Rabu, 15 Juni 2011

Keajaiban Ngelanggeran

16 comments
inilah petualangan kecil saya bersama beberapa kawan,


matahari pagi, memberi lebih dari sekedar kehangatan

dari pendopo di pos pertama, lima orang anak manusia menatap nanar ke udara. langit tak kunjung bersahabat, hujan deras menyapa sejak senja tiba. terpampang didepan deretan bukit berbatu berdiri angkuh menantang untuk direngkuh. tak ada pilihan lain kecuali beranjak naik walau grimis yang romantis terus berselancar dari angkasa.


mendaki dalam gemericik, dari grimis yang rintik

hujan menemani pendakian, dan airnya menelisik di celah-celah bebatun, menyatukan aliran. rintik hujan bergerak ritmik menjadikan suara gemericik menjadi orkestra indah menemani perjalanan melawan lelah. murninya air yang turun penuh kesegaran dan kesucian tanpa pernah terjamah tang-tangan berlumpur dosa.

angin menjadi sahabat perjalanan dan peristirahatan. hembusannya membuat dahan dan ranting menari, membuat daun-daun kanopi saling berbisik di tengah kesunyian malam. fisiknya tak terlihat tapi hempasannya ke arah wajah, menghilangkan semua kepenatan. terasa memberi energi luar biasa. wanginya menusuk laksana parfum memberi kesegaran tiada tara.


di sela-sela bebatuan, meniti celah kehidupan

jogja terlihat berwarna dari angkasa, kelap-kelip lampu kota seolah berbicara dalam kode-kode rahasia. merah, hijau, kuning dan jingga, adalah bahasa lampu kota kepada mata. kota yang terus bersengketa untuk satu kata bernama “istimewa” tetap terlihat jumawa, memberi pesan dengan kedipan cahaya kepada manusia.

kabut bergerak dari gunung ke arah kota. menghadirkan ilusi lautan di antara ngarai-ngarai di sela perbukitan. menutup pandangan memberi kesunyian. gerakannya yang tak berarah menghiasi kegelapan, fibrasi ilusi membuat cahaya-cahaya terdistorsi membaur dalam celah partikel, memberinya keajaiban malam yang monumental.




kebersamaan selalu diatas segalanya, api unggun saksinya

Tuhan selalu punya rahasia di awal dan menyiapkan keajaiban di akhir.

sekian
Read More...

Selasa, 31 Mei 2011

Erupsi Literasi di Kaki Merapi

1 comment


erupsi merapi yang baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu masih terasa dampaknya hingga kini. bukan hanya materi vulkanik saat letusan seperti abu dan batu yang masih tersisa tapi juga hantaran lahar dingin yang tak kunjung berhenti hingga kini. matrial-matrial vulkanik masih bisa dilihat dan di saksikan di jogja bahkan hampir di setiap sudut kaki gunung merapi.namun erupsi merapi yang terjadi beberapa waktu lalu sebenarnya sudah di dahului oleh sebuah erupsi dahsyat dari akar rumput, erupsi ini bernama erupsi literasi. sebuah letusan kesadaran masyarakat lapisan bawah yang sadar bahwa pendidikan, kemampuan baca-tulis dalam hal ini adalah modal utama kemajuan individu yang pana pada masa depan menjadi kemajuan sebuah komunitas baik itu lokal maupun nasional.

letupan-letupan kecil di setiap sudut di wilayah kaki merapi sangat terasa, tak besar memang namun konsisten dan terus-menerus sehingga suatu saat nanti kawasan kaki merapi terutama yogyakarta yang terkenal dengan kota pendidikan bisa menjadi rujukan utama sistem pendidikan. hal ini tentu didasari pada keprihatinan akan kurangnya pendidikan pada anak-anak. hilangnya budaya membaca menjadi budaya menonton sungguh sangat kontradiktif, anak-anak yang hampir setiap hari dipaksa untuk menjadi penonton yang diam dan berjingkrak hingga lupa akan proses pembelajaran pada dirinya. dan tanpa disadari membuat anak-anak menjadi terbengkalai pendidikan.

hal-hal sederhana semacam inilah yang sepertinya melecut para pemuda-pemuda di kawasan yogyakarta untuk bergerak bagi lingkungannya, dari ruang sempit hingga lembar demi lembar buku untuk mengenalkan budaya literasi pada anak-anak di “pelosok” yang tidak tersentuh kue manis pendidikan yang berbudget 2triliun rupiah di negeri ini. gerakan-gerakan itu terlihat dengan nyata di sudut-sudut yogyakarta. dimana keinginan untuk membantu sesama sangatlah tinggi, erupsi tidak hanya terjadi pada merapi yang memuntahkan matrial vulkanik tapi juga terjadi di hati orang-orang hebat di tanah jogja, erpsi yang diletupkan berupa erupsi literasi, seperti perpustakaan-perpustakaan desa hingga berlanjut menjadi sanggar belajar.

jika bertanya, kenapa harus literasi? jawabannya adalah buku dan tulisan adalah jawaban dari setiap persoalan, tempat dimana kembali belajar dan mencari kemudian menuliskannya kembali untuk berbagi dan memberi. ini filosofi sederhana dari lierasi yang banyak di galakan teman-teman di kawasan kaki merapi, yogyakarta. sanggar-sanggar belajar berupa perpustakaan lokal ini mampu menghadirkan secercah harapan bagi masa depan yang lebih baik. lihat saja, contohnya ada “sekolah mbrosot” sebuah perpustakaan dan sanggar belajar di kawasan kulonprogo, ada juga “kolam bebek” sebuah sanggar belajar dengan tempat unik sepertu rumah eskimo, ada juga “rumah bambu” yang termasuk di dalam kota di pinggiran sungai winongo yogyakarta, hingga “studio biru” di kawasan perbukitan prambanan.

