Rabu, 22 Desember 2010

Secangkir Kopi dan Seiris Hati

Leave a Comment

secangkir hati dan seiris hati, kubuang jauh kenangan atas dirimu yang tersaji pahit penuh sentuhan manis dan hangat dalam secangkir kopi ini. kubung jauh kenangan atas senyum yang tersaji atas ketulisan hatimu saat memebelaiku dengan rasa yang tak pernah tulus itu. sebuah rahasia kecil diantara jutaan butir rahasia yang tersaji dalam seonggok mimpi di malam hari, ku ingin menemuimu lagi seperti kala itu kau sajikan secangkir kopi di dingin malam yang menusuk hati.

sumber ilustrasi : mindtalk.com
secangkir kopi dan seiris hati, kunikmati malam ini. kubingkai semua kisah kita, kusajikan dalam pameran terdahsyat, setelah itu aku akan masukan kedalam museum. karena kutahu dalam museum bingkai itu tak kan terawat dan kutahu dalam museum akan menjadi terlupakan, karena kutahu banyak orang menggap museum adalah tempat barang usang. seperti itulah ku ingin kisah kita dalam secangkir kopi dan seiris itu terjadi, menjadi usang, dan terlupakan dalam kenangan.

secangkir kopi dan seris hati, bersatu dalam hitam dan merah. dua warna aneh yang tak mungkin bersatu. kutahu itu semenjak pertama kita bertemu, kuyakinkan hati bahwa tak ada yang berbeda dari setiap sisi makna kehidupan, biar pahitnya kopi membasuh luka di hati, supaya semakin perih terasa.

secangkir kopi dan sirirs hati, hanyalah satu sisi dari banyaknya sisi kehidupan manusia. ini bukan soal kau dan aku tapi lebih dari itu ini tentang kita, kita berdua. bukan soal hati dan kopi ini soal teh sayang. kau tahu kenapa, karena dalam dunia ini tak hanya kopi yang pahit tapi teh juga pahit. ah apa pula ini tak jelas mau kemana tulisan ini berjalan.

setan alas, secangkir kopi dan seiris hati kini teronggok sempurna menjadi usang di sudut kamar yang berisi penuh sampah ini, dengarlah angin dengarlah air, bersatulah, jadilah badai. hempaskan dan hancurkan semua yang ada. sajikan kehancuran itu dan barengi dengan tawa yang dahsyat. hancurkanlah, biar selaksa cerita tersaji tentang suka yang berubah duka, kemudian bingkai semuanya dan sajikan di museum supaya menjadi usang, ini bukan tentang aku dan kau tapi tentang kita, karena aku tak suka susu dencow tapi suka susu bendera.
:
There is no distance in friendship
Read More...

Selasa, 21 Desember 2010

Satu Hari di Kala Hujan Menyapa

Leave a Comment

entah sudah berapa lama saya mencoba lepas dari layar monitor baik itu PC maupun laptop, tak pernah saya hitung, pertama-tama terasa agak aneh kemudian ketika semakin lama saya mulai terbiasa. saya hanya mencoba menjauh dari teknologi, entah karena alasan apa saya melakukannya, tapi yang pasti mata saya semakin terbiasa. melepas diri dari gegap gempita kota jogja yang minggu-minggu terakhir ini di datangi hujan bahkan terkadang ditemani sambaran petir dahsyat. menjauh gari hingar-bingar sepakbola indonesia yang tengah menggelora, bahkan detak e-mail maupun notif tak terdengar lagi. tapi di lain itu saya merasa bersalah kepada kawan-kawan yang kemarin berbagi senyum dengan teman-teman kecil di perbukitan prambanan. bahkan HP saya pun sudah tak lagi berdering, hanya getar menyapa saat oprator memberi kabar tentang promosi layanan. ada satu-dua pesan masuk namun tak sempat saya balas karena pulsa saya sisakan 93 rupiah saja.

diawali dari sebuah ketidaksengajaan dan saya coba bertahan dari lingkup yang selama ini saya diami. apa rasanya, biasa saja tak berasa apapun. namun pagi ini saya mencoba keluar untuk sekedar menghirup udara segar dari satu sudut yang tak pernah saya hirup.  mencoba kembali menemukan sesuatu, entah apa sesuatu itu sesuatu yang sedang saya cari tapi di sisi lain saya tak tahu apa yang sebenarnya sedang saya cari. perjalanan tak berujung itu terhenti tatkala saya mendengar sayup-sayup kumandang adzan dari suatu sudut yang tak saya tahu. tak lama perjalanan saya terhenti ketika mata melihat sebuah menara kecil di sebuah sudut gang. tak salah lagi itu menara mushola, sejenak saya mencoba beristirahat, berwudhu, membasuh muka, dan kemudian sholat dzuhur disitu, sebuah daerah yang asing buat saya, namun anehnya saya tak merasa asing kala masuk dalam masjid dan sholat berjamaah.

