Kamis, 10 November 2011

Mengemis Popularitas

Leave a Comment

jika ada negara di dunia ini yang rakyatnya sangat haus popularitas, mungkin indonesia masuk dalam jajaran 10 besar dalam daftar, tak hanya orang dewasa bahkan anak-anak pun dipaksa mengemis popularitas. lihatlah anak-anak kecil dalam sebuah kompetisi ceramah, isi ceramahnya sama sekali tak ada isinya dan para penonton kemudian bertepuk tangan terlihat kagum, mereka dianggap anak-anak beriman di masa depan, namun semua itu sangat bias. bagimana sebuah bisnis bisa memanfaatkan anak dan agama sebagai sebuah ladang uang, kompetisnya memanya sedang tidak laku, sekarang musim dimana agama diecerkan di televisi. anak-anak dipaksa menjadi peminta-minta mengemis tiap ketikan huruf di layar ponsel, kemudian anak-0anak itu akan berharap menjadi yang terbaik dengan dukungan tertinggi. ini memang terjadi pada semua sistem kehidupan dalam dunia pertelivisian kita yang menyuguhkan popularitas dengan cara “masuk tipi”.

itu memang terjadi pada semua hal, kompetisi menyanyi dan ceramah, termasuk bakat. semuanya ditentukan oleh jumlah sms dimana para peserta diwajibkan mengemis sms dukungan. saya kasihan melihat orang minta didukung, mungkin sebegitu inginnya menjadi terkenal hingga sampai mengemis dukungan. wajah-wajah seperti inilah juga yang nampak pada komod, orang-orang sesumbar bahwa masuk 7 keajaiban dunia itu kebanggan. itu semua omongkosong. apa yang dibanggakan dengan komodo menjadi bagian dari 7 keajaiban dunia baru? ini bukan soal sms buat saya, ini soal bagaimana saya memandang, bahwa negeri ini sangat butuh popularitas butuh terkenal. untuk dikenal orang, kita mendukung diri kita sendiri. apa arti kebanggan dari itu semua.

gambar : phylopop.com
popularitas itu sangat bernilai, namun semakin populer maka sebagian dari kita harus sadar bahwa privasi akan semakin tipis. itulah kenapa orang atau sesuatu yang populer dengan cara palsu akan cepat redup, orang yang naik dengan cepat juga akan hilang dengan cepat pula. tidak ada, bahkan sangat sedikit popularitas yang didapatkan dengan sebuah vote akan bertahan lama, lihat semua artis-artis yang muncul lewat sebuah voting dalam kompetisi yang diadakan stasiun-stasiun televisi, silahkan nilai sendiri. orang menghargai sesuatu lewat sebuah proses, itulah kenapa piramida dan borobudur memiliki nilai lebih dari patung penebusan dosa di brazil dan patung liberty di amerika, sejarah piramida kuno zaman firaun dan sisa-sisa kejayaan wangsa saylendra dalam bentuk stupa candi punya nilai historis dan proses.

kita mengemis sebuah popularitas untuk mendukung TNK sebagai keajaiban dunia, kita menjadi orang-orang yang tidak percaya diri bahwa satu-satunya makhluk hidup yang tersisa dari zaman dinasti dinosaurus masih bertahan hidup di indonesia. komodo bertahan hidup saja sudah bagian dari keajaiban, tapi kita tak pernah merasakan itu. yang kemudian orang-orang butuhkan sepertinya pengakuan dari luar, kita seperti butuh diakui bahwa itu bagian dari keajaiban. kasihan….

semoga dengan komodo menjadi populer kalian akan bangga dan bahagia, mungkin dengan itu orang-orang yang menjadi aktivis pemenangan akan merasa bangga komodo menjadi populer, bangga bahwa dengan tingginya popularitas komodo maka destinasi pariwisata akan bertambah, kunjungan meningkat dan pendapatan masyarakat lokal akan naik. pikiran itu amat sangat salah, coba cek aja labuan bajo, daerah yang akan dipusatkan sebagai bagian dari pesta keajaiban ini sepi, masyarakat tidak antusias menyambutnya. apa pasal,,,,,

dulu orang kesana adalah -rang-orang yang ingin benar-benar mengenal komodo sebagai sebuah “alien” dari masa purba, tak ada yang istimewa beberapa losmen berada disekitar situ. tapi lihat sekarang, hotel-hotel berbintang masuk dan melakuakn penetrasi besar-besaran dengan modal yang besar pula, losmen-losmen yang dikelola orang lokal tergerus habis dan ada pada masa-masa suram,  begitu juga di flores. tak hanya itu masuknya kapal-kapal penyebrangan dari pihak orang luar flores yang lux benar-benar menyingkirkan peran nelayan setempat dalam hal transportasi, lihat pula masyarakat asli di pulau komoda atau rinca yang kerjanya hanya mengukir kayu dan membuat patung komodo, rakyat setempat semakin tergusur oleh masuknya modal-modal luar, semakin terkenal komodo, semakin besar penetrasi pemodal luar untuk masuk dan perlahan akan menghabisi peranan masyarakat lokal.
komodo mendapat popularitas dengan tidak alami, bahasanya dikarbitkan, ataubahas yang lagi tren di kompasiana “instan” mengapa saya sebut instan, karena komodo sebenarnya sudah ada sejak zaman belanda, dan perlahan tapi pasti pengunjung TNK meningkat, peningkatan jumlah wisatawan diikuti dengan perlahan juga oleh masyarakat lokal, hingga biro-biro wisata lokal dan losmen serta hotel-hotel biasa bermunculan, beberapa orang kemudian menjadi pengrajin, semua berjalan alami walau perlahan hingga penduduk lokal merasakan hasil sebagai bagian dari industri pariwisata itu. tapi sekarang, dengan “tiba-tiba” komodo “terkenal” modal luar masuk tanpa bisa dibendung dan menyingkirkan industri yang di kelola orang lokal secara cepat.