“Books are the plane, and the train, and the road. They are the destination, and the journey. They are home. kata Anna Quindlen dalam bukunya berjudul “How Reading Changed My Life” bagaimana Anna mengungkapkan bahwa buku adalah alat transportasi sekaligus tujuan dimana berlabuh. bukulah yang membuat kita mengerti banyak hal, untuk itulah pemberdayaan literasi secara swadaya menjadi letupan yeng terus bergejolak di tanah sang sultan. merapi boleh erupsi namun ada erupsi lebih besar di kaki merapi yaitu erupsi literasi. erupsi yang akan memunculkan orang-orang tanggu penjaga peradaban, dengan membaca maka akan menulis.

saya mungkin bisa sependapat dengan Jose Luis Borges yang bermimpi bahwa surga seperti perpustakaan, saya terima atau tidak bahwa jika kita masuk perpustakaan rasanya sulit untuk keluar, kenyamanan serasa berada dalam sebuah ruang penuh harta-karun dan buku seperti cinta mengaduk-aduk emosi manusia. untuk mengaduk emosi perlu menulis dan untuk menjadi penulis harus membaca. dan semuanya tidak harus selalu berasal dari ruang mewah bernama sekolah tapi bisa muncul dari ruang-ruang berdinding bambu namun penuh ke-ikhlas-an dalam berbuat.

sebagai kawasan kaki merapi jogja memang istimewa, tak salah bukan karena daerahnya tapi yang lebih penting karena orang-orangnya, banyak julukan untuk kota ini, dari kota budaya hingga kota pendidikan. saat demonstaru UU keistimewaan tidak ada anrkisme, orang-orang kreatif jogja justru melakukan kirab budaya di sepanjang kraton hingga malioboro, begitu juga di dunia musik seperti jogja hiphop fundation hingga acapela mataraman berkreasi, di dunia maya sindiran-sindiran keras berupa paspor berlambang kraton menohok dengan keras. tak perlu kekerasan tapi hanya butuh sedikit sentuhan kreatifitas.

begitu juga dengan erupsi literasi yang terjadi di jogjakarta, protes akan mahalnya pendidikan dan susahnya akses, bukan dilawan deng kekerasan tapi dengan berbuat yang nyata dari diri dan lingkungan sendiri. protes atas mahalnya dan susahnya akses pendidikan dilawan dengan membuat tempat-tempat belajar gratis dengan modal “hati” itulah mengapa sudut-sudut literasi sederhana di jogja berkembang pesat, bahkan selain yang disebutkan tadi di atas, ada juga “rumah pelangi” di sudut kaki merapi yang lain.

budaya lisan dan tulisan

Budaya literasi (baca-tulis) merupakan hal yang sangat penting untuk dipunyai manusia guna memajukan peradaban hidupnya. Mengakarnya budaya literasi akan membuat masyarakat terbiasa berpikir kritis dan melakukan telaah ulang atas segala hal yang ada di sekitarnya. sehingga dapat mencegah anrkisme berkelanjutan. Kenyataan itu memaparkan bahwa masyarakat kita masih belum terbiasa dengan budaya baca. Budaya lisan yang telah mengakar kuat belum bisa digantikan oleh budaya baca. Malah, kini ada budaya lisan baru bersifat audio visual, yang ditampilkan oleh televisi, yang nyatanya lebih disukai dibanding budaya mengolah informsai dari sumber bacaan tertulis. Ignas Kleden menyebutnya sebagai budaya kelisanan sekunder.

kita tak perlu menyalahkan siapapun atas “kebodohan kultural” ini, yang harus dilakukan sekarang adlah bergandengan tangan untuk memperbaikinya dai sudut terkecil yang bisa kita lakukan, itulah yang banyak di lakukan oleh para pemuda di kaki merapi. Walter Ong adalah salah satu yang membongkar kelemahan tradisi lisan dalam karyanya yang fenomenal, Literacy and Orality. Setiap peradaban tentu saja mewariskan pengetahuan dan kebijaksanaan. Kita tak perlu meragukan pengetahuan masyarakat Baduy yang tak melek huruf dalam melestarikan lingkungan. Kepakaran, yang dalam tradisi lisan diperoleh dengan mendengar, magang, mengingat simbol dan ilmu dalam bentuk syair, tetap tidak bisa disebut proses pembelajaran kognitif, karena tradisi lisan tak mengenal proses abstraksi, mengklasifikasi, dan menjelaskan fenomena secara deduktif. Karenanya menurut Ong, menulis tak hanya melestarikan jejak sebuah peradaban, tetapi juga upaya untuk menyempurnakan potensi kemanusiaan.

