Senin, 14 Februari 2011

kembali menulis

47 comments

setelah lama vakum dari dunia tulis menulis, senang rasanya bisa kembali lagi. kembali menjetikian jari di atas papan keyboard yang sudah mulai berdebu ini. menulis buat saya adalah bernafas, tanpa menulis sesak rasanya. menulis adalah teman bicara tanpa suara, mendokumentasikan semua mimpi, cita, suka dan duka. kadang duka menyelimuti setiap sisi mimipi yang mendampingi esensi dari tulisan yang terangkai dari kata demi kata. menulis adalah sebuah ekspresi sebuah karnaval yang menghasilkan sebuah estetika tersendiri. Saya suka menulis, saya suka keramaian dan ayunan kata-kata karena mereka kusut dengan emosi manusia.

tulisan adalah sebuah jembatan luas yang menghubungkan cakar mata dan luasnya cakrawala, menggali semua yang ada dan menyebarkannya keseluruh dunia. tulisan adalah sebuah dokumentasi otentik paling estetik,karena tulisan tidak hanya bisa menyatukan dua hati dalam asmara tapi juga menyebabkan perang antar dua negara. dan kembali menulis adalah kembali ke dunia dimana saya merasa saya ada. terkadang itu yang membuat lupa, bahwa menulislah yang membuat saya berada dalam posisi saya sekarang baik dalam kurang dan lebih yang tengah saya alami kini.

menulislah yang membuat saya menjalani perjalanan dan pertemanan dengan orang-orang hebat di seluruh indonesia. menyambut tamu dan bertemu dengan komunitas-komunitas yang luar biasa. menulis membuat saya berada di panggung juara 1 writing contest pesta blogger 2010, menulis yang membuat saya punya sahabat-sahabat yang menjadi sebuah keluarga dalam komunitas kecil. menulis adalah hidup, karena dengan menulis saya ada dan saya bermakna.

Jean-Baptiste Poquelin atau yang lebih terkenal dengan nama Moliere penulis naskah drama dan theater terkenal dari Prancis pada tahun 1600an pernah berujar "Writing is like prostitution. First you do it for love, and then for a few close friends, and then for money." entah benar atau tidak kata-katanya tapi saya masih yakin saya melakukannya untuk tahap yang pertama.

video canting jogja (-hanya salah satu-komunitas bloggerdi jogja)saat jalan-jalan ke Solo




video : Youtube
gambar : shutterstock
@aziz_miring
Read More...

Selasa, 11 Januari 2011

Achievement

Leave a Comment

Beberapa penghargaan dan prestasi yang pernah saya raih dalam dunia blog dan penulisan

Pemenang pertama writing contest Merayakan Keberagaman (Pesta Blogger 2010)

Pemenang kedua review Axio Neon NHM reg. yogyakarta (Axio Indonesia - kompasiana.com)

Salah satu dari dua pemenang utama "cerita dari perbatasan" (Keana Production - kompasiana.com)

Masuk 10 Nominator GoVlog-AusAid 2010 (AustraliaAid - vivanews.com)

masuk 10 pemenang utama lomba review tampilan baru viva.co.id (viva.co.id)
Read More...

Selasa, 04 Januari 2011

Mencoba Menjadi Tuhan

Leave a Comment

mencoba menjadi tuhan atau yang mencoba-coba menjadi tuhan sesungguhnya adalah para pemilih sifat yang diinginkan. tuhan-tuhanan muncul dalam skala sosial yang bisa di tengok dalam setiap menit. mereka yang mencoba menjadi tuhan biasanya melata di bawah ambang kemnusiaan dan harmonisasi kehidupan. penuhanan pancasilais adalah contoh ideologi yang di pertahankan atas darah kekuasaan. mereka yang mengaku dan mencoba-coba jadi tuhan terhempas dalam kekacuan, dari sejarah firaun dan nambrudz hingga gaya kepemimpinan maca hitler dan idi amin yang berlaku “sekarepe-dewe” dan menjadi cerminan kenapa banyak kepala negara di dunia cendrung menjadi tuhan dengan cara mengadopsi sebagian sifatNya.

sumber ilustrasi : dumalana.com
kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya justru di kemudian hari malah menyusahkan dirinya sendiri. sebagain dari mereka itu memperoleh kekayaan dan kekuasaan dengan menghalangin dan menghilangkan sebagian bahkan keseluruhan hak dan rizqi orang lain. jadi menjadikan ririny tuhan hanya mengadopsi sebagian sifat tuhan dengan menasbihkan sifat yang lain.

mereka yang mengaku-ngaku dan mencoba menjadi tuhan itu dengan lancang menerapkan dan menafsirkan sifat-sifat tuhan tanpa berketuhanan. seharusnya membagi rizqi malah meramp[asnya. yang seharusnya diamankan malah di hamburkan. haarusnya di buang malah dipelihara. penguasa dan orang-orang yang menuhankan dirinya itu hanya memilih sifat tuhan yang tertentu saja dan meletakannya di luar inti sifat Tuhan yang maha adil.

aku bukan Tuhan, tapi bisa bersikap seperti Tuhan ……
ketika kesombongan menguasaiku……
tapi aku tetap saja terkalahkan…..
oleh sebuah keterbatasan dan ke-tidak abadi-an….
Read More...

Senin, 03 Januari 2011

Sketsa, Secuil Cerita di Pusat Kota

Leave a Comment

fajar menyingsing mendahului bangunnya mentari pagi. diluar masih berkabut dan tetesan embun menjalar di ujung-ujung kanopi daun yang tersisi di pinggiran jakal. sekelompok wanita renta dibantu suaminya mulai menempatkan diri di emperan ruko yang pintunya masih tertutup angkuh. matahari mulai terbit di ufuk timur, berkas cahaya lembayung menembus sela-sela dinding-dinding gedung membingkai jaring-jaring silau yang menembus kedip mata. rona warna merah oranye adalah pertanda betapa kotornya bumi jogja, karena partikel debu, partikel kecil, aerosol padat dan aerosol cari di atmosfir adalah hal yang paling bertanggungjawab membentuk rona indah yang menjadi pujaan banyak manusia.

