Senin, 31 Mei 2010

Berdakwah dengan Kekerasan dan Kebencian, Haruskah?

Leave a Comment

mungkin ada Tuhan di suatu tempat, bersembunyi. Sebenarnya, jika Dia tetap tidak terlihat, mungkin itu karena Dia “malu” pada para -yang mengaku- pengikut-Nyayang merasa bertanggung jawab untuk mempromosikan nama-Nya dengan melakukan semua kekejaman dan kebodohan.

Allahuakbar ,semasa saya kecil kata itu hanya di teriakan dalam adzan, dan sekalinya di terikan adalah ketika menyambut dua hari raya besar idul fitri dan idul adha, teriakan itu tidak pernah terdengar di pasar apalagi di barengi dengan gerakan tangan memukul dan menghancurkan. dulu kata itu di terikan hanya saat memukul bedug dan kentongan, bukan memukuli manusia, melempar baru, hingga menghancurkan. dulu saat kecil yang meneriakan itu adalah anak-anak bercelana kolor berkaus oblong dengan peci hitam dan sarung yang dislempangkan di bahu. kata Allahuakbar begitu agung, hingga takbir hanya didengungkan dengan nyaring dan penuh hikmah ketika akan menymbut hari besar.

kini kata itu sangat pasaran, mereka yang berjubah, berpakaian persis orang-orang arab, sering berteriak dengan lantang di mana-mana, seolah esensi kata itu hanya untuk menghancurkan, untuk perang, seolah dengan kata itu, para “pendakwah” mendapat legitimasi Tuhan, dan merasa besar dan berhak berbuat seenaknya. tidakkah mereka memahami esensi dari takbir.

Takbir terucap ketika pangkal utama syaraf bergerak untuk berserah dan bersimpuh dihadapan sang khalik, takbir bukan membuat manusia mengepalkan tangan keatas, mata garang dan melotot kedepan dengan tongkat dan celurit, tapi esensi takbir adalah meletakan kedua tangan didada, menundukan kepala, khusyu menunduk, berserah diri, bahwa takbir itu Allahuakbar adalah menempatkan posisi Tuahan pada kebesaran yang maha dasyat dan manusia maha esensi yang sangat kecil. ketika takbir terucap saat itu adalah pengakuan bahwa manusia bukanlah apa-apa dan tidak berhak untuk menghancurkan, tidak berhak memukul karena bahwa sejatinya semua adalah makhluk yang dicipta Allah Subhanahu Wa’tala.
tapi mereka yang berjubah di jalanan selalu merasa berhak menjadi seolah penegak kebenaran sejati, seolah bahwa pemahamannya adalah yang paling benar, Hujjah-nya, tidak tanggung-tanggung seperti membela Islam, menegakkan syariat, amar makruf nahi munkar, memurnikan agama, dsb. Cirinya yang menonjol : sikap merasa benar sendiri dan karenanya bila bicara suka menghina dan melecehkan mereka yang tidak sepaham. Suka memaksa dan bertindak keras dan kasar kepada golongan lain yang mereka anggap sesat. Seandainya kita tidak melihat mereka berpakaian Arab dan sering meneriakkan “Allahu Akbar!”, kita sulit mengatakan mereka itu orang-orang Islam. Apalagi bila kita sudah mengenal pemimpin tertinggi dan panutan kaum muslimin, Nabi Muhmmad SAW.

Seperti kita ketahui, Nabi kita yang diutus Allah menyampaikan firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya, adalah contoh manusia paling manusia. Manusia yang mengerti manusia dan memanusiakan manusia. Rasulullah SAW seperti bisa dengan mudah kita kenal melalui sirah dan sejarah kehidupannya, adalah pribadi yang sangat lembut, ramah dan menarik. Diam dan bicaranya menyejukkan dan menyenangkan. Beliau tidak pernah bertindak atau berbicara kasar.

boleh saja mungkin mereka selalu menghapal hadist-hadist dan ayat Al Quran tentang perjuangan, dan segala macamnya, tapi mungkin saja mereka lupa atau melewatkan hadist
Sahabat Anas r.a yang lama melayani Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan imam Bukhari, menuturkan bahwa Rasulullah SAW bukanlah pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan orang yang kasar.
Sementara menurut riwayat Imam Turmudzi, dari sahabat Abu Hurairah r.a:Rasulullah SAW pribadinya tidak kasar, tidak keji, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar.
Jadi, saya tidak bisa mengerti bila ada umat Nabi Muhammad SAW, berlaku kasar, keras dan kejam. Ataukah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka yang begitu berbudi, lemah- lembut dan menyenangkan; atau mereka mempunyai panutan lain dengan doktrin lain.
saya hanya menyayangkan saja pakaian jubah putih khas Rosul itu harus ternoda dengn sikap yang sesungguhnya tidak mencerimnkan sikap dan sifat Rosul. bukankah Allah pernah berfirman dalam salah satu ayatnya Fabima rahmatin minallaahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika …” , Maka disebabkan rahmat dari Alllah, kamu lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu berperangai keras berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”

karena sikap yang penuh kebencian ini justru menjauhkan Islam dan wajah lemah-lembut. Kalau memang ya, bukankah kitab suci kita al-Quran sudah mewanti-wanti, berpesan dengan sangat agar kita tidak terseret oleh kebencian kita kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah (bukan karena yang lain-lain!), menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Baca Q. 5: 9).

Hampir semua orang Islam mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus utamanya untuk menyempurnakan budi pekerti. Berdakwah adalah menarik orang bukan membuat orang lari.dan bagaimana mungkin menarik dan mengjak orang berbuat kebaikan dengan sikap yang kasar dan dainya sangar-sangar. orang justru akan benci dan tidak simpatik, jika pun mungkin orang akan ikut, itu bisa jadi akibat ketakutan, bukan atas dasar hati yang tercerahkan.
Read More...

Kamis, 20 Mei 2010

Semoga Pembuat Karikatur Nabi Diberkati Tuhan

Leave a Comment

Islam itu Rahmatan lil alamin, agama universal, komprehensif (syumul), lengkap dengan dimensi edoterik dan eksoteriknya. Sebagai agama agama universal (rahmatan lil alamin), Islam mengenal sistem perpaduan antara apa yang disebut konstan-nonadaptabel (tsabuit) di satu sisi watak Islam yang ini tidak mengenal perubahan apa pun karena berkaitan dengan persoalan-persoalan ritus agama yang transenden, nash yang berkaitan dengan watak (konstan-nonadaptabel) ini dalam al-Qur’an maupun hadist sekitas 10%, yang berupa diktum-diktum ajaran agama yang bersifat kulli dan qoth’I yang konstan dan immutabel.

akhir-akhir ini gonjang-ganjing kartun nabi kembali marak, walaupun masih ada kecama keras, toh suaranya tidak sekeras dahulu, mungkin kebanyakan umat Islam sudah menjadi “maklum” atau umat islam justru menjadi masa bodoh. lalu apa yang harus umat islam lakukan? sebuah pertanyaan sederhana yang akan dapat menimbulkan banyak jawaban dan pendapat. dari yang munglaknat pelakunya hingga mungkin ada yang mem-fatwa-kan pembunuhan. semua orang bisa menjawab dengan beragam tafsir dan kegeraman masing-masing.

tapi saya akan mengajak menengok sejarah sedikit saja, untuk membuka kembali sejarah perjuangan Nabi Muhammad. menilik hijrah Nabi ke Thaif. Di sana Rasul dilempari batu dan dilempari kotoran oleh orang-orang kafir. Dan Nabi justru mendoakan mereka.Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun (Ya Allah berilah petunjuk kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengerti)…

mari kita renungkan apa yang akan dilakukan nabi jika melihat karikatur itu mungkin beliau juga akan menjawab, “Allahummahdi qaumi…

“Jika seperti itu, beranikah kita tidak bilang seperti itu? Beranikah kita mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan ucapan Nabi?”

bagi orang yang tahu bahwa cinta Allah kepada Islam begitu besar, maka tak ada kesedihan. Itu layaknya kakang kawah adi ari-ari.