Kiranya tak berlebihan seandainya Catherine Prendergast menyebutkan bahwa literasi adalah properti, atau milik kelas tertentu. Dalam bukunya Literacy and Racial Justice, Prendergast menunjukkan bahwa dalam sejarah literasi selalu menjadi alat bagi bangsa-bangsa kolonial untuk mengukuhkan hegemoninya. Literasi tak hanya menjadi hak milik mereka yang dulu tak bisa diakses oleh bangsa yang terjajah, namun juga sesuatu yang kini dibagi-bagikan dengan kemasan ‘kesetaraan, kemajuan, dan modernitas.’ Sepertinya, negara-negara maju tengah mendistribusikan sesuatu milik mereka agar negara berkembang tumbuh bersama-sama. Padahal, yang tercipta adalah suatu bentuk ketergantungan baru. Kita akan terus-menerus mengejar sesuatu itu seperti menggapai fatamorgana, hingga entah kapan. Mungkin sudah saatnya kita bertanya, benarkah literasi menawarkan wacana pembebasan? (sofie dewayani: 2010)

erupsi hati yang meletup perlahan dari jiwa-jiwa pemuda di kaki merapi terutama sekitar yogyakarta dan sekitarnya menunjukan bahwa Literasi bukanlah sebuah entitas yang netral. Literasi juga bukan sekadar kemampuan baca-tulis. Literasi seharusnya dipahami sebagai proses interaksi antara diri, teks, dan konteks.pemahaman akan diri dan lingkungan kultural. pemahama yang tidak hanya mengantarkan pada kemajuan indovidu tapi pada masanya nanti pada kesejahteraan suatu komunitas hingga bangsa.
Read More...

Rabu, 25 Mei 2011

Wajah Indonesia

3 comments

saat saya menyelesaikan setiap lembaran-lembaran perjalanan terakhir saya dari perbatasan, masih ada beberapa penguasa dan pejabat yang bertindak sewenang-wenang. daerah-daerah kaya di indonesia masih di monopoli asing dan jakarta. semakin banyak dukungan untuk aksi terorisme dan anarkisme. mahasiswa berubah dari kaum intelektual menjadi kaum bar-bar yang hobi turun kejalan. sistem agama antara hubungan manusia dan Tuhan di monopoli oleh sekelompok organisasi dan sekte yang merasa ajarannya paling benar. masih ada kota-kota yang hancur lebur di timpa bencana alam, dan nasib ratusan juta rakyat Indonesia hanya terletak di tangan dan omongan segelintir elit di jakarta.

ada ribuan tahanan di penjara yang tak mendapat keadilan yang sebenranya. hingga koruptor yang bergaya bak pahlawan di depan media. kota-kota besar membangun dengan menggusur sesama anak manusia, dan kota-kota kecil terus kehilangan penduduk produktif yang eksodus atas nama mimpi kemakmuran di kota-kota utama. kelaparan dan kurangnya pendidikanterus terjadi setidaknya di wilayah-wilayah perbatasan. sistem ekonomi yang diagungkan tak pernah mampu mengangkat kesejahteraan dan perusahaan-perusahaan besar berkongsi menguasai tanah negeri. anak-anak di paksa memeras keringat di sudut-sudut pabrik dan persimpangan jalan. puluhan juta rakyat berada di bawah garis “imajiner” kemiskinan. kemajuan teknologi yang dinikmati sebagian orang menjadi palung pemisah yang tak dapat di cegah. penyakit dan serangan alam terus bermunculan padahal yang lama masih belum teratasi.

tapi, apakah ini wajah Indonesia yang saya diami?

tentu saja tidak. ketika saya menyusuri salah satu sisi perbatasan, ada wajah-wajah yang terus yakin akan kejayaan Indonesia, wajah-wajah yang tak pernah menyerah.
Read More...

Portrait

Leave a Comment
Foto ini diambil saat penyerahan hadiah untuk pemenang "Writing Contest" Pesta Blogger 2010 di Epicentrum Walk Kuningan, Jakarta. saya sebagai pemenang pertama, pemenang kedua saudara unggul sugena (tengah), dan pemenang ketiga mba yusnita febri (kiri).