sketsa pagi jakal, tak kan pernah lepas dari para penjual gudeg yang kian hari menantang keangkuhan dunia. para ibu-ibu perkasa dengan berani menghidupi keluarga dengan mempertahankan makanan tradisi yang tertelan ambisi penguasa. kini jakal tak ramah lagi untuk mereka, perlahan tapi pasti, jakal dikuasai konglemerasi manusia-manusia berduit yang tak punya hati. jakal yang dulu sederhana, penuh penjual pecel dan ketoprak, bubur ayam, gudeg, karedok, sate padang dan jenis-jenis makanan sederhana lain kian hari kian tertutup dinding angkuh makanan cepat saji.

pagi ini, saya bertemu seorang ibu penjual gudeg yang ramah di pinggiran jakal, dengan gagah berani dia berjualan di depan penjual makanan dari luar neger, eh maaf maksud saya penjual makanan cepat saji itu tak tahu diri berani berjualan di depan ibu-ibu penjual gudeg, karena ibu itu sudah bertahun-tahun berjualan disitu. dua bakul kecil didepannya adalah pangkal hidup keluarga si ibu yang raut wajahnya menyimpan berbagai rahasia problem dunia.

sapaanya ramah dengan senyum, “makan mas, sama apa….?”
“emmm, apa ya”
telor, tahu, ayam swir, ayam daging….” tambah ibu itu memberi pilihan
“sama telor aja bu… jangan terlalu pedas ya…” saya mencoba menjawab piihan yang diberikan
“nasi’y seberapa mas…”
“jangan terlalu banyak bu….dikit aja”
“minumnya apa?”
“teh anget, tapi jangan terlalu manis”
“monggo mas”

diskusi pagi dengan ibu penjual gudeg pagi ini memberi banyak hal diluar kata “kenyang”. mendengarkan diskusi ibu itu dan suaminya, memberi warna resah di pagi yang cerah. tentang problematika anaknya yang sekolah di SMA, dan bingung membeli buku. atau kisah yang dibicarakan tentang berjubelnya makann siap saji di serambi jalan yang tak terjangkau. hingga gosip keluarga yang dibicarakan. keresahan keluarga kecil penjaga tradisi yang kian terjepit sebuah nama yang disebut “moderenisasi”, saya terkadang berfikir, apakah moderenisasi kota harus disertai dengn menempatkan pzza hut, hoka-hoka bento, dunkine donats, cafe-cafe luar negeri, dan sebarek makanan dari negeri yang jauh di lur sana.

kabut mulai hilang tersapu ombak kendaraan yang semkin ramai berlalu lalang saat pagi menjelang siang. baru setengah piring nasi yang bersemedi dilmbung, turun seorang wanita muda yang mungkin saja masih anak SMA, disusul seorang kawannya beberapa detik kemudian dari pintu yang sama di baris kedua. penampilannya simpel dengan pakian seadanya walau terkesan mewah, wajahnya terlihat lelah walau senyumnya tetap merekah. sebuah HP tipis namun lebar digengam erat mereka bedua.

“bu gudegnya dua… dibungkus” ucap salah satu wanita berbaju merah muda
si ibu penjual gudeg mulai meracik gudeg yang diminta dengan mimik serius karena rasa adalah reputasi yang menjadi harta, sedangkan kedua anak tadi sibuk dengan dengan HP tipis nan lebar tadi, tanganya sibuk menari senyumnya lebar namun serius. sesekali matanya mengkerut, beberapa detik kemudian tebuka lebar. lain saat senyumnya berubah menjadi tawa kecil yang renyah. saya pikir mereka sedang berkomunikasi dengan kawan atau sodaranya yang jauh. tapi tak lama saya tersentak saat salah satu dari mereka mengangkat dagu dan menngok kawan disampingnya dan berkata kata yan tak pernah saya kira.

“eh lu ya, yang barusan ngirim….siala lu”
“hahhahahah….. iya, lu sih, ga bales-bales twit gw”
“hahahaa…. iya sori, sori lagi seru nih, ketemu gebetan baru”
iya deh, gw ngerti….”

yang membuat saya terkejut bukan “lu-gw” yang terucap di tanah jogja, tapi bagaimana anak SMA yang berkomunikasi dengan kawan disampingnya selama beberapa menit dengan HP (mungkin BB) itu ternyata dua manusia yang dikendalikan mesin. mereka kehilangan bahasa verbal dalam sopan santun. komunikasi mereka yang berdampingan ternyata dikendalikan dari sebuah gadget ditangan. saya semain tidak mengerti dengn misteri hidup yang dilalui. 

sebenarnya manusia itu maju atau mundur, sehingga komunikasi yang bisa dilakukan dengan sederhana sampai harus menggunakan alat mewah. ah entahlah… karena say masih berfiir positif bahwa cewek metropolitan ini masih mau makan gudeg…
tapi positive thinking hanya lah sebatas angan saat kedua wnita muda ini beranjak dari tempat meeka berdiri,

“ni mba gudegnya, dua 10.000″ ucap si ibu penjual gudeg
oia, “ sebatas itu katanya sambil memberikan uang dan mengambil bungkusan sangat singkat, seperti tak pernah diajarkan car berbicara.
“hey, emang pagi ini kita mau makan gudeg? “sergah kawan di sampingnya
“ga lah, ini buat orang tua gw, kita makan di hokben depan situ aja, kan deket tinggal nyebrang jalan”
————-
catatan kecil : JAKAL adalah singkatan dari Jalan KAliurang yang membentang dari kampus UGM hingga taman wisata kaliurang. dan kisah ini di Jakal sekitr KM 3-4.
Read More...

Sabtu, 01 Januari 2011

Tembang Bisu di Malam Tahun Baru

Leave a Comment

seperti malam-malam sebelumnya di tahun 2010 maka malam-malam yang akan datang di tahun 2011 juga tak akan jauh beda. hanya ada dua pilihan malam malam itu akan bertabur cahaya bintang dalam pijar indah rembulan atau akan gelap gulita tanpa cahaya. dan -kebetulan- malam ini di jogja diperkenankan oleh Allah untuk mendapat pilihan pertama. suasana cerah berbagi tawa anak-anak manusia yang menyambut datangnya tahun baru. tapi sesungguhnya entah suka cita apa yang dirayakan, kisah selama 2010 atau harapan di 2011. manusia tak pernaha tau apa yang akan terjadi nanti, seperti itupulalah hakikat manusia sebenarnya, selalu menjalani "sandiwara" yang di sutradarai Allah SWT.

antara desa dan kota

ketika secara perlahan hidup saya pindah dari desa ke kota maka sesungguhnya tanpa di sadari saya mengalami apa itu yang disebut "shock city" kekagetan akan kehidupan kota dengan segala macam tetek-bengeknya termasuk di dalamnya kekagetan dalam perayaan tahun baru. aya tak pernah betul-betul memahami, mengapa orang –khususnya di kota-kota–selalu menyambut Tahun Baru dengan suka ria.