“siapa orang kafir yang paling melawan Rasul?” .Abu Jahal. Abu Sufyan, dll.

Pada saat fathu makkah ketika pasukan Islam dari MAdinah berhasil merebut kembali kota Mekkah, Rasul berbicara di depan orang-orang Islam dan musuh-musuh dan para tawanan perang. ‘Hadzal yaum laisa yaumul malhamah wa lakin hadzal yaum yaumul markhamah wa antumut tulaqa‘. Hari ini bukanlah hari kebencian, tetapi hari ini adalah hari kasih sayang. Dan kalian (para tawanan) adalah orang-orang yang saya bebaskan/merdekakan….,”

pasukan Islam mendengar pidato itu merasa schok dan terkejut. berjuang hidup mati, diperhinakan dilecehkan sekian lama, dan saata kemenangan di depan mata, saat berada di atas angin, ketika dendam yang menumpuk berkecamuk. Rosul justru mengampuni dan bahkan melarang uamt Islam untuk mengambil harta benda rampasan perang, semua harus dikembalikan. dan pasuka Islam tidak memperoleh apa-apa.

sehingga mengeluh dan memprotes, tapi nabi kemudian berpidato,

“sudah berapa lama kalian bersahabt denganku?”
mereka menjawab berfariasi, sekian tahun, sekian tahun, sekian tahun…

“selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

“tentu saja mencintai rasulluloh”

dan rosul mengakhiri pertanyaannya, “kalian lebih memilih mendapatkan unta, harta rampasan serta berhasil meluapkan kebencian dan dendam yang menumpuk ataukah kalian memilih cintaku?”

menangislah mereka karena cinta Rasulluloh kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan langit dan bumi.

saya tidaklah mengajak untuk menyepelekan atau membiarkan begitu saja, acara menggambar karikatur Nabi, tentu saja sebagai umat islam tidak bisa begitu saja kita diam, perlu ada sebuah action yang kita lakukan, sebuah sikap kita sebagai muslim yang Rahmatan Lil Alamin, seperti doa yang sering diucapkan, Bismillahirohmannirrohim,  dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. mari kita sikapi semua ini dengan rasa kasih sayang, dengan cinta, dengan kedamaian.

Cinta saya kepada Rasul tidak berkurang sedikit pun oleh penghinaan itu. Kasih sayang Rasul lebih luas dari semesta. Rasul bersegera kepada Allah untuk memintakan ampun bagi mereka. Cinta jangan membikin gupuh. Cinta jangan sampai bikin gampang jatuh, jangan gampang marah.

mungkin doa kita tidaklah, mengharap merekakemudian tobat dan masuk islam, tapi mari kita doakan suapay mereka yang melakukan penghinaan diberkati, diberi hidayah, dikasih pencerahan, bahwa minimal, mereka merasa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan yang menyakiti sebagian manusia di bumi. karena mungkin saja seperti -kata Rasulluloh- hanyalah fainnahum la ya’lamun….
Read More...

Senin, 17 Mei 2010

Mainan Baru Masyarakat Indonesia

Leave a Comment

Too bad that all the people who know how to run the country are busy driving taxicabs and cutting hair.” (George Brunes)

tulisan ini saya buat disela-sela ketidakjelasan cuaca jogja siang ini. tidak panas, tapi mendung, tidak hujan tapi agak cerah. mungkin lebih tepatnya teduh, penuh misteri. sebuah kutipan dari George Brunes di atas sebenarnya (dalam pemahaman saya) hanyalah sebuah ungkapan sindiran kepada para pemimpin bangsa maupun para wakil dari rakyat beserta para pejabat di sebuah negara. bahwa mereka yang mengerti negara lebih hobi bersafari dan bersolek.

perdebatan sok bersih, sok suci, dan merasa diri serta golongannya terbaik dengan beripjak pada kata rakyat sebenarnya sudah membuat saya muak dan ingin muntah. perdebatan itu sudah menghiasi hampir semua isi koran dan tiap menit pemberitaan televisi. semua itu intinya -menurut saya- hanyalah sebuah perebutan kekuasaan, dan siapa yang akhirnya berkuasa ia bisa menguasai segalanya. suka atau tidak hal itu adalah sebuah kenyataan yang kita hadapi termasuk di Indonesia.

sebenarnya kita tidak akan pernah pergi kemana-mana, meskipun kita melalui ribuan peperangan dan kemenangan, melibas pesaing, kemudian memenangkan pemilihan, setelah itu mempertahankan kekuasaan, naik menjulang di tangga popularitas, mendapatkan semua kemegahan, mengeruk gunung emas, menjadikan ribuan orang menjadi dayang dan budak, yang melayani makan, menyikatkan gigi, menyuapi makan, bahkan hingga menyeboki dubur. kita tidak akan pernah pergi kemanapun kecuali kembali kepada Sang Pemilik Hidup.

semua apa yang kita curi dari bangsa ini, dari tanah hingga truliunan rupiah untuk bersafari kemanapun di dunia ini pada hakekatnya akan dikembalikan kepada Sang Empunya Dunia.
tidak ada kekuasaan yang benar-benar diraih, tak ada kemenangan sejati yang benar-benar di dapatkan. seorang petarung yang menjatuhkan lawannya janganlah langsung berbangga diri, siapa tahu setelah satu jam berikutnya keadaan bisa berbalik. kemenangan pada sejatinya hanyalah berlaku sesaat, dan menginjak detik berikutnya kemenangan itu sudah tidak memiliki substansi.

Indonesia boleh menjadi Juara Dunia Demokrasi, memilih Presiden langsungdengan rekor jumlah pemilih dan rekor keamanan pemilu. tapi apa hasil dari puncak demokrasi itu ? mungkin kita harus bertanya pada hati nurani dan akal sehat kita, mungkin kita harus jujur supaya tidak terkontaminasi oleh jawaban dari luar.

dan salah satu impian saya adalah pada pemilu mendatang semoga Allah menjadi pencoblos pertama, dan semoga coblosan pertama itu adalah hidayah yang mengiring seluruh pemilih nusantara “yadhuluna fi dinillahi afwaja” berduyun-duyun memasuki cakrawala Allah.
anda boleh saja menganggap saya sedang bermain retorika.Tidak. ini sungguh-sungguh, dan saya harap jangan hanya mengandalkan ilmupengetahuan baku dari sekolahan dan Universitas, sebab mungkin saja penelitian di wilayah itu tidak akan menyentuh hati nurani.
sadar atau tidak, saat ini kita atau mungkin sebagian dari kita sedang menghabisakan waktu untuk bermain-main menunggu kematian, dan mainan kita namanya, negara, demokrasi, teroris, korupsi, clean governance, pengajian, tausiyah, band, komedi, sinteron, Infotainmenet, hukum. hingga piaraan baru seperti ubur-ubur, kucing, cicak, buaya, dan sepertinya kita mulai lupa dengan burung Garuda dengan 5 tonggak falsafah hidup bangsa ini yaitu Pancasila yang tengah mati (semoga hanya mati suri).
Read More...