sumber pengambilan gambar: kintarous.com
tak lama setelah sholat tiba-tiba grimis kecil menyapa dengan riang, saat tetesan air berdenting di atas genting. urung niat saya untuk beranjak pergi. sambil menanti hujan tiba-tiba saya di sapa seorang kakek-kakek yang tadi sholat bersama. sikakek tadi menyapa dengan lembut, terbaca dari suaranya yang samar, bahwa beliau sudah mulai renta. dialog terbuka dan basa-basi sederhana di mulai, dari nama hingga asal-usul keluarga dan hubungan dengan jogja, dari keistimewaan hingga sepakbola. tapi ada sesuatu hal menarik saat beliau bertanya kepada saya “apakah saya mengerti agama”. pertanyaan itu seperti sebuah petir yang menyambar di tengah hening grimis yang menyapa. kakek itu berbicara setengah protes namun dalam kesedihan penuh harap, tentang islam alias “mengerti islam”. beliau berbicara siapa yang sebenarnya mengerti islam, mereka yang NU atau Muhammadiyah, mereka yang sunni atau syiah, mereka yang berteriak bid’ah atau sunnah. bahkan beliau setengah protes saat harus berhari raya dengan hari berbeda. sebuah protes besar, kenapa harus berbeda dalam wadah yang sama.

lama sekali kakek itu bicara hingga ashar kembali datang walau langit tak kunjung tenang. sudah lewat ashar huujan mereda, langkah kaki saya lanjutkan dengan sebuah perpisahan berat dengan kakek yang tak saya tahu namanya itu. motor honda astrea legenda yang biasa saya tunggangi itu, kembai saya pacu di tengah basah aspal sisa hujan tadi. kembali melihat wajah-wajah basah, ada penjual es krim bermerek yang didorong, ada penjual susu, hingga penjual pecel. bahkan tukang parkir telah kembali ke jalan. jalanan masih berkabut dan terasa sendu, ah jogja terasa berbeda di luar lingkar kota dimana saya biasa berkelana. melihat senyum wajah-wajah ramah yang mulai jarang saya temui hingga seorang buta yang tengah berjalan dalam gelapnya. berburu waktu dengan sepeda ontel dengan penunggang yang penuh peluh keringat berpaut tetesan hujan. damai dan tenang, jogja sederhana yang akan selalu saya rindukan.

tapi tiba-tiba saya tersadar saat sekumpulan anak kecil berselempang sarung dan berpeci berjalan riang dalam satu arah, ah iya, senja mulai muncul dan teman-teman kecil itu pasti menuju mushola untuk memuja Tuhan-nya. tak ingin lagi terperangkan hujan, saya mencoba memacu kendaraan saya lebih kencang untuk pulang, tapi ternyata hujan  semakin deras, akhirnya keputusan diambil. saya berteduh sejenak di pinggi bangunan kecil tak bertuan dengan di dampingi rindang pohon. tak lama adzan kembali berkumandang, ini saatnya maghrib dan berbuka puasa, puasa sunah di hari senin. saya batalkan puasa saya dengan tetesan air hujan. alhamdulillah tak lama berselang bapak-bapak penjual mie ayam lewat, lumayan semangkuk 4000 rupiah cukup untuk mengganjal perut sampai nanti di rumah. kembali di tengah hujan ditemani pedas dan hangat mie ayam sambil bercengkrama dengan sang penjual saya menemukan banyak “pengakuan” hebat dari orang-orang yang Tuhan takdirkan bersapa tegur dengan saya dalam sebuah periode waktu yang menjadi rahasia Tuhan.

waktu maghrib yang singkat memaksa saya menembus hujan mencari tempat bersujud untuk bersyukur atas semua nikmat hari ini. sebuah tempat kecil dengan bantuan cucuran hujan saya basuh muka dalam niat berbudlu dan sebuah takbir siri saya ucapkan sebagai awal ibadah. kini saya bersujud seorang diri di tempat yang seharusnya saya terbiasa dengannya. semoga Tuhan mendengar doa saya kali ini. hujan mulai reda kembali saat waktu isya telah datang. 

kembali motor saya pacu, masuk kota kembali menyusuri jalan kecil di samping selokan, saya kenal betul jalan ini, sehingga tak ragu mampir ke greenz, tempat dimana saya biasa berbagi tawa dengan kawan-kawan yang sudah agak lama belum lagi saya sapa. ah saya rindu mereka. ternyata saya tak sia-sia, sekejap setelah saya duduk mas tosse datang menyapa, sebuah jabatan erat yang lama tak saya rasa. hangat penuh keakraban, ditengah hujan deras yang kembali datang menyapa. mendengar cerita mas tosse tentang perjalanannya ke studio biru dan rencana untuk berbagi tawa di akhir desember mengiringi pembicaraan kami, tentang canting dan studio biru di temani teh hangat yang tersaji.

hari semakin malam dan cuaca semakin dingin di jogja, gerimis telah reda, saatnya saya pulang untuk sholat isya kemudian tidur, sebuah syukur tak terhingga untuk yang kuasa atas hari ini yang luar biasa. saya rindu tawa di bangku kayu ini. di akhir hari ini saya punya jawaban atas pertanyaan seorang kakek yang saya temua siang tadi di mushola ujung gang, beliau bertanya apa cita-cita saya, dan saat itu saya tak bisa menjawabnya dengan kata, hanya saya jawab dengan segaris senyum. tapi di ujung malam ini saya punya jawabannnya, cita-cita saya adalah semua cita-cita kawan-kawan saya terwujud.
Read More...