Pesta-pesta dan hura-hura untuk memeriahkan pergantian tahun dilangsungkan dimana-mana bahkan sering kali dengan menghamburkan uang yang tidak sedikit. Apakah itu sekedar mengikuti tradisi yang sudah berjalan atau merupakan naluri dari kesenangan manusia terhadap sesuatu yang baru. Senang Tahun Baru seperti senang kepada baju atau sepatu baru, atau naluri senang kepada peningkatan dan pertambahan. padahal sesungguhnya esensi tahun baru beda dengan kata "baru" yang lain, karena tahun baru adalah lepasnya tahun-tahun yang telah lampau.

saat saya di kampung, tahun baru hampir tidak pernah spesial, berlengsung biasa saja, justru perayaan tahun baru hijriah lebih meriah diisi dengan pawai obor sambil bersholawat. mungkin masih kentalnya lingkup adat lokal dan agama membuat tahun baru diisi dengan bermuhasabah diri, bukan dengan pesta-pesta dan hura-hura. ini semua membuat saya rindu akan kampung di mana perayaan tahun baru diisi dengan "kesunyian".

tahun baru itu

tahun baru itu sesungguhnya adalah mengenang kembali perjuangan ketika ibumu rela memutuskan 40 urat nadi di dinding rahminya dengaun peluh keringat dan darah disertai jeritan perjuangan hanya untuk membuatmu melihat cerahnya mentari pagi dan engkau bisa menghirup nafas kehidupan, supaya kau tahu apa artinya sebuah cinta dan kasih sayang
tahun baru itu sesungguhnya adalah mengang kembali wajah khawatir bapakmu ketika bibirnya tak lepas dari doa ketika menyaksikan perjuangan ibumu. saat itu adalah saat dimana mendengarkan kembali alunan adzan yang terlauntun di telingamu sebagai awal suara pertama yang bapakmu isi sebagai bekal perjalanan hidupmu kelak, supaya kau tahu apa artinya kehormatan

sumber foto antara
tahun baru itu sesungguhnya adalah mengenang kembali waktu yang telah hilang dimasa lampau. merasakan kembali sejarah manis getir hidupmu yang telah kau lewati selama ini. semua yang ada pada dirimu saat ini adalah sebuah proyeksi atas apa yang telah kau lakukan dimasa hidup yang telah kau lewati dulu supaya kau tahu apa artinya kehidupan

tahun baru itu sesungguhnya adalah menatap laju kedepan sebagai sebuah persiapan mengejar cita-cita dan harapan. mempersiapkan diri untuk perjalanan dan lika-liku hidup yang penuh misteri yang tak pernah kau tahu akan hal itu karena kita dimasa depan adalah apa yang kita lakukan sekarang. lepaskan semua harapan dari belenggu kekahawatiran untuk cita dimasa depan supaya kau tahu apa artinya perjuangan

tahun baru itu sesungguhnya adalah melihat sisa usia pada diri kita yang penuh noda. karena pada setiap kembang api bersinar sekejap lalu padam yang padam, pada setiap  gema trompet yang kita tiup adalah pertanda mulai padam dan terpotongnya jatah usia kita untuk beribadah dan berbakti sebagai anak dan hamba. mozaik itu adalah epos nyata suaya kau tahu apa artinya pengabdian

tahun baru itu sesunggunya adalah menikmati setiap jejak langkah hidup kita yang bertabur, manis, pahit, asam dan asin. merasakan setiap titian langkah hidup yang penuh misteri dan kejutan tak beralas, mengurai kembail rangkaian benang-benang kusut yang membuat wajah kita berganti tawa ceria hingga duka penuh luka. semua itu akan menyadarkan kita akan apa artinya perjalanan

tahun baru itu sesungguhnya menyadari keberadaanmu sebagai manusia didunia. mengingatkanmu akan hak yang kau miliki dan kewajiban yang harus kau jalani. kehadiran dirimu sebagai individu dapat dipengaruhi dan bisa mempengaruhi orang lain sehingga membentuk karaktermu sendiri. itu semua terangkai dalam setiap kisah supaya kau tahu apa artinya tanggungjawab

tembang kebisuan

hingar-bingar beberapa menit yang penuh suara dan cahaya itu kembali hilang dalam sesaat. kegaduhan, keramaian, hura-hura, sekejap kemudian hilang. ditelah oleh kegelapan dan kesunyian. harapan dan sejarah berputar jadi satu dalam bianglala, terkadang di atas terkadang pula di bawah. seperti layaknya percikan kembang api, seperti itu pulalah hidup ini jika di sadari. hanya sekejap, bersinar dan bersuara dalam sekejap. setelah itu hilang tak berbekas, kembali lagi menjadi gelap dan sunyi seperti biasa dan malam-malam sebelumnya.

