Jumat, 01 Oktober 2010

Sempurna Itu Omong Kosong

Leave a Comment

saya tidaklah berbicara tentang kesempurnaan dalam luang lingkup Tauhid, tapi kesempurnaan dalam sebuah ekosistem kemanusiaan, bahwa tak ada yang sempurnah dalam hidup manusia, Tuhan memang menciptakan manusia dalam sebuah kesempurnaan, tapi manusia tidaklah bisa sempurna dalam hidupnya. untuk itu sebuah kesalahan besar jika kita semua mengharapkan kesempurnaan dalam setiap langkah yang kita lakukan, tapi perlu dicatat satu hal bahwa kita berjuang untuk lebih baik.

mengejar kesempurnaan, perfecsionis, selalu di awali dengan tidak mau mentolerir kesalahan oran lain dan pada tahap selanjutnya mudah tersulut emosi. Jika terluka bathinnya ada bara emosi yang akan meledak tiba-tiba. orang yang mengejar kesempurnaan banyak mengalami kejadian menghadapi orang yang yang berpikir sempurna dan selalu mengeluh melihat lingkungan semrawut, tidak rapi dan berantakan. Mulut nyerocos, melihat orang lain sebagai biang dari keruwetan dan tidak suka introspeksi diri.

timbul kenekatan dengan ancaman yang mengerikan. Letupan emosinya sungguh luar biasa, Mengejar kesempurnaan memang bagus tapi jika menjadi obsesif dan ekstrem dalam implementasikan bisa membahayakan komunikasi personal, interaksi sosial dan hubungan antar sesama. tak perlu mengejar kesempurnaan agar semuanya terlihat baik, cukuplah berbuat baik dengan menghargai oranglain. karena kesempurnaan dan kebaikan dimata kita belum tentu menjadi hal yang sama di mata orang lain.

saling memahami dan memberi solusi serta mencari titik temu adalah lebih baik dari saling ngotot untuk mempertahankan pemahaman yang dirasa paling benar. jikapun akhirnya usul dan pemahaman kita menjadi minoritas (baca:kalah) maka itu bukanlah kita menjadi jelek, tapi lebih pada adanya pemahaman yang berbeda.

kita tidak akan pernah pernah menjadi sempurna, jika pendapat kita ditolak dalam suatu forum dan komunitas itu tidak ahrus kita kelur dari mejelis. satu kata satu perbuatan. kebersamaan itulah harga paling mahal yang tak bisa dibayar dengan uang tapi bisa dibeli dengan saling memahami. mari menerima perbedaan dengan senyuman.
Read More...

Kamis, 30 September 2010

Ibu, dalam Duka dan Kata

Leave a Comment

ada kisah yang menarik tadi pagi, saat seorang anak kecil -mungkin- masih usia anak SD, ngamuk-ngamuk di sebuah kawasan pertokoan di jogja. ngamuk bukan sembarang ngamuk marah bukan sembarang marah, anak itu benar-benar dalam emosi tinggat tinggi dengan membentak orangtuanya gara-gara memilih baju. si anak dengan nada keras membentak orang ibunya dengan nada yang membuat saya bergetar.

mammaaaahhhh….. mamah ini bagaimana masa milih baju buat dedek yang ini, ade ga suak, ganti!!!” dengan nada kasar dan mata melotot si anak membentak ibunya, tidak sampai disana, si anak masih meneruskan eksistensinya “ade pengen yang merah, ga suka dengan ini, ganti” bahkan sandal yang dia paki dia tendangkan hingga terlempar, setelah itu si anak setengah merengek dengan nada perintah meminta ibunya mengambilkan sandal tadi. sedangkan si ibu dengan tersenyum menghadapi anaknya yang kurang ajar.

tak jauh lama setelah itu saya keluar dan menuju parkiran, frgmen yang hampir sama tersaji kira-kira anak seusia remaja dengan santainya memerintah dan membentak orang tuanya. mencap sang ibu dengan bermacam hal yang tidak sopan, sedangkan si ibu yang luga dan mungkin merasa kurang gaul tetap diam saja dan menurut sama anaknya. dan si anak merasa di atas angin memerintah ibunya seperti perintah pada jongos.

dua kisa yang tersaji di depan mata dalam satu hari ini seperti sebuah wajah yang tak bisa dihilangkan. perlahan si anak mulai nyaman dalam posisi bekuasa atas orang tua, dari mulai merengek, meminta, hingga berdiri dalam posisi berani memerintah hingga membentak dengan nada kasar. ada apa ini dan fenomena apa ini?.

sungguh akal sehat saya tidak bisa mengerti akan apa yang saya lihat apakah ini ada hunbungannya dengan film-film di layar kaca dimana tidak ada lagi penghormatan anak pada orang tua, inilah contoh yang dibuat media kemudian ditelan oleh anak maupun orang tua. penghormatan anak atas orang tua bukan semata-mata atas perintah agama penghormatan anak pada orang tua bukanlah hamba pada raja, penghormatan anak akan orang tua bukanlah penentangan atas faham egliterisme yang ada. tapi penghormatan anak atas orang tua adalah keharusan ke-tahudiri-an anak atas posisinya.

patuh pada orang tua bukanlah menghamba, tapi sopan dlam tindak-tanduk dan tata krama. ituah yang hilang, bukan soal perbedaan pendpat tapi bagaimana anak berposisi sebagai anak dan orang tua memposisikan diri dimana sebagai pengayom dan penyayang. entah bagaimana pemahaman  zaman sekarang, karena orang tua saya selalu bilang beda anak sekarang dengan dulu.

ibu saya pernah “protes” saat saya bertengkar dengan adik saya. beliau bilang “dulu ibu dua telor dibagi tujuh tidak pernah bertengkar dan selalu rukun, kenapa kini kalian yang dikasih satu butir telor masing-masing suka bertengkar“. mungkin saya adalah generasi dimana menatap mata orng tua adalah sebuah “dosa”. dilarang memotong saat orang tua bicara. sehingga saat itu saya berfikir apakah saya takut atau saya hormat. dan kini saya menemukan jawaban atas semua “kekerasan” orang tua atas didikannya.

hal inilah yang selalu membuat saya pulang saat lebaran tiba, keinginan dan kerinduan akan kasih sayang, bahwa saya tahu kemarahan itu adalah bentuk perhatian. penghormatan terhadap ibu bukanlah tuntutan ibu untuk di hormat tapi sebuah keharusan anak bukan untuk balas jasa, karena jasa itu tak mungkin di balas, tapi untuk sebuah ke-tahudiri-an seorang anak.

dulu wajah ibu begitu biasa tapi kini ketika waktu dan jarak memisahkan dalam segmentasi yang jauh dan lama, maka hal-hal kecil dari ibu menjadi bayang menyenangkan sekaligus mengerikan. bibirnya yang pucat tanpa pernah tersentuh lipstik itu menampakan dengan jelas sungai-sungai darah diantara kelupasan daging di bibirnya yang merekah. ibu adalah orang yang terakhir makan dan terakhir minum.

bagaimanapun juga ibu telah berjuang dengan mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mengantarku menghirup udara dunia ini. ibu rela memutuskan 40 urat yang melintang dirahimnya hanya untuk mewujudkan hasrat segumpal daging menyaksikan indahnya sinar mentari. betapa inginnya aku menyentuh pipi ibuku dan menyeka air mata yang meleleh dari matanya yanga ayu itu. tapi aku tak berdaya sama sekali, aku hanya bisa terdiam, membisu dan sepi.

jikalau saja esok hari atau lusa, sinar mentari masi berkenan menyinari bumi dan sejuknya embun pagi singgah di antara rongga-rongga dada, mungkin saat itu aku akan tahu apa artinya cinta, kasih sayang, kesetiaan, bala budi dan harga diri.
Read More...

Kamis, 09 September 2010

Apakah Menjadi Benar Itu Benar?

Leave a Comment

KEBENARAN KITA BERKEMUNGKINAN SALAH
KESALAHAN ORANG BERKEMUNGKINAN BENAR
HANYA KEBENARAN TUHAN YANG
BENAR-BENAR BENAR

saya selalu ingat kata-kata itu, dan terus saya fahami dengan perlahan, namun saya lupa kapan serta dimana dan dari saiapa saya mendengar atau membaca kata-kata itu untuk pertama kali. diluar “copyright” pemilik kata-kata sakral itu saya merasa kalimat yang teruntai memiliki makna yang mendalam. kata-kata itu mengajarkan dalam baha sederhana untuk tidak ngotot merasa benar dalam setiap pemahaman dan pengetahuan yang kita miliki. semuanya dikekembalikan pada Tuhan sang pemilik dan penguasa alam Sang Rahman yang Ar-Rahim. Dzat yang berkuasa atas semua pengetahuan yang ada pada manusia, sumber-dari semua sumber keilmuan Allah jalla jalaluh. hal ini menjauhkan kita sebagai manusia untuk “keras kepala” mempertahankan kebenaran semua yang mungkin menurut Tuhan hanyalam pembenaran saja. kata-kata itu mengajarkan kepada saya bagaimana belajar perlahan dari yang kecil dari langkah perlahan hingga akhirnya sampai pada tujuan.

catatan kecil di atas hanyalah sebuah intro, untuk pengantar catatan-catatan kecil berikutnya tentang betapa saya sering menyaksikan orang berdebat dengan panas seolah dirinya paling benar hingga keluar kata-kata yang tak pantas diucapkan terutama pembicaraan tentang agama, sehiangga saya harus berfikir keras untuk memahami mengapa banyak kata-kata yang tidak pantas dan tidak sopan keluar dari atau oleh orang-orang yang mengaku beragama. lebih dari kata-kata kotor bahkan prilaku barbarian dan anarkis serta sangat kasar bisa dilakukan oleh banyak yang mengaku akademis dan bahkan oleh mereka yang merasa dirinya beriman kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

fenomena-fenomena ini saya baca dari sebuah pembelajaran yang “melompat” baik dalam sebuah ideologi kasus hingga agama. dalam pemahaman ideologi contohnya bagaiaman tindakan anarkis banyak dilakukan oleh para mahasiswa -yang seharusnya- terpelajar. dimana segalah tingkah lakunya difikirkan secara matang baik dan buruknya. tapi nyatanya masih banyak mahasiswa yang bersikap anarkis saat aksi, tentu saya tidak sedang “memojokan” para aktivis mahasiswa saja, tapi kenyataan banyak aksi yang dilakukan lebih banyak membuat susah masyarakatyang lain, disinilah ideologi “semua gue” berjalan dengan ideologi -sok- perubahan dan -sok- revolusi. maka harus dipertanyakan sebuah kebenaran apa yang sesungguhnya diperjuangkan. berteriak anti korupsi tapi berujung dengan pengrusakan, sungguh akal sehat saya yang miring ini tidak menemukan korelasi yang pas antara anti korupsi dan membakar ban.

pembelajaran yang melompat-lompat inilah yang akhirnya menjadi para juragan, contohnya banyak berteriak tentang pasal-pasal pendidikan tapi lupa pasal yang ada di UUD45.  atau  banyak para aktivis berteriak negara busuk dan bermasalah tapi justru yang berteriak ini lupa apa yang terjadi disekitarnya. bisa diambil contoh lagi yang lebih konkrit seperti mahasiswa berteriak presiden turun atau pemerintah salah, tapi lupa bertanya siapa dirinya menuntut presiden turun, bahkan tat cara hingga protap bagaimana menurunkan presiden saja tidak tahu, ini sangat menggelikan atau berteriak pemerintah salah tapi lupa apakah dirinya sudah benar sebagai “wakil-wakil” mahasiswa sebenarnya, apakah aspirasi itu beanr-atau hanya kepuasan sesaat.
ilustrasi : sumber merdeka.com


belajar agama yang “melompat”
bukan hanya dalam kalangan civitas akademika saja dalam pembelajaran yang melompat itu, dalam kejadian ber-agama-pun banyak kita temui, banyak orang berteriak hebat terlihat keren sekali seolah ilmu agamanya begitu tinggi, sampa mengutip banyak hadist dan ayat, berfikir luas tentang Tuhan dan meneriaki sodaranya dengan kata-kata kasar. fenomena seperti ini bermunculan baik di dunia nyata maupun dunia maya. di dunia maya berargumen tentang agama membaw ayat dan hadist dan pemahaman tentang ketuhanan dan tahuhin ternyata bermodal “Google”. di tanya langsung “search” terus seperti itu, dapat copy-paste dengan pemahaman katanya yang katanya dari katanya tanpa pembelajaran secara penuh.

sehingga “agama” google mungkin bisa disematkan karena menjadikan “google” sebagai tempat kembali sebala keresahan. apakah ini salah? tentu tidak google dan kawan-kawan adalah sarana pembelajaran yang ada dan bisa dimanfaatkan seperti sebuah perpustakaan dan web menjadi sebuah buku yang terus kita pelajari. tapi menjadikan “search engine” sebagai rujukan utama hanya demi nafsu tidak mau kalah debat adalah menjerumuskan diri kita pada sebuah keterbatasa hidup sebenarnya, demi sebuah hawa nafsu dan gengsi. banyak diantara kita berdebat merasa paling hebat dalam beragama, baik yang seiman maupun yang berbeda keyakinan, menjadiakn hawa nafsu “kesombongan” sebagai orang “faham” agama.

ada sebuah kisah dari serambi masjid kampus UGM, sebuah kegiatan pembelajar agama yang sering saya temui, di awal-awal saya kuliah beberapa kali saya “nongkrong” setiap jum’at atau minggu pagi di masjid kampus untuk ikut pengajian yang ada, belajar agama-agama dan dakwah seperti ini di kota besar menghasilkan “santri baru” yang -sepertinya- sangat faham agama. dilihat dari cara berpakaian yang katanya jejak rosul sampai gaya berbicara ke-arab-arab-an dengan sebutan “akhwat, antum, ukhti dll. kegiatan pembelajaran yang banyak dari mereka yang bagi saya nampak ‘melompat’.

Saya terbiasa di lingkungan kampung saya, dimana orang mempelajari dan mendiskusikan agama sesuai dengan tingkat penguasaan ilmunya masing-masing. Saat belajar fiqh, misalnya, seorang santri akan urut mulai dari thaharah (cara bersuci, baik dari najis maupun hadats). Mereka fokus betul di situ, mulai dari penguasaan ilmu hingga prakteknya. Sebelum rampung menguasai aspek thaharah, mereka tak akan melompat membicarakan topik besar seperti tauhid. Tapi yang saya temui di Gelanggang Mahasiswa atau Masjid Kampus UGM kerap sebaliknya. Banyak teman yang saya lihat masih melakukan wudlu’ dengan cara yang tidak sempurna, namun saat berdiskusi bisa begitu canggihnya berbicara tentang tauhid uluhiyah. Saya waktu itu kerap tertegun karenanya. Para ‘santri baru’ ini, demikian menurut saya ketika itu, benar-benar sembrono dan tidak urut dalam mempelajari agama.

banyak yang berbicara, antum, ukhti, akhi yang saya kira pintar bahasa arabnya ternyata tidak tahu apa arti nama belakang saya (ngashim). bahkan banyak pula yangkelihatan pintar bahas arab dari gaya bahasanya tidak tahu bagaimana menyebutkan angka 1 sampai 10 dalam bahasa arab. buat saya ini ironis, pembelajaran “melompat” ini terlihat dengan jelas dimata saya. ini tidak hanya terjadi di kampus, justru banyak juga terjadi di organisasi masa yang mengaku pejuang dan wakil-wakil Tuhan.

epilog
terkadang kebenaran-kebenaran yang kita yakini hanyalah sebuah pembenaran subjektif yang kita benarkan, karena kebenaran kita bukanlah kebenaran orang lain, memaksakan kebenaran adalah sebuah kesalahan yang mengkhianatai kebenaran yang kita miliki dan kita yakini. pembelajarn yang melompat-lompat seperti ana SMP kemudian di ajarkan tentang integral hingga kalkulus tentu tidak akan pas karena memang ilmunya baru sebatas mencari persamaan dengan metode eliminasi dan belajar diagram ven. mencari kebenaran bukanlah dengan jalan “searc engine”, maksudnya bukan dengan jalan singkat kemudian kita yakini karena merasa “pas” kemudian berkoar-korar. cari, pelajari, dan gali kemudian utarakan, itu akan lebih menahan diri untuk tidak berlaku anarkis baik dalam berdiskusi/ berdebat dan bertindak dilapangan, sehingga tak perlu lagi kata-kata kotor terucap dan tindakan kasar terlaku, tak ada lagi teriak anti korupsi dengan mengumpat dan melempar batu tak ada lagi teriak anti ahmadiyah dengan memukul tongkat dan kata-kata kotor.

jas almamater dan jubah putih itu terlalu terhormat untuk membalut tubuh yang penuh kekerasana dan kepalan tangan. maka apakah dengan emosi sesaat dan atas harga diri serta mengejar nafsu untuk menjadi hebat benar-benar menjadikan diri kita hebat.

Orang yang paling berani ialah orang yang MERASA menjadi wakil Allah untuk menghakimi dan menghukum hamba-hambaNya.

Read More...

Kamis, 29 Juli 2010

Menelisik Makam Raja Jawa

8 comments
sunyi dan sedikit mistis, itulah perasaan pertama yang saya rasakan ketika melewati jembatan kecil yang menjadi gerbang masuk pertama ke makam Sultan Agung di Imgori yang sangat terkenal. Berada sekitar 20 kilometer di sisi selatan kota Yogyakarta, bukit Imogiri benar-benar menyimpan misteri setelah dijadikan makam raja-raja Mataram.

Berbeda dengan bukit-bukit lainnya di bagian selatan Yogyakarta yang kebanyakan sudah gundul, maka karena kesakralan makam itu, pepohonan di Imogiri tumbuh subur. Ada pohon jati yang berusia 300 tahun lebih, ada pula pohon beringin, kepel, pala, bambu, dan pepohonan lain yang tumbuh tak terusik tangan manusia. Kicau burung, angin semilir yang sejuk, merupakan hasil keseimbangan ekosistem yang terjaga lantaran kesakralan itu. senyum ramah terurai dari seorang setengah baya yang bertugas sebagai penjaga parkir. hembusan angin sore menyeruak dari celah-celah daun di sekeliling makam. sebuah sambutan alam yang cukuup untuk membuat pengunjung lebih berhati-hati.

gerbang utama ke makam para raja, batas pengunjung biasa (aziz doc)

belum cukup sampai disitu, karena untuk menuju kompleks makam utama pengunjung harus menempuh anak tangga yang cukup panjang. saya secara pribadi membaginya dalam 3 jenis tangga utama. pertama, tangga awal yang cukup landai tapi panjang tidak terlalu curam tapi cukup panjang dan melelahkan, di sebelah kiri berupa hutan dan ada beberapa makam warga, sedangkan di sebelah kanannya berupa perumahan warga yang beberapa diantaranya berupa ruko. setelah melalui tangga tahap pertama ini pengunjung akan sampai pada pemberhentian pertama di sebuah Masjid dan joglo kecil yang cukup untuk melepas lelah. Masjid itu merupakan masjid tradisional yang di bangun kira-kira pada masa Sultan Agung .

secara umum bangunanya masih asli hanya pada bagian serambinya saja yang mengalami perubahan yaitu pada bagian lantainya. Masjidnya beratap sirap , tetapi kini bagian atasnya dilapisi seng. sehingga atap, sirap hanya bisa dilihat dart dalam masjid saja. Unsur kekunoan lain pada masjid ini adalah pawestren dan kolam di halaman depan . Pada serambi masjid terdapat tubuh (Bedeng), besar dengan diameter 99 cm, panjang 146 cm. Menurut juru kunci makam tabuh ini di buat semasa dengan masjid. Unsur asli yang lain adalah saka guru dari kayu jati yang di sangga umpak persegi dari batu kali. Mihrap berupa relung pada dinding barat, dan mimbar berhias ukir-ukiran diantaranya ada yang manyerupai kala.

tak dinyana dan tak di duga, ternyata kedatangan saya kesana berbarengan dengan adanya pengambilan gambar acara Si Bolang TransTV. lumayan untuk melepas lelah sambil melihat tingkah polah anak-anak lugu di depan kamera. ternyata makam mistis ini menjadi daya tarik tersendiri untuk setting sebuah tayangan televisi.


shoting Si Bolang, di sekitar kompleks makam (aziz doc)

kembali ke makam Sultan Agung dan Raja-raja jawa, terutama Mataram dan semua keturunannya. Kompleks ini berada di Ginirejo Imogiri. Makam ini didirikan oleh Sultan Agung antara tahun 1632 - 1640M merupakan bangunan milik Mataram dan di jaga oleh dua pendopo dari Yogyakarta yang berada di sebelah kiri dan Surakarta di sebelah kanan gerbang utama makam. tapi sebelum kesana persiapkan fisik dulu untuk mendaki tangga dengan panjang lebih dari 200m dengan kemiringan 45°. jumlah tangganya 4009 anak tangga dengan pembagian masing-masing yang juga memiliki filosofi.

tangga menuju makam. puncak'y belum keliatan tuh :P (aziz doc)

sebelum masuk kompleks utama makam, pengunjung harus melewati gerbang utama yang berbentuk gapura seperti candi-candi hindu. menurut cerita dari seorang penjaga makam di pendopo penjagaan Yogyakarta yang merupakan abdi dalem kraton bernama mbah Jamidi atau Ngabei Sidohandono (nama yang di dapat dari kraton), dan buku sejarah. berbentuk gapura bentar yaitu gapura yang berbentuk seperti candi terbelah, tanpa atap dan tanpa daun pintu. ukuran panjang 220 cm. lebar 150 cm, dan terbuat dan batu bata . Pada bagian kaki terdapat hiasan giometris. Di sebelah menyebelah kori supit urang ada dua padhasan, dengan lapik berhias tumpal.

gapura, gerbang pertama,

plakat prasasti penghargaan, pahlawan dari keluarga kraton termasuk sultan Agung

tepat di depan gerbang uatma di jaga oleh 6 gentong air. atau yang di kenal dengan nama padasan. 2 buah terdapat di luar gerbang supit urang dan 4 buah terdapat dihalaman Kamandhungan dan biasanya disebut enceh atau Kong. Dua buah enceh yang berada di timur tangga regol Sri Manganti 1 dinamai Kyai Mendhung dan Nyai Siyem. Kedua enceh ini merupakan persembahan dari raja Ngerum (Turki) dan Siyem (Thailand). Sedang yang berada, di sebelah barat tangga bernama Kyai Danumaya dan Nyai Danumurti, berasal dari Aceh dan Palembang.

Yang menarik adalah, Makam Imogiri - juga disebut Pajimatan Imogiri - terbagi menjadi tiga bagian. Jika kita datang menghadap ke makam itu, maka pada bagian tengah adalah makam Sultan Agung dan Susuhunan Paku Buwono I. Lalu di sebelah kanan berderet bangunan makam para sultan Kraton Yogyakarta, mulai dari Sultan Hamengku Buwono I, II, III yang disebut Kasuwargan. Disusul di sebelah kanan makam Sultan Hamengku Buwono IV,V, dan VI yang dinamakan Besiaran. Dan paling akhir di sisi paling kanan adalah makam Sultan HB VII, VIII, dan IX yang disebut Saptorenggo.

Pada sisi kiri berturut-turut adalah makam para sunan dari Kraton Surakarta, mulai dari Susuhunan Paku Buwono III (abang Sultan HB I) hingga Susuhunan Paku Buwono XI. Khusus makam Sultan Hamengku Buwono II, jenazahnya dimakamkan di Makam Senopaten di Kotagede, Yogyakarta, di dekat makam raja Mataram I, Panembahan Senopati yang ketika muda bernama Sutawijaya atau Panembahan Loring Pasar.

untuk masuk makam utama yaitu makam Sultan Agung harus melewati 3 gerbang lagi dan memakai pakaian khusus yang disediakan oleh pihak penjaga makam. selain itu juga terdapat banyak peraturan khusus dari mulai sikap hingga pakaian. selain itu setelah masuk kompleks gerbang pertama tidak boleh menggabil gambar atau foto.

jika ingin masuk ke dalam terutama makam raja-raja di perkenankan pada hari senin dan minggu pukul 10-13 WIB dan jum’at 13-16 WIB. pada waktu-waktu itu gerbang utama dibuka dan masyarakat umum boleh masuk dengan menyanggupi semua persyaratan yang diberlakuakan.

mbah jamidi alias ngabei sidohandoko penjaga di pendopo jogja (aziz doc)

harap maklum karena masuk makam raja-raja di jawa berbeda dengan berziarah ke pemakaman biasa. dan perlu di ketahui ternyata tanah di bukit merak yang menjadi puncak itu berbau harum, boleh percaya atau tidak. dan satu lagi ternyata jumenengan atau yang telah menjabat sebagai Raja atau Sultan tidak berhak dan tidak boleh untuk menginjakan kaki di kompleks makam. menurut penjaga di situ, peraturan itu sudah menjadi UU tak tertulis yang tak boleh dilanggar.

nyambung dikit : ternyata, gaji penjaga makam di sana hanya Rp. 7050,-dan mereka melakukan profesi (saya menggap sebagai profesi bkn sekedar pekerjaan) itu dengan bahagia.

masuk ke makam itu tidak di tarik biaya atau tiket, hanya ada uang parkir. tapi di setiap muka tangga atau bangunan ada kotak amal yang sebaiknya di isi se-ikhlas-nya.

segitu dulu ya, kapan-kapan jalan-jalannya di lanjut lagi….
Read More...

Rabu, 23 Juni 2010

Bibliography

Leave a Comment
halaman ini masih dalam pengembangan
Read More...

Jumat, 11 Juni 2010

Bahagianya Jadi Cut Tari

Leave a Comment

mungkin ada pertanyaan apa yang membuat cut tari bahagia? apakah saya sudah gila jika menyebut cut tari bahagia dan harus bersyukur. tentu saja saya tidak gila dan apa yang saya maksudkan dengn bahagia adalah kesiapan dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.

saya tidak akan berkomentar tentang apa yang terjadi dengan dirinya,  sayang hanya ingin mengambil sebuah garis besar bahwa cut tari adalah salah satu dari miliyaran manusia yang sedang berada pada titik terendah perjalanan hidupnya. dan saya yakin bukan cuma dia, tapi saya, anda dan kita semua pernah berada pada dua titik utama hidup, yaitu puncak dan jurang. hidup itu seperti putaran bianglala bukan putaran komedi putar yang hanya berputar pada satu titik ketinggian, tapi hidup adalah sebuah putaran bianglala dimana kita bisa berada pada posisi diatas yang sangat jumawa, dimana bisa melihat segala hal dan berada di atas semuanya.  maka bersiaplah bahwa putaran bianglala akan membawa pada posisi paling rendah yang serendah-rendahnya,  penuh kegelapan dan suara bising mesin disel yang menggangu.

ketika kita di atas semua orang akan menengadah memandang kita. dan ketika dibawah semua orang tak akan melihat bahkan jikalau melihat justru dengan pandangan sinis. justru disaat berada pada titik