Rabu, 29 Februari 2012

Prof, Kembalikan Timnas Kami

8 comments

hanya ilustrasi

Sejak sore teman-teman sudah berkumpul di beranda depan, tivi dari kamar sengaja dikeluarkan dan di taruh di emperan selasar kamar kost. Rintik gerimas tak menghalangi kami untuk berpesta, setidaknya itulah gambaran beberapa jam kedepan dari sebuah siaran langsung di sebuah televisi swasta nasional. Menjelang gelap teman-teman mulai berkumpul  ditemani bakaran pisang sebagai pelangkap pesta. Semuanya seperti berjalan begitu sempurna hingga kick off babak pertama dimulai. Bahkan sorak sorai terus membahana kala andik vermansyah membuat indonesia unggul di babak pertama. Kami bersorak seolah tak ingin kalah dengan ribuan saudara kami di berunai sana yang memerahkan negeri kuning. Namun sayang keceriaan, tawa dan kebahagiaan serta sorak sorai kami terhenti tat kala Kyaw Zayar Win menyamakan kedudukan saat paruh kedua belum genap 150 detik. Kami terdiam sejenak dan berharap garuda muda akan bisa membalikan keadaan, tapi itu semua hanyalah mimpi saat Kyaw Ko Ko membuat dua gol yang membuat 200juta penduduk indonesia tertunduk lesu penuh duka.

Prof, kami tidak marah pada para pemain, kami tahu mereka sudah berjuang dalam batas mereka. Kami tahu mereka bersedih dan mungkin jauh lebih sedih dari kami. Kami membayangkan bagaimana suasana ruang ganti yang penuh dinamika. Saat akan dimulai babak pertama wajah-wajah tegang penuh optimisme hadir disana, saat istirahat paruh kedua wajah kegembiraan dan kebanggana muncul, dan kala pertandingan berakhir kami yakin guratan lesu dan duka penuh kecewa mewarnai kondisi ruang ganti. Kami tahu mereka sudah bekerja keras, tapi kerja keras selama 90 menit tak cukup untuk memenangkan pertandingan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada seluruh pemain yang hadir di brunai, kami yakin line up yang di bawa bukan yang terbaik yang ada di indonesia. sehingga pasca pertandingan tak salah saat teman kost saya mengatakan ini bukan Timnas inonesia U21. Tapi, LPI Slection U21.

Prof, dulu orang-orang liga ilegal yang kini menjadi liga resmi berteriak bahwa semua orang berhak membela Timnas apapun klubnya. Kini kemana suara itu saat liga yang dulu dianggap pembangkang kini menjadi penguasa. Mana suara yang menyatakan setiap pemain boleh berbaju dengan garuda di dada tanpa diskriminasi klub dan jenis liga. Kenapa pemain harus dikorbankan dalam konflik ini. jikalau memang sebagai otoritas tertinggi melarang pemain-pemain muda berkualitas seperti, seperti Ramdhani Lestaluhu (Persija), Lucas Mandowe(Persipura), Moses Banggo (Persipura), Jeki Arisandi (Sriwijaya), bahkan hingga Octavianus Maniani (Persiram), hanya karena bermain di liga yang dianggap ilegal. Tentu tak salah jika otoritas tertinggi memanggil Muhammad Zainal Haq (Penarol-Uruguay),  Manahati Letusen (Penarol-Uruguay),  Abdul Rahman Lestaluhu (Penarol-Uruguay), dan  Mokhamad Syaifuddin (Universidad de Conception-Chilie),  Feri Firmansyah (Universidad de Conception-Chilie), serta Syamsir Alam (CS Vise-Belgia), Yandi Sofyan(CS Vise-Belgia),  Alfin Tuassalamony (CS Vise-Belgia), dan Yericho Christiantoko (CS Vise-Belgia), bahkan hingga Arthur Irawan (Espanyol-Spanyol).  Walau mungkin tidak bisa memanggil Stefano Lilipay (Utrech-Belanda) untuk timnas U21 karena usianya genap 22 tahun 10 januari kemarin.

Prof, Timnas entah itu U21, U23, dan Timnas senior bukanlah milik personil liga resmi semata, siapapun dia jika dia mampu dan mau tentu tak berhak dihalangi. Bukankah konstitusi kita menjamin hak warganya untuk melakukan bela negara. Mari berkaca pada Amerika Serikat, tanyakan pada Toni Meola (kiper), Marcelo Balboa (bek/belakang), dan Paul Caligiuri (Gelandang/tengah) yang bermain di dua piala dunia walau kedunya tidak bermain di klub prefesional alias hanya “tarkam”. Atau mari belajar pada tentangga kita Selandia Baru, yang  memiliki 2 dua pemain tanpa klub, Simon Elliot sama David Mulligan, keduanya unattached.  Serta yang main di liga non-professional (tarkam-indonesia/pen)  ada 3 orang yakni, Ivan Vicelich, Aaron Clapham, dan James Bannatyne. Dan tentu ingatan kita masih kuat saat Boaz Salossa di tahun 2004 membela Timnas senior walau masih duduk di bangku SMA.

Prof, kita punya banyak pemain hebat dan berbakat di Indonesia, tak semuanya ada di liga resmi. Kembalikan kebanggan kami, kembalikan Timnas kami, bukan liga resmi selection. Trik apalagi yang anda gunakan untuk menahan hasrat serta kebanggan rakyat indonesia. Jangan letakan kepentingan dan dendam golongan diatas kebanggan akan prestasi sebuah bangsa. Kami tidak menyuarakan anda mundur seperti saat memaksa pendahulu anda untuk mundur dengan paksa. Kami bukan pendukung pendahulu anda, kami hanya tak rela reformasi ini dirampas dan seolah-olah menjadi jasa seseorang. Kami tak ingin revolusi kita hanya menimbulkan perpecahan baru yang semakin parah. Kami ingin perubahan dimana pemimpin berdiri di atas semua golongan, menghapus semua dendam walau itu pasti berat untuk dilakukan.

Prof, keindahan sepakbola terletak pada sepakbola itu sendiri. Bukankah anda pernah menjadi seorang pemain, berapa gol yang anda sarangkan, berapa kemanangan yang anda daptkan. Gali kembali memori saat anda berlari dan menendang bola dilapangan, rasakan kembali momen saat saling berpelukan dengan teman saat merayakan sebuah keberhasilan. Berapa deras keringat yang tercurah dan seberapa perih rasa sakit saat bertanding dan berlatih. Kini mungkin anda sudah bergelut dengan sederet tabel, data, profil dan statistik serta naskah-naskah perhitungan diatas kertas. Tapi kami yakin anda masih punya “rasa” sebagai pemain sepakbola.  Maka dari itu kami berharap sebagai pemimpin berdirilah di atas semua golongan, sebagai olahragawan junjung tinggi fair play dimana yang terbaik yang berhak tampil. serta mari kita junjung sportifitas, singkirkan rasisme dalam sepakbola tidak hanya tentang warna kulit tapi juga warna kaos tim.