Adalah tidak benar bahwa perkembangan pariwisata di Pulau Flores dimana komodo berada adalah hasil dari Vote Komodo saat ini, tetapi dia merupakan hasil perjuangan dan perjalalan sangat panjang mempromosikan destinasi ini kepada dunia pariwisata baik domestik maupun asing. Komodo pun telah dikenal dunia internasional sejak zaman Belanda. ada biro-biro wisata lokal yang sudah berjuang selama 36 tahun, ada hotel-hotel dan losmen yang mungkin usianya lebih dari itu, mereka berjuang, penduduk lokal yang menjaga kelestarian komoda dan percaya sang komodo merupakan bagian dari cerita rakyat setempat. mereka mungkin tidak akan tercatat dalam prasasti seperti anda yang mengirim banyak sms.

anda sekarang boleh bangga sebagai orang yang manjadi bagian sejarah, sejarah menjadikan TNK menjadi keajaiban dunia baru, dan anda pula akan menjadi bagian dari sejarah mempercepat punahnya komodo dan tersingkirnya masyarakat lokal dari industri pariwisata. dan dengan itu semua seperti ucapan jusuf kalla, jika sukses dinobatkan menjadi keajaiban, komodo akan jadi tempat ekslusif dan mahal, tujuannya untuk membatasi pengunjung, apa itu artinya, artinya penduduk indonesia yang hidup secara murah alias berpendapatan rendah tidak dapat menikmati TNK, bahkan bisa saja orang NTT bahkan flores tidak bisa masuk ke TNK karena begitu mahal dan ekslusif, itulah kenapa ajang idol-idolan lewat voting sesaat hanya akan membuat sesuatu tumbuh cepat tapi di sisi lain mati dengan cepat. komodo tidak butuh terkenal, tidak perlu menjadi objek wisata, itu taman konservasi bukan taman hiburan yang harus dikunjungi banyak orang. komodo tidak butuh popularitas, malah harusnya dirahasiakan.
Read More...

Rabu, 12 Oktober 2011

Kalkulasi Bunuh Diri

1 comment

bunuh diri, dua kata yang bagi sebagian orang bisa menjadi jalan singkat keluar dari masalah-masalah yang dihadapi, seolah-olah dengan dua kata sifat yang menghasilkan sebuah frase bermakna “kerja” itu maka semua akan menjadi baik seperti semula atau mencapa tujuan yang diinginkan. kisah-kisah besar penuh misteri mengiringi sederet kejadian-kejadian bunuh diri di  seluiruh dunia. dan jepang adalah pemengang rekor tingkat bunuh diri tertinggi di dunia padahal termasuk negara paling berhasil dan maju di dunia, menjadikan pertanyaan besar bahwa sebuah kejayaan tidak berjalan seiring dengan kebahagiaan. tapi jepang punya istilah sendiri untuk bunuh diri, sebuah presepsi dan tafsir mendalam bahwa bunuih diri (harakiri) adalah peroses mempertahaankan harga diri.

suicide, begitu orang-orang bule menyebutnya, adalah perkara dimana tekanan dari luar maupun dalam tak sanggup lagi tertahan oleh kemampuan dirinya yang membatasi sistem untuk berfikir lebih luas. banyak kasus yang menyertai dibelakangnya, dari ekonomi hingga persoalan cinta. peradaban dunia mencatat bahwa qobil adalah pembunuh pertama, namun tak ada satupun literatur sejarah yang menuliskan orang  yang pertama kali bunuh diri.

selain konflik-konflik yang bersifat pribadi sebagai penyebab bunuh diri, ternyata aksi-aksi yang mengerikan ini ada juga yang bersifat kolosal, bunuh diri kolosal diawali dari peradaban jepang dimana pasukan yang kalah perang lebih memilih harakiri daripada harus pulang dengan menanggung malu akibat kekalahan. dan yang menggemparkan di abad peradaban moderen banyak terjadi di benua amerika. beberapa kasusnya seperti yang terjadi tahun 1993 Kelompok aliran sesat pimpinan David Koresh pernah membuat heboh dunia dengan aksi membakar diri di lahan pertanian dan gedungnya, sekitar 90-an anggota jemaat dan pemimpin sekte tersebut tewas terpanggang. kembali kasus besar bunuh diri mengguncang dunia tahun 1997,  ketika 40 warga melakukan bunuh diri massa karena komet Hale-Bopp.

Para korban mengenakan kaos hitam dan sepatu olah raga melakukan bunuh diri massal di utara San Diego. Para korban itu berusia antara 26 dan 72 tahun. Mereka membunuh dirinya sendiri atas kepercayaan bahwa komet Hale-Bopp, yang saat itu sedang melintasi bumi, akan membawa mereka ke tingkat evolusi yang lebih tinggi.

dan yang paling menggemparkan dengan korban hampir mencapai 1000 orang terjadi di amerika selatan, Sebanyak 900-an anggota Sekte yang dipimpin oleh Jim Jones ini melakukan bunuh diri massal tahun 1978. kejadian bermula saat anggota kongres amerika beserta 3 wartawan menembur belantara hutan untuk mencari fakta atas keberadaan sebuah sekte yang dianggap sesat, dalam perjalanan pulangnya, anggota kongres tersebut beserta 3 wartawan dan para pengikut sekte yang mencoba kabur di cegah pimpinan sekte lalu di bunuh, beberapa jam setelah kejadian itu pemimpin aliran pemujaan memerintahkan anggota-anggotanya untuk melakukan bunuh diri massal dengan meminum potasium sianida. Anak-anak meninggal lebih dulu, bayi dibunuh dengan racun yang dimasukkan ke mulut dengan sedotan. Setelah itu, lebih dari sembilan ratus orang, termasuk anak-anak, meracuni diri mereka sendiri.
ilustrasi : republika.co.id

kepercayan atas sesuatu yang diyakini menyebabkan hilangnya keterbukaan diri maupun fikiran sehingga menjadikan sempitnya cara berfikir dan menihilkan pilihan hidup yang begitu banyak. kejadian yang hampir sama terjadi di gunungkidul, sebuah buku berjudul TALIPATI karya Iman Budhi Santosa dan Wage Dasinarga mencoba menelisik dan menerjemahkan Kemisteriusan fenomena bunuh diri di kalangan masyarakat Gunung Kidul. Tali Pati, dua kata yang telah menampakkan esensi dirinya, kematian. Kematian secara wajar tidak lagi perlu dibicarakan, tetapi kematian akibat bunuh diri, menarik untuk dikaji. Apalagi bila dikaitkan dengan unsur mistik seperti yang dianut masyarakat Gubung Kidul. Ubsur mistik seperti pulung gantung dan roh halus menjadi latar elakang berita yang megiringi kematian akibat bunuh diri di daerah ini. Istlah “tali pati” bukan hanya berkaitan dengan fenomena bunuh diri, akan tetapi juga kematian-kamtian lain yang tidak wajar.