Kamis, 09 Desember 2010

Penghuni Rumah dan Orang Rumah

Leave a Comment

hujan masih saja menyapa jogja sejak tadi siang bahkan dari siang kemarin lusa. penjual es bingung kemana dia berjalan menjajakan dagangan. es lebih lama mencair tapi uang tak kunjung cair hingga malam pun lahir tanpa pemberitahuan pada remang petang. malam menjelang melewati petang, membohongi sore yang tak terlihat datang. makanan di rumah mulai matang tapi penghuni belum kunjung datang. terjebak rintik hujan di tepian jalan, susah mengambil keputusan, apakah menanti rintik reda atau menerobos begitu saja. masing-masing punya resiko sendiri, menerobos dengan berlari berarti kuyup dingin mengelayut hati atau menunggu di tepi jalan menanti hujan yang tak jelas berhenti kapan.

orang rumah menunggu cemas, berharap sang penghuni tiba pada masa yang sama saat waktu makan malam tiba. tapi waktu telah berlalu melewati isya sang penghuni masih terjebak rintik yang tak kunjung reda. orang rumah menunggu dengan mengelus dada melihat makan malam mulai tak berselera. hati orang rumah mulai gundah, tak ada kabar dari penghuni yang katanya tadi pagi berangkat kerja. nasi di rumah mulai dingin dan es di tremos mulai mencair. penghuni rumah ragu pulang dengan hampa tanpa membawa apa, orang rumah menunggu dengan setia akan kepulangan sang penggugah rasa.

hujan yang menyapa jogja menimbulkan curiga tentang apa yang terjadi di sudut jalan penuh misteri. adakah cinta menguatkan hati keduanya untuk saling percaya dalam resah gelisah yang tak terarah. susana di jalan semakin sepi menjelang malam hari, penghuni rumah termenung di pinggir jalan memandang langit yang mendung. orang rumah mulai meraung sambil merenung dalam gelap saat PLN kalap mematikan lampu pelanggan di rumah yang tak beratap. penghuni rumah di jalan mulai kesepian, orang rumah di meja makan mulai kegelapan.

penghuni rumah memberanikan diri menerobos deras rintik hujan, dan orang rumah bangun dari duduk untuk menghangatkan makanan. kompor menyala didapur menghangatkan tubuh dan makanan, penghuni rumah berlari menembus hujan demi sebuah perasaan. ditemani sebatang lilin kecil, orang rumah kembali menyiapkan makanan di meja dengan dua kursi berhadapan. penghuni rumah datang, terdengar ketuk pintu dari depan halaman. cukup satu ketukan orang rumah tahu penghuni rumah tiba dari bekerja. wajah keduanya bertatapan seolah faham apa yang telah terjadi dalam rintik hujan.

singkat cerita daripada bosen membaca, keduanya langsung makan, tentu saja setelah badan penghuni rumah di keringkan dan makanan yang dingin sudah dihangatkan, biarkan es yang mencair menjadi saksi air yang mengalir dari cakrawala yang entah kapan berakhir. begitu kisah singkat orang kehujanan di pinggir jalan, jangan protes apalagi minta jatah makan dan sisa jualan es. sekian dan terima kasih, mari makan dengan yang terkasih.
Read More...

Kata-Kata Malam

Leave a Comment

biarlah kata-kata yang menemaniku setiap malam hingga pagi buta menjelang. bersama setan-setan jalang menghentak setiap nurani orang-orang yang katanya beriman itu. bertanya kenapa anda hidup dan untuk apa hidup bagai buir yang menjadi batas imajiner debur ombak dengan pantai. buih yang mengisi lobang-lobang karang yang diterpa gelombang. masihkah nurani bertahan diantara sisa-sisa debur kehidupan yang tak bertuan. adakah hal bertanya tentang maknawi jiwa-jiwa yang terluka.

biarlah kata yang menemaniku membelah setiap luka yang tak pernah ada. kututup kutambal dengan kata yang terjuntai nurani kata tanpa suara. mendekatlah kini sayang, dimana kau berada. adakah kau berada dalam pelukan keabadian maut yang mengancam, ataukah dalam pantauan izrail yang rama, ataukah izrail tampak garang dihadapanmu. rindukan izrail seperti merindukan kedatang kekasih menyapa setiap menjelang tidur.

sumber foto ilustrasi : agendajogja.com
mari sentuh tanganku karena kata tak pernah bicara. atas nama pengkhianatan dan kesetiaan. karena sesungguhnya pengkhianatan terbesar dan kesetiaan paling hakiki adalah sebuah kebranian. kita yang setia sesungguhnya adalah sebuah keberanian untuk mengkhianati perasaan kita sendiri demi kepercayaan orang lain.  dan kita yang berkhianat sesungguhnya adalah para pemberani untuk mengkhianatai sebuah kepercayaan demi egisme pribadi.