… yen ing tawang ono lintang cah ayu,
aku ngenteni tekamu…
marang mego ing angkoso, nimas
sun takokane pawartamu…

tembang nenek-nenek itu begitu lirih, mengurai notasi sunyi sambil menghitung uban yang merambat di kepalanya. walau uban itu terlihat hitam di malam ini, hanya sekelibatan kilat dari kembang api saja yang membuat uban nenek itu tampak bercahaya akibat pantulan.
di lingkungan kami (saya dan nenek itu) begitu sepi, mungkin sebagian besar penduduknya pergi keluar, ke pusat-pusat keramaian jogja. di sini hanya gemerisik angin di musim hujan saja yang menghalau setiap kegisuan yang di datangkan malam. di dipan kayu lusuh yang berada di depan rumahnya itu, sang nenek menembang, mengalunkan melodi-melodi mengiris hati, seolah menantang deru lutas kembang api dan terompet yang tak pernah henti.

suaranya terus meranggas dalam hutan-hutan beton, hingga terbawa angin malam kalah beradu dengan teriakan dari sound system di pelataran bundara+boulevard UGM. dari sudut rumahnya inilah sang nenek bisa melihat ribuan percik cahaya kembang api berkedip. terkenang semua kisah dan sejarah di masa lampau yang penuh asam garam kehidupan. tembangnya sendiri adalah sebuah romantisme mengenang hidup yang penuh perjuangan dari masa-masa sebelum kemerdekaan hingga sejarah di ancamnya keistimewaan di bumi jogja ini. sebuah nostalgia yang hanya bisa dia nikmati sendiri karena suaminya telah menghadap yang kuasa terlebih dahulu.

Nostalgia sang nenek di tahun baru mungkin juga nostalgia saya, Nostalgia emang asik. Banyak hal yang mungkin telah kita temukan. Banyak titik-titik yang ternyata menjadi garis yang mengantar kita hingga menjadi apa kita sekarang ini. Hati-hati lubang kesedihan menganga di setiap langkah yang telah terjejak, bahkan kegembiraan menjadi suatu hal yang pahit untuk dikenang karena maknanya menjadi berbeda kini. Dia yang dulu mungkin bergembira dengan kita telah tiada, dia yang dulu menjadi kesayangan orang lain, dan betapa singkatnya semua tertutup menjadi kenangan dibungkus waktu dalam kotak ingatan.
nyanyian sang nenek itu masih sangat terasa membius saya malm ini, hingga enggan beranjak untuk pergi, lantunannya benar-benar menyihir saya dalam remang kebisuan malam. tembang nenek itu adalah sebuah tembang harapan dan kenangan, entah harapan untuk apa dan kenangan akan siapa. tembang itu menjadi terasa bisu malam ini, dalam magis gemerlap kembang api sang nenek terus bernyanyi tanpa peduli karena mungkin buat nenek itu, malam ini tak jauh beda dengan malam-malam sebelumnya.

….yen ing tawang ono lintang cah ayu
aku ngenteni tekamu…

tembang magis ini beradu deru terompet dan ledakan kembang api, hingga mengurai melodi notasi yang membuatnya serasa penuh kebisuan.
Read More...

Kamis, 30 Desember 2010

Dari Titik hingga Ruang

Leave a Comment

semua berawal dari titik, titik yang berderet itu membentuk garis, garis terus akan meliuk dan tumbuh terus menerus, dan akhirnya deretan titik yang membentuk garis itu kembali ke titik awal hingga menjadi ruang. sesungguhnya titik tolak itu pada dasarnya adalah titik akhir. ruang yang tercipta membentuk karakter tersendiri, membentuk dirinya sendiri, membentuk komunitasnya sendiri hingga membentuk karakternya sendiri. sebuah ruang menghindarkan diri daruang yang lain, tapi kadang kala ada rung berkait seperti yang tergambar dalam diagram ven. antar ruang terpisah dan ruang yang terkait dengan ruang lain, padahal kesemuanya itu berada dalam satu ruang.

ruang adalah tempat berteduh, tempat berlari, tempat istirahat hingga tempat kembali. ruang bisa membuat perang ruang bisa menjadi barang jualan. ruang terkadang ajang pamer. ruang dalam ruang membuat ruang baru hingga saat ruang itu menjadi besar, ruang lupa pada titik. ruang terlalu besar untuk mengakui dirinya hanyalah titik. padahal sesungguhnya ruang hanyal titik. terlalu banyak ruang dalam ruang hingga muncul ruang dalam ruang. hingga ruang-ruang kecil lupa pada awal ruang, bahwa deretan titik yang menjadi ruang kini adalah titk yang muncul dalam ruang besar. titik yang menetes pada ruang besar telah membentuk ruang baru hingga titik baru yang muncul kesulitan mencari ruang di ruang besar.

jika saja titik tetap menjadi titik dalam ruang besar yang awal, tentu akan lebih banyak lagi titik, sehingga titik-titik itu berjejer membentuk warna pada ruang utama. tapi titik telah berjejer dengan titik membentuk ruang-ruang baru. hingga titik baru harus membuat pilihan, berada di ruang besar dengan menjadi titik sendiri, berbaris memperbesar ruang dalam ruang, atau yang ketiga masuk dalam ruang di dalam ruang atau justru menjadi titik dan menjadi besar sebagai titik. dan kini diriku hanyalah titik dalam ruang besar, hanya titik di pojokan, titik semu yang semakin pudar. aku tak bisa menjadi titik utama hingga mencolok. kunikmati diriku setitik, walau itu noda.
Read More...

Rabu, 29 Desember 2010

Dedramatisasi Laskar Pelangi

Leave a Comment

apakah ada adalah orang yang sudah khatam Laskar Pelangi atau anda bahkan orang yang sudah menamatkan tetralogi tersebut hingga novel terakhirnya yaitu Maryamah Karpov atau anda bahkan lebih dari itu, yaitu seorang pemuja Andrea Hirata dan bahkan menamatkan Padhang Rembulan atau lebih manik dari itu hingga membaca semua Novel, tulisan dan semua hal yang berhubungan dengan pemuda asli belitong tersebut. jawabannya bisa iya bisa tidak, tapi saya yakin banyak di antara kita pernah mendengar Laskar Pelangi, minimal tahu jalan cerita tersebut secara garis besar dan bisa jadi diantara itu sudah banyak pula yang membaca Laskar Pelangi berulang-ulang.