kejadian bunuh diri yang disebutkan diatas adalah beberapa contoh bunuh diri yang disertai misteri yang cendung janggal, karena kebanyakan disertai dengan kepercayaan terhadap hal-hal yang mistis dan cendrung kosmos. hal-hal itu cendrung rumit untuk ditafsirkan dengan sederhana dan jauh berbeda dengan sebab-sebab bunuh diri yang terjadi di indonesia pada umumnya dimana cendung didominasi oleh kasus ekonomi dan percintaan. dua kasus unik yang terjadi akhir-akhir ini yaitu proses “status wasiat” dimana ada proses pamitan lewat status facebook. 1 berhasil 1 gagal. Alviss Kong adalah contoh yang berhasil bunuh diri, warga negara malaysia ini sukses terjun dari lantai sebuah gedung untuk mengakhiri hidupnya karena kisah cintanya berakhir dan kekasihnya menikah dengan pria lain, sedangkan diindonesia adalah contoh gagal, dia adalah matsugawa dana seorang pria yang terobsesi budaya jepang ini berniat bunuh diri namun gagal karena di lantai gedung di cegat oleh satpam. keduanya pamit lewat facebook dengan kisah yang hampir sama.

sebagian orang mencibir mereka yang bunuh diri karena cinta, namun kebanyakan orang akan cendrung simpatik kepada mereka yang bunuh diri karena ekonomi seperti di sleman ada seorang ibu dan dua anaknya bunuh diri akibat hutang 20.000 rupiah, sedangkan pada tahun 2005 akibat malu karena tidak mampu bayar uang SPP , Miftahul Jannah nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Selepas magrib, bocah 13 tahun yang tinggal di Kelurahan Karang Semande, Kecamatan Karang Malang, Balong Panggang, Gresik, itu menggantungkan setagen sepanjang 395 cm warna putih di lehernya.dan yang masih berhubungan dengan pendidikan seorang siswi bunuh diri karena tidak lulus ujian nasional, bahkan ada yang bunuh diri di mall karena penyakitnya tidak sembuh-sembuh.

bukan hanya orang biasa yang bunuh diri, bahkan seorang peraih nobel sastra juga ada yang bunuh diri, beberapa penulis bunuh diri dengan alasan “aneh” yaitu buntu kreatifitas.terlalu lama menyendiri mengakibatkan putusnya mata rantai relasi sosial antara pengarang dan dunia sekelilingnya. Di titik ini, pengarang tidak lagi menyendiri, tapi sudah mengalienasi diri. Gejala ini kerap menjangkiti para pengarang, dan kemungkinan terburuknya adalah kejenuhan, depresi, hingga memicu tumbuhnya obsesi bunuh diri (damhuri muhammad : 2011-pengarang dan obsesi kematian-). Para pengidap “penyakit” ini bisa dirunut mulai dari Virginia Woolf (bunuh diri dengan menenggelamkan diri di Sungai Ouse, 1941), Ernest Hemingway (menembak kepala sendiri,1961), Yukio Mishima (mengakhiri hidup dengan cara seppuku—ritual memburaikan isi perut—1970) dan Yasunari Kawabata (mati secara Harakiri, 1972).Petaka yang sama juga menimpa Sadeq Hedayat (1903-1951), novelis Iran yang dari tangannya lahir karya besar “The Blind Owl” (1937).

Tragedi para penulis itu seperti hendak menujumkan bahwa bukankah lebih baik mati daripada terpasung dalam jerat hidup yang tak bermutu? Bagi mereka, lebih baik memilih mati, bilamana hidup lebih buruk daripada mati itu sendiri. Meminjam kalimat Prie.GS, jangan-jangan selama ini kita telah tertipu oleh wajah kematian yang menakutkan, dan sedapat-dapatnya dijauhi—setidaknya diulur-ulur. Semua orang ingin masuk surga, tapi tidak ada yang ingin lekas mati. Tapi, bagi Sadeq Hedayat kematian adalah suaka. Kematian yang membebaskan, mungkin……

kalkulasi-kalkulasi sebagai sebab musabab bunuh diri tak pernah bisa dicerna oleh merek yang berada diluar lingkup tekanan, jika dia mampu melaluinya di berhasil jika tidak maka jalan keluar yang sembit hingga ekstrim selalu muncul dalam bayang halusinasi. motif-motif itupun tetaplah sebuah misteri, dari harga diri, kepercayaan dalam suatu sekte, ekonomi, cinta hingga buntunya kreatifitas bisa jadi alasan, tapi yang lebih pasti putusnya relasi sosial dari dunia luar adalah penyebab utama yang paling harus diwaspadai,,, waspadalah mungkin orang-orang itu ada di sekitar anda….
Read More...

Rabu, 05 Oktober 2011

Dongeng Cepet

Leave a Comment
sumber: mediaislamnet.com


sahabat terlalu banyak peristiwa yang telah terlalui, kau tahu rintik dedaunan yang gugur di bulan oktober semakin menelanjangi pohon-pohon yang meranggas seolah mempertegas makna retak yang terukir di permukaan tanah. jika memang jalan itu masih ada mari kita laluli bersama dalam dekap hangat dan gandengan tangan. tak lama memang kita bersama, saling terjatuh dan bangkit bersama, menerima umpatan dan pujian kita anggap sama berbahayanya sebagai teror yang menakutkan. dekap hangat yang kurindukan kini mulai tak terlihat dari wajah-wajah kita, mungkin ini saat yang berat untuk diucapkan, mungkin rasa ini tak cukup, mungkin ini juga tak layak. mungkin kini saat untuk berpisah.

kini kusadari, perpisahan harus terjadi, saling meninggalkan untuk cita yang masing-masing kita tuju, kini kusadari pula ku harus sendiri melalui semuanya sebagai seorang individu. jika sempat ingin kuucapkan kata perpisahan dengan bisik lembut di dekat gendang telinga hingga ini semua menjai rahasia kita. saatnya kupulang kembali kemana aku berasal, meninggalkan semua jejak telah kita lalui bersama.

angin berhembus mengikatku dalam ruang hampa, menggiring bayangan kebersamaan kita tersapu angin selatan. hening ini terasa berbeda kini, dan sepi merenggut suara-suara ranting yang meronta patas dalam iringan grimis daun berguguran. tawa kebersamaan seolah seperti dendang yang meronta menjerit dalam kesendirian untuk pergi meninggalkan yang kita rajut dalam kebersamaan. kini saatnya kubisikan salam perpisahan di tengah gugur daun di atas tanah yang merekah.
Read More...