Prof, kembalikan tim nasional kami, jangan renggut harapan kami.  anggaplah ini suara seorang seporter dengan kaos merah di tribune yang tak pernah lelah mendukung dan menanti Garuda untuk terbang lebih tinggi. Kami masih berharap melihat U21 berhasil memegang trofi di akhir laga.
Read More...

Sabtu, 18 Februari 2012

Orang Islam Kampungan

Leave a Comment

sejak pertama kali menginjakan kaki di jogja ada banyak hal yang membuat saya terkaget-kaget, ntah sindrom apa ini namanya, tapi yang pasti banyak hal di joja yeng membuat saya mengerutkan dahi. diantaranya, mengapa untuk bermain bola saja saya harus menyewa lapangan kecil dengan waktu yang dibatasi, padahal di kampung, main bola dilapangan desa sampai pekarangan rumah seharian tidak pernah dapat masalah. atua kenapa ketika masuk ruangan saya begitu kedinginan dan ketika keluar kemudian kepanasan. dan semua “keanehan” ini juga terjadi dalam kehidupan beragama.

dalam kehidupan beragama ternyata saya harus sadar, bahwa saya sedang dibenturkan dalam aneka keilmuan yang tak pernah saya pelajari. saya merasa menjadi “amatir agama” ditengah diskusi keilmuan dan berbagai istilah yang sangat kompleks. semakin lama saya hampir tidak mengerti bagaimana islam memiliki pakaian kebesaran. tentu saja dalam hal ini adalah Islam.

entah kenapa di jogja, masjid terasa begitu sepi. hanya ada suara adzan dan iqomah. selain itu tidak ada suara lagi. orang sholat berjamaah terus pulang. saya mencoba untuk faham bahwa orang-orang kota cendrung sibuk dan tidak sempat duduk lama untuk ber-wirid. atau bersholawat mengisi waktu menuju sholat. banyak hal dalam masjid yang jauh dari kehidupan kampung, tidak ada lagi cengkrama sosial dan diskusi kecil di masjid. masjid terasa amat sangat sepi.

begitu juga dengan imam saat sholat, imam di kota sering menggunakan suat-surat panjang dengan ayat-ayat yang panjang pula. beda dengan orang kampung seperti saya, yang bisanya hanya surat-surat pendek. langganannya ya surat-surat pendek, macam An-nas, At-takasur, Al-ikhlas, lebih jelasnya, saya lebih suka surat-surat di juz ama. bukan hanya karena pendek dan mudah di ingat, tapi juga karena maknanya lebih muah di fahami, seperti surat Al-ikhlas, yang berbicaa tentang ke-esa-an Tuhan. atau Al-kafirun yang bebicara dengan jelas bagaimana menyikapi sebuah pebedaan dalam beragama. saya yang amatir dan orang kampung hanya belajar ngaji di surau ini kalah jauh dari “muslim kota” atau penyeru jihad, yang lebih suka ayat-ayat panjang guna memantapkan legitimai “alim” yang tahu benar sudut-sudut kitab suci.

jujur ketika saya belajar mengaji di surau kampung saya tidak pernah menemukan kata-kata seperti liberal atau pluralisme hingga khilafah atau berbagai macam dagangan agama yang diperdebatkan oleh mereka yang berintelektual dalam agama. belum lagi jual beli fatwa oleh mereka yang mengaku ulama yag tergabung dalam sebuah majelis.

dan saya sadar satu hal, bahwa jadi orang kampungan termasuk dalam beragama itu ternyata membawa ketenangan, tidak pusing dengan problema dan perdebatan berkepanjangan tentang istilah-istilah yang -mungkin saja- tidak mereka ketahui maknanya. menjadi orang islam kampungan sangatlah membahagiakan. kalau ada yang meledek atau mendebat ibadah saya, saya tinggal bilang, “saya kan orang islam kampungan.”

—————————————-
tulisan ini hanya sedikit keterkejutan saya dengan kehidupan kota jogja, dan tidak sama sekali bermaksud mendeskriditkan atau mengkotak-kotakan kota atau desa.
Read More...

Senin, 13 Februari 2012

Jembatan Kelabu

Leave a Comment

jembatan kulalui malam ini sangatlah rapuh
diantara dua prasangka yang selalu mengeluh
terbayang indah masa silam yang akan kutempuh
kini hanya bisa membuat kisah hiudp semakin gaduh

meninggalkan setiap lorong dalam langkah tak pasti
dengan hasrat menjadi lebih baik di masa nanti
hidup hanyalah sebuah proses menjadi mati
tapi setidaknya bisa berarti walau hanya satu kali

dibawah kolong langit yang kelabu
saat awan hitam menutup angkasa biru
menanti berharap munculnya bintang
ditengah tumpukan masalah yang terus datang

rintik hujan perlahan mengalirkan asa
menghilangkan kehangatan yang tersisa
biarlah kini aku hidup tanpa rasa
berharap harapan itu segera tercipta
Read More...

Selasa, 07 Februari 2012

tangis yang pecah di kala sunyi

4 comments

kakek (peci putih) dan nenek (jilbab coklat) dengan beberapa cucu-cucu kecilnya

fajar shidiq belum terbit tapi itu adalah kala detik-detik akhir dimana malam akan tergelincir, lirih terdengar suara telpon berdering diantara kantuk yang merayap mata. ibu, samar terlihat nama didinding layar. terisak, itulah suara ibu yang terdengar dari ujung telpon, nada yang terdengar paru saat mengabarkan bahwa kakek meninggal dunia. keget, haru, antara percaya dan tidak, bercampur aduk. ini waktu malam menjelang subuh, sunyi sekali seoalh suara ibu yang lirih terdengar menggema dan di seluruh kamar dan berdengung di setiap sudut kepala. kabar duku yang datang tiba-tiba

jam 1 malam saya sempat mengirim sms pada ibu, bahwa sayang mau pulang. entah kenapa memang kondisi akhir-akhir ini banyak menimbulkan hal-hal yang kurang enak dan serasa tidak nyaman. dimulai sejak mimpi gigi graham lepas 2 minggu lalu, yang menurut orang-orang berarti akan kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. disusul berturut kunci motor dan kran air yang patah tanpa sebab, gelas yang pecah atau hingga foto keluarga yang terjatuh. saat foto keluarga terjatuh dan saya katakan ada firasat buruk, seorang kawan berujar "masih percaya hal2 kaya gitu shim?" akhirnya percaya tidak percaya, firasat memang selalu hadir di hulu tapi terkadang kita menyadarinya di hilir. saya juga sempat pamit tanpa alasan pada teman-teman untuk tidak hadir pada sebuah acara yang-mungkin-penting, tanpa alasan yang tak bisa saya uraikan. saya seperti yakin bahwa saya tidak hadir dalam beberapa situasi yang sudah direncanakan di jogja, tanpa tahu alasannya.