Novel ini menjadi box office indonesia di awal abad 21 bersamaan dengan Ayat Ayat Cinta karangan Habiburahman El Syrazi. Laskar Pelangi berhasil menyihir banyak pambaca tidak hanya di kalangan pecinta sastra tapi juga berhasil menempatkan kisahnya berjejeran dengan Harry Potter di rak-rak buku anak muda dan remaja di Indonesia. kemampuan Andrea mengolah LP dengan bahasa khas penuh ilmu pengetahuan dengan mem-fiksi-kan otobiografisnya menjadi nilai sendiri untuk buku yang berhasil naik cetak 20 kali ini.  novel ini memang layak untuk dibaca bukan dimana sang penulis berhasil membuat narasi yang tepat, indah, berisi, dan cerdas.

bahkan Sunaryo Basuki Ks menempatkan Andrea bersama Ayu Utami dan E.S Ito sebagai harapan karena kemampuan mereka bertiga melepaskan diri dari persoalan pribadi dan masuk dalam kisah yang disampaikan untuk menyatakan sikap hidupnya.  anda mungkin sering mendengar Andra maupun Ayu tapi mungkin sebagian dari kita tidak terlalu familiar dengan Ito, penulis yang oleh Fadjroel Rachman disebut sebagai Pramodya Ananta Toer muda karena keliahainnya menulis dalam novel Rahasia Meede. disaat Rahasia Meede ditempatkan bersamaan dengan Bilangan Fu dalam jajaran nominasi KLA, Andrea Hirata justru tengah sumringah karena LP laris di pasaran bak kacang goreng.

membaca tulisan Damhuri Muhammad berjudul “Dari Gontor ke Trafalgar Square” (jawa pos 2009), dimana di awal tulisannya Damhuri menyindir seorang pejabat pemrov sumbar karena pejabat tersebut mengatakan bahwa tidak ada penulis dari ranah minang membuat “karya besar” seperti laskar pelangi dimana dalam karyanya berhasil memperkenalkan geografis dan demografis dalam rangkaian tulisannya hingga daerahnya bisa jadi termasyuhr dengan begitu karya tersebut bisa digolongkan menjadi “karya besar”.  lebih lanjut Damhuri membalikan pernyataan tersebut dengan penekanan yang jauh lebih filosofis dan bermakna, yaitu jika sebuah karya itu hanya diibaratkan sebagai “iklan” daerah maka apa bedanya sebuh novel dengan brosur-brosur dan bukjlet-buklet yang diiklankan oleh pemda baupun biro wisata.
kini novel-novel yang di anggap “karya besar” justru banyak dinilai diluar bahasan sastra itu sendiri sehingga unsur-unsur estetik dan artistik sering terabaikan lantaran pengalaman pembaca hanya sampai pada pencapaian pesan-pesan etik dan didaktik. lanjut Damhuri inilah yang menyebabkan sejumlah kegamangan muncul disebabkan pendekatan non-artistik pada kreatifitas literal. dimana kita akhirnya menilai novel dari apakah novel itu “memotivasi” atau “tidak-memotivasi” sehingga menjadi pertanyaan apakah bedanya novel dengan buku motivasi dan di tingkat lanjut mungkin kita tidak bisa membedakan antara Andra Hirata dan Mario Teguh.

diluar itu dalam tahap selanjutnya muncul hal-hal unik yang saya lihat dari jajaran novel dalam rak-rak di toko-toko buku, di sadari atau tidak endrosment yang muncul di belakang buku tidak lagi dari kalangan sastrawan atau kritikus sastra tapi bisa dari artis, sutradara, tokoh politik, karyawati hingga ibu rumah tangga, bahakn tak sedikit dari media. bahkan jika anda lebih jeli di sampul-sampul novel ada hal unik yang terjadi tahun-tahun belakangan ini, ada yang menulis “novel pembangun jiwa”, “novel spiritual”, “novel remaja”, “novel motivasi”, “novel islami”, “novel dari kisah nyata”, atau bahkan ada yang menarik pembaca dengan didepannya di tulis “untuk dewasa”, untuk 17 tahun keatas” dan macam-macam.

mungkin saya adalah satu dari ribuan atau bahkan jutaan yang larut dalam kisah Laskar Pelangi, hingga kekaguman saya pada kisah dalam novel itu dan kisah Andra sendiri yang berhasil jadi mahasiswa Sobrone walau anak seorang penggali timah di tanah belitong. menjadikan saya berada dalam posisi sulit terhadap novel ini, sehingga saya tidak lagi menjadikannya dalam bentuk sebuah apresiasi tapi sudah menjadikannya dramatisasi terhadap Laskar Pelangi.

membaca kembali hubungan Andra sebagai anak blitong dengan kemelaratan masyarakat walau di saat yang sama PT Timah berhasil mengeruk kekayaan yang amat sangat dahsyat dan di kemudian hari ditinggalkan hingga menyisakan puing-puing sisa kebangkutan. bisa jadi “kebencian” anak blioitong terhadap negara dalam hal ini karena adanya pemisahan sekolah dengan anak-anak karyawan belitong menjadikan kisah tersendiri dalam Laskar Pelangi, walau saya percaya bahwa “kebencian” tidaklah berlanjut menjadi “dendam”.

kisah penuh intrik, kesedihan, dan semangat tak pantang menyerah pada laskar pelangi inilah yang membuat saya berjumpa dengan banyak pemuja Laskar Pelangi lainnya, akibat keprihatinan dan rasa simpati pada tokoh-tokoh dalam kisah maupun semangat yang tumbuh pada perjuangan diri seorang pengarang itu sendiri. kekaguman pada laskar pelangi terkadang di dasari kebencian terhadap korporasi dan perusahaan besar yang mengeruk kekayaan suatu daerah. atau bahkan bisa jadi kecintaan pada Laskar Pelangi dikarenakan nilai islami dalam novel tersebut salah satunya sekolah Muhammadiyah itu sendiri. hingga penilaian tidak lagi di dasari pada nilai sastranya sehingga Kerancuan yang lebih menyangkut masalah psikologi itu, sudah menerjang ke bidang kritik sastra. Akibatnya, tolok ukur yang dipakai untuk menilai karya sastra pun kabur.

menurut saya realisme dalam novel otobiografis Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi itu adalah kekuatan novel itu sendiri, dimana kisah yang dituliskannya adalah kisah yang dialami, didengar maupun dirasakan dalam sebuh garis besar yang jelas. justru dengan inilah saya yakin bahwa karya pemuda belitong ini tidaklah besar, karena penulisnya pemuda “pedalaman” yang berhasil kuliah di Sobrone, bukan juga karena bukunya laris manis kemudian menjadikannya punya nilai lebih. tapi lebih karena karya Andra Hirata memang hebat. namun, tidak ada kehebatan yang tidak boleh diragukan, kecuali kehebatan Tuhan. dan Andrea adalah manusia biasa, setiap karya sepatutnya di apresiasi, dan apresiasi tidak selalu dalam bentuk pujian dan sanjungan. karena terkadang kritik, celaan, bahkan hingga hujatan adalah bentuk apresisasi disisi lain karena sebuah karya besar dan hebat akan tetap luar biasa. bahkan semakin banyak dan beragam bentuk apresiasi itu karya tersebut bisa semakin bersinar. sehingga saya berpendapat dramatisasi yang muncul dari Laskar Pelangi pada “kehidupan nyata” tidaklah perlu terjadi sehingga saya tidak terikat pada kekaguman berlebih yang mengekang diri saya dari sikap kritis terhadap suatu karya, bukan hanya karya Andera tapi juga yang lainnya.

yogyakarta, 29 desember 2010… siang hari saat matahari bersembunyi, dan malu menampakan diri di bumi.
Read More...