Jumat, 16 September 2011

Catatan Sepi di Titik Nol

28 comments
ilustrasi saja
ini pertengahan bulan september, artinya sudah dua bulan saya membiarkan blog ini teronggok tak terurus, tiba-tiba rasa bersalah itu muncul, saya kehilangan teman berbagi, karena sejak dulu tempat berbagi paling asik dan menyenangkan adalah menulis, dan blog ini menemani tiap jejak tulisan saya sehari-hari, walau sebagain besar tulisan-tulisan di masa lampau saya unpublishd  hanya sekedar untuk menyembunyikan masa lampau yang berbeda kisah. hari-hari terakhir ini saya menghabiskan banyak buku, dari "agama saya jurnalisme" karya andreas harsono, catatan-catatan harian terbitan LP3ES seperti soe hok gie dalam "catatan seorang demonstran" dan kumpulan pemikiran ahmad wahib "pergolakan pemikiran islam" yang banyak menuai kontroversi itu. terakhir saya menyelesaikan buku biografi J. Paul srtre, seorang yang menurut saya luar biasa sebagai seorang penulis. membaca biografi sederhana srtre seperti membawa saya pada fragmen masa lampau, masa dimana saya mengalami masa kecil yang hampir tak jauh berbeda dengan sartre.

tengah malam tadi saya menghabiskan sedikit waktu luang saya di titik nol kilometer jogja, hal yang sejak setahun lampau adalah tempat paling mengasikan untuk berbagi tawa. duduk lesehan di trotoar beralas tikar robek di angkringan milik ibu-ibu gendut yang terlihat semakin menua, lesehan ini adalah salah satu tempat paling memorial dalam perjalanan saya sebagai seorang mahasiswa dan blogger, tempat berkumpul dalam kesedrhanaan dan egaliter bersama kawan-kawan blogger jogja saat kopdar. tawa, ceria, keramaian serta kegilaan tertuang menghiasi malam-malam dimala lalu. tawa itu kini mulai tak terdengar lagi, senyum lebar itu kini kian menipis. malam tadi terasa amat sangat sunyi, sunyi bukan saja karena memang itu malam jum'at dan tidak banyak orang di titik nol, tapi juga sunyi dalam arti kegilaan yang meredup hilang.

menyisakan 3 orang 3 teh hangat 5 gorengan 1 sate kerang dan 2 arem-arem. menghiasi sisa obrolan penuh diam semalam. terasa lebih sunyi dari biasanya. sepi atau sendiri sebenarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari buat saya, tapi saya tidak mengerti kenapa sepi kali ini terasa sangat berbeda. apakah bener kata seorang teman yang sedang berjuang mencari serat centhini itu, bahwa mungkin satu plot cerita dari buku 5cm bisa dimaknai dan diterapkan, ah saya merasa akan sangat rindu atau saya perlu meng-iya-kan argumennya. tapi, lihat saja nanti, waktu memberi jeda untuk sebuah jawaban karena waktu tak pernah memberi jawaban.

malam tadi tentu bukan malam-malam 1 tahun lalu, sepi kali ini harusnya dirayakan. banyak sudah yang berubah dalam dimensi lembar tikar sobek di atas trotoar depan gedung bank indonesia. banyak kemajuan dan perbuatan yang dicapai, banyak peserta duduk dan peserta tawa yang yang telah membuat dirinya ada di dalam dimensi kemajuan dan saya masih duduk ditempat yang sama tanpa perubahan. entah kenapa malam itu saya merasa tikar yang saya duduki seperti mendaulat orang-orang bersila sebagai para pegiat sosial, atau kini saya justru mencari keriunduan untuk sekedar berbagi tawa, sekeder menggila, berbicara dalam bahasa sederhana.

sungguh sepi seperti tak pernah serumit ini, tak sesesak ini, dan tak semistis ini. seorang kawan sambil menyeruput teh hangat berujar, "de javu kah" mungkin iya, tapi saya rasa saat ini bukan setahun lalu, saat ini bukan saat bertemu untuk tertawa dan bergembira. lain kali kita mungkin akan kembali menggila tapi tidak dalam waktu dekat ini, entahlah kapan, mungkin sampai ada satu moment di mana Tuhan akan mengijinkan sebuah pertemuan. ah kini sudah banyak yang jadi orang-orang waras.
Read More...

Kamis, 08 September 2011

Sehisap Sesruput

Leave a Comment
kamar-isolasi.blogspot.com

sebotol tequila dan selinting ganja tak cukup menenangkanku malam ini. kamar mulai penuh asap putih menggelembung dan cipratan air tak bertuan. penat mengurai waktu tersisa, berwisata kemasasa yang lama, waktu dimana putarannya penuh noda, gelimang duka tak tertutup rasa suka. ku ingin pergi meninggalkan sebaris luka, untuk kau yang kucinta, untuk mereka yang bergelut berselimut nestapa. hadir diseiap mimpi anak-anak jalanan, sekedar bercengkrama berjuang untuk sesuap makanan. tetes darah menjadi hal lumrah untuk disaksikan di panggung peradaban. dan jalan kehidupan tak pernah lepas dari sebuah pertunjukan sandiwara anak-anak manusia.

ikan-ikan yang lebih kecil secara bergerombol menyerang menerkam dan memakan dengan mencabik-cabik ikan yang lebih besar, besar tanpa keberanian adalah mangsa para pemberani walau lebih kecil.  dihabisi dikuliti, hingga tak bersisa walau sebatang duri dan sebutir kepala. sebuah pelajaran dari para ikan di akuarium yang mulai keruh. seekor kecoak habis dikroyok semut saat dia terbalik tak berdaya, antene yang dimiliki menjadi tak punya arti, tubuhnya yang terbalik membuatnya tak lebih sebuah batu diam, tubuhnya hancur menjadi santapan semut, kecoap memiliki kecepatan dan pengamatan, tapi dia tidak pernah bisa kembali dan berbalik, optimis yang membunuh. cicak bergriliya mengincar nyamuk dengan penuh ketenangan dan sigap, hanya bisa diam di tembok incarannya adalah makhluk terbang, cicak hanya butuh ketenangan untuk membuat dirinya bertahan hidup.