Foto ini diambil di kawasan imigrasi Serawak, Malaysia. kami masuk lewat entikong. perjalanan ini di sponsori oleh keana production, sebagai hadiah untuk 2 pemenang utama saya dan saudara affandi sido (tengah di samping saya). perjalanan ini dilakukan hampir satu minggu menembus pedalaman kalimantan, bahkan menyusuri sungai sekayam hingga menginap di perkampungan dayak. lebih asik di sebut petualangan dan ekspedisi dibanding perjalanan wisata. sebuah pengalaman tak terlupakan

ini mungkin bisa disebut foto ramai-ramai terakhir yang dibuat bersama teman-teman satu jurusan di fakultas geografi UGM. foto ini di buat saat sepulang KKL di pacitan jawa timur. dan teman-teman adalah harta yang berharga.


foto bersama teman-teman blogger/kompasianer jogja, foto ini diambil di greenz cafe saat merayakan ulang tahun kedua kompasiana yang diselenggarakan secara independen oleh sesama kompasianer jogja.

foto ini diambil di kompleks candi prambanan yogyakarta bersama teman-teman #TumblrJogja saat #MeetUp #3. komunitas tumblr masih sangat sedikit dan belum cukup terkenal. namun teman-teman ini bertekad menyebarkannya sebagai ajang ekspresi dan silaturahmi.

kalau tidak salah foto ini diambil tahun sekitar 2008, alias 2 tahun sesudah letusan 2006 dan 2 tahun sebelum letusan dahsyat 2010.  pendakian ini mungkin salah satu yang paling saya ingat, karena dalam pendakian ini saya terserang demam namun berkat dorongan dan bantuan teman yang membuat saya semangat bertahan bahkan hingga puncak.

foto ini bersama teman-teman relawan di Family Suporting Group Tunas bangsa. yaitu sebuah FSG yang bertujuan meringankan beban anak-anak dengan kanker di RSUD Sardjito khususnya kelas 3. FSG ini bergerak dalam pendampingan dan tidak melakukan bantuan dalam bidang medis maupun keuangan. kami membatasi diri dalam wilayah pendidikan dan pendampingan.

foto ini saat 10 blogger terpilih hasil seleksi yang diadakan oleh pihak vivanews.com dan AustraliaAID. foto ini diambil di hotel santika bali, tempat dimana kami menginap selama berada di bali selama 3 hari. disana seluruh tim blogger mendapat pelatihan, dan pengetahun seputar kegiatan penanggulangan HIV/AIDS dan peran pemberdayaan ODHA. penelusuran dan kunjungan dimulai dari KPA-daerah, yayasan independen hingga kantong-kantong lokalisasi.

Read More...

Kamis, 19 Mei 2011

Menjadi Indonesia Dengan Sederhana

4 comments

ada satu ungkapan unik tentang negara yang diungkapkan oleh Orson Weles, seorang pengiat seni dari panggung perfilman Amerika, berbeda dari ungkapan kebanyakan yang sering kita dengar yaitu “jangan tanyakan apa yang sudah kau dapatkan dari negara tapi apa yang sudah kau lakukan kepada negara”, Orson Weles justru membuat sebuah kutipan unik yaitu “Ask not what you can do for your country. Ask what’s for lunch” jangan tanyakan apa yang dapat kau berikan untuk negara, tanyakan dengan apa anda makan siang” begitu kira-kira terjemahan bebasnya. kutipan unik ini tiba-tiba terngiang dalam telinga saya setelah sore tadi saya bertegur sap seperlunya dengan seorang loper koran di per-empat-an depan gramedia kotabaru yogyakarta.

tak banyak yang saya bicarakan dengan loper koran tersebut, tapi ada satu hal yang saya ingat dan berhubungan dengan kata-kata Orson, yaitu saat saya bertanya, “piye, laris ya…” kemudian dia jawab“wah, ng’go mangan wae esih kurang mas”. saya yakin loper koran ini tidak pernah berfikir negara atau nasionalisme hingga demokrasi libralisasi, buatnya yang penting jualan korannya bisa cukup untuk makan siang. tak peduli sumbangan terhadap negara yang penting pembeli korannya bayar dengan uang pas. begitula kira-kira wajah orang-orang Indonesia. saya katakan orang-orang Indonesia. bukan bangsa Indonesia.

itu karena saya agak sependapat dengan apa yang pernah di ungkapkan Pramodya bahwa tidak ada namanya bangsa Indonesia, yang ada adalah kumpulan bangsa-bangsa dari bangsa melayu,batak, minang, dayak, jawa, sunda, bugis, maluku, hingga papua dan ratusan suku-suku lan di kepulauan nusantara. yang saling bersatu membentuk sebuah Negara Kesatuan bernama Republik Indonesia. negara besar dimana setiap kepulauannya dihubungkan dengan lautan bukan dipisahkan karena suatu saat nanti saya percaya bahwa laut yang membentang bukanlah pemisah tapi sebuah penghubung, Indonesia Negeri kepulauan yang diikat oleh lautan.

kembali kisah saya di perempatan jalan bersama loper koran tadi, sambil memberi kembalian uang saya, penjaja koran itu nyeletuk ”mas, kok koran ga ono sing boso jowo yo… padahal kan neng jogja…”belum sempet saya pertanyaannya karena lampu sudah hijau, dan sekilas saja saya ambil kembalian saya tadi walau belum sempat saya jawab pertanyaannya tadi. sampai rumah terkenang-kenang saya dengan pertanyaan loper koran tadi. namun saya melihat lebih jauh, kenapa Indonesia pake bahasa Indonesia yang dekat dengan Melayu bukan Jawa, padahal komposisi warga penyusun Indonesia kebanykan Jawa. namun saya masih belum menemukan jawabannya, karena saya yakin dengung “Bahasa Indonesia adalah Bahasa Persatuan” seperti yang digema-kan dalam sumpah pemuda tahun 1928 tidak sekedar kebetulan.

