa atau pernahkah anda berdoa, secara khusus kepada Allah sehubungan dengan kepentingan yang mendesak? Ditagih utang kanan-kiri, misalnya? Bagaimana pengalaman Anda selama ini; berapakah prosentase do’a Anda yang makbul? atau mungkin cari pasangan untuk menikah, atau bagi anak muda berdoa supaya cepat dapat pacar ?

memang selain membaca Al Quran berdoa merupakan salah satu ibadah yang dipujikan (bahkan sholat pun masuk dalam kategori berdoa, toh bacaan sholat juga merupakan doa)

Berdo’a, selain merupakan salah satu ibadat yang dipujikan, adalah sarana kita untuk memohon sesuatu kepada Tuhan Yang Maha Memiliki dan Mahamurah. Allah berfirman dalam kitab sucinya, “Ud’uunil astajib lakum” (Berdo’alah kamu kepada-ku, maka Aku akan mengabulkan untukmu.”) (Q.s. 40: 60).

Berdo’a, secara langsung atau tidak, juga bisa berarti pengakuan hamba akan kelemahannya dihadapan Tuhan Penciptanya.

Kalau dikalangan sufi banyak yang menolak berdo’a – karena bagi mereka, berdo’a sama saja dengan meragukan pengetahuan Tuhan terhadap hajat dan aspirasi hamba-hambaNya – bagi kita berdo’a justru merupakan tradisi misal yang luar biasa. Boleh jadi karena umumnya kita ini banyak mempunyai kepentingan dan keinginan – sedangkan tangan kita untuk meraihnya terbatas – berdo’a lalu menjadi amalan ibadat favorit. Apalagi dijaman yang tidak semakin menjanjikan terpuasinya aspirasi ini.

Mulai dari memohon hujan; memohon selamat dari banjir dan bencana alam; memohon kemenangan tim olah raga yang kurang latihan; memohon agar jagonya jadi lagi; hingga ber-istighatsah memohon agar organisasinya tidak digoyang OTB, organisasi tanpa bentuk.

(Cara berdo’a pun macam-macam. Do’a yang bersifat instansional biasanya juga dengan gaya bahasa laporan dinas atau laporan komendan kepada inspektur upacara; misalnya begini, “Ya Allah ya Tuhan kami; hari ini kami semua berkumpul di bangunan yang baru saja selesai dengan biaya… untuk melepas kontingen olah raga kami yang akan berjuang membela nama baik tanah air kami ke negeri orang. Ya Tuhan, berilah kemenangan kepada mereka, sehingga mereka dapat meraih medali sebanyak-banyaknya atas ridho-Mu ya Allah…” Atau begini, “Ya Allah ya Tuhan kami; hari ini kami memperingati hari ulang tahun organisasi kami….dan seterusnya.: atau, “Ya Allah ya Tuhan kami dalam pemilu yang akan dating….dan seterusnya.” Atau….).

Pertanyaan penting yang sering mengusik kemudian ialah: kita ini sudah berdo’a sekian lama – minta ini minta itu untuk diri kita sendiri atau untuk kepentingan umum – namun kok sepertinya tak ada tanda-tanda do’a kita dikabulkan-Nya? Bahkan kita sudah berdo’a di saat-saat suci, ketika berpuasa, setelah sholat, bahkan rela bangn tengah malam (hanya pada saat mendesak, karena mungkin kalo lagi suasana hati senang tidak pernah sama sekali) ini dan tampaknya do’a kita hanya seperti angin lalu saja...

Apakah etika berdo’a kita yang belum benar sehingga Allah belum berkenan mendengarkan do’a kita, atau bagaimana? Atau seperti kata ulama yang cukup menghibur itu: setiap do’a pasti dikabulkan, cuma kapan dan berupa apa hanya Allah sendiri yang menentukan dan mengetahuiNya. Wallahu a’lam.

Orang-orang Bashrah (Irak) tempo deoloe pernah mengajukan pertanyaan seperti itu kepada zahid mereka yang terkenal, Ibrahim bin Adham (hidup sekitar abad VIII Masehi) dan apa jawabannya? Tokoh sufi itu menjawab, “Itu disebabkan karena hati kalian mati dalam sepuluh hal:
(1) Kalian mengenal Allah, tapi tidak menunaikan hak-hak-Nya;
(2) Kalian membaca kitab Allah, tapi tidak mengamalkannya;
(3) Kalian mengaku mencintai Rasul Allah saw, tapi tidak mengikuti sunnahnya;
(4) Kalian mengaku membenci setan, tapi selalu menyetujuinya;
(5) Kalian yakin mati itu pasti, tapi tak pernah mempersiapkannya;
(6) Kalian bilang takut neraka, tapi terus membiarkan diri kalian ke sana;
(7) Kalian bilang mendambagan surga, tapi tak pernah beramal untuknya;
(8) Kalian sibuk dengan aib-aib orang lain dan mengabaikan aib-aib kalian sendiri;
(9) Kalian menikmati anugerah-anugerah tuhan, tapi tidak mensyukurinya;
(10) Kalian setiap kali mengubur jenazah-jenazah, tapi tak pernah mengambil pelajaran darinya.”

Nah, apakah jawaban Ibrahim bin Adham ini ada gunanya buat Anda yang suka berdo’a?
Selamat berdo’a!
Read More...