hisap ganja malam ini, buat dirimu terbang dalam batas yang tak pernah dilarang, ciptakan ketenangan dan ringankan tenggorokan dengan sebotol tequila. nikmati saja hidup malam ini di kamar penat yang berantakan, bersama tragedi dalam akuarium, tragedi di sudut kamar, tragedi di atap dekat lampu. saat ganja itu habis, saat tequila mencapai tetes terakhir, rebahkan diri dal dekap dingin malam penuh kerinduan, aku merindukanmu Tuhan.
Read More...

Minggu, 21 Agustus 2011

Bu

Leave a Comment
ilustrasi :  dejulogy.wordpress.com

bu, apa kabar pagi dini hari ini, sebagian orang bilang jam-jam segini sebagai tengah malam ada juga yang bilang ini sebagai sepertiga malam terakhir, bahkan ada juga yang bilang jam segini sudah masuk pagi, entah mana yang benar, dan entah kenapa lewat jam 12 orang menggapnya sudah pagi, padahal sebagian orang bilang pagi itu saat lembayung terlihat di ufuk timur. sebagian hal kecil ini membuat anakmu ini semakin tidak percaya dengan dunia dan manusia.

bu, apa kabar rumah, mungkin rumah sudah menjadi semakin sepi, kala adek si bungsu hijrah ke kota sebelh untuk melanjutkan pendidikan yang lebih baik, dan engkau restui dengan berat hati penuh harap, rumah akan semakin membuat ibu dan bapak serasa hening, sepi beraroma romantisme pengantin baru, tak ada lagi teriakan adik yang menangis, dan ibu serta bapak tak perlu lagi marah padaku yang membuat si perempuan bungsu menangis.

bu, apa kabar bapak, apakah tangan kanannya masih sering sakit, atau bapak semakin menikmati kegiatan sorenya mengajar ngaji anak-anak kampung sekitar rumah, ah lama rasanya tidak mendengar bapak mengomel setengah berteriak membangunkanku tidur sambil menyuruh sholat, mandi dan mengaji. lama rasanya tidak menikmati sawah setiap pagi bersama beliau, atau sekedar sore menengok kolam ikan. bu apa kabar bakap, semoga beliau sehat dan lebih kuat. semenjak bapak menjadi yatim-piatu saat mbah di kebumen meninggal serta pade juga ikut menyusul beberapa waktu lalu, saya yakin ibu adalah orang terdekat saat ini bahkan dari dulu.

bu, apa kabar adek kecilku si ciwek itu, kabarnya dia pulang kerumah kemarin waktu, semoga saat dia beranjak remaja tidak tambah membuat ribet isi rumah, walau rasanya tidak mungkin, anak perempuan ibu satu-satunya itu memang anak paling baik, paling pintas dan paling berbakti. semoga si bungsu bisa jadi pengobat rindu, pada keramaian rumah yang semakin sepi. sampaikan salam kakaknya ini, katakan “aku tak kan pernah berhenti menjahilimu”
bu, apa kabar engkau, aku rindu. sudah 7 tahun lamanya aku selalu merasakan puasa di tanah orang, dan pulang hanya saat mendekati akhir lebaran. kali ini akan selalu begitu. bu lama kita tak bertemu walau baru kemarin rasanya kita berjumpa di sebuah perjalanan mimpi. bu apa kabar, engkau…. semoga baik-baik saja dan Allah selalu melindungi, melindungi dari perbuatan anakmua yang selelu membuat engkau kecewa.

bu, kau mengajari aku banyak hal, kaulah orang pertama yang mengajari aku bagaimana mengucap dan mengeja kata, tiap hari dengan sabar engkau berucap mengajariku huruf demi huruf hingga kata demi kata, ah aku lupa kapan pertama kali kusebut ibu, engkau ajari aku kata-kata bagus tanpa cela, namun kini, lidahku begitu buruk dengan sering mengumpat, maaf bu… lidahku begitu kotor hingga tak berani menatap engkau yang mengajariku kata-kata bagus dan terpuji

bu, dengan kesabaranlah engkau merawatku dengan keihklasan, dengan ketulusan, dengan cinta kasih yang tak mampu kubalas dengan apapun di dunia ini. saat kecil bisa saja kau membungku ketempat sampah atau membunuhku yang selalu membuatmu kerepotan, namun cintamu menglahkan itu, engkau curahkan kasihmu tanpa batas, hingga Tuhan meletakan surga dibawah telapak kakimu yang semakin hari semakin melepuh, jejakmu surga bu. maaf bu… cintaku begitu kotor hingga was-was jika engkau menelpon, karena hanya takut akan omelanmu yang penuh cinta.

bu, hatimu begitu murni dan suci, hingga tak pernah kudengar engkau mengumpat dan mengutuku. tiap hari hidup anakmu yang rusak ini di topang oleh doa-doa mustajab yang terucap disertai derai airmata di kala tahajud. tiap hari doa yang aku terima dari engkau dan tak pernah kau mengutuku walau aku selalu membuatmu susah. maaf bu… aku mengotri doa indahmu dengan perbuatan terkutuk hingga aku begitu menderita tiap menatap binar matamu.
bu, tak ada surga di dunia ini kecuali saat engkau memeluku dengan penuh haru, tak ada sorga di dunia ini, tanpa belai halus tanganmu di keningku, tak ada sorga di dunia ini tanpa ucap merdu di tiap doamu, dan tak ada sorga di dunia ini tanpa hadirmu di dunia ini, engkau adalah sorga tanpa penggambaran dalam lebar kitab kalam Tuhan.  engkau adalah sebenar-benar sorga di langit tertinggi.

bu, engkaulah yang selalu rindu dan bertanya tentang kabar dan keadaanku di tanah jauh. engkaulah yang selalu khawatir, lebih khawatir bahkan dari diriku sendiri saat aku telat makan, engkau yang paling selalu ingin tahu akan kabarku lebih dari siapapun. namun aku bu, serasa tak pernah ingin tahu kabar engkau dirumah.