berbicara tentang bahasa Indonesia tidak bisa lepas dari bahasa melayu dan ketika berbicara melayu tidak bisa lepar dari sebuh kerajaan bernama Riau dengan ibukota kerajaan Tanjungpinang, kerajaan yang wilayah-wilayahnya pecah menjadi beberapa negara lain diantaranya, malaysia, berunai, singapura dan tentunya Indonesia. dan traktat london -lah yang ditandatangani 17 mei 1824 memecah belah wilayah Riau-Lingga-Johor-Pahang menjadi terpecah belah atas dasar politik kolonial Belanda-Inggris. tapi saya sama seklai tidak akan membicarakan rumitnya sejarah perpecahan ini.

melayu yang terpecah belah ini menjadikan sebuah “perpecahan” bahasa dari rumpun kelompok bahasa melayu-polinesia ini dan ang di Indonesia terkenal dengan sebutan “melayu yang lebih luas”. bahasa melayu perlahan menjadi bahasa Indonesia yang tertera dalam UUD 1945 sebagai bahasa resmi. namun pada perkembangannya melayu sebagai bahasa mulai terpengaruh banyak hal, dimana malaysia mulai terkooptasi inggris-me dan di indonesia lebih dicampuri oleh bahasa daerah lain sehingga semakin kaya akan budaya lokal.

berbicara bahasa maka berbicara budaya, seorang pemikir kulit hitam bernama Frantz Fanon pernah menulis buku berjudul Black Skin, White Masks . penulis asal Martinique itu menyindir sikap orang-orang sebangsanya yang kehilangan akar budayanya, budaya dalam hal ini tidak sekedar tari dan musik tapi lebih jauh pada sikat, adat dan etis. lebih jauh Fanon memandang anak-anak kolonial perlahan menjadi corong kolonial itu sendiri maksudnya dalam bahasa sederhan bekas jajahan perlahan menjadi penjajah bagi bangsanya sendiri. simaklah sebuah novel trilogi yang meng-amiin-i buku dari Fanon tersebut, novel trilogi karya penulis nigeria bernama Chinua Achebe yaitu trilogi Faal Apart, No Longer at Ease, Arrow of God. menggambarkan kepala suku bernama Okonkow yang berusaha keras mempertahankan budaya dan adatnya harus menerima kenyataan bahwa anaknya sendiri diremukan dari marwahnya oleh orang-orang kulir putih. anak Okonkwo memeluk agama kulit putih, belajar ke luar negeri mendapat jabatan bagus dan akhirnya korupsi dan menjadi penjajah negerinya sendiri.

wajah-wajah itulah yang seperti tergambarkan pada orang-orang indonesia kita kini. wajah-wajah kebanyakan yang sudah mulai kehilangan anggah-ungguh serta etis budaya, mulai melupakan adat-istiadat suku bangsa, menjadi internasional namun mengikis habis budaya lokal, mengejar banyak hal namun menyingkirkan yang lainnya. hal-hal seperti itu tidak hanya terjadi pada saat-saat abad milenium kini saja dimana akses sudah sangat mudah, bahkan pada tahun 1960-70an kebudayaan mengalami pancaroba yang dahsyat, hingga sebuah gerakan-gerakan “nasionalisme” mulai muncul pada tahun 1970an, dari sastra, budaya, animasi hingga arsitektur. di sastra misalnya, selepas gebrakanPengakuan Pariyem yang kental budaya jawa dari Linus Suryadi hingga Upacara dari Korrie Layun Rampan yang kental budaya Kalimantan, kini mulai dariLaskar pelangi ala belitong hingga Negeri 5 Menara dari minang mulai merambah dunia sastra.

perlahan kebenaran dari pemikiran Franz Fanon mulai terabaca Di Indonesia tapi di saat yang sama keyakinan saya bahwa masih banyak sebagian Masyarakat Indonesia yang tetap memegang teguh akar budayanya dan yang sadar akan budayanya juga semakin banyak. dunia ini rimba siapa yang akan bertahan, masih misteri. namun Indonesia tetaplah Indonesia, bangsa yang terbentuk dari ratusan suku bangsa, diikat oleh Bahasa Persatuan bahasa Indonesia, bahasa yang tak hanya sebatas bahasa resmi tapi juga sebuah jembatan komunikasi antar suku yang berbeda makna kata.

diawal saya menulis agak setuju dengan kata-kata Pramodya tentang bangsa indonesia, artinya ada sebagian yang tidak saya setujui. saat Pramodya mengatakan tidak ada bangsa Indonesia, maka saya bisa katakan bangsa Indonesia itu ada, yaitu Bangsa yang terdiri dari ratusan rumpun suku bangsa. inilah hal yang paling Indonesia dan tidak akan ada dinegara manapun, sebuah negara yang terdiri dari ratusan juta manusia, yang terbagi dalam ratusan rumpun suku adat dan tersebar di ribuan pulau, diikat oleh bahasa, dihubungkan oleh lautan menjadikan negeri ini penuh dengan anugrah Tuhan. mari cintai dan menjadi manusia-manusia Indonesia yang sederhana, tak perlu ikut larut dalam segala pertentangan dan perseteruan elit penguasa, nukamtilah menjadi rakyat menjadi manusia Indonesia, tanpa kekerasa dalam persatuan penuh senyuman.
Read More...