Rabu, 12 Mei 2010

Horeeee…Susno di Tangkap

Leave a Comment

pertama-tama dan yang paling utama, saya mohon maaf yang segede-gedenya buat para FBS alias Fans Berat Susno, karena saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung temen-teman sekalian dengan judul diatas. :) sebenarnyaapa yang membuat saya bahagia adalah ternyata jendral saja bisa ditangkap. hehehe… pasti banyak yang protes dengan saya, ga apa-apa lah namanya juga demokrasi, asal perbedaan pendapat tidak membaut kita saling menghujat dan mem-bangsat-kan seperti para anggota DPR yang -merasa- terhormat padahal dimata saya anggdo eh anggota DPR hanyalah sekumpulan Rakyat -yang merasa- menjadi wakil, itu cuma perasaan mereka saja.

kembali ke padhe sosnoe yang sedang merasa terdzalimi oleh institusinya sendiri. terdzalimi atau tidak itu cuma perasaan dia saja dan keluarga serta para penggemarnya, karena dimata saya orang ditangkap tidur dipenjara itu biasa, saya juga pernah disuruh tidur di penjara anak-anak salah satu polsek di banyumas, wekekek… buka rahasia, catat bukan saya berbuat kriminal tapi karena saya emang numpang tidur di kantor polisi itu, hehehe….

oke oke oke, penasaran ya kenapa saya bahagia ? heehhe, semoga tidak,,, karena saya bukanlah arwah penasaran hihiihihi…. saya ingat saat masa lampau dimana kisah kepopuleran om sosnoe di moelai, ketika dia dengan gagah ngejek cicak sama KPK, dan habislah dia oleh media, semua media dan mayoritas publik menuntut sosnoe ah susno aja, susno untuk mundur, tekanan demi tekanan dilayangkan, apa yang terjadi sodara-sodara sekalian kapolri justru melindunginya setengah mati, dan kapolri juga memberi panggung untuk susno curhat di DPR dengan tetesan airmata -yang ketika itu dianggap- buaya.

seluruh intitusi polri ketika itu habis dihujat masyarakat hanya karena tindakan bodoh ucapan susno yang koonyol, hingga saat ultah brimob, kapolri dengat terbata-bata berujar “biarkan institusi polri dihujat, yang penting kita tetap bekerja profesional dari pos di pinggir jalan hingga mabes dan disambut dengan ucapan “kami bangga menjadi anak buah jendral dari para brimob saat itu. dosa kecil susno yang hanya bercanda jelas sangat menghabisi polri yang ketika itu dinobatkan sebagai jajaran polisi terbaik dunia disandingkan dengan FBI.

akhirnya mabes menyerah, -kita- masyarakat yang sudah dihipnotis mendia bahwa Susno seorang “bangsat” menjadi pemenang, Susno lengser, berhenti. dan dijadikan Pati (pejabat tinggi polri tanpa kerjaan alias dapat gajih buta), susno merasa sakit hati, dia merasa disingkirkan. tapi saat itu media belum puas dan menuduh polisi masih memelihara buaya, dan menuntut susno harus pergi dari markas, tapi polisi enggan nurut begitu saja.

kini sejarah berputar, susno kembali “menghabisi” institusinya dengan menjadi “pahlawan” katany loh bukan kata saya. susno mengemis dan mempublikasikan diri sebagai makhluk terdzalimi, mengais simpati menjaring empati masyarakat dengan konfrensi pers dan reality show, melalui media. kebetulan metro tv dan tvone tidak punya acara reality show khusus seperti gaya tv yang lain, maka peluang ini dimasuki, denga tiap hari mempublikasikan kehidupan susno dari ke masjid (kelihatan alim) makan bersama (harmonis) tidur di kamar (sok sakit) dan macam-macam, jujur saya mau muntah melihatnya seperti emlihat gaya termehek-mehek weks….

anda bermain api, bersiaplah terbakar

susno dengan sombong -versi saya-. ketika di DPR bahwa dia berani mati, ungkapan ini buat saya terlalu sombong dan berlebihan, ga usah lebay lah, biasa aja. kalau mau bongkar ya bongkar saja ga usah pake pamer keberanian, sok pahlawan. anda bermain air jangan marah jika suatu saat air itu membasahi baju anda, begitu tho, dan jangan protes jika ada orang yang marah ketika ada orang menyiram anda dengan seember air karena dia terkena percikan air yang anda mainkan. tanggunglah resiko dan jangan cengeng, bukankah jendral itu tidak cengeng.

saya paling tidak suka uangkapan kaliamt tentang susno yang berbunyi “jika jendral saja diperlakukan seperti itu bagaimana rakyat biasa …? ucapan najis ini sunguh-sungguh menyingung ujung hati terdalam saya .. lebay… lebay…. hehehee, tapi jujur saya memang tidak suka dengan ungkapan itu, seolah-olah menandakan bahwa jendral harus diperlakukan berbeda, sperti kalu mau menangkap harus “maaf pak, anda saya tangkap boleh, silahkan pak menuju mobil, harus saya gendong” wekekek…. saya justru berharap para pejabat dan jendral itu ditangkap dengan digelandang dan seret seperti maling-maling ayam yang terkadang diperlakuakn tidak manusiawi.

hebat ya jadi susno, setelah ditangkap, keluarga langsung konfrensi perss, besoknya dijenguk anggota DPR, istrinya mengadu ke istri presiden lewat sekertarian negara, coba lihat nenek pencuri kakao di banyumas, atau seorang guru yang mengadu ke ibu ani karena sutet, kemudian di ciduk intelejen. manja manja manjanyaaa…….. emang lo sapa hah….. karena udah dianggap pahlawan sama banyak orang, maaf dimata saya tidak sama sekali.

boleh lah saya dianggap anti susno, dan pembela polisi, tidak apa-apa, toh dari lubuk hati terdalam saya benci poisi gara-gara pernah ditilang Rp.10.000 karena motor ga ada tutup pentilnya, reseh kan tuh polisi, emang bikin kesel hati kadang-kadang. tapi saya juga berterimakasih pada polisi yang memperkenankan saya buat bikin SIM dengan cara nembak, wekeke.,.,..

jendral susno semoga sehat di dalam penjara, sabar ya… hidup memang kejam, jangan cengeng, anda kan jendral, dikit-dikit nangis, di DPR nagis, konfrensi pers nangis, wajahnya juga yang gagah dong jangan menampilkan wajah memelas gitu. oia pak jendaral kok perut anda gendut ya…. sepertinya sesudah mengemban bintang di pundak, om jendral kurang olahraga dan kebanyakan makan, mungkin kemarin-kemarin sudah nyaman duduk jadi lupa olahraga, hehehe…. oia di dalam penjara, makannya tolong di jaga, nanti kalau pas nongol lagi di depan media terus kelihata kurus dikira ga dikasih makan sama kolega om jendral di dalam,… oke om susno selamat berjuang dan selamat menikmati… semoga sehat selalu dan selalu sehat. dan saya yakin penjara om jendaral beda dengan penjara dimana saya pernah tidur, ya kira-kira penjara kelas polsek dan mabes jelas beda, minimal di mabes itu pake kasur empuk, AC + TV…ehehhe…..

udah ah nulisnya sampe sini dulu, udah adzan maghrib, oia pak jendral jangan tinggalin sholat kecuali anda kena haid, hehehe, dan jangan tergoda buat poligami sama polwan-polwan yang cantik walau jauh dari istri….
Read More...