Selasa, 28 Desember 2010

Selamat Ulang Tahun Wi

Leave a Comment

cahaya pagi di jogja tidaklah terlalu cerah hari ini. mendung, dingin dan penuh misteri, matahari tak kunjung muncul seperti pagi-pagi sebelumnya dimana sang surya memancarkan cahaya dengan perkasa. semoga matahari cerah ditempatmu kini, sebagai pertanda awal hidup barumu kan bersinar seperti mentari. akhir desember kini telah tiba, seperti keceriaan hari-mu kini, dimana awal kelahirnmu disambut gempita deru terompet dan kerlip pancaran kembang api dilangit saat tahun baru tiba. tangismu kala itu adalah tawa bahagia kedua orang tua mu, lahirmu adalah awal dari deretan kelahiran adik-adikmu.

aku memang bukan orang pertama yang memberimu ucapan selamat tapi itu bukan berarti aku lupa akan hari ini bahkan aku telah menantinya semenjak awal desember.  sengaja tak mengucapnya tengah malam tadi  saat gelap masih pekat, tapi ku ingin mengucapkannya saat pagi tiba dimana mentari bersinar cerah, selain itu ku tahu sejak semalam mungkin kau tetap terjaga, menyambut keceriaan pagi esok harinya. dering dan getar ponselmu tak kunjung henti menerima ucapan selamat atas ulang tahun, malam tadi hingga lewat dini hari, mungkin kau tak kunjung henti membalas setiap sms dan coretan dinding di profil facebookmu yang memberi iringan doa atas hari lahirmu. mungkin hingga gari ini sederet ucapan selemat berbentuk ucapan, hingga kado masih kau terima. bahkan mungkin saja hingga kini kau justru mengenang sesuatu yang hilang di masa lampau hingga cita-cita di masa depan dengan senyum dan sedih bergantian menyelimuti wajahmu.

wi, ultah itu sesungguhnya adalah mengenang kembali perjuangan ketika ibumu rela memutuskan 40 urat nadi di dinding rahminya dengaun peluh keringat dan darah disertai jeritan perjuangan hanya untuk membuatmu melihat cerahnya mentari pagi dan engkau bisa menghirup nafas kehidupan, supaya kau tahu apa artinya sebuah cinta dan kasih sayang
wi, ultah itu sesungguhnya adalah mengang kembali wajah khawatir bapakmu ketika bibirnya tak lepas dari doa ketika menyaksikan perjuangan ibumu. saat itu adalah saat dimana mendengarkan kembali alunan adzan yang terlauntun di telingamu sebagai awal suara pertama yang bapakmu isi sebagai bekal perjalanan hidupmu kelak, supaya kau tahu apa artinya kehormatan

wi, ultah itu sesungguhnya adalah mengenang kembali waktu yang telah hilang dimasa lampau. merasakan kembali sejarah manis getir hidupmu yang telah kau lewati selama ini. semua yang ada pada dirimu saat ini adalah sebuah proyeksi atas apa yang telah kau lakukan dimasa hidup yang telah kau lewati dulu supaya kau tahu apa artinya kehidupan

wi, ultah itu sesungguhnya adalah menatap laju kedepan sebagai sebuah persiapan mengejar cita-cita dan harapan. mempersiapkan diri untuk perjalanan dan lika-liku hidup yang penuh misteri yang tak pernah kau tahu akan hal itu karena kita dimasa depan adalah apa yang kita lakukan sekarang. lepaskan semua harapan dari belenggu kekahawatiran untuk cita dimasa depan supaya kau tahu apa artinya perjuangan

wi, ulah itu sesungguhnya adalah melihat sisa usia pada diri kita yang penuh noda. karena pada setiap tiupan lilin yang padam, pada setiap potongan kue dan tumpeng yang kita potong adalah pertanda mulai padam dan terpotongnya jatah usia kita untuk beribadah dan berbakti sebagai anak dan hamba. mozaik itu adalah epos nyata suaya kau tahu apa artinya pengabdian

wi, ultah itu sesunggunya adalah menikmati setiap jejak langkah hidup kita yang bertabur, manis, pahit, asam dan asin. merasakan setiap titian langkah hidup yang penuh misteri dan kejutan tak beralas, mengurai kembail rangkaian benang-benang kusut yang membuat wajah kita berganti tawa ceria hingga duka penuh luka. semua itu akan menyadarkan kita akan apa artinya perjalanan

wi, ultah itu sesungguhnya menyadari keberadaanmu sebagai manusia didunia. mengingatkanmu akan hak yang kau miliki dan kewajiban yang harus kau jalani. kehadiran dirimu sebagai individu dapat dipengaruhi dan bisa mempengaruhi orang lain sehingga membentuk karaktermu sendiri. itu semua terangkai dalam setiap kisah supaya kau tahu apa artinya tanggungjawab

hidup bukanlah seperti putaran komedi putar yang berputar datar, hidup sadalah putaran bianglala yang terkadang di atas kadang di bawah. hidup esensinya adalah sikap kita menjalani perjalanan itu sendiri. dan saat ultah adalah saatnya bernostalgia untuk setiap perjalanan kita. Nostalgia emang asik. Banyak hal yang mungkin telah kita temukan. Banyak titik-titik yang ternyata menjadi garis yang mengantar kita hingga menjadi apa kita sekarang ini. Hati-hati lubang kesedihan menganga di setiap langkah yang telah terjejak, bahkan kegembiraan menjadi suatu hal yang pahit untuk dikenang karena maknanya menjadi berbeda kini. Dia yang dulu mungkin bergembira dengan kita telah tiada, dia yang dulu menjadi kesayangan orang lain, dan betapa singkatnya semua tertutup menjadi kenangan dibungkus waktu dalam kotak ingatan.