Kamis, 14 April 2011

Pasar Malam

Leave a Comment
sumber foto : jadi berita.com

negeri ini layaknya sebuah pasar malam, dan undang-undang hanyalah sebuah coretan penuh keplasuan. undang-undang yang dibuat oleh para badut-badut senayan sesungguhnya adalah dinding-dinding ketidakadilan, dibalik dinding-dinding undang-undang itulah kita para penonton hanya bisa menatap politik tanpa etika, kekayaan tanpa kerja keras, perdagangan tanpa moral, pengetahuan tanpa karakter kesenangan tanpa nurani, dan raga tanpa jiwa.

kita adalah penonton para badut-badut senayan bergaya di dinding kamera, berdecak pinggang merasa negari ini milik pribadi. para badut pemain sirkus menari dan tertawa dalam mitologi diri mereka, bicara tentang kebebasan namun menjadi penjajah, menjadikan kita para penonton pertunjukan sirkus pasar malam para badut-badut senayan atas dasar demokrasi dan perwakilan, tak perlulah kita marah cukup tertawa menyaksikan aksi mereka. dan kita para penonton adalah penikmat aksi-aksi mereka di layar kaca dan lembaran koran. nikmati saja aksi para badut yang setia.

-dua paragraf untuk di tulis di prasasti peletakan batu pertama, tempat pertunjukan sirkus berikutnya-
Read More...

Jumat, 01 April 2011

Benarkah Taufiq Ismail Melakukan Plagiat?

Leave a Comment

ada kabar hangat akhir-akhir dikalangan sastrawan dan para penyair indonesia, yaitu pertanyaan besar apakah Taufiq Ismail melakukan plagiat atas karya Douglas Malloch?. pertanyaan ini menjadi teka-teki besar karena muncul setelah perngatan 55 tahun (1953-2008) terjunnya Taufiq Ismail dalam dunia sastra. namun hingga kini sesepuh dari Majalah Sastra Horison tersebut masih belum buka suara tentang kasus plagiat tersebut. yang telah mengeluarkan pernyataan justru Fadli Zon (Ketua Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail berkarya tahun 2008) Fadli Zon juga yang terlibat dalam pembukuan 1076 halaman puisi-puisi Taufiq Ismail yang berjudul “Mengakar ke Bumi Menggapai ke langit. dugaan plagiarisme yang dilakukan Taufik Ismail dalam puisinya -diduga- berjudul KERENDAHAN HATI atas THE BEST OF WHAT EVER YOU ARE Doglas Malloch seorang Fermeson.

mari kita bandingkan kedua puisi tersebut :

BE THE BEST OF WHATEVER YOU ARE
By Douglas Malloch

If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley — but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.
If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass —
But the liveliest bass in the lake!
We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,
There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.
If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;
It isn’t by size that you win or you fail —
Be the best of whatever you are!

KERENDAHAN HATI
Oleh Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau.
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yangmemperkuat tanggul pinggiran jalan.
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

mirip kah?
amat sangat mirip, malah kalau kata bahasa ngapak namanya plek-jiplek. namun tuduhan atas tindakan plagiat ini dibantah oleh Fadli Zon, fadli Zon menggap bahwa “tuduhan plagiat adalah tuduhan serius dan bisa menjadi kematian perdata bagi penulis. Oleh karena itu harus dibuktikan dimana plagiatnya.” ketika ditanyakan lebih lanjut, Fadli Zon sebagai Ketua Panitia 55 Tahun TI berkarya tidak pernah tahu karya TI itu. Tidak pernah dengar juga TI membacakannya. Padahal hampir di setiap pembacaan puisi TI dirinya selalu hadir. Demikian pula tak ada di buku kumpulan puisinya yang 1076 halaman itu.

kesimpulannya dari diskusi sampai tadi malam di “lapak” pegiat sastra, kebudayaan, dan teater Bramantyo Priyosusilo yang pernah aktif di Bengkel Teater Rendra 1983-18987. kuatnya argumen dari Fadli Zon bahwa tidak pernah menemukan satupun puisi berjudul “Kerendahan Hati” di daftar semua karya dari Taufiq Ismail dari tahun 1953. tidak ada argumen kuat yang menyatakan Taufiq Ismail melakukan plagiat jika tidak ada bukti “refrensi” resmi, tidak sekedar saling kutip di internet. hinggap saya sempat urun kata, “saya kira kita mendapatkan kesimpulan dari diskusi ini”.