Jumat, 07 Mei 2010

Mereka, Diakui Dunia Terhina di Negaranya

12 comments
seberapa hebatkah manusia Indonesia ? saya tidak menyebutnya bangsa Indonesia tapi manusia Indonesia, bukan berarti saya makmum dengan pemahaman Pramoedya Ananta Toer yang menyatakan bahwa tidak ada yang namanya bangsa Indonesia tapi yang ada bangsa aceh, bangsa minang, bangsa melayu, bangsa jawa, bangsa dayak, bangsa sunda, bangsa bugis, bangsa papua, bangsa bali, bangsa ambon dll. tapi saya lebih memahami pada kata manusia indonesia sebagai individu bukan sebagai kesatuan manusia yang disebut dengan bangsa.

jika anda mungkin masih penasaran tentang kehebatan manusia Indonesia, silahkan cari dalam 5 tahun terakhir berapa banyak medali kejuaraan Internasional dibidang sains dan sosial termasuk tekhnologi dan budaya yang menghiasi podium kebanggaan. dan bandingkan dengan apa yang dihasilkan oleh tetangga di sekitar ASEAN, maka jikalau semua prestasi itu digabungkan di ASEAN (kecuali Indonesia) dan dibandingkan dengan Indonesia maka Indonesia akan berada pada posisi tak terkalahkan. sayangnya berita kehebatan itu tak pernah termuat dengan baik, mungkin media lebih senang dengan berita negatif. tapi bukan itu yang akan saya tulis sekarang, tapi menulis tentang mereka yang luar biasa tapi dinista.

Kebangga dunia, di nista di Indonesia,

sudah lama rasanya saya kehilangan seorang Pramodya yang luar biasa, mengingat kebali Begawan Ekonomi Soemitro dan rindu akan suara Soekarno, dan intelektualitas Habibie serta humor khas Gus Dur. bagi saya nasib mereka tak jauh beda dengan Sri Mulyani, bukannya saya mau latah dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini tapi toh saya juga tidak bisa menutup memori saya mengingatkan kembali ketika syahrir diasingkan karena politik busuk. benar bahwa politik memang kejam. mereka yang terbaik bisa disingkirkan dan dihakimi dengan celoteh burung camar politikus. entah senayan entah istana. politik memang kejam. saya ingin menulis banyak tentang beliau-beliau tapi keterbatasan waktu yang membaut saya harus memilih tiga orang sebagai contoh dengan tiga bidang keahlian dan tiga situasi yang berbeda tapi dihadapkan pada satu kondisi dimana mereka “dibunuh oleh politik” dalam negerinya sendiri.

PRAMODYA ANANTA TOER,

seorang maestro sastra yang belum tertandingi di mata saya, kesalahan beliau mungkin hanya terdampar dalam LEKRA sepulang dari pertukaran budaya di eropa, dan akhirnya harus malang-melintang dalam penjara dari nusakambangan hingga buru. karya-karya yang beliau hasilkan mengantarkannya menjadi salah satu nominasi peraih nobel sastra, tapi negara tidak pernah mendukung prestasinya di tingkat dunia, kealpaan beliau yang pernah bergabung dengan LEKRA selalu diumbar para politikus yang tak mengerti sastra sehingga para juri Nobel terus membuatnya mengambang, negara bukannya mendukung justru malah mengucilkannya di dalam rumah bahkan hingga akhir hanyatnya beliau harus wajib lapor tiap hari kamis ke koramil setempat. akhirnya dalam situsi tak jelas Pram harus bertemu izrail terlebih dahulu dan impian dan harapan Indonesia satu-satunya untuk memiliki seorang peraih Nobel pupus sudah.dia hanya terjebak dalam situasi yang salah serta tempat yang salah dan politk menutup semua prestasinya. politik menghukumnya dengan kejam.

BAHARUDIN JUSUF HABIBIE

peraih summa cum laude di bidang teknin mesin pesawat terbang ini adalah kebanggan Indonesia di bidang tekhnologi, orang ini pula yang membuka mata manusia di tenggara asia ini berbicara dan menghentak dunia ketika dengan jumawa menerbangkan pesawat terbang buatan sendiri, dan saat itu china dan india hanya bisa terbengong-bengong dengan mulut menganga serta mata melotot. dengan prestasinya beliau menduduki jabatan wakil CEO di sebuah perusahaan konstrusi peswat yang bonafit di dunia. akhirnya politik meruntuhkan kiprahnya, Habibie di suruh pulang oleh preisden saat itu Soeharto dan memberi titah “kau boleh membuat apa saja asala jangan pernah melakukan makar” . Habibie mulai bekerja didirikan PTDI sekaligus membuat BPPT sambil menjabat Menristek. kecerdasannya membuat Habibie menjadi tujuan langakah sebagaimana saya ketika menjalani masa kecil. politik menghentikan langkahnya, PTDI menjadi BUMN dan atas titah sang raja akhirnya Habibie menyerah dan menjadi wapres (kondisi yang sebenarnya tidak jauh beda dengan Boediono saat ini). masa awal pasca reformasi beliau dituduh antek orba, politik menghakimi seorang ilmuan dalam pergulatannya dalam dunia kelam bernama politik, Habibie tentu cerdas tapi politik itu kejam. ia adalah satu-satunya presiden yang dihina di parlemen saat akan membaca pidato pertanggungjawaban. politik merampas semuanya, PTDI, “kecerdasannya”, kebanggaan kita. dia hanya terjebak dalam situasi yang salah serta tempat yang salah dan politk menutup semua prestasinya. politik menghukumnya dengan kejam.