malam yang mengancam dengan kata-kata yang tajam, menghujam. angkat tangan kita katakan tidak pada ketidakadilan. kenapa dia bisa makan sedangkan banyak yang kelaparan. katakan dengan diam dikala lidah kelu dan biarkan kata terangkai dengan kaku, merambah dunia yang rindu, rindu pada kelmbu, yang menutup hati dari debu. kelambu kusam yang kian menghitam.

aku rindu melihatmu tersenyum seperti kerinduanku meluhatmu menangis, bersyukurlah kau masih bisa menampakan emosimu. karena aku lupa bagaimana cara menangis dan tertwa. rindu bagaimana kita bercengkrama dalam tama, saling menjaga bahu ditengah luka. kini dimana dirimu, tak ada lagi kau disampingku. hanya ada kata-kata malam yang menemani dingin malam yang bisu.
Read More...

Sabtu, 27 November 2010

Wanita Tua, Pemuda dan Senja

Leave a Comment

sore gerimis perlahan menyapa jogja, menghapus sisa abu kemarin lusa. ada wanita tua di ujung senja mencoba menyapa hari yang tak pernah ia suka. gemuruh merapi memang sudah mereda tapi wanita tua itu tak pernah tau kapan dia bisa kembali kerumahnya. wanita tua di ujung senja meratapi perjalanan hidup di ujung usia di kota yang bernama jogja. di sudut yang hampir sama para pemuda yang entah anak siapa tertawa ceria penuh canda tanpa peduli dengan sejarah hidup didepannya. dunia wanita tua di desa berbeda dengan pemuda di pusat kota. hari yang sama dalam sebuah proyeksi yang mendua antara duka dan suka.

merana meratap sisa hidup tanpa atap, dalam dekap penuh harap. mengurai benang kalbu yang berdebu, di ujung jiwa yang semu. jogja tak lagi sendu seperti saat tertutup debu. jogja kembali ceria seperti dulu dalam peluk merapi yang tak menentu. aku rindu jogja seperti dulu, bersanda gurau dengan nyanyian burung pipit yang merdu. banyak hati bertalu-talu di ujung senja yang tetap beku. mengharap penuh haru bahwa banyak pemuda merasakan hati wanita tua yang merana. menunggu senja tenggelam,  menanti malam temaram, berharap pagi ceria menyapa dengan tentram.

hati ini haru melihat sebgian pemuda saling bahu membahu, mendatangi tempat tinggal wanita tua, di ujung utara jogja,  sementara di tengah kota jogja yang jauh dari desa si wanita tua yang menatap senja, jauh dari tempat tinggal wanita tua saat muda. beberapa pemuda keluar dari wilayah nyaman, mengulurkan tangan menyingkirkan rintangan untuk sesuatu hal yang tak pernah dia pikirkan. bertarung asa ditengah bencana, menjadi relawan tanpa mengharap apa. menyumbang dana dan tenaga lebih dari sekedar doa dan kata. sebagian dari mereka rela bertarung nyawa, tanpa berharap pamrih walau badan ringkih.

mimpi kita semua duka ini berakhir suka, tak hanya di jogja tapi seluruh indonesia, karena kami tak butuh obama dan amerika, tak butuh pahlawan, karena rakyat kini butuh makan. berbagi cinta dari para relawan yang tak pernah mengharap pamrih untuk semua cinta dan kasih. gerimis mulai reda seperti abu yang hilang dari jogja, kini di tengah harap merapi kembali dalam diam. tegakan kepala kawan mari berbagi senyuman, jangan pasrah menghadapi cobaan.
Read More...

Rabu, 13 Oktober 2010

Pukulan yang Menenangkan

Leave a Comment

shelter trans jogja KOPMA UGM, jogja yang teduh, matahari tak bersinar terlalu terik sore ini ditengah sepoi angin yang beradu dengan deru mesin-mesin kendaraan jalan kaliurang. tiba-tiba terdengar ledakan dari sudut shelter. bukan ledakan bom, tapi sebuah tangisan bayi yang digendong seorang ibu. meledaklah tangisan itu menyingkirkan desir angin yang dingin, membekap deru kendaraan jalanan di tengah kepenatan bus trans jogja yang tak kunjung datang.

semua mata tertuju pada bayi yang digendong itu, entah berapa bulan usianya, tapi yang pasti bayi itu hanya bisa menangis, tangisan yang tak pernah tahu kapan kan berhenti. semua mata di shelter memperhatikan bayi itu dengan tajam, penuh selidik, dan muka yang tegang bercampur aduk, ada yang kasian, ada yang merasa teganggu, ada sebagian kecil yang acuh dan tak acuh. seharusnya di saat seperti itu wajah si ibu tegang, karena selain si bayi yang jadi pusat perhatian si ibu tentu juga salah satu pusat penyelidikan.