menarik jika kita mengutip pernyataan Bambang Eko Susilo, “perlu diketahui juga, bahwa “Kerendahan Hati” itu salah satu bahan perenungan yg dibacakan pada apel pagi di hadapan 100an lebih siswa pendidikan dasar sebuah perhimpunan pendaki gunung penempuh rimba tertua yg dimiliki bangsa ini, dan itu dilakukan sejak 70an hingga terakhir th. 2010 lalu. pada halaman buku materi latihan pokoknya pun dilampirkan pula bait-bait “Kerendahan Hati” tanpa tulisan “Taufik Ismail” di bawahnya.”

artinya kata-kata itu sudah banyak beredar sejak lama, tanpa nama Taufiq Ismail, bahkan sumber tertua yang saya dapat dari internet yaitu pada tahun 2007, dan kemudian muncul di youtube sekitar 2010. pertanyaan besarnya kemudian adalah apakah Taufiq Ismail tahu tentang hal ini (Kerendahan Hati dianggap milik Taufiq Ismail)? jika tahu mengapa tidak pernah ada klarifikasi? pertanyaan ini terus mengemuka dibeberapa kalangan.

saat pernyataan Fadli Zon tadi malam seputar bukti otentik cetak atau pernyataan Taufiq Ismail soal Puisi tersebut belum bisa dibuktikan. hari ini saya mendapat gambar scan dari sebuh buku mata pelajaran bahasa indonesia dari saut situmorang.


dengan munculnya “bukti” ini maka pertanyaan Fadli Zon seputar bukti otentik tersebut terjawab sudah. apakah taufik ismail itu taufiq ismail? silahkan tebak sendiri. ini seperti pertanyaan gunawan muhammad atau goenawan muhammad. saya tidak akan berdebat ini karya taufik atau taufiq saya kira anda faham kan. maka bukti ini memunculkan 2 kemungkinan:

pertama. sang penulis proyek buku bahasa indonesia tersebut memang mengutip karya taufiq ismail dari refensi resmi, maka refrensinya dari mana?
kedua. penulis buku tersebut hanya asal kutip tanpa refrensi dan tanpa ijin, jika pun itu benar “karya” taufiq ismail.

maka kemudian kunci jawaban atas kasus ini terletak pada penulis buku ”Terampil Berbahasa Indonesia Kelas VIII SMP/MTs”. silahkan anda sendiri yang menilai, namun jangan terburu nafsu karena Taufiq Ismail sendiri masih belum mengeluarkan pernyataan hingga saat ini. bersabarlah.

Read More...

Jumat, 18 Maret 2011

Berhenti

Leave a Comment

senja merona, garis-garisnya begitu cantik menggurat setiap gumpalan awan putih yang mulai menghitam, dan terpaan lembayung membuat pesona semakin indah walau matahari tak tampak kali ini. berkejaran dengan jingga yang memudar seorang anak kecil berlari dengan keringat yang peluh jelas terlihat menetes dari dahi membentuk aliran air yang menetes dari dagu yang tumpul itu. bibirnya yang kering membentuk garis-garis yang merekah seperti tanah-tanah petani yang kehilangan saluran irigasi di musim kemarau. tapi matanya menatap tajam berkobar penuh harapan dan semangat. hiduknya tampak memompa udara lebih kuat dari ukuran normal, nafasnya jelas tersengal-sengal, melodi nafas itu bersimfoni dengan hembus angin sore dan sangat merdu, namun teriakannya memekakan telingan begitu keras sambil melambai,

kfk.kompas.com sumber foto
“berhenti………” teriak anak itu

entah kepada siapa dia berteriak, kepada senja kah untuk menunda kedatangan malam, kepada manusia yang berjalankah untuk sejenak istirahat dari akrifitas atau pada kendaraan yang melaju yang penat mengangkut manusia-manusia sombong tak tahu diri. tak ada yang berhenti, kecuali seorang kakek tua bercelana pendek dan berkaus putih yang tengah mengayuh sepeda onta. pak tua itu sepertinya mengenali nada yang menggema dari pita suara anak kecil tadi, dengan perlahan, pak tua itu menghentikan sepedanya, dia turunkan kaki kirinya yang tanpa alas kaki untuk menginjak tanah, dan dengan perlahan kepala kakek itu memutar 180 drajat searah jarum jam dengan raut muka penuh tanya. perlahan matanya menyudut mendahului wajahnya, dan seperti bereaksi, pesan dari mata masuk melalui deretan rangkayan syaraf di otak memberi kabar bahagia kepada bibir dalam sepersekian nano detik, bibir kakek tua merekah dan rona wajah penuh tanya tadi seketika berubah memancarkan kebahagiaan. seketika itu juga mulutnya terbuka dan berteriak,

“berhenti….” teriak kakek itu
si anak kecil tadi berhenti berlari, dengan tatapan heran dan penuh tanya, kemudian dengan pelan dan tegas dia mengeluarkan suaranya kembali,

“ada apa kek…?
kakek itu menjawab “biar kakek yang menyusulmu kesitu”
“tidak perlu, saya saja yang kesitu, bukankah saya yang menyuruh kakek berhenti tadi”balas si anak kecil

“tidak, ini salah kakek, yang tak sadar telah meninggalkanmu tadi”