bu, engkaulah yang selalu lemas lunglai saat aku marah dan pergi, kemarahnku adalah dosa terkutuk tapi engkau selalu membalasnya dengan doa dan cinta serta senyum. engkaulah yang paling sedih saat aku marah. namun aku bu, serasa anak durhaka yang tak tahu akan arti dari cinta.

bu, engkaulah yang selalu menanggung perbuatan buruku selama ini, saat aku berprestasi orang akan sebut namaku, tapi saat aku berbuat jahat dan buruk orang akan bertanya anak siapa ini, engkaulah yang menanggung malu saat aku berbuat memalukan. namun aku bu, serasa anak tak tahu malu atas sikap dan salahku padamu.

bu, engkaulah yang selalu khawatir penuh tanya kemana dan dengan siapa aku pergi menghabiskan hari-hariku. dan doamulah yang mengiringi tiap langkah kepergianku yang penuh sesat ini. engkaulah yang selalu paling khawatir atas setiap jejak langkahku di bumi. namun aku bu, serasa tak pernah ingin tahu dimana dan bagaimana keadaanmu kini.

engkau adalah terbaik dari yang terbaik, terharum dari yang terharum tertinggi dari yang tertinggi, terindah dari yang terindah di dunia ini. engkaulah pondasi terkuat dalam diri dan jiwaku bu. engkaulah motovator paling dahsyat yang selalu menopang dari kejatuhanku, engkau yang selalu berkata, sabarlah nak dan jangan pernah kecewa pada dunia.

engkau adalah engkau bu, dengan bergetar kupanggil engkau ibu, ibu, adalah kata paling sakral dimana mengucapnya penuh dengan haru. tak ada kata apapun untuk memanggil perempuan yang rela memutuskan 40 urat nadinya demi membuatku melihat secercah sinar mentari yang membuatku bergetar kecuali kusebut IBU.

bu, ketika engkau tersenyum padaka maka cinta tak perlu lagi kucari darimu dan saat engkau memelukku maka tak perlu lagi ku cari surga di dunia ini.
Read More...

Selasa, 16 Agustus 2011

Kala Tukang Koran Memberi Arti Nilai Berbuka

Leave a Comment
jumat kemarin mungkin akan berlalu seperti hari-hari biasa saja jika saya tidak terlambat datang ke rumah salah satu murid les private saya. maklum saya seorang mahasiswa yang beberapa hari sekali mencari tambahan lewat mengajar les di rumah anak-anak sekolah setingkat SMP dan SD. jumat kemarin harusnya saya datang tepat waktu, sekitar jam 3 sore, karena jadwal les yang biasanya malam di geser menjadi sore, tapi karena belum terbiasa saya datang terlambat sekitar jam 3 lewat 15. sesuai jadwal saya harus memberi les teman-teman kecil saya 2 jam, akhirnya les selesai pukul 17.15. apa mau dinyana, pada bulan ramadhan jam segitu untuk regional jogja sudah mendekati waktu berbuka yang biasanya sekitar 17.40an. dan jarak dari rumah tempat sayang mengajar sampai rumah kost sekitar 30 menit, itu jika jalan normal, ini jelas jalan pasti ramai karena menjelang berbuka. sesuai perkiraan saya terjadwal buka di jalan.

ilustrasi : radiotapecontrol.blogspot.com
beruntung orang tua dari murid saya baik sehingga saya diberi “jatah” kolak dalam bungkusan plastik. tepat tebakan saya, belum sampai kost adzan maghrib sudah berkumandang di dijalan, tepatnya di perempatan kotabaru jogja, saya putuskan untuk mencari, tempat istirahat sebentar sekitar trotoar setelah perempatan. alhamdulillah sedikit di utara tepat dekat dengan UII (univeritas islam indonesia) selatan dekat kator pusat BRI. ada warunbg PKL yang menjual minuman air mineral. tanpa pikir panjang saya berhenti untuk sekedar membatalkan puasa. setelah cukup istirahat dan membatalkan puasa, nasib tidak berpihak pada saya. karena ternyata uang yang saya gunakan untuk membayar air mineral terlalu besar sehingga tidak ada kembalian. saat saya kebingungan inilah tiba-tiba seorang anak-anak yang biasa berjualan koran di perempatan kotabaru menawari untuk membayarkan air mineral seharga Rp.3000 tentu saja saya kebingungan sekaligus bahagia. tapi melihat wajah ikhlas anak itu akhirnya bantuan itu saya terima, karena di buru maghrib, sedangkan saya belum sholat. saya berjanji dan menawari untuk membayar uang tersebut, namun anak itu menolak. saat anak itu bilang ikhlas dan ngotot tidak mau menjadikannya sebagai hutang, akhirnya saya menyerah dan tidak memaksa. saat itulah saya ingat bahwa saya dibawakan kolak saat pulang dari rumah les tadi. sengaja kolak tidak saya makan karena memang susah makan kolak dalam plastik. akhirnya saya tawari kolak tadi sebagai “pembayaran” atas kebaikannya menolang saya tadi dalam urusan air mineral. meski awalnya menolak si anak koran akhirnya mau menerima.

terkadang kita tidak tahu ada rahasia dibalik rahasia, kolak dan tukang koran tadi memberi pelajaran bagaimana keikhlasan menaungi semua celah kehidupan. ada misteri yang tersimpan sebelum Allah membukanya. dari sini saya belajar bahwa sikap seseorang tidak ditentukan oleh pakaian dan profesi tapi oleh tingkat dan taraf keimanan dan kedekatan pada tuhan, mungkin tukang koran ini adalah pilihan. tukang koran yang wajahnya tidak akan saya lupakan dialah tukang koran nomer satu yang di sore hari masih menjual koran pagi, persis seperti apa yang dinyanyikan iwan fals dalam lagu berjudul “sore di tugu pancoran” gambaran si budi kecil yang menunjukan pada dunia arti sebuah keikhlasan. bukan nilai nominal bantuannya tapi bagaimana secara moral dia telah menyindir saya tentang arti nilai dalam hidup, tukang koran ini benar-benar yang terbaik yang pernah saya temui dia benar-benar TOP1.
Read More...