si ibu tak peduli lingkungan sekitar, dengan tenang dan penuh kelembutan memukul-mukul pantat si bayi satu dua pukulan. dan mengelurkan ucapan-ucapan kecil “cup, cup cup” sejurus kemudian si ibu melakukan hal yang sama sekali lagi dengan penuh perasaan dan kelmbutan, pantat si bayi dia pukul-pukul lagi dengan perlahan. ajaib si bayi tiba-tiba terdiam dan tenang kembali, di usp wajah si bayi yang mulai berkeingat. perlahan namun pasti bayi tersebut mulai tersenyum dalam ketenangannya.

si bayi tak peduli pengapnya shelter dan deru mesin-mesin kendaraan di jalanan. sunguh pemandangan yang menakjubkan. bayi yang masih putih bersih tanpa dikotori segala macam dikotomi penafsiran prilaku manusia menafsirkan sebuah pukulan sebagi bentuk kaih sayang dan sang ibunda. bayi bisa membaca bahwa pukulan itu bukan siksaan tapi sebuah arti kasih sayang.

bayi belum pernah menyaksika bahwa pukulan adalah kekerasan seperti isi film dan bacaan. dia merasakan naluri dari ibu, naluri ibu inilah yang diserap oleh naluri yang sama pada si bayi. pikiran dan hati yang bersih seorang bayi mendapat inpluf yang positif dari sang ibu dengan memaknai sebauh tepukan atau pukulan. hal yang ketika bayi itu beranjak dewasa akan hilang akibat pengaruh lingkunga dan pergaulan.

apakah ketika bayi itu menjalani usianya, merangkak hingga berlari, dan otak serta hatinya mulai teisi berbagai macam hal sehingga tidak murni lagi, masihkah bayi itu sat dewasa nani memaknai pukulan halus orang tuanya sebagai sebuah bentuk kasih sayang ataukah dia akan menganggap pukulan orang tuanya sebagai sebuah siksaan. waktu yang akan menjawab apakah pukulan yang sama dari orang yang sama akan dimaknai sama pula ketika si bayi itu ada di bangku SMP bahkan SMA.
Read More...

Selasa, 12 Oktober 2010

Rumput Kering

Leave a Comment

kering kerontang tanah gresang
pertanda musim mulai usang
rumput-rumput hijau berubah kuning
bebas terbang wahai rumput kering

dengung dzikir mengurai kalbu
rumput-rumput terbang bagai debu
kisah hidup tak pernah menentu
hancur lebur hidup bagai abu

rumput-rumput kering tak lagi menarik untuk kambing
menambah permasalahan petani yang semakin pusing
terbentuk garis-garis tanah yang terbongkah
menelanjangi lidah akar yang mengangah

banyak hati tak lagi peduli
akan nasib petani dan kuli

Read More...

Senin, 04 Oktober 2010

Sketsa Keberagaman di Sudut Jogja

61 comments
Ketika saya mengetahui adanya kontes menulis atau dalam bahasa David Beckham disebut Writing contest akan diadakan dalam rangka meramaikan Pesta Blogger 2010, saya terkejut dan sibuk sendiri. sibuk bukan sembarang sibuk tapi sibuk karena terkejut bahwa tema yang diusung seperti filosofi kalimat pusaka Indonesia "bhineka tunggal ika" dan oleh para blogger bahasanya disederhanakan menjadi "merayakan keberagaman". secara filosofis kedua frase kata itu memiliki makna yang sama, untuk itulah saya mengobrak-abrik 3 rak buku di kamar saya untuk mencari refrensi makna dari "keberagaman".

saya memang menemukan beberapa literatur sebagai refrensi tulisan, seperti tentang kisah Ibnu Rusyd yang pernah berfriksi dengan Imam Al-Ghazali tentang filsafat dan agama sehingga di ujung kisah ,Ibnu Rusyd mendapat gelar filusuf peletak tonggak perbedaan atas tiga prinsip dasar yang beliau kemukakan, tiga prinsip dasar itu antara lain, Pertama, keharusan untuk memahami yang lain dalam sistem referensinya sendiri. kedua, adalah prinsip menciptakan kembali hubungan yang subur antara dua kutub dengan mengedepankan hak untuk berbeda. dan yang ketiga, mengembangkan sikap toleransi.


bahkan dalam rangka pengobrak-abrikan rak buku saya menemukan dua buku yang mengulas keberagaman satu fiks dani satu lagi nonfiksi. buku fiksi yaitu novel karya Oki Madasari berjudul "Entok". novel yang terbit zaman orde baru ini menceitakan kisah perlawanan melawan anti-keberagaman. sedangkan buku non fiksi yang berhasil saya temukan buku berjudul "Rethinking Multiculutralism, Keberagaman Budaya dan Teori Politik". tapi semua itu tidak memuaskan dahaga saya untuk memaknai arti dari "merayakan Keberagaman".

sebagian kwana-kawan yang hadir minus yg telat (canting doc)
beberapa angota komunitas blogger canting

ditengah keputusasaan minimnya refrensi yang saya coba untuk dapatkan, saya justru mendapat SMS dari seorang kawan blogger "inget, ya.... nanti sore jam4 kumpul di TBY, seperti biasa jangan telat dan bawa konsumsi sendiri". ya, itu adalah pesan pendek pemberitahuan untuk kopadar komunitas "canting", komunitas blogger kecil-kecilan di Jogja. tanpa pikir panjang saya balas pesan pendek itu dengan kata "YA...".

akhirnya, dalam kata-kata "canting", "blogger", "komunitas", "keberagaman". sebuah garis kata imajiner yang membuat saya bisa menarik benang lurus yang tidak kusut dalam memaknai frasa "merayakan keberagaman" yang di usung dalam pesta blogger 2010. sebuah pesan pendek dari kawan blogger itu menarik memori saya jauh kebelakang, kepada teman-teman yang sering kopdar, tentang para blogger dari berbagai macam suku dan agama serta pemahaman yang berbeda dapat disatukan dalam sebuah komunitas kecil bernama "canting".

jujur saya menyadari, saya terlalu rumit berfikir tentang keberagaman. saya berfikir dan memaknainya terlalu filosofis dan akademis untuk mencari refrensi yang memuaskan, tapi ternyata saya justru menemukannya di sekeliling saya sendiri. keberagaman dan blogger dua kata yang saya temukan dalam satu kata "canting". sebuah komunitas blogger kecil di jogja yang nomaden tapi memiliki sebuah makna yang mendalam.

di "canting" inilah saya menemukan kawan-kawan blogger dalam satu komunitas yang disatukan oleh perbedaan namun mengusung visi yang sama. disatukan oleh perbedaan disitu kata kuncinya. kami di komunitas canting bersama bukan karena kami sama tapi bersama karena kami berbeda. di komunitas ini budaya egaliter tercermin dari kebiasaan kami saat kopdar yang selalu bergaya lesehan entah itu di Taman Budaya Yogyakarta maupun di Trotoar Titik Nol Jogja.

disini saya bisa bertemu berbagi macam orang dan latar belakang mapun sudut pandang berfikir. saat duduk sebagai blogger tidak pernah ada yang berdiri angkuh memamerkan latar belakang dirinya tapi semua bersatu dalam satu kata yaitu blogger, ada fotografer, pengusaha, jurnalis, teknisi, guru, mahasiswa (dari berbagai jurusan), anak SMA, dosen, penulis, editor buku, dan berbagai macam latar belakang. selain latar belakang pendidikan dan profesi komunitas ini berasal dari berbagai macam agama dan suku. ada mas Amrul dan mas Agung yang dari Sulawesi hingga mas Mumu dari lampung dan mas Sigit dari Padang. keberagaman itu semua disatukan dalam dua hal blogger dan Jogja. jadi keberagaman juga perlu disatukan dalam sebuah bentuk, dan bentuk itu berupa dua kata blogger dan Jogja.

perbedaan dan keberagaman inilah yang akhirnya memunculkan ide-ide dan konsep baru dari setiap pertemuan dan diskusi baik di alam maya maupun dunia nyata. hingga muncul ide-ide yang luar biasa yang berhasil disimpulkan dari masukan yang terkumpul. disinilah letak nilai dari keberagaman yang sesungguhnya, dari keberagaman akhirnya dapat membentuk sesuatu yang baru dan lebih baik. semakin beragam semakin bik asal juga diilhami untuk saling memahami dan mengerti.

kebersamaan dan keceriaan serta tawa ini semoga tidak cepat berlalu
salah satu aksi sosial di sanggar anak

lalu bagaimana bisa bersama padahal berbeda?
canting memang diusung dari hal yang sederhana, saat beberapa bogger kompasiana mengadakan kopdar, lama berlangsung ada keinginan untuk membentuk sebuah komunitas blogger jogja sebagai wadah untuk saling berinteraksi sesama kompasianer (blogger) di wilayah jogja dan sekitarnya. akhirnya di usung nama canting, sebuah alat untuk membatik dengan filosofi sederhana bahwa anggota canting akan "membatik" blog dan dunia dengan tulisan-tulisan tentang jogja dari berbagai sudut pandang.

di "canting" inilah kami tidak dituntut untuk disatukan dalam satu "ruang" walaupun cikal bakalnya berasal dari blogger kompasiana. kami tetap bebas menulis di blog-blog masing-masing ada yang aktif di kompasiana, di blogspot, di multiply, di wordpress, dan bermaca-macam blog pribadi. namun saat kami kopdar tidak pernah mengusung nama blognya. karena saat kopdar itulah mendapat ilmu selain keakraban. saat bertemu banyak yang dibahas, dari mulai tukar-menukar buku, diskusi film terbaru hingga aksi sosial dari pinggir pantai dengan menanam mangrove hingga bantaran kali sebagai aksi untuk anak-anak kurang mampu. dan kini masih dala persiapan membangun sangar anak untuk korn gempa jogja di wilayah perbukitan perambanan, sebagai pembuktian bahwa manusia-manusia maya dapat berguna didunia nyata.

ada hal kecil disekitar kita sebagai sebuah pembelajaran yang justru sangat luar biasa. saya tidak pernah bisa menarik makna dari keberagaman dalam setiap buku refrensi maupun kisah yang saya dengar, tapi saya justru menemukannya di lingkungan sekitar yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam hitungan. saya akhirnya sedikit mengerti tagline yang diusung oleh pesta blogger tentang keberagaman.

bersantai di trotoar sambil nungu teman yang lain (canting doc)
kebiasaan kopdar lesehan di trotoar (egaliter, keberagaman dan kebersamaan)

I had jumped off the edge, and then, at the very last moment, something reached out and caught me in midair. That something is what I define as diversty. It is the one thing that can stop a man from falling, powerful enough to negate the laws of gravity. ada sebuah sketsa kecil di sudut jogja tentang sebuah makna dari keberagaman, fragmen-fragmen yang tersaji seperti sebuah mimpi tak terbeli. di sudut inilah dalam sebuah komunitas kecil tersaji sebuah keberagaman yang bukan sebatas ilusi.
satu kata satu perbuatan. kebersamaan itulah harga paling mahal yang tak bisa dibayar dengan uang tapi bisa dibeli dengan saling memahami. mari menerima perbedaan dengan senyuman.

Dalam kaitan semua hal itu pula, risiko keberagaman yang sepantasnya dirayakan, tak perlu melahirkan hero baru. Sebagaimana analogi dalam dunia industri, siapa pun sah menulis apapun dalam blognya asal dibarengi rasa tanggungjawab. Sebagaimana dalam lingkungan petani, maka menjadi lumrah jika siapa pun yang sanggup menanam dan memelihara padi, ya, tanamlah dan peliharalah padi tersebut. Eghm, kini, momentum para blogger Indonesia untuk unjuk gigi, mengkarnavalkan dirinya sudah tiba, karena tuntutan situasi. Di luar tetek-bengek persoalan bangsa saat ini, sebagai konsekuensi seleksi alam kita tinggal menunggu waktu, apakah blogger-blogger Indonesia akan menjadi pualam, melabu, ataukah malah bertalu, meraih zaman keemasannya.

Hiduplah para blogger dalam keberagaman eksperimentasi karnaval estetika.
Read More...

Jumat, 01 Oktober 2010

Sempurna Itu Omong Kosong

Leave a Comment

saya tidaklah berbicara tentang kesempurnaan dalam luang lingkup Tauhid, tapi kesempurnaan dalam sebuah ekosistem kemanusiaan, bahwa tak ada yang sempurnah dalam hidup manusia, Tuhan memang menciptakan manusia dalam sebuah kesempurnaan, tapi manusia tidaklah bisa sempurna dalam hidupnya. untuk itu sebuah kesalahan besar jika kita semua mengharapkan kesempurnaan dalam setiap langkah yang kita lakukan, tapi perlu dicatat satu hal bahwa kita berjuang untuk lebih baik.

mengejar kesempurnaan, perfecsionis, selalu di awali dengan tidak mau mentolerir kesalahan oran lain dan pada tahap selanjutnya mudah tersulut emosi. Jika terluka bathinnya ada bara emosi yang akan meledak tiba-tiba. orang yang mengejar kesempurnaan banyak mengalami kejadian menghadapi orang yang yang berpikir sempurna dan selalu mengeluh melihat lingkungan semrawut, tidak rapi dan berantakan. Mulut nyerocos, melihat orang lain sebagai biang dari keruwetan dan tidak suka introspeksi diri.

timbul kenekatan dengan ancaman yang mengerikan. Letupan emosinya sungguh luar biasa, Mengejar kesempurnaan memang bagus tapi jika menjadi obsesif dan ekstrem dalam implementasikan bisa membahayakan komunikasi personal, interaksi sosial dan hubungan antar sesama. tak perlu mengejar kesempurnaan agar semuanya terlihat baik, cukuplah berbuat baik dengan menghargai oranglain. karena kesempurnaan dan kebaikan dimata kita belum tentu menjadi hal yang sama di mata orang lain.

saling memahami dan memberi solusi serta mencari titik temu adalah lebih baik dari saling ngotot untuk mempertahankan pemahaman yang dirasa paling benar. jikapun akhirnya usul dan pemahaman kita menjadi minoritas (baca:kalah) maka itu bukanlah kita menjadi jelek, tapi lebih pada adanya pemahaman yang berbeda.

kita tidak akan pernah pernah menjadi sempurna, jika pendapat kita ditolak dalam suatu forum dan komunitas itu tidak ahrus kita kelur dari mejelis. satu kata satu perbuatan. kebersamaan itulah harga paling mahal yang tak bisa dibayar dengan uang tapi bisa dibeli dengan saling memahami. mari menerima perbedaan dengan senyuman.
Read More...

Kamis, 30 September 2010

Ibu, dalam Duka dan Kata

Leave a Comment

ada kisah yang menarik tadi pagi, saat seorang anak kecil -mungkin- masih usia anak SD, ngamuk-ngamuk di sebuah kawasan pertokoan di jogja. ngamuk bukan sembarang ngamuk marah bukan sembarang marah, anak itu benar-benar dalam emosi tinggat tinggi dengan membentak orangtuanya gara-gara memilih baju. si anak dengan nada keras membentak orang ibunya dengan nada yang membuat saya bergetar.

mammaaaahhhh….. mamah ini bagaimana masa milih baju buat dedek yang ini, ade ga suak, ganti!!!” dengan nada kasar dan mata melotot si anak membentak ibunya, tidak sampai disana, si anak masih meneruskan eksistensinya “ade pengen yang merah, ga suka dengan ini, ganti” bahkan sandal yang dia paki dia tendangkan hingga terlempar, setelah itu si anak setengah merengek dengan nada perintah meminta ibunya mengambilkan sandal tadi. sedangkan si ibu dengan tersenyum menghadapi anaknya yang kurang ajar.

tak jauh lama setelah itu saya keluar dan menuju parkiran, frgmen yang hampir sama tersaji kira-kira anak seusia remaja dengan santainya memerintah dan membentak orang tuanya. mencap sang ibu dengan bermacam hal yang tidak sopan, sedangkan si ibu yang luga dan mungkin merasa kurang gaul tetap diam saja dan menurut sama anaknya. dan si anak merasa di atas angin memerintah ibunya seperti perintah pada jongos.

dua kisa yang tersaji di depan mata dalam satu hari ini seperti sebuah wajah yang tak bisa dihilangkan. perlahan si anak mulai nyaman dalam posisi bekuasa atas orang tua, dari mulai merengek, meminta, hingga berdiri dalam posisi berani memerintah hingga membentak dengan nada kasar. ada apa ini dan fenomena apa ini?.

sungguh akal sehat saya tidak bisa mengerti akan apa yang saya lihat apakah ini ada hunbungannya dengan film-film di layar kaca dimana tidak ada lagi penghormatan anak pada orang tua, inilah contoh yang dibuat media kemudian ditelan oleh anak maupun orang tua. penghormatan anak atas orang tua bukan semata-mata atas perintah agama penghormatan anak pada orang tua bukanlah hamba pada raja, penghormatan anak akan orang tua bukanlah penentangan atas faham egliterisme yang ada. tapi penghormatan anak atas orang tua adalah keharusan ke-tahudiri-an anak atas posisinya.

patuh pada orang tua bukanlah menghamba, tapi sopan dlam tindak-tanduk dan tata krama. ituah yang hilang, bukan soal perbedaan pendpat tapi bagaimana anak berposisi sebagai anak dan orang tua memposisikan diri dimana sebagai pengayom dan penyayang. entah bagaimana pemahaman  zaman sekarang, karena orang tua saya selalu bilang beda anak sekarang dengan dulu.

ibu saya pernah “protes” saat saya bertengkar dengan adik saya. beliau bilang “dulu ibu dua telor dibagi tujuh tidak pernah bertengkar dan selalu rukun, kenapa kini kalian yang dikasih satu butir telor masing-masing suka bertengkar“. mungkin saya adalah generasi dimana menatap mata orng tua adalah sebuah “dosa”. dilarang memotong saat orang tua bicara. sehingga saat itu saya berfikir apakah saya takut atau saya hormat. dan kini saya menemukan jawaban atas semua “kekerasan” orang tua atas didikannya.

hal inilah yang selalu membuat saya pulang saat lebaran tiba, keinginan dan kerinduan akan kasih sayang, bahwa saya tahu kemarahan itu adalah bentuk perhatian. penghormatan terhadap ibu bukanlah tuntutan ibu untuk di hormat tapi sebuah keharusan anak bukan untuk balas jasa, karena jasa itu tak mungkin di balas, tapi untuk sebuah ke-tahudiri-an seorang anak.

dulu wajah ibu begitu biasa tapi kini ketika waktu dan jarak memisahkan dalam segmentasi yang jauh dan lama, maka hal-hal kecil dari ibu menjadi bayang menyenangkan sekaligus mengerikan. bibirnya yang pucat tanpa pernah tersentuh lipstik itu menampakan dengan jelas sungai-sungai darah diantara kelupasan daging di bibirnya yang merekah. ibu adalah orang yang terakhir makan dan terakhir minum.

bagaimanapun juga ibu telah berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mengantarku menghirup udara dunia ini. ibu rela memutuskan 40 urat yang melintang dirahimnya hanya untuk mewujudkan hasrat segumpal daging menyaksikan indahnya sinar mentari. betapa inginnya aku menyentuh pipi ibuku dan menyeka air mata yang meleleh dari matanya yanga ayu itu. tapi aku tak berdaya sama sekali, aku hanya bisa terdiam, membisu dan sepi.

jikalau saja esok hari atau lusa, sinar mentari masi berkenan menyinari bumi dan sejuknya embun pagi singgah di antara rongga-rongga dada, mungkin saat itu aku akan tahu apa artinya cinta, kasih sayang, kesetiaan, bala budi dan harga diri.
Read More...