Kembali melangkah menuju pemberhentian. Setelah lelah berjalan dan bekal habis, berhentilah dulu, mengisi lagi. Untuk kembali riang menebar senyum disepanjang jalan. Berbagi bekal dengan semua yang menghampiri. Mari kembali merasakan kekosongan bekal kita, kembalilah membaca, melangkah lagi untuk sebuah perjalanan panjang.

mundur perlahan beberapa langkah, berhenti sejenak, tarik nafas perlahan, yang panjang, tahan sebentar, keluarkan perlahan, pejamkan mata sejenak, buka mata dan tatap kedepan, meloncat sedikit, buat langkah kecil, perlahan, tambah tempo dan kecepatan, berlari, cepat, lebih cepat, siapkan sebuah langkah besar, lebih cepat, bertolak, loncat, lebih tinggi, lebih jauh. bersiaplah karena pada suatu waktu pasti akan turun kembali, dan bersiaplah untuk sebuah pendaratan yang terbaik.

setamat ulang tahun wi, teriring doa dan harapku semoga hari-hari yang akan kau tempuh di masa depan adalah sebuah kebaikan yang terus akan kau jalani dan penuh limpahan rahmat dan perlindungan dari Allah Sang Penguasa Hati serta penuh selimut kehangatan kasih sayang dari orang-orang terdekatmu, jika kau jatuh dan terpuruk ingatlah aku, mungkin saja aku bisa mengentaskanmu dari keterpurukan itu. saat kau senang lupakanlah aku, bila kau takut aku akan merusak kebahagiaan yang kau jalani.

ditulis 06.00 waktu jogja
28 desember 2010
Read More...

Rabu, 22 Desember 2010

Secangkir Kopi dan Seiris Hati

Leave a Comment

secangkir hati dan seiris hati, kubuang jauh kenangan atas dirimu yang tersaji pahit penuh sentuhan manis dan hangat dalam secangkir kopi ini. kubung jauh kenangan atas senyum yang tersaji atas ketulisan hatimu saat memebelaiku dengan rasa yang tak pernah tulus itu. sebuah rahasia kecil diantara jutaan butir rahasia yang tersaji dalam seonggok mimpi di malam hari, ku ingin menemuimu lagi seperti kala itu kau sajikan secangkir kopi di dingin malam yang menusuk hati.

sumber ilustrasi : mindtalk.com
secangkir kopi dan seiris hati, kunikmati malam ini. kubingkai semua kisah kita, kusajikan dalam pameran terdahsyat, setelah itu aku akan masukan kedalam museum. karena kutahu dalam museum bingkai itu tak kan terawat dan kutahu dalam museum akan menjadi terlupakan, karena kutahu banyak orang menggap museum adalah tempat barang usang. seperti itulah ku ingin kisah kita dalam secangkir kopi dan seiris itu terjadi, menjadi usang, dan terlupakan dalam kenangan.

secangkir kopi dan seris hati, bersatu dalam hitam dan merah. dua warna aneh yang tak mungkin bersatu. kutahu itu semenjak pertama kita bertemu, kuyakinkan hati bahwa tak ada yang berbeda dari setiap sisi makna kehidupan, biar pahitnya kopi membasuh luka di hati, supaya semakin perih terasa.

secangkir kopi dan sirirs hati, hanyalah satu sisi dari banyaknya sisi kehidupan manusia. ini bukan soal kau dan aku tapi lebih dari itu ini tentang kita, kita berdua. bukan soal hati dan kopi ini soal teh sayang. kau tahu kenapa, karena dalam dunia ini tak hanya kopi yang pahit tapi teh juga pahit. ah apa pula ini tak jelas mau kemana tulisan ini berjalan.

setan alas, secangkir kopi dan seiris hati kini teronggok sempurna menjadi usang di sudut kamar yang berisi penuh sampah ini, dengarlah angin dengarlah air, bersatulah, jadilah badai. hempaskan dan hancurkan semua yang ada. sajikan kehancuran itu dan barengi dengan tawa yang dahsyat. hancurkanlah, biar selaksa cerita tersaji tentang suka yang berubah duka, kemudian bingkai semuanya dan sajikan di museum supaya menjadi usang, ini bukan tentang aku dan kau tapi tentang kita, karena aku tak suka susu dencow tapi suka susu bendera.
:
There is no distance in friendship
Read More...

Selasa, 21 Desember 2010

Satu Hari di Kala Hujan Menyapa

Leave a Comment

entah sudah berapa lama saya mencoba lepas dari layar monitor baik itu PC maupun laptop, tak pernah saya hitung, pertama-tama terasa agak aneh kemudian ketika semakin lama saya mulai terbiasa. saya hanya mencoba menjauh dari teknologi, entah karena alasan apa saya melakukannya, tapi yang pasti mata saya semakin terbiasa. melepas diri dari gegap gempita kota jogja yang minggu-minggu terakhir ini di datangi hujan bahkan terkadang ditemani sambaran petir dahsyat. menjauh gari hingar-bingar sepakbola indonesia yang tengah menggelora, bahkan detak e-mail maupun notif tak terdengar lagi. tapi di lain itu saya merasa bersalah kepada kawan-kawan yang kemarin berbagi senyum dengan teman-teman kecil di perbukitan prambanan. bahkan HP saya pun sudah tak lagi berdering, hanya getar menyapa saat oprator memberi kabar tentang promosi layanan. ada satu-dua pesan masuk namun tak sempat saya balas karena pulsa saya sisakan 93 rupiah saja.