Kamis, 11 Agustus 2011

Hujan

Leave a Comment

selalu saja seperti itu
mengalir deras tiap waktu
membuyarkan imaji
menggores mimpi

masihkah bersuara dalam kicau mentari
menemani angin surga tiada makna
masihkah pelangi akan datang menemani
saat badai angin reda pada suatu masa

ada yang hilang dari sebuah mimpi
yaitu kenyataan yang tak pernah terbeli
akankah hadir tetesan kedua
dari awan yang tak mau mendua

harapmu bukan harapku
mimpimu bukan mimpimu

tak lagi terurai bias mata
diujung hati yang terluka

hujan telah reda
meninggalkan seberkas pelangi
masihkah cinta berawal dari mata
menembus batas gelap mimpi
Read More...

Kamis, 04 Agustus 2011

Indonesia Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku

Leave a Comment
sumber ilustrasi : sulistiantost.wordpress.com

mentari bersinar terang di langit jogja siang ini, cahayanya mempesona menembus helai-helai kanopi dan membias di jendela yang belum terbuka. jogja terasa sama seperti hari sebelumnya, tapi setidaknya suasana puasa masih menggelayut membuat beberapa orang malas untuk bergerak. jogja yang indah bersemi dalam akulturasi agama dan budaya, sebagian orang mulai mencoba merusak keharmonisannya, dan istana di jakarta sepertinya mulai bersahabat dengan jogja. jogja yang nyaman berbeda dengan kepenatan dan kesibukan yang terjadi di jakarta, penuh polusi dan kemacetan. orang bilang bicara jakarta adalah bentuk mini dari indonesia, mungkin betul, karena orang istana pikir dalam soal pembangunan indonesia hanya jakarta, jakarta yang pertama dan utama. mungkin saja orang-orang diperbatasan berkah untuk marah pada pusat, sintang berteriak akan menurunkan merah-putih, palangkaraya memanasa menolak rel kereta, dan papua bergolak minta merdeka.

mungkin lantunan “indonesai raya” tak lebih dari sekedar retorika, indonesia tanah airku tanah, tumpah darahku. atau mungkin itulah kenyataan. dari sejak pertama masuk tingkat satuan pendidikan dengan seragam merah putih hingga menjadi maha dengan pakaian bebas di kampus, kita diajari bagaimana mencintai negeri ibu pertiwi, negeri subur makmur gemah ripah loh jinawi, kita diajari berseru indonesia tanah air kita tanah tumpah darah kita, dulu saya pikir ini hanya isapan jempol biasa, tamun ternyata inilah fakta bagaiaman kita diajari untuk merasakan kecintaan kita pada negeri, kepada tanah dan air serta pengorbanan darah yang tertumpah.

kita diajari untuk mencintai tanah dan air. kita tidak diajari untuk mencintai garam dalam 68% luas wilayah teritorial negeri, kita tidak diajari mencintai kekayaan negeri ini yang ada di bawah laut, kita tidak diajari mencintai ikan dan trumbu karang, bahkan kita tidak diajari mencintai minyak bumi, batu bara dan gas, kita tidak diajari mencintai sumber kekayaan alam hayati dan energi, hasilnya keanekarahaman hayati yang terdistorsi, dan kekayaan energi yang habis tanpa pernah sebagian besar rakyatnya rasakan. emas di keruk asing, gas di jual murah, hampir tak ada yang tersisa dari semua isi tanah dan air kita. rakyat diahruskan mencintai tanah dan air, hasilnya warga negeri ini hanya bisa merasakan tanah longsor dan air banjir.

kita diajari dalam heroisme perjuangan, tanah ibu pertiwi sebagai tanah tumpah darah dimana pahlawan berjuang meraih kemerdekaan. kita tidak diajari bagaimana membangun negeri ini, kita tidak diajari bagaimana tumpah darah berarti perjuangan meraih kesejahteraan dan pendidikan, tumpah darah tak diajari bagaimana berbagai dan kesehatan yang murah. tumpah darah diterjemahkan bagai dewi sri diamna darah yang tumpah adalah untuk penyubur, hasilnya setiap kekuasaan di negeri ini dibayar dengan darah. di tanah sumatra, puluhan tahun aceh bergolak ribuan darah tumpah di tanah ibu pertiwi, tragedi lampung berdarah, jawa-bali banjir darah saat puluhan sampai ratusan ribu simpatisan komunis dibantai oleh orang-orang yang mengaku beragama. darah mengucur dan tertumpah di sampit hingga ambon, kepulauan timor tak lepas dari tetesan meras dari tubuh, bahkan hingga kini papua masih mencurah darah merah dari nadi rakyatnya di tanah ibu pertiwi.

tak ada yang salah, dari kalimat heroisme itu, dan pemerintah serta rakyatnya menerjemahkan itu dengan sangat baik dengan pemaknaan literal yang hebat. syair yang terlantun dari lagu-lagu nasional dan perjuangan kita begitu luar biasa hingga menghipnosis kita, di negeri ini apa yang kita cintai benar-benar kita dapatkan, cintai tanah airmu maka kau dapatkan tanah longsor dan air banjir, rasakanlah tanah ini tanah tumpah darahmu maka percayalah di tanah ini darah akan terus tumpah.
Read More...

Selasa, 02 Agustus 2011

Nyekar yang Berakar, Telaah Arah dan Sejarah Ziarah

Leave a Comment

akhir sya’ban, adalah masa dimana pemakaman khususnya di indonesia terlihat lebih cerah dan terang dariapada biasanya. begitu juga dengan pemakaman umum yang hanya berjarak 100 meter dari tempat tinggal saya.  rumput-rumput liar serta ranting-ranting pohon yang menjulang terlihat dibersihkan. semua ini bukannya tanpa sebab, karena akhir sya’ban, tepat beberapa hari menjelang ramadhan adalah saat dimana masyarakat indonesia terutama orang-orang jawa menjadikan ziarah kubur sebagai “ritual” tahunan menjelang bulan ramadhan tiba. ritual yang sudah mendarah daging, sebagai bagian yang sulit dipisahkan dari akulturasi masuknya islam dalam budaya jawa.