beberapa waktu lalu saat berkumpul dengan beberapa kawan untuk sekedar membicarakan kegiatan. saya memilih berdiam sendiri untuk membaca salah satu karya leo tolstoy. cerpen berjudul "kebahagiaan keluarga" yang sangat panjang bercerita tentang kehidupan seorang anak dan juga keluarga setelah sang ayah meninggal, cerpen tersebut menggambarkan bagaimana perjuangan seorang anak setelah ayah mereka meninggal. tak lama setelah menyelesaikan cerita tersebut, kematian menjadi barang candaan penuh tawa di lesehan. tak panjang tapi cukup untuk berkelakar. tapi kini saya sadari kematian tidaklah lucu dan pantas untuk ditertawakan saat kita benar-benar pada situasi kehilangan.

mendengar suara ibu yang terisak di ujung telpon nun jauh terpisah dalam bentang jarak ratusan kilometer seperti membawa terbang memori ke masa lampau. kakek buat saya adalah seorang teman, ayah, juga guru. beliaulah yang mematri sendi-sendi agama, mengajarkan bagaimana membaca Al Quran hingga sholat, diskusi dari hukum waris hingga zakat bahkan berbagi tentang aqidah dan tauhid. maka saat saya meninggalkan sholat atau lupa mengaji, sekarang terasa tak hanya menyepelekan diri sebagai seorang hamba Tuhan tapi juga seperti mengkhianati kakek. tapi buat ibu kakek jauh lebih dari itu, tahun-tahun terakhir kakek sakit ibu selalu ada disamping beliau.

tahun-tahun terakhir ini saat kondisi kakek menurun ibu hampir tak lepas dari samping kakek. ibu selalu ijin dari kantor saat kakek keluar-masuk rumah sakit, ibu menempatkan ayahnya di podium utama di banding karir dan pekerjaan. terkadang ibu harus bolak-balik kerumah kakek di desa saat kondisis kakek memburuk, dan kami selalu mengerti bahkan bapak sangat faham akan hal itu. kondisi sakit kakek tak hanya membuat tubuhnya terlihat lebih ringkih dan kuruh tapi ingatannya mulai kabur, terkadang sangat sensitif mudah menangis dan tersinggung. benar kata orang saat tubuh menua terkadang seperti kembali ke masa anak-anak.

ibu merubah dirinya menjadi kaki dan tangan kakek, menjadi tangannya saat menyuapkan makanan, menjadi tangannya untuk menggaruk saat gatal datang menyapa, bahkan ibu menjadi tangan kakek ketika kakek harus membersihkan badan. ibu menjadi kakinya untuk berjalan dan melangkah, saat kakek bosan duduk dan berbaring, bahkan hingga akhir hayatnya kini tak sekalipun kakek menggunakan tongkat untuk membatunya berjalan, selalu ada anak-anak hingga cucunya yang memapah beliau.

Seperti dulu ketika masih kecil, beliau mengajari bagaimana menggerakkan tangan dan berjalan, tahun-tahun terakhir ini sepertinya kini giliran ibu mengajari beliau hal yang sama. Jika dulu anak kecil yang manja minta diselimuti menjelang tidur, kini giliran menyelimuti beliau. Dulu beliau mengurus keseharian dengan tabah dan ikhlas, kali ini mesti melakukan hal yang sama: memapahnya ke kamar mandi, melayaninya jika ingin makan, minum obat dan bersedia melakukan banyak hal lain untuknya. Jika dulu ia terjaga semalaman menjaga anaknya, kali ini  juga mesti melakukannya, kalau-kalau beliau butuh sesuatu atau minta diantar ke kamar mandi.

kini ibu tak bisa melakukan itu lagi pada kakek, suatu saat nanti saya harap bisa merawat kedua orang tua saya ketika sakit, mungkin tak sebaik saat ibu merawat saya di waktu kecil atau kakek di masa tua-nya. terbayang perjuangan, tulus doa dan cinta kasih yang tek pernah letih. saya tak melihat lagi penyesalan, duka mendalam dan keterkejutan, yang hadir kini harapan serta doa serta keikhlasan.

perlu waktu yang tak sedikit untuk menyadari bahwa batas antara mati dan hidup beitu tipis, begitu sederhana namun sangat sulit unutk dicerna. sangat aneh rasanya merasakan situasi yang berbeda, orang-orang yang biasanya ada dan berbincang bersama kemudian pergi untuk selamanya, sebuah perpisahan yang terkadang tak pernah dirasakan pertandanya dan tanpa ucapan kata-kata.batas antara mati dan hidup hanyalah sedetakan jantung saja namun begitu rumit untuk difahami. Andai saja kita semua punya cukup waktu dalam hidup untuk memahami kematian.

tak perlu menggambarkan tentang tetesan darah korban dan penderitaan perang untuk menumpahkan kesedihanku. Tak perlu juga bercerita tentang bencana yang menelan ribuan korban jiwa untuk membuatku menangis. tak perlu mengabarkan tentang berjuta luka kemiskinan, penindasan serta ketidakadilan untuk memaksa aku mengeluarkan air mata. Cukup, cukup saja kau paksa aku diam lebih lama di hadapan seorang kakek tua yang terbaring terbungkus kafan ini, sungguh tak sedikit pun punya kuasa bagiku bisa menahan air mata ini

siang ini aku pulang sendirian dari jogja, kutatap langit membiru di hiasi awan putih bergumpal, mengingat kembali, canda tawa yang mungkin tak kan kembali tiba, kini aku tersenyum ikhlas melepasnya dengan mata yang berkaca-kaca ... dan terus berdoa supaya Allah memberikan tempat terbaik disisNya.....
Read More...

Sabtu, 28 Januari 2012

Sore Ini di Malioboro

Leave a Comment

sore ini, di malioboro…..

Seorang penjual koran menawarkan berita pembunuhan, kekerasan, penipuan, pemerasan, korupsi, pertengkaran, politik konyol, masailah hukum dan sebagainya. Kejadian-kejadian itu datang setiap hari di surat kabar, seperti rasa lapar…

Seorang pengamen bernyanyi buruk sekali. Suaranya tak enak didengar dan musiknya berantakan. Tapi aku tahu, acapkali kita memberinya uang disaat kita menyadari bahwa nyanyiannnya telah selesai. Lalu waktu terus mengejar, seperti rasa lapar…

seorang pedagang tak henti-hentinya menawarkan dagangannya. suaranya paru dengan wajah tetap memaksa untuk tersenyum walau urat dipipinya jelas menggambarkan kondisi ekonomi bangsa yang tengah menjeratnya dalam kubangan yang tak berakhir. panggilan itu terus bergema menembus kebisingan, seperti rasa lapar…

seorang kusir delman terus mengelus kudanya, menunggu penumpang yang tak kunjung datang. wajahnya semakin lesu, terlukis ribuan kilometer jarak yang telah dia tempuh dengan kudanya, perjalanan hidup berisi potret-potret wajah manusia dijalanan yang penuh dengan harapan-harapan yang tak terpenuhi, seperti rasa lapar…
Read More...