diawali dari sebuah ketidaksengajaan dan saya coba bertahan dari lingkup yang selama ini saya diami. apa rasanya, biasa saja tak berasa apapun. namun pagi ini saya mencoba keluar untuk sekedar menghirup udara segar dari satu sudut yang tak pernah saya hirup.  mencoba kembali menemukan sesuatu, entah apa sesuatu itu sesuatu yang sedang saya cari tapi di sisi lain saya tak tahu apa yang sebenarnya sedang saya cari. perjalanan tak berujung itu terhenti tatkala saya mendengar sayup-sayup kumandang adzan dari suatu sudut yang tak saya tahu. tak lama perjalanan saya terhenti ketika mata melihat sebuah menara kecil di sebuah sudut gang. tak salah lagi itu menara mushola, sejenak saya mencoba beristirahat, berwudhu, membasuh muka, dan kemudian sholat dzuhur disitu, sebuah daerah yang asing buat saya, namun anehnya saya tak merasa asing kala masuk dalam masjid dan sholat berjamaah.

sumber pengambilan gambar: kintarous.com
tak lama setelah sholat tiba-tiba grimis kecil menyapa dengan riang, saat tetesan air berdenting di atas genting. urung niat saya untuk beranjak pergi. sambil menanti hujan tiba-tiba saya di sapa seorang kakek-kakek yang tadi sholat bersama. sikakek tadi menyapa dengan lembut, terbaca dari suaranya yang samar, bahwa beliau sudah mulai renta. dialog terbuka dan basa-basi sederhana di mulai, dari nama hingga asal-usul keluarga dan hubungan dengan jogja, dari keistimewaan hingga sepakbola. tapi ada sesuatu hal menarik saat beliau bertanya kepada saya “apakah saya mengerti agama”. pertanyaan itu seperti sebuah petir yang menyambar di tengah hening grimis yang menyapa. kakek itu berbicara setengah protes namun dalam kesedihan penuh harap, tentang islam alias “mengerti islam”. beliau berbicara siapa yang sebenarnya mengerti islam, mereka yang NU atau Muhammadiyah, mereka yang sunni atau syiah, mereka yang berteriak bid’ah atau sunnah. bahkan beliau setengah protes saat harus berhari raya dengan hari berbeda. sebuah protes besar, kenapa harus berbeda dalam wadah yang sama.

lama sekali kakek itu bicara hingga ashar kembali datang walau langit tak kunjung tenang. sudah lewat ashar huujan mereda, langkah kaki saya lanjutkan dengan sebuah perpisahan berat dengan kakek yang tak saya tahu namanya itu. motor honda astrea legenda yang biasa saya tunggangi itu, kembai saya pacu di tengah basah aspal sisa hujan tadi. kembali melihat wajah-wajah basah, ada penjual es krim bermerek yang didorong, ada penjual susu, hingga penjual pecel. bahkan tukang parkir telah kembali ke jalan. jalanan masih berkabut dan terasa sendu, ah jogja terasa berbeda di luar lingkar kota dimana saya biasa berkelana. melihat senyum wajah-wajah ramah yang mulai jarang saya temui hingga seorang buta yang tengah berjalan dalam gelapnya. berburu waktu dengan sepeda ontel dengan penunggang yang penuh peluh keringat berpaut tetesan hujan. damai dan tenang, jogja sederhana yang akan selalu saya rindukan.

tapi tiba-tiba saya tersadar saat sekumpulan anak kecil berselempang sarung dan berpeci berjalan riang dalam satu arah, ah iya, senja mulai muncul dan teman-teman kecil itu pasti menuju mushola untuk memuja Tuhan-nya. tak ingin lagi terperangkan hujan, saya mencoba memacu kendaraan saya lebih kencang untuk pulang, tapi ternyata hujan  semakin deras, akhirnya keputusan diambil. saya berteduh sejenak di pinggi bangunan kecil tak bertuan dengan di dampingi rindang pohon. tak lama adzan kembali berkumandang, ini saatnya maghrib dan berbuka puasa, puasa sunah di hari senin. saya batalkan puasa saya dengan tetesan air hujan. alhamdulillah tak lama berselang bapak-bapak penjual mie ayam lewat, lumayan semangkuk 4000 rupiah cukup untuk mengganjal perut sampai nanti di rumah. kembali di tengah hujan ditemani pedas dan hangat mie ayam sambil bercengkrama dengan sang penjual saya menemukan banyak “pengakuan” hebat dari orang-orang yang Tuhan takdirkan bersapa tegur dengan saya dalam sebuah periode waktu yang menjadi rahasia Tuhan.

waktu maghrib yang singkat memaksa saya menembus hujan mencari tempat bersujud untuk bersyukur atas semua nikmat hari ini. sebuah tempat kecil dengan bantuan cucuran hujan saya basuh muka dalam niat berbudlu dan sebuah takbir siri saya ucapkan sebagai awal ibadah. kini saya bersujud seorang diri di tempat yang seharusnya saya terbiasa dengannya. semoga Tuhan mendengar doa saya kali ini. hujan mulai reda kembali saat waktu isya telah datang. 

kembali motor saya pacu, masuk kota kembali menyusuri jalan kecil di samping selokan, saya kenal betul jalan ini, sehingga tak ragu mampir ke greenz, tempat dimana saya biasa berbagi tawa dengan kawan-kawan yang sudah agak lama belum lagi saya sapa. ah saya rindu mereka. ternyata saya tak sia-sia, sekejap setelah saya duduk mas tosse datang menyapa, sebuah jabatan erat yang lama tak saya rasa. hangat penuh keakraban, ditengah hujan deras yang kembali datang menyapa. mendengar cerita mas tosse tentang perjalanannya ke studio biru dan rencana untuk berbagi tawa di akhir desember mengiringi pembicaraan kami, tentang canting dan studio biru di temani teh hangat yang tersaji.

hari semakin malam dan cuaca semakin dingin di jogja, gerimis telah reda, saatnya saya pulang untuk sholat isya kemudian tidur, sebuah syukur tak terhingga untuk yang kuasa atas hari ini yang luar biasa. saya rindu tawa di bangku kayu ini. di akhir hari ini saya punya jawaban atas pertanyaan seorang kakek yang saya temua siang tadi di mushola ujung gang, beliau bertanya apa cita-cita saya, dan saat itu saya tak bisa menjawabnya dengan kata, hanya saya jawab dengan segaris senyum. tapi di ujung malam ini saya punya jawabannnya, cita-cita saya adalah semua cita-cita kawan-kawan saya terwujud.
Read More...