ziarah yang dalam bahasa jawa lebih terkenal dengan istilah nyekar, berasal dari kata dalam bahasa jawa yaitu kata “sekar” yang berarti “bunga” dalam bahasa indonesia, secara filosofi nyekar berarti menabur bunga, yaitu “ritual” yang tak pernah tertinggal dari serangkaian prosesi ziarah, selain berdoa tentunya. dalam tahap selanjutnya ada pergeseran makna dimana nyekar bisa diartikan juga ziarah.
sumber foto : infopublik.kominfo.go.id

ziarah dalam hal ini sebenarnya tidak hanya milik islam atau jawa saja, setiap agama memiliki budaya ziarah tersendiri, pemeluk buddha misalnya berziarah ke kavilavastu dan bodh gaya, diaman sang buddha dilahirkan dan mendapat pencerahan selain benares dan kusinagara. umat khatolik mengunjungi nazaret sampai bukit golgata, bahkan sendangsono di jogja. islam tentu juga memiliki tempat-tempat suci yang dijadikan sebagai tempat ziarah, seperti makkah dan madinah, terutama saat mengunjungi madinah para jamaah bisa dipastikan menengok makam nabi muhammad sampai makam para syuhada perang badar.

namun keunikan muslim indonesia adalah akulturasinya dengan budaya lokal salah satunya akulturasi dengan budaya jawa, dan dalam konteks ziarah adalah terletak pada ritus nyekar. fenomena yang oleh kalangan muslim moderenis dianggap bid’ah hingga menjadi penyebabrusaknya akidah umat. dalam perkembangannya ritual ziarah makam di bulan sya’ban terjadi pada dua mode pamahaman para peziarah, pertama peziarah tradisional sufisme jawa, dan peziarah tradisi faham modern.

pada golongan yang pertama yaitu peziarah tradisional sufisme jawa, peziarah ini sudah mulai berkurang, namun konsep awal dari golongan inilah yang kemudian menjadi panutan yang menyebar di masa kini. orang-orang jawa (masa lampau) percaya bahwa pada akhir bulansya’ban, arwah orang-orang mati akan kembali ke dunia untuk menjenguk keluarga, oleh sebab itu bulan sya’ban dinamai ruwah dalam horoscope jawa, yang berarti arwah yaitu buntuk jamak dari ruh. bulan itu dianggap bulan yang baik untuk ziarah sebelum bulan ramadhan.

golongan kedua yaitu peziarah tradisi faham modern, peziarah ini tidak lagi menganut konsep asal nyekar, tapi tetap menjalankan tradisinya. golongan kedua tetap menjalankan tradisi nyekardengan alasan dan konsep berbeda, golongan ini yang banyak pada zaman modern, golongan kedua melakukan ziarah di akhir bulan sya’ban dengan alasan refleksi pada kematian, serta berbagi doa dengan keluarga yang sudah meninggal, hingga sekedar pengobat rindu atau bahkan ada yang sekedar ikut-ikutan. konsep ini dianggap lebih islami dan jauh dari sikap bid’ahdan syirik.

tapi tentu saja ziarah tidak lepas dari pertentangan berkepanjangan, apalagi ritus ziarah di bulan sya’ban. Sejarah dalam konteks pemahaman awal saja sudah pengalami benturan besar dalam gharis-garis sekte islam, terutama wahabi dan non-wahabi. Kaum wahabi menggap segala bentuk ziarah sebagian besar berentuk bid’ah dan mendekatkan pada syirik. Suara kritik keras akan ritus ziarah keluar dari beberapa ulama seperti Ibn Aqil (1119 m), ibn Taimiya (1328 m), ibn qayim al-jawziyya (1350) dan puncaknya saa muhammad b. Abd al-wahab dan muhammad b. Sa’ud menguasai makkah dan madinah. Dan mengembangkan pemahaman konsep wahabi, salah satunya melakukan pelarangan ritus ziarah karena mendekatkan dengan syirik dan bid’ah.

Gugatan atas sepak terjang wahabi masa itu diserukan oleh syakh ja’far subhani lewat kitab berjudul “wahhabiyah fi-l-mizan”. Namun jauh sebelum itu, sebetulnya al-ghazali sudah merumuskan konsep “jalan tengah” bahwa konsep ziarah berarti penyerahan diri. Konsep itu yang juga berarti kata islam. Hal ini didasarkan al-ghazali pada hadist nabi “mengunjungi makam-makam menjadi anjuran dengan tujuan untuk membuat pengenangan (dhikir) dan sekaligus mengadakan permenungan (i’tibar) …. semula Allah melakukan pelarangan kunjungan ke makam-makam, tapi kemudian ia mengizinkannya.

Dalam tataran ritus jawa konsep ziarah dengan pendekatan islami secara bertahap dilakukan oleh para wali terutama para walisongo, seperti sunan kalijaga, sunan bonang, sunan giri, hingga syaikh maulana ishak di pasai. Sumber-sumber awal ini bisa dicari di munaskrip sastra jawa seperti suluk wujil, suluk sukarsa dan beberapa suiluk lain dalam konsep sufisme jawa, ziarah adalah proses kembali keawal. Konsep ini berasal dari kalimat innalilahi wa innailaihi roji’un“berasal dari Allah dan kembali pada Allah” dalam prosesi ziarah adalah menelusuri asal usul kejadian (sangkan paraning dumadi). Sesungguhnya para wali memberi gambaran dan mengajarkan penyebaran islam tanpa kekerasan dalam bentuk apapun, maka ziarah juga bukanlah sebuah proses kekenesan atau mencari pelarian. Sebab dalam ritus ziarah ada kenangan akan nilai kemanusiaan yang agung.

Syahdan, pendekatan apapun yang tertuang dalam konsep ziarah kubur akhirnya bermuara pada satu hal yaitu kematian. Ziarah dalam konsep jawa kuno memang sudah mulai ditinggalkan walau ritusnya tidak, artinya pemahaman nyekar di bulan rewah (sya’ban) tidak lagi didasari pada pemahaman kuno jawa tapi lebih pada proses pendekatan diri kepada Allah lewat i’tibar dan perenungan kematian, namun disisi lain masyarakat tetap menjalankan ritual nyekar sebelum ramadhan. Dan satu hal penting yang harus difahami nyekar atau ziarah mendekati bulan ramadhan bukanlah prosesi ngalap (meminta) berkah pada jenazah atau arwah.
Read More...