Rabu, 28 Desember 2011

selamat ulang tahun wi

4 comments

lilin dari jogja, selamat ulang tahun wi

Selamat ulang tahun wi, lama kita tak saling bicara walau itu hanya lewat sepanggal kata di layar. Kita justru terakhir bicara tat kala kau datang mengunjungi  jogja. Walau sebenarnya kala itu kau enggan berjumpa. Seperti kawan lama yang datang bersua, seperti itu rasa mengenang ulang tahunmu. Kita tak pernah merayakannya bersama. Hanya saja ucapa selamat ulang tahun untuk seorang kawan wajib rasanya untuk disampaikan walau dengan cara sederhana. Tak ada kado atau hadiah sebagai bentuk ucapan sambung rasa. Hanya sebaris doa terlantun untunk engkau kawan. tak banyak sebaris saja, tak juga rumit begitu sederhana. tentang pertemanan kita yang berawal dari dunia maya. ah apa kabarmu kini wi

Mengenang kembali awal perkenalan kita saat berdebat tentang arti  dan makna nama kita, atau saat kita bersepakat untuk saling memanggil dengan nama belakang, tiwi begitu aku memanggilmu. Apa kabar ulang tahunmu kini? Sepertinya ulang tahunmu kini terasa lebih ringan dari tahun-tahun sebelumnya, kini rasa hatimu mulai lepas dari beban seseorang yang terus membayangi dan membuatmu merasa bersalah, ulang tahunmu kini tak lagi ditemani tetes air mata dan beban pikiran tentang syarat-syarat kelulusan dari satuan pendidikan.

Sebenarnya aku berharap kau akan mengajaku sekedar makan-makan di pinggir jalan, ah tak apa itu hanya utopia saja. Akau sadar itu tak mungkin terlaksana, yang penting kau bahagia, sudah lebih dari cukup untukku sebagai kabar berita. Di tulisan ini tak kusertakan doa untukmu, tak juga kumuat kata-kata indah seperti di kata-kata ucapan selamat ulang tahun untukmu tahun lalu. Di deret tulis ini mewakilkan ucapan yang tak sempat tersurat lewat pesan singkat dan pesan dinding, aku harap kau baik-baik saja, sehat dan bahagia

Wi, sebagai seorang kawan aku meindukanmu, merindukan renyah tawa, atau duet hancur kita di kala malam. teriring doa tak ada lagi air mata kepedihan mengalir dari matamu, kalaupun air mata itu menetes yakinlah ada mentari yang akan hadir menjadikan bulir air itu menjadi pelangi. jika kau jatuh dan terpuruk ingatlah aku, mungkin saja aku bisa mengentaskanmu dari keterpurukan itu. saat kau senang lupakanlah aku, bila kau takut aku akan merusak kebahagiaan yang kau jalani. Sekali lagi selamat ulang tahun kawan...
Read More...

Rabu, 21 Desember 2011

Mencari Islam yang Paling Benar

Leave a Comment

entah tulisan ini bermanfaat atau tidak, tapi daripada ga ada ide untuk menulis mungkin tidak ada salahnya untuk ikut menambah peredaran kata di rumah sehat ini. tadi malam saya bertemu beberapa kawan dan sekedar melepas kangen di angkringan lek man deket tugu. di tengah tawa tidak jelas, tiba-tiba ada yang nyeletuk, bertanya membuka ruang diskusi yang cukup meredakan tawa.

seorang kawan itu bertanya, tentang perdebatan kekerasan FPI dan keyakinan Ahmadiyah, atau antara JIL dan HTI dalam menghadapi pertentangan khilafah. semakin malam semakin serius, beberapa diantaranya mengeluarkan senjata hujjahterbaiknya. perdebatan mereka berlangsung seru hingga bulan terus bergerak hampir melewati titik puncaknya. dan saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan perdebatan soal agama, jadi tetap mendengarkan walau tangan dan mulut tidak bisa lepas dari aneka makanan dan kopi joss.

malam berhawa dingin dengan suasana panas itu memang berakhir dengan tawa dan senyuman, dan tentu saja dengan egoisme masing-masing manusia. egoisme dalam keyakinan dalam beragama dan egoisme tak acuh saya. saya senang karena diskusi itu tidak berefek terlalu jauh, setidaknya untuk persahabatan kami, walau saya pribadi agak sedikit rugi, gara-gara tidak ambil pusing dengan perdebatan itu, tangan saya tidak berhenti bergeriliya di tengah hamparan makanan, dan tebak saja hasilnya, saya tekor…

pembicaraan itu buat saya tidaklah terlalu substantif, dalam permasalahan agama. pandangan bahwa keyakinannya adalah yang terbaik terkadang membuat saya geli, seolah dialah sang pemilik kuasa atas garis-garis agama. pemilik tonggak yang paling benar.beberapa golongan yang menganggap alirannya yang paling benar dan yang lain salah bagi saya pribadi seperti menambah persoalan hidup yang tak kunjung reda.

malam itu ada seorang kawan yang bertanya, tentang pendapat saya akan perdebatan yang sedang berjalan, saat itu saya hanya menjawab dengan senyuman dan mulut penuh makanan. saya pikir keilmuan saya soal agama masih sangat cetek dan kecil, saya takut jika ikut urun pendapat justru malah mengacaukan suasana. sepertinya kawan itu memahami kebodohan saya.

saya percaya bahwa Allah mengetahui kebenaran mutlak. dengan begitu, sebenarnya hampir mustahil bagi seorang manusia untuk menjangkau realitas islam dalam kesempurnaannya. dalam keterbatasan diri dan pengetahuan yang ada pada diri saya, saya tidak berhak atas klaim kebenaran. bahkan saya justru beranggapan bahwa tak ada satupun manusia di masa modern kini yang berhak atas sebuah klaim kebenaran beragama dalam suatu agama.

dalam penilaian saya, pemahaman umat muslim terhadap doktrin-doktrin keagamaan sebenarnya bersifat relatif dan karenanya suatu waktu dapat berubah dan beragam. contoh nyata ada beberapa aliran mahzab dalam khazanah keilmuan fiqih, dan bentuk-bentuk aliran dari syiah hingga sunni, dari HT hingga JIL. di Indonesia saja ada bermacam-macam bentuk dan jenisnya dengan menggunakan pemahaman dan penafsiran alirannya masing-masing.

dengan adanya keragaman penafsiran terhadap islam di satu sisi, memunculkan keindahan, karena  -katanya- keragaman adalah rahmah. dan dilain sisi, Islam semenjak meninggalnya Sayyidina wa Maulana Rasullulah Muhammad SAW, beragamnya penafsiran atas Al-Quran dan Hadist memang tidak bisa dibendung lagi. kenyataan ini membuktikan bahwa Islam tidak menganut sistem kependetaan dan keagamaan terpusat dalam beragama (la rahabaniyah fi al Islam). maka tak seorang pun dapat mengklaim bahwa pemahamannya atas islam yang paing benar dan otoratif di banding yang lain. karenanya penting sekali bagi kamum muslimin untuk mengembangakan toleransi beragama dalam, baik secara internal umat islam sendiri maupun ekternal dengan agama lain.