“bukan, kakek tidak salah… sayalah yang seharusnya minta maaf karena telah berbuat tidak sopan dengan menghentikan perjalanan kakek”

“baiklah kalau begitu, sekarang biarkan kakek berbalik arah untuk berjalan kearahmu nak…”
“tidak perlu, biar saya yang kesitu”

“jangan dipaksakan, aku memakai sepeda sedangkan kau jalan kaki, harusnya aku yang menyambangimu”

“bukan begitu kek, biar saya yang berjalan ke arah depan dan kakek berdiri disitu”
malam semakin gelap dan lembayung senja mulai hilang ditelan kegelapan, tak ada bulan tak ada bintang, mendung menutup semua sinar yang mestinya berkilau tat kala malam datang menyapa.

“tadi saya yang mengejar kekek, jadi biarkan saya berjalan sedikit lagi” tegas anak itu
“tidak nak, kau sudah berlari kini biarkan aku kembali mengayuh ke arahmu” sang kakek berujar lebih tegas

semakin lama semakin hening, sedikit isak jangkrik malam yang tersisa dalam gelap tanpa cahaya, benar-benar gulita, hingga anak kecil dan kakek tua tadi tak bisa saling melihat
Read More...

Rabu, 16 Maret 2011

Istirahat Menyepi Membeku

Leave a Comment

aku ingin tenggelam dalam setiap halaman, terkapar dalam setiap kisah jiwa yang terkapar. manusia naif yang tenggelam dalam rindu yang tak berdasar, biarkan kini sejenak menyepi dari riak mimpi yang tak bergambar. berlari menjauh dari kebisingan dan keresahan, menjadi pohon yang tumbuh dalam sepi, menjadi bunga yang mekar dalam hening, menjadi rumput yang bergerak dalam tenang, menjadi bintang yang bersinar dalam gelap, menjadi bulan dan matahari yang bergerak dalam diam. biarkan tenggelam dalam kisah yang terus diam. kini air pun telah membeku.

maafkan diriku jika kali ini aku tak sempat pamit padamu, kuingin sendiri kali ini. merenungi hidup yang kian hari bergerak tanpa rasi. setiap jejak langkah yang kudaki adalah rangkaian mozaik yang berada dalam janji untuk tersusun rapi. tapi sepertinya semua itu masih mimpi karena mozaik tak pernah jadi. beristirahat dalam hidup untuk berlari dalam sepi hingga diri ini membeku dalam mimpi.
Read More...

Senin, 07 Maret 2011

Kunang-kunang dalam Kenangan

Leave a Comment

saya yakin tidak semua orang pernah melihat kunang-kunang secara langsung. serngga kecil yang hidup di dataran tropis ini sangatlah spesial, selain karena termasuk serangga yang “langka” tapi juga karena mampu berkelap-kelip dengan indah.

dulu waktu saya masih kecil dan tinggal di kampung, serangga ini bukanlah hewan mewah, karena tiap kemarau, biasanya kunang-kunang muncul di halaman rumah secara “gaib” atau jika ingin melihat sekumpulan kunang-kunang dalam jumlah besar tinggal berjalan beberapa langkah ke arah sawah. maka akan di sambut tarian magis para kunang-kunang.

bermain, berlari, bersama kunang-kunang diantara rumput-rumput dan deretan pohon di hutan ujung desa masih meninggalkan memori indah hingga kini. tawa dan canda di tengah dengung serangga dan kelip cahaya tak kan hilang digerus waktu. tapi kenangan indah itu kini seperti bayangan hantu kekhawatiran, bahwa semua itu hanya tinggal kenangan.

di kampung saya, unang-kunang sering di sebu dengan “cicika”. biasanya selalu dianggap kuku mayat. itu menjadi cara orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak supaya pulang ketika malam semakin larut. karena anak-anak kalau sudah mengejar kunang-kunang suka lupa waktu. apalagi ketika itu di kampung belum ada listrik PLN, jadi segala yang bercahaya seperti, kunang-kunang, bulan purnama hingga jamur yang bisa bercahaya hijau selalu menjadi daya tarik tersendiri.

cahaya di malam hari bak sebuah anugerah yang luar biasa kala itu. tapi kini semenjak tinggal di jogja saya kehilangan semua itu, memang semuanya bercahaya, malam dan siang sama saja. tapi lama-kelamaan, cahaya tidak lagi menjadi sesuatu yang begitu luar biasa. tidak ada lagi kunang-kunang yang bisa di kejar, ditangkap, dan di ajak bermain-main.

hilang sudah semua itu. jogja memang begitu bercahaya di malam hari, hampir semua cahaya lampu dari jenis apa saja dalam berbagai versi ada semuanya indah, tapi itu semua serasa hampa, saya seperti kehilangan cahaya-cahaya masa kecil di kampung. tak ada lagi kelip kunang-kunang, tak ada lagi cahaya jamur yang hijau dalam kegelapan, hingga sinar rembulan yang purnama pun tenggelam dalam lautan neon dan lampu kota walau sudah di bantu kelip bintang.
Read More...