SRI MULYANI INDRAWATI

sebenarnya saya mau menulis tentang begawan ekonomi Soemitro, yang menjadi bagian dari 5 pendekar penjaga ekonomi dunia di PBB pada masa itu. tapi sepertinya menulis seorang Srikandi, sang kartini moderen, seorang Ibu, tentu akan lebih spesial. saya tentu tidak perlu menulis banyak hal tentang beliau, penghargaan dari Times yang memasukannya dalam 100 wanita berpengaruh di dunia dan perstasinya meraih predikat menteri keuangan terbaik asia 3 kali berturut-turut dan predikat mentrei keuangan terbaik dunia versi euromany, akhirnya kini bank dunia memangginya sebagai MD. salah satu alasan diterimanya Indonesia dalam G20 adalah keberadaan Sri Mulyani. akankah Sri Mulyani bernasib sama seperti Pramodya yang dikucilkan karena sebuah keputusan yang diambilnya dalam posisi terjepit dan akhirnya bernasib seperti Habibie yang “dinodai” parlemen. Sri Mulyani berada dalam posisi itu sekarang, dihakimi politikus dengan ilmu politik dan menutup semua prestasi yang beliau hasilkan untuk negeri ini. maka kita yang akan menjawabnya bersama seperti siapa nasib Ibu Sri, Syahrir yang disingkirkan Soekarno, Soekarno yang disingkirkan Soeharto. dan soeharto yang akhirnya menyerah. akankah Sri Mulyani nasibnya seperti Soemitro sebagai sesama ekonom. dan sejarah serta waktu yang akan menilai jawaban kita, saya, anda, word bank, euromany, times, DPR, Media, Pemerintah, hingga desir angin yang berhembus. seperti apa bangsa ini menilai manusianya.
Read More...

Sabtu, 17 April 2010

Nasib Indonesia Raya Kini

Leave a Comment

hari ini saya bertanya pada diri sendiri kapan terakhir kali saya menyanyikan lagu Indonesia Raya, atau mungkin kapan saya terakhir kali mendengar lagu itu dinyanyikan. adalah sebuah pertanyaan yang belum bisa saya jawab untuk tapi untuk pertanyaan kedua sayup-sayup ingatan datang, iya terakhir kali saya mendengar lagu Indonesia Raya ketika pagi tadi salah satu televisi swasta.

mungkin pertanyaan “kapan terakhir indonesia raya dinyanyikan ?” tidak terlalu dirisaukan oleh anak-anak sekolah dari SD hingga SMA. dulu waktu saya mengenyam pendidikan MI (Madrasah Ibtidaiyah) pendidikan setingkat SD, tepatnya kelas 5 hingga kelas 6 saya serig mendapat giliran memimpin upacara bendera hari senin, sebuah tugas yang menjadi kebanggan bagi siswa sekolah kampung ketika itu. dogma guru yang mengatakan bahwa menjadi petugas upacara adalah sebuah bentuk perjuangan dan pengabdian pada negara dan nilainya sama dengan perjoeangan Jendral Soedirman. menjadi petugas upacara -menurut guru saya ketika itu- adalah sebuah cara melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa. sebagai anak SD dari kampung yang selalu nonton film G30S/PKI versi pak harto dan hobi nonton suguhan film perjuangan bangsa seperti : “Pangeran Dipenogoro”, “Cut Nyak Dien”, “Nagabonar”, “Pahlawan Dari Goa Selarong”, “Janur Kuning”. tentu heroisme masih sangat terasa.

selain menjadi pemimpin upacara saya juga sering didaulat membaca prembeule UUD 1945, saya masih ingat warna map-nya merah, itu dilakukan untuk membedakan dengan map berisi doa yang berwarna hijau dan map pancasila yang biasa dipegang ajudan pembina upacara berwarna kuning. map-map itu begitu sakral dan tidak boleh dibuka kecuali ketika upacara akan dilakukan dan map-map itu hanya keluar dari lemari kantor ketika hari senin, setelah itu dimasukan kembali ke lemari.

semua peristiwa sakral berupa “upacara bendera hari senin” selalu diawali dengan sebuah dering lonceng yang terbuat dari potongan batang besi dari mobil yang dipukul gagang martil. lonceng yang kini mungkin tidak akan pernah tergantung lagi di sekolah-sekolah “Rintisan Sekolah Berstandar Internasional”. masih teringat dengan jelas dalam bayangan hitam putih jejeran kawan-kawan yang berbaris rapih dalam dua saff baris, tidak banyak murid kampung yang berfikiran sekolah ketika saya lulus dari MI saat itu hanya berjumlah 8 orang, 6 pria dan 2 wanita. itulah wajah-wajah anak-anak kampung yang percaya bahwa sekolah adalah hal pertama yang harus dilakukan sebelum berlari kesawah membantu orang tuanya.

dalam setiap baris masih ada sepatu bolong tanpa kaus kaki, hingga mereka yang memakai sepatu kulit “nyeker men” alias tanpa alas, bahkan pakaian merah putih anak-anak yang sudah menginjak kelas 5 dan 6, sudah -sebenarnya- mulai tidak pantas, baju putihnya sudah mulai kusam kekuning-kuningan hingga bintik-bintik hitam bekas keringat, maklum saya pakaian putih itu tidak hanya untuk sekolah tapi juga untuk mengaji di masjid dan pergi kesawah. sedangkan celana merah sudah mulai kusam kehitam-hitaman, dan yang tadinya berada di bawah lutut (filosofi ketika membuat seragam SD kelas satu selalu di panjangkan supaya awet) dan ketika menginjak kelas 5 dan 6, sudah berada jaub di atas lutut.

tapi semua itu tidak pernah mengurang rasa cinta tanah air dan pancasila serta kebencian tanpa dasar pada kompeni dan PKI, serta betapa wajah berkaca-kaca melihat “bapak pembangunan” tampil di TVRI mengangkat padi. ketika upacara bendera selalu sangat khusyu seperti sholat, dan nyanyian Indonesia Raya selalu terasa menggema seperti wirid sehabis sholat maghrib. ketika Indonesia Raya berkumandang bersamaan tangan kanan diangkat menghormat sang saka merah putih yang dikerek oleh siswa perempuan yang tanpa alas kaki selalu terasa begitu bermakna. para petani yang akan berangkat kesawah selalu berhenti sejenak ikut bernyanyi dan memandang merah putih walaupun tidak ikut menghormat karena tangannya memegang cangkul dan parang.

setelah itu semua selesai sayalah pemilik tanggung jawab terbesar untuk mengucapkan dengan lantang “tegap grak” sebuah kata yang menurut saya -ketika itu- adalah sebuah pengkhianatan atas nama bangsa. karena menurunkan tangan dan menyuruh orang berhenti memberi hormat.

kini tahun demi tahun berlalu, radio dan televisi swasta hampir tidak pernah lagi mengumandangkan indonesia raya, kebanggana itu lama-lama mulai pudar dari wajah anak-anak bangsa. anak SD sekarang lebih hafal lagu-lagu alay daripada lagu-lagu kebangsaan. Indonesia Raya -mungkin- kini hanya retorika sarapan pagi di hari senin, dan mengangkat tangan untuk memberi hormat justru -dianggap- membuat pegal tangan.

sebagai manusia yang pernah menjadi anak-anak dan murid SD, saya terkadang rindu untuk mendengar pembawa acara bersenandung “Pengibaran sang saka merah putih diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya” dan kemudian rindu untuk berteriak,
“PADA SANG SAKA MERAH PUTIH HORMAAAAAT      GRAK!”

serta sayup-sayup mengalun suara serak dan fals anak-anak kampung terpencil dengan khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

…………
…………
Hiduplah Indonesia Raya
Read More...

Sabtu, 13 Maret 2010

Malam Ini Terperangkap Kisahmu

Leave a Comment

rasanya mata ini begitu lelah, kedua kelopak telah rindu untuk saling beradu, sekedar sekejap mengasingkan diri dari menyaksikan dunia. tubuhpun begitu rintih rasanya, ingin beristirahat dari semua gerakan, untuk merasakan kelembutan desiran dalam wahana istirah.

tapi, ruang hampa berisi labirin syaraf di kepala, masih bising dan penat oleh semua bayangan serta cerita yang tak kunjung berhenti.

ruang itu begitu sempit, namun terlalu banyak menampung bayangan dan kisah yang terjadi sehingga rasanya ruang dikepalaku begitu pening dengan seluruh hiruk-pikuknya. membuat syaraf tak kunjung mau untuk istirahat hingga menjadikan kepalaku begitu berat, menjadikan mata yang tak berkenan terpejam.

aku tetap berusaha memejamkan mata, namun justru aliran syaraf ini mulai menggali bayang kelam masa lalu yang telah terkubur.

kumatikan lampu, kutarik selimut, kututup mata, kutekan dengan buku untuk menutup semua kisah dan bayang yang merajalela.

bayangan dan cerita itu muncul seperti bangkit dari kubur, walaupun dirindukan terkadang justru mengerikan. aku ingin dan aku coba menguburnya kembali, tapi aku tak kuasa. kerinduanku akan bayangan mengalahkan kengerian yang terasa. kusadari semua kisah itu akan kembali. mau tidak mau semua bayangan dan kisah itu akan selalu muncul dan pergi tanpa mampu kucegah.

kubuka jendela, meski angin malam yang dingin begitu kencang berhembus. kubiarkan jendela itu terbuka, dan membiarkan angin yang menjawab. membawa dan menarik semua kisah itusemakin menumpuk menekan ruang di kepalaku atau membawanya pergi dalam hembusan mengeluarkannya dari kepalaku untuk mengistirahatkan rangkaian labirin syaraf dalam ruang kecil di kepala.
Read More...

Kamis, 11 Maret 2010

Merangkai Misteri Supersemar

Leave a Comment

Cuaca di sekitar istana malam itu sangat dingin, hembusan angin dari rerindangan pohon dan jingkrakan kijang yang masih betah menikmati malam menambah khidmat suasana, tapi ketika malam mulai pekat datanglah empat Brigadier Jendral, yaitu M. Jusuf, Amirmachmud, Basuki Rahmat dan M. Panggabean mengetuk pintu istana. Suasana sunyi, dingin dan damai di istana bogor seketika berubah panas dan gaduh, adu todongan pistol antara para brigjen dengan pengawal Presiden tak terelakan, tapi suasana seketika reda ketika Soekrano memerintahkan Soekardjo menyarungkan senjata. Setelah suasana mereda, para jendral menyerahkan lembaran surat yang harus ditandatangani, di bawah tekanan akhirnya sang Presiden menandatangani surat tersebut. Dengan sedikit pesan setelah situasi pulih mandat segera di kembalikan, itulah sekelumit cerita Lettu Soekardjo Wilardjito, pengawal presiden.

Kisah yang digunakan untuk pembanding sejarah penandatangan supersemar versi pemerintah, walaupun pada akhrinya pernyataan Lettu Soekardjo tersebut di bantah oleh M. Jusuf, M. Panggabean, dan A.M Hanafi. Itu masih di tambah dengan kisah penandatanganan versi A.M Hanafi, mantan kedubes kuba yang dipecat secara abal-abal oleh Soeharto, versi sang mantan dubes memang tidak terlalu jauh dengan versi pemerintah yaitu secara baik-baik, tapi ada perbedaan waktu kalau versi pemerintah waktunya malam sekitar 20.30 WIB tapi justru menurut Hanafi siang hari.

Setidaknya sekelumit perbedaan kisah, kronologis, pelaku maupun waktu tak kalah misteriusnya dengan teks asli dari supersemar yang menurut Arsip Nasional memiliki 4 versi termasuk versi terbaru dari almarhum M. Jusuf yang di kemudian waktu juga di “cap” palsu oleh Arsip Nasional. Dari mulai kop surat, tandatangan Soekarno, Lambang Garuda, hingga posisi tata letak surat terdapat perbedaan yang Saling berlawanan, sehingga sulit untuk menentukan mana yang benar,atau mungkinkah ada versi selanjutnya yang belum terungkap seperti kata Soebandrio, bahwa ada draf pertama surat itu, draf kedua yang sudah ditulisi komentar Soebandrio beserta tembusan ketiga dari teks asli (yang tidak ditandatangani Presiden) yang semuanya dimiliki Jenderal Jusuf dapat diserahkan kepada pemerintah.

Beda Penafsiran Makna SUPERSEMAR

Untuk memperjelas duduk permasalahan dan arti serta makna, maksud dan tujuan Supersemar saya kutip pernyataan Soekarno saat pidato (videonya ada di youtube)
“Surat Perintah Sebelas Maret itu mula-mula dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya SP Sebelas Maret adalah satu penyerahan pemerintahan, dikiranya SP Sebelas Maret itu satu Transfer of Authentic, of Authority, padahal TIDAK. SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengaman, perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Demikian kataku waktu melantik kabinet. Kecuali itu, juga perintah pengaman keselamatan pribadi Presiden, perintah pengaman wibawa Presiden, perintah pengamanan ajaran Presiden, perintah pengaman beberapa hal…”

Pernyataan yang mengandung banyak makna seperti apa itu Supersemar dan “ancaman” kepada pemegang kekuasaan Supersemar untuk tidak bersorak-sorai kesenangan. Bagi Presiden Soekarno, surat itu adalah perintah pengendalian keamanan, termasuk keamanan Presiden dan keluarganya. Namun, sebenarnya ia “kecolongan” dengan membubuhkan frase “mengambil segala tindakan yang dianggap perlu” dalam surat tersebut. Padahal, perintah dalam militer harus tegas batas-batasnya, termasuk waktu pelaksanaannya.

Menurut Bung Karno, surat itu bukanlah transfer of authority. Amir Machmud yang membawa surat itu dalam perjalanan dari Bogor ke Jakarta langsung berkesimpulan bahwa itu adalah pengalihan kekuasaan.

Dengan surat itu, Soeharto mengambil aksi beruntun pada Maret 1966, membubarkan PKI, menangkap 15 menteri pendukung Soekarno, memulangkan Tjakrabirawa (yang terdiri dari sekitar 4.000 anggota pasukan yang loyal kepada Presiden), dan mengontrol media massa di bawah Pusat Penerangan Angkatan Darat (Puspen AD). Tindakan Soeharto ini tidak lain mengakhiri dualisme kekuasaan yang telah terjadi pasca-Gerakan 30 September. (Asvi Warman Adam, 2009)

Melalui tulisan ini saya mencoba membuka kembali memori kita tentang catatan sejarah Indonesia yang pernah kita dapatkan dari buku SD. Lebih tepatnya saya ingin menggiring anda pada satu ‘perkamen’ bernama Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Kenapa? Karena dengan adanya Supersemar, situasi politik di Indonesia mengalami perubahan, kekuasaan Bung Karno meredup, dan kekuasaan Jenderal Suharto meningkat. Supersemar dianggap sebagai penyerahan dan perpindahan kekuasaan. Supersemar adalah monumen awal duduknya Jenderal Suharto di kursi kepresidenan, lalu menjadi seorang pemimpin dan penguasa yang cenderung Machiavelli minded -mungkin Pak Harto juga sudah membaca Il Principe yang legendaris itu.

Banyak catatan sejarah bangsa ini yang dibelokkan dan tidak lagi jujur, masyarakat sudah kadung menganggapnya sebagai suatu kebenaran, generasi pasca revolusi adalah generasi yang tumbuh tanpa landasan sejarah pasti. Generasi itu adalah generasi yang meraba-raba mencari kebenaran di tengah kegelapan dan centang-perenang sejarah bangsanya sendiri. Saat kaum nasionalis konservatif sudah mulai menghilang satu per satu, entah bangsa Indonesia akan jadi seperti apa. *sigh…

Sejarah ternyata kurang lebih adalah evolusi dan revolusi dari konsep-konsep, mitos-mitos. Sejarah mengubah yang sungguh menjadi tak sungguh, tangis menjadi tawa , tragedy menjadi komedi.
Read More...

Senin, 08 Maret 2010

Langkahku Mengenangmu

Leave a Comment

arrggghhhh…… gila, malam pekat, menghangat, aku menunggumu menggali setiap ruas memori dalam otaku yang terbatas, mencoba kembali mengingat kenangan-kenangan manis di tengah tumpukan kepahitan yang kau berikan. setapak demi setapak kami ku langkahkan, berat rasanya hingga aku mulai tak kuat bahkan hanya untuk mengangkat kaki tapi kenangan akan dirimu membuatku harus melangkah, aku membencimu bukan hanya karena apa yang telah kau lakukan, tapi kenap hingga saat ini, hingga 12 purnama berotasi hingga bahkan tak pernah kusebut namamu seumur jagung, kau kembali untuk menyeretku mengejarmu. aku benci kau, kenapa aku masih kau libatkan dalam setiap langkah yang kau pijak.

saat ini memang purnama, wajahmu tak seperti dulu bagiku, wajah yang selalu ku puja sinarnya bak purnama kali ini, sudah menjadi sampah, kecantikanmu adalah siksaan untuku, tapi kenapa kali ini kau kembali dengan bayangan kembali padaku. sekarang apa yang kulakukan, mengejar kenangan tentangmu atau berlari meninggalkan memori. tapi yang pasti perjalanan kali ini kau yang mengakibatkan, jadi berhentilah, hentikan bayanganmu sekarang dariku. sebentar saja hingga kita bertemu.

basah, apa ini ? keringat, bukan ini gerimis. sial kenapa yang berhubungan tentangmu sekarang tidak pernah membahagiakan buatku. aku berjanji, aku yakinkan kau, kau memang yang pertama tapi kau bukan yang terakhir, ingat itu. itu kalimat pertama yang akan kuucapkan padamu.

langkahku semakin gontai, deras hujan telah melunturkan keringatku. aku kuatkan kaki untuk berlari kecil, cipratan air berlumpur mulai terpercik, membuat baju putihku mulai berwarna coklat. purnama yang tadi bersinar telah hilang, akhirnya bayang wajahmu dibulan tak kulihat lagi. semakin cepat langkah kakiku semakin tak jelas warna bajuku. baju yang telah kurapihkan dan kuberi wewangin untuk bertemu denganmu kini sudah tak pantas lagi. haruskah aku kembali, tidak jika aku kembali aku akan terlambat, aku harus berlari.

gubrak…. arrggghhh…. sial. apa lagi ini, lubang sialan, aliran air tanah yang bercampur lumpur menutupi lubang sialan itu. kau benar-benar tak pernah memberi kebahagiaan padaku, sekarang aku tak pantas bertemu denganmu, kuyakinkan diriku untuk melangkah, aku yakin kau akan mengerti, bahwa kulakukan semua ini untukmu seseorang yang telah memberiku setetes kebahagiaan di tengah aliran siksa yang kau berikan.

akhirnya hujan reda, ditengah tetesan hujan samar-samar aku melihat rumahmu, banyak orang berkumpul, diam tak banyak bicara, sangat senyap, sunyi, apa ini, bukankah harusnya tidak seperti ini, ada apa ini. semangat lariku hilang, kini aku kembali menyeret kakiku mencoba melangkah perlahan. semakin dekat, tepat di depan rumahmu aku di hentikan oleh orang yang tak pernah kukenal, seorang pria setengah baya yang tidak nyaman melihat kotornya diriku. aku berkeras untuk masuk tapi tak diijinkan olehnya.

aku mencoba mencuri pandang kedalam rumahmu. semua masih terdiam, kau sungguh cantik dengan kain putih yang menyelimutimu, tak jelas wajahmu kulihat, tapi kuyakin itu kau. di depanmu ada pria tua berpeci, bersarung, bersurban, menengadahkan tangan sepertinya berdoa, dan yang lain mengamini, kau tetap diam aku tak melihat kau berekasi, aku semakin tegang.

tak lama semua orang mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, kau bergerak kesamping meraih tanagn seseorang di sampingmu, seorang pria, dengan senum dan air mataa kau mencium tangannya. itu bukan aku, pria yang mencintaimu siapa itu. aku melihat semua orang bahagia, aku melihat senyumu, aku tahu itu senyum bahagia. sekarang aku bahagia, karena kau telah bahagia, sebaiknya aku pergi, menghilang dari kenanganmu, lebih baik kau lupakan aku, dan biarkan aku mengenangmu.
Read More...

Jumat, 05 Maret 2010

dunia humor kita, kini

7 comments
Jika ada Negara di muka bumi ini yang menjadikan kekerasan dan penderitaan orang lain adalah tontonan mengasikan dan bahkan salah satu sumber kebahagiaan, Indonesia adalah salah satu diantaranya yang berada di barisan paling depan.

Saya tidak tahu, bagaimana pilunya arwah Hardjodipoero dan Drs Raden Panji Purnomo Tedjokusumo mereka berdua di jaman Revolusi dulu sering duet di corong RRI sebagai Mang Cepot dan Mang Udel, menyaksikan tontonan humor yang biadab penuh kekerasan (baik fisik maupun verbal), penghinaan, serta pelecehan terhdap profesi dan kondisi fisik adalah suatu hal yang menarik yang dapat membuat kebanyakan orang Indonesia tertawa lepas dan menikmatinya.


Humor seperti halnya bentuk seni, penerimaan tergantung pada demografi sosial dan berbeda dari orang ke orang. Sepanjang sejarah, komedi telah digunakan sebagai bentuk hiburan di seluruh dunia, baik di pengadilan raja Barat atau desa-desa di Timur Jauh. Kedua etiket sosial dan kecerdasan tertentu dapat ditampilkan melalui bentuk-bentuk kecerdasan dan sarkasme. Abad kedelapan belas penulis Jerman Georg Lichtenberg mengatakan bahwa “semakin banyak yang anda tahu tentang humor, semakin anda menjadi menuntut kebaikan.” Itulah kenapa pelaku humor (bukan sekedar pelawak) banyak dianggap orang cerdas karena mampu menjungkirbalikan logika.

Dalam bahasa Sansekerta kuno drama, Bharata Muni’s Natya Shastra didefinisikan humor (hāsyam) sebagai salah satu dari sembilan nava rasas, atau prinsip rasas (respons emosional), yang mendapat inspirasi di antara penonton dengan bhavas, yang imitasi emosi yang dilakukan para aktor. Setiap rasa dikaitkan dengan bhavas tertentu digambarkan di atas panggung. Dalam kasus humor, itu berhubungan dengan kegembiraan (hasya).

Istilah “komedi” dan “sindiran” menjadi sinonim setelah puisi Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di abad pertengahan dunia Islam, di mana diuraikan di atas oleh penulis Arab dan filsuf Islam seperti Abu Bischr, muridnya Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Averroes . Karena perbedaan budaya, mereka memisahkan diri dari bahasa Yunani, setelah terjemahan Latin abad ke-12, istilah “komedi” memperoleh makna semantik baru dalam literatur Abad Pertengahan.

Bahkan Allan Calley pernah mengungkapkan dalam bukunya Humor in The Arts bahwa Perkembangan humor di Inggris sudah terlembaga sejak abad ke-16 Pada masa tersebut, terdapat penulis dan pemain teater humor yang sering disebut pemain komedi. Komedian yang terkenal yaitu Ben Johnson, yang satu karyanya berjudul Man Out of His Humor . karya tersebut memperlihatkan dua bentuk humor yang berbeda dalam kehidupan, yaitu humor dalam kata-kata dan humor dalam tingkah laku. Abad ke-17 merupakan zaman yang sangat pesat bagi perkembangan humor di Inggris, terutama dalam hal teater komedi dan naskah humor. Teater komedi akhirnya menjadi tradisi masa selanjutnya.

Pertengahan abad ke-18, teater humor bermetamorfosa menjadi satire. Sampai akhir abad ke-18, bentuk teater etrsebut menjadi mode di seluruh daratan Eropa. Abad ke-19, humor di Eropa menentukan bentuk baru dalam wujud komik. Abad itu ditandai dengan munculnya berbagai macam komik humor dari Jerman, yang kemudian menjadi kegemaran seluruh daratan Eropa bahkan sampai ke daratan Amerika dan Asia.

Dunia lawak di Indonesia, boleh dikatakan berdiri otonom dan tidak dipengaruhi oleh unsur impor, dalam tradisi lawak di Indonesia harus dilihat struktur kekuasaan sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam melihat dunia lawak kita. Ada arus utama budaya lokal yang berkembang di Indonesia. Di Indonesia, secara informal, humor juga sudah menjadi bagian dari kesenian rakyat, seperti ludruk, ketoprak, lenong, wayang kulit, wayang golek, dan sebagainya. Unsur humor di dalam kelompok kesenian menjadi unsur penunjang, bahkan menjadi unsur penentu daya tarik. Humor yang dalam istilah lainnya sering disebut dengan lawak, banyolan, dagelan, dan sebagainya, menjadi lebih terlembaga setelah Indonesia merdeka, seperti munculnya grup-grup lawak Atmonadi Cs, Kwartet Jaya, Srimulat, Surya Grup, dan lain-lain Masuknya Bing Slamet kedalam dunia lawak mendorong lahirnya jenis pelawak urban yang populer terutama dari kalangan Taman Siswa seperti : Ateng, Benyamin S, atau Edi Sud Trio EBI (Edi Sud, Bing Slamet dan Iskak), Ateng, Iskak, Bing Slamet dan Edi Sud membentuk Kwartet Jaya yang fenomenal sampai meninggalnya Bing Slamet awal tahun 70-an.

Hingga kemudian muncul para komedian group parodi Pancaran Sinar Petromak (PSP), Sersan Prambors., dan Warkop DKI ternyata hanya warkop yang mampu bertahan walaupun agak sedikit mengikuti selera pasar, itu dikarenakan tindakan repsesif orde baru, itu yang menyebabkan adanya perbedaan isi lawakan warkop di film dan radio, di radio lawakannya cendrung lebih provokatif terhadap orde baru.

Pasca awal reformasi perkembangan dunia humor Indonesia banyak di dominasi oleh opera komedi yang sebenarnya bukanlah seni melawak yang spontan, karena keterikatannya pada teks yang sedemikian kuat. Dibarengi dengan kemunculan para “pengikut” warkop jebolan Radio SK, ajang pencarian bakat, artis yang “ganti lahan” hingga perkembangan humor dunia politik yang sebenarnya tidak terlalu laku.

Bagi penulis awal kehancuran dunia lawak Indonesia adalah mulai pudarnya pelawak-pelawak seperti Alm. Bing Slamet, Eddy Sud, S Bagyo, Ateng, Mang Udel, Kang Ibing, Abah Us Us, dan bisa disebut juga Benyamin S, lawakan mereka yang cerdas dan hampir bersih dari “penghinaan dan kekerasan” sungguh berbeda dengan pelawak dan dunia lawak Indonesia kini, gaya melawak sekarang (pelawak yang kini membanjiri layar televisi) sungguh tidak membuat lawakan itu sebagai bahan renungan dan alat kritik yang bisa membuat orang reflektif terhadap kehidupannya, gaya lawakan mereka adalah lawakan yang bercanda, menyakiti (baik hati dan fisik) lawan main, lawakan “kebun binatang” dan kemudian tidak memberikan humor-humor cerdas. Ditambah pengaruh gaya yang di tiap detik kata-katanya adalah menghina orang, merendahkan lawan main, dan menangkis kata-kata dengan mencela fisik. Ini sungguh memprihatinkan. Dan ironisnya gaya lawakan yang tidak sesuai dengan tipe mereka disuruh minggir.

Sementara gaya lawakan yang spontan, membuat orang merenung dan menyikapi kondisi sosial dengan gayanya yang cerdas sama, belum muncul. kita ingat bagaimana Krisbiantoro mampu melawak dalam bahasa Perancis, ataupun Ebet Kadarusman yang melawak berjam-jam di radio Australia dengan bahasa Inggris, Sukarno yang membuat orang terpingkal-pingkal di dalam pidatonya, Churchill yang santai dan sempat membuat anekdot sebelum mendeklarasikan perang dengan Jerman ataupun Gus Dur yang mampu menyembunyikan kesulitan-kesulitannya dalam memecahkan problem-problem sosial-keagamaannya dengan melucu, spontanitas yang cerdas, masih menjadi impian dalam dunia lawak kita yang sedang hancur lebur ini.

Namun sekarang kita –hanya- bisa saksikan semua kelucuan yang dibuat haruslah menyengsarakan orang, yang lebih menarik ini bukan hanya terjadi di acara yang notabene temanya adalah komedi, baik acara kuis, musik bahkan acara yang menemani kaum muslim sahur dibulan ramadhan harus pakai “properti yang tidak berbahaya” untuk dapat rating tinggi maka sejahteralah komedian kita yang memang spesialis untuk dikerjain bahkan di gebukin. Semoga bangsa kita tidak termasuk bangsa yang baru merasa terhibur jika melihat orang lain menderita, jika penderitaan yang bisa membuat kita bahagia, mungkin bangsa ini akan bahagia sampai penderitaan itu habis di negeri ini.
Read More...