Terus terang saja, pengetahuan saya tentang Islam masih sangat minim sekali. Terhadap keislaman saya sendiri, saya masih belum yakin apakah sudah benar sesuai yang diridhai oleh Allah SWT. Karena itu saya tidak berani menilai keislaman bahkan keberagamaan orang lain; apalagi mengkafirkan dan menghalalkan darah orang. Jangan-jangan ketika saya menyalahkan orang, ternyata hakikatnya dalam pandangan Allah justru sayalah yang sesat. Karena kebenaran yang mutlak hanya milik Allah sendiri, saya sangat takut memutlakkan kebenaran pendapat saya; takut terjebak justru Men-Tuhan-kan pendapat saya, takut terjerumus syirik tanpa saya sadari. Na’udzu billahi mindzalik..
Read More...

Minggu, 11 Desember 2011

(Nominator GVlog) Hikayat Odha di Pulau Dewata

2 comments
Sebuah Bus berwarna putih kertas meluncur pelan,  ikut merayap dalam keramaian lalu lintas Denpasar. Di sekitar jalan Tukad Buaji yang sempit, tak jauh dari belokan terakhir sang sopir mengejak pedal rem. Rombongan AusAID turun dari kendaraan, mereka adalah 10 blogger, 3 orang dari AusAID, 1 orang HCPI, 1 orang dari yayasan Spiritia, dan tentu saja 2 orang dari vivanews. Bang Dani berjalan didepan, berperan sebagai penunjuk jalan, melangkahkan kaki menyusuri gang Lotus. Langkah kaki terhenti di sebuah rumah sederhana bernomer 30, dengan sebuah papan kecil di atas jendela bertuliskan “Yayasan Spirit Paramacita”. Sesampai  di beranda rombongan disambut oleh para anggota dan pengurus yayasan yang dulu bernama “Bali Plus” ini, tak butuh waktu lama untuk  membuat suasana menjadi cair dan bersahabat.

“selamat datang di pulau bali, dan selamat datang di bali plus” ucap perempuan cantik dengan pakaian batik menyambut kedatangan rombongan AusAID

Pada awalnya Yayasan Spirit Paramacita bernama Bali+ (bali plus), plus berarti positif dan diartikan dalam dua makna , Poritif HIV dan tetap memiliki pandangan positif untuk masa depan. Yayasan ini diinisiasi oleh 6 orang ODHA pada tahun 2001, tujuannya untuk saling memberi motivasi dan berbagi antar sesama ODHA yang terkadang dijauhi oleh beberapa komunitas masyarakat akibat stigma yang melekat pada orang dengan HIV.

“beban terberat ODHA adalah tekanan sosial, yang berakibat pada tekanan psikologis, ini yang sangat memberatkan ODHA, bukan sekedar fisik, karena kalau fisik ODHA tidak ada bedanya dengan yang lain” jelas Putu Utami salah satu dari kelompok penggagas.


Bisa dibilang Yayasan Spirit Paramacita adalah salah satu kelompok yang berhasil menggalang dukungan, bantuan serta berbagi motivasi, bahkan juga edukasi, baik tentang perlawanan terhadap bahaya HIV dan dukungan terhadap orang dengan HIV.Dibawah kelompok penggagas ini, terdapat kelompok-kelompok sebaya, seperti HOMBOYS dan WARCAN, kelompok-kelompok in berperan dalam pengorganisasian komunitas, dengan adanya kelompok sebaya maka memudahkan penjangkauan kampanya sampai akar rumput pada populasi kunci. Yang dimaksud populasi kunci yaitu komunitas dan kelompok masyarakat yang rawan tertular HIV, seperti PS (pekerja seks), waria, pelanggan, Penasun (Pengguna Narkoba Suntik), dan lain sebagainya. 

di KPAP Bali (foto @Eko Nugroho)

Bali+ tidak hanya bergerak pada kelompok sebaya dalam komunitas-komunitas, tapi juga berperan dalam kelompok sebaya di tingkat daerah seperti kabupaten. Dari sembilan kabupaten di sudah terdapat kelompok sebaya di enam kabupaten, beberapa diantaranya berhasil menjadi contoh bagus. Seperti di Singaraja yang dimotori oleh orangtua ODHA, Jembrana yang digawangi para kader Desa, dan salah satu yang mendapat raport bagus di mata Bali+ ada di kabupaten Tabanan.

Keberhasilan-keberhasilan yang dicapai Yayasan Spirit Paramacita, tidaklah berjalan mulus. Dilapangan masih saja banyak hambatan-hambatan yang muncul. Beberapa diantaranya seperti stigma buruk terhadap ODHA yang masih belum sepenuhnya dihilangkan.  Seperti yang terjadi di Gianyar ada tiga jenazah yang mengalami kesuliatn dalam prosesi pemandian, dikarenakan warga setempat masih takut akibat stigma yang melekat pada ODHA. Selain itu kesulitan-kesulitan lain seperti susahnya akses dokter anak seperti di utarakan Putu Utami

Namun susahnya dokter anak ini disanggah oleh Dr. Kt. Subrata dari dinas kesehatan,

“sekarang pemerintah mengaktifkan PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmision) di rumah sakit seperti di sanglah, ini memudahkan akses dokter-dokter anak” ujar dokter ketut

Tapi data mencengangkan berbicara soal penanganan HIV pada anak-anak. Data ini disampaikan oleh Drh. Made Suprapta dari KPA (Komisi Penanggulangan Aids) Bali per september 2011. Ada 83 anak usia 1-4 tahun, 10 anak 5-14 tahun, dan sebanyak 44 anak dibawah 1 tahun.  Ada sekitar 137 anak terinveksi virus HIV. Melihat jalur-jalur penularan HIV yang didominasi oleh hubungan seks dan Narkoba jarum sunitik, jelas bahwa anak-anak tidak tertular lewat jalur ini. kemungkinan besar adalah lewat jalur Perinatal (Ibu ke janin). Artinya adalah masih kurangnya edukasi pada ODHA yang berniat memiliki anak, supaya anak-anaknya tidak menjadi ODHA. Danny Yatim dari HCPI (HIV Coorporation Program for Indonesia)menjelaskan tingginya presentase jalur Perinatal

“Ada 33% penularan HIV lewat interaksi ibu ke janin, ini tinggi akibat rendahnya eduksi padaODHA itu sendiri”  ujar Danny tegas.

Itulah sebabnya edukasi tetap memegang peranan penting dalam memutus mata rantai penularan virus HIV. Tidak hanya dari ibu ke janin, tapi juga pada jalur-jalur lain seperti, IDU atau Penasun, hubungan seks lawan jenis ataupun sejenis seperti MSM (gay).

Dalam program kunjungan rombongan AusAID tidak hanya bertemu dengan stakeholder yang ada seperti KPA (komisi Penanggulangan AIDS) dan Dinas Kesehatan, serta yayasan-yayasan yang peduli HIV/AIDS. Tapi juga mengunjungi tempat-tempat penanganan dan konseling HIV seperi Kisara-PKBI dan puskesmas kuta serta klinik. Bahkan diajak langsung melihat titik-titik populasi kunci, seperti lokalisasi sekitar Ubung dan kehidupan malam di Seminyak

***

Fokus edukasi tentang HIV memang tetap berpegang pada dua hal utama, pencegahan penularan dan menghapus stigma buruk pada ODHA. Dan ini bukanlah pekerjaan mudah serta juga bukan tanggungjawab satu fihak. Disini semua berperan tidak hanya urusan pemerintah lewat dinas hingga program trans-nation seperti program AusAID lewat HCPI. Justru dari  akar rumput seperti kelompok sebaya, organisas-organisasi, komunitas, bahkan kelompok kepemudaan.

Di Bali sebenarnya sistem cekal (cegah tangkal) penularan virus HIV sebetulnya sudah berjalan baik, bahkan mungkin salah satu yang terbaik di Indonesia. Tidak hanya pemerintah saja disini, tapi juga kerjasama antar pemerintah seperti program AusAID. Ini bukti bahwa HIV bukan sekedar masalah satu negara saja tapi sudah menjadi masalah global, hingga dalam penanganannya perlu adanya kerjasama antar negara.

Dimulai dari pencegahan di tingkat akar rumput dengan pembagian kondom gratis dan pembagian jarum suntik steril. Dua hal ini bukanlah melegalkan sex bebas dan penggunaan narkotika, tapi sebagai proses pencegahan awal di titik pertama. Tapi tetap pencegahan utama adalah edukasi untuk tidak melakukan prilaku beresiko.

“kondom dan jarum suntik steril, dibagikan pada pupulasi kunci untuk mengurani prilaku beresiko, ini penting pada pencegahan di awal, dan itu tetap dilakukan walau masih tersendat, seperti jumlah jarum suntik yang dikembalikan masih jauh lebih sedikit dari pada yang disebarkan, selain tentu saja program Methadone” ujar dr. Elly dari puskesmas kuta satu dengan nada prihatin.

Untuk menembus akar rumput dalam edukasi, jelas pemerintah susah masuk. Cara terbaik adalah masuk lewat komunitas, disinilah komunitas-komunitas berperan. Peran komunitas sangatlah penting dalam hal ini, karena terkadang populasi kunci memiliki ikatan khusus dalam komunitasnya. Arya misalnya dari GAYa Dewata menuturkan, masih ada kesulitan dalam melakukan edukasi pencegahan seperti pemakaian kondom, ini karena hal itu menyentuh privacy masing-masing. Tapi buat A yang merupakan aktivis di HOMBOYS dan WARCAN, punya peraturan lain. Ini dikarenakan anggota HOMBOYS  dan WARCAN berada pada populasi kunci paling beresiko, karena kebanyakan PS (Pekerja Seks), mereka diwajibkan tindakan “perlindungan diri” bagi anggotanya dan ada sanksi.


yayasan kerti praja (foto @Eko Nugroho)


Selain peran komunitas di gerbang awal, ada juga peranan pemerintah. Di Bali komitmen pemerintah cukup tinggi, ini dilihat dari “Komitmen Sanur” tahun 2004. Komitmen ini berisi 9 komitmen pemerintah dan juga 7 prioritas rencana 2008-2011, dari mulai pencegahan, perawatan, hingga pada kesinambungan penanggulangan dan pada akhirnya berfokus pada satu titik menghentikan penularan HIV. Untuk itulah pemerintah Bali mempermudah akses VCT (Voluntary Counseling and Testing- tes dan konseling sukarela). Ini sebagai langkah awal, dan bisa dilakukan dibanyak tempat di Bali terutama Denpasar, dari Klinik Kisara-PKBI, Klinik yayasan seperti di Kerti Praja, dan juga puskesmas.

Seandainya terbukti “reaktif” terduga akan dirujuk seperti ke RS. Sanglah untuk melakukan tes CD4 (sel darah putih). Selanjutnya  jika melalui tes darah ada bukti terkena HIV, pemerintah Bali memudahkan akses ARV (Anti Retrovial Drugs). ARV sebenarnya gratis, namun terkadang susah di akses, namun di  Bali cukup mudah di dapatkan.

***

Seperti diungkapkan diatas, masalah HIV tidak hanya masalah sebuah negara saja tapi juga menjadi permasalahan dunia. Itulah kenapa pemerintah Australia menjali kerjasama dengan Indonesia dalam penanganan HIV melalui program AusAID, dengan fokus utama di Papua, Papua Barat, dan Bali, selain tentu saja daerah-daerah lain di Indonesia. Dan di Indonesia dalam penanganan HIV/AIDS, fihak AusAID mendelegasikannya lewat HCPI.

Australia memberikan komitmen hingga A$100juta dalam kemitraan Australia untuk HIV 2008-2015, untuk mengurangi penyebaran HIV dan peningkatan kualitas hidup ODHA. Utamanya di bali lewat HCPI AusAID membantu berbagai program seperti yang digalakan di Puskesmas Kuta, yayasan spirit paramacita, yayasan kerti praja, dan berbagai program lain di KPA.

Prinsip kerjasama ini, berdasarkan pada komitmen jangka panjang dan sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia. Selain itu berjalan pada semua level dari daerah hingga nasionalserta berfokus pada wilayah tertentu yang benar-benar membutuhkan.

Hal ini menunjukan bahwa teman-teman ODHA tidaklah sendiri, begitu banyak orang yang peduli. Namun terkadang stigma yang ada dimasyarakat hingga memunculkan diskriminasi  membuat teman-teman ODHA cendrung menutup diri. Itulah kenapa fokus utama dalam penanggulangan HIV/AIDS tidak saja pada pencegahan penularan tapi juga pada penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Jauhi virus-nya  rangkul teman-teman ODHA.




Read More...

Jumat, 25 November 2011

(GoVlog) Odha Sahabat Kita

5 comments
Chanda hanya bisa terdiam membisu disamping ibunya yang terus terisak, tak ada yang bisa dilakukan gadis kecil itu didepan adik kecilnya yang terbaring lemas tanpa nafas. air matanya sudah kering, dan matanya menatap kosong meja logam tempat dimana sang adik terbaring dengan penuh tanya. Namun, Chanda memiliki tanggung jawab terakhir yang istimewa, yaitu mempercantik sang adik di hari terakhirnya di dunia. Ia mencoba tegar dan merias bayi mungil itu dengan seadanya, mendandaninya dengan pakaian terbaik yang tersedia serta ia pula yang meletakannya dalam peti sederhana dari kayu berwarna coklat. gadis 12 tahun ini menunjukan ketangguhan diri dan kedewasaan menghadapi kengerian situasi yang harus dia alami. 

Mari lindungi Odha, dan jadikan mereka juga bagian dari kita, kamu tidak sendiri.
( Foto ilustrasi : copyright shutterstock)

Itulah sepenggal kisah, sebuah cuplikan frame dari film berjudul "Life, Above All", film yang didedikasikan untuk anak-anak yatim akibat AIDS dan ber-setting di Afrika Selatan. Film yang diadaptasi dari novel berjudul "Chanda's Secret" karya penulis asal kanada Allan Stratton. karya dari sutradara Oliver Schmitz dan naskah skenarionya ditulis oleh Dennis Telepon serta Schmitz sendiri. Sebenarnya tidak hanya menyajikan kisah sedih saja, namun justru di dominasi oleh perjuangan dan kisah inspiratif persahabatan Chanda dan Esther. Esther dikisahkan seorang anak yang tinggal sendiri karena semua anggota keluarganya meninggal karena AIDS, dalam ketakutannya itulah Chanda hadir sebagai sahabat yang tetap akan menggenggam erat tangannya walau apapun yang terjadi. sikap Chanda adalah sebuah inspirasi keteguhan dan perjuangan seorang anak berusia 12 tahun melawan stereotip dan prasangka masyarakat, bagaimana dia melindungi sahabat dan keluarganya dari tuduhan-tuduhan menyakitkan. Film ini menceritakan sebuah kisah ketahanan tanpa klise tentang kemenangan semangat manusia atau tanpa janji-janji palsu tentang masa depan yang tak berawan.

Kisah seorang tokoh "Chanda" sebenarnya tidak hanya hadir dalam film "life, Above All" ataupun novel "Chanda's Secret". Namun, juga hadir dalam diri kebanyakan orang indonesia yang peduli HIV/AIDS.  Siti Nurdjana Solatif misalnya, yang sejak tahun 1998 memutuskan menjadi relawan penderita AIDS tidak hanya merawat numun juga memberi motivasi dan perhatian. Siti juga menjadi salah satu inisiasi Jayapura Suport Group (JSG) yang setiap senin sampai minggu meluangkan waktu untuk memberikan perhatian dan cinta kasih pada teman-teman Odha. Karena sebenarnya Odha tidak harus -malahan dengan tegas dikatakan- tidak boleh dikucilkan, mereka sama saja seperti kita-kita, seperti kebanyakan orang hanya saja "ketitipan" suatu penyakit yang cukup berat. teman-teman Odha tidak harus ditinggalkan malah harus didekati, sayang sekali anggapan masyarakat yang menganggap penyakit ini penyakit kotor belum juga bisa di eliminir seutuhnya.

Sebuah wacana bahwa istilah kata "Odha" bukan singkatan atau akronim tapi kata yang mengacu kepada Orang dengan HIV/AIDS sehingga tidak semua hurufnya kapital. Istilah ini sendiri dianjurkan oleh Prof Dr Anton M. Moeliono, ketika itu Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, kepada aktivis YPI al. Husein Habsyi dan alm. Suzana Murni (16/11-1995). Menurut Prof Anton pemakaian kata Odha lebih netral dan dinamis daripada menyebut penderita, pengidap, korban, dll. (Syaiful W Harahap/kompasiana).

Tentu saja anggapan bahwa HIV/AIDS sebagai penyakit "menjijikan" masih saja ada di masyarakat, meski dengan kampanye yang dilakukan akhir-akhir ini anggapan tersebut bisa mulai tergerus namun masih belum sepenuhnya terhapus. Kesimpulan pendek tersebut terkadang di ambil dari kisah  tertularnya teman-teman Odha yang didominasi sex bebas dan narkoba. Namun sesungguhnya ada juga yang mengidap bukan karena narkoba maupun perilaku sex menyimpang. Seperti yang di tuturkan Nancy, teman saya di relawan kanker anak Rumah Sakit Sardjito, yang juga jadi relawan di SPAY (Solidaritas Peduli HIV/AIDS Yogyakarta). menurut Nancy, ada juga yang mengidap HIV/AIDS saat jadi relawan gempa dan tertular dari korban gempa ketika melakukan penanganan medis.

Perjuangan untuk mencegah pandangan buruk masyarakat tentang AIDS bahkan sudah digalakan sejak 80an. sebuah film berjudul "AIDS Phobia" yang diproduksi tahun 1986 dan dibintang Jamal Mirdad serta disutradarai Abenudin SE. film ini mengajak penontonya untuk lebih terbuka dan tidak membeda-bedakan teman-teman Odha. memang belum banyak film yang memuat tentang edukasi tentang AIDS diperfileman nasional saat ini, namun edukasi itu harus tetap kita kumandangkan.

Odha tidak selalu identik dengan lemah dan tak berdaya, tapi justru malah banyak juga Odha yang bisa survive dan bahkan bisa berprestasi. Deradjat Ginandjar misalnya,berhasil membuktikan bahwa dia mampu membawa harum nama bangsa di kancah internasional. Di ajang Homeless World Cup 2011 yang dihelat di Paris, Agustus lalu, Ginan meraih predikat sebagai pemain terbaik. Homeless World Cup 2011 adalah ajang sepak bola jalanan yang diikuti komunitas tunawisma. Pesertanya anggota komunitas yang kurang beruntung yang ada diseluruh dunia. Ginan adalah salah satu contoh Odha yang berprestasi, masih banyak Ginan-Ginan lain di sekitar kita yang mampu survive dan bahkan berprestasi lebih.

Apapun alasannya kita tidak berhak membeda-bedakan bahkan mengucilkan teman-teman Odha, mereka sama seperti kita. Mereka juga punya kesempatan dan kompetensi yang sama. Kita harusnya menjadi sahabat Odha, memberi dorongan dan motivasi. Sekaligus juga memberi edukasi kepada masyarakat, tidak hanya edukasi tentang HIV/AIDS itu sendiri tapi juga edukasi bahwa Odha juga bagian dari masyarakat yang harus kita dekati dan tidak boleh dihindari. Dengan itu kita bisa memberi motivasi kepada teman-teman Odha, bahwa kamu tidak sendiri.

Aziz Abdul Ngashim, Yogyakarta

sekian
Read More...

Kamis, 10 November 2011

Mengemis Popularitas

Leave a Comment

jika ada negara di dunia ini yang rakyatnya sangat haus popularitas, mungkin indonesia masuk dalam jajaran 10 besar dalam daftar, tak hanya orang dewasa bahkan anak-anak pun dipaksa mengemis popularitas. lihatlah anak-anak kecil dalam sebuah kompetisi ceramah, isi ceramahnya sama sekali tak ada isinya dan para penonton kemudian bertepuk tangan terlihat kagum, mereka dianggap anak-anak beriman di masa depan, namun semua itu sangat bias. bagimana sebuah bisnis bisa memanfaatkan anak dan agama sebagai sebuah ladang uang, kompetisnya memanya sedang tidak laku, sekarang musim dimana agama diecerkan di televisi. anak-anak dipaksa menjadi peminta-minta mengemis tiap ketikan huruf di layar ponsel, kemudian anak-0anak itu akan berharap menjadi yang terbaik dengan dukungan tertinggi. ini memang terjadi pada semua sistem kehidupan dalam dunia pertelivisian kita yang menyuguhkan popularitas dengan cara “masuk tipi”.

itu memang terjadi pada semua hal, kompetisi menyanyi dan ceramah, termasuk bakat. semuanya ditentukan oleh jumlah sms dimana para peserta diwajibkan mengemis sms dukungan. saya kasihan melihat orang minta didukung, mungkin sebegitu inginnya menjadi terkenal hingga sampai mengemis dukungan. wajah-wajah seperti inilah juga yang nampak pada komod, orang-orang sesumbar bahwa masuk 7 keajaiban dunia itu kebanggan. itu semua omongkosong. apa yang dibanggakan dengan komodo menjadi bagian dari 7 keajaiban dunia baru? ini bukan soal sms buat saya, ini soal bagaimana saya memandang, bahwa negeri ini sangat butuh popularitas butuh terkenal. untuk dikenal orang, kita mendukung diri kita sendiri. apa arti kebanggan dari itu semua.

gambar : phylopop.com
popularitas itu sangat bernilai, namun semakin populer maka sebagian dari kita harus sadar bahwa privasi akan semakin tipis. itulah kenapa orang atau sesuatu yang populer dengan cara palsu akan cepat redup, orang yang naik dengan cepat juga akan hilang dengan cepat pula. tidak ada, bahkan sangat sedikit popularitas yang didapatkan dengan sebuah vote akan bertahan lama, lihat semua artis-artis yang muncul lewat sebuah voting dalam kompetisi yang diadakan stasiun-stasiun televisi, silahkan nilai sendiri. orang menghargai sesuatu lewat sebuah proses, itulah kenapa piramida dan borobudur memiliki nilai lebih dari patung penebusan dosa di brazil dan patung liberty di amerika, sejarah piramida kuno zaman firaun dan sisa-sisa kejayaan wangsa saylendra dalam bentuk stupa candi punya nilai historis dan proses.

kita mengemis sebuah popularitas untuk mendukung TNK sebagai keajaiban dunia, kita menjadi orang-orang yang tidak percaya diri bahwa satu-satunya makhluk hidup yang tersisa dari zaman dinasti dinosaurus masih bertahan hidup di indonesia. komodo bertahan hidup saja sudah bagian dari keajaiban, tapi kita tak pernah merasakan itu. yang kemudian orang-orang butuhkan sepertinya pengakuan dari luar, kita seperti butuh diakui bahwa itu bagian dari keajaiban. kasihan….

semoga dengan komodo menjadi populer kalian akan bangga dan bahagia, mungkin dengan itu orang-orang yang menjadi aktivis pemenangan akan merasa bangga komodo menjadi populer, bangga bahwa dengan tingginya popularitas komodo maka destinasi pariwisata akan bertambah, kunjungan meningkat dan pendapatan masyarakat lokal akan naik. pikiran itu amat sangat salah, coba cek aja labuan bajo, daerah yang akan dipusatkan sebagai bagian dari pesta keajaiban ini sepi, masyarakat tidak antusias menyambutnya. apa pasal,,,,,

dulu orang kesana adalah -rang-orang yang ingin benar-benar mengenal komodo sebagai sebuah “alien” dari masa purba, tak ada yang istimewa beberapa losmen berada disekitar situ. tapi lihat sekarang, hotel-hotel berbintang masuk dan melakuakn penetrasi besar-besaran dengan modal yang besar pula, losmen-losmen yang dikelola orang lokal tergerus habis dan ada pada masa-masa suram,  begitu juga di flores. tak hanya itu masuknya kapal-kapal penyebrangan dari pihak orang luar flores yang lux benar-benar menyingkirkan peran nelayan setempat dalam hal transportasi, lihat pula masyarakat asli di pulau komoda atau rinca yang kerjanya hanya mengukir kayu dan membuat patung komodo, rakyat setempat semakin tergusur oleh masuknya modal-modal luar, semakin terkenal komodo, semakin besar penetrasi pemodal luar untuk masuk dan perlahan akan menghabisi peranan masyarakat lokal.
komodo mendapat popularitas dengan tidak alami, bahasanya dikarbitkan, ataubahas yang lagi tren di kompasiana “instan” mengapa saya sebut instan, karena komodo sebenarnya sudah ada sejak zaman belanda, dan perlahan tapi pasti pengunjung TNK meningkat, peningkatan jumlah wisatawan diikuti dengan perlahan juga oleh masyarakat lokal, hingga biro-biro wisata lokal dan losmen serta hotel-hotel biasa bermunculan, beberapa orang kemudian menjadi pengrajin, semua berjalan alami walau perlahan hingga penduduk lokal merasakan hasil sebagai bagian dari industri pariwisata itu. tapi sekarang, dengan “tiba-tiba” komodo “terkenal” modal luar masuk tanpa bisa dibendung dan menyingkirkan industri yang di kelola orang lokal secara cepat.

Adalah tidak benar bahwa perkembangan pariwisata di Pulau Flores dimana komodo berada adalah hasil dari Vote Komodo saat ini, tetapi dia merupakan hasil perjuangan dan perjalalan sangat panjang mempromosikan destinasi ini kepada dunia pariwisata baik domestik maupun asing. Komodo pun telah dikenal dunia internasional sejak zaman Belanda. ada biro-biro wisata lokal yang sudah berjuang selama 36 tahun, ada hotel-hotel dan losmen yang mungkin usianya lebih dari itu, mereka berjuang, penduduk lokal yang menjaga kelestarian komoda dan percaya sang komodo merupakan bagian dari cerita rakyat setempat. mereka mungkin tidak akan tercatat dalam prasasti seperti anda yang mengirim banyak sms.

anda sekarang boleh bangga sebagai orang yang manjadi bagian sejarah, sejarah menjadikan TNK menjadi keajaiban dunia baru, dan anda pula akan menjadi bagian dari sejarah mempercepat punahnya komodo dan tersingkirnya masyarakat lokal dari industri pariwisata. dan dengan itu semua seperti ucapan jusuf kalla, jika sukses dinobatkan menjadi keajaiban, komodo akan jadi tempat ekslusif dan mahal, tujuannya untuk membatasi pengunjung, apa itu artinya, artinya penduduk indonesia yang hidup secara murah alias berpendapatan rendah tidak dapat menikmati TNK, bahkan bisa saja orang NTT bahkan flores tidak bisa masuk ke TNK karena begitu mahal dan ekslusif, itulah kenapa ajang idol-idolan lewat voting sesaat hanya akan membuat sesuatu tumbuh cepat tapi di sisi lain mati dengan cepat. komodo tidak butuh terkenal, tidak perlu menjadi objek wisata, itu taman konservasi bukan taman hiburan yang harus dikunjungi banyak orang. komodo tidak butuh popularitas, malah harusnya dirahasiakan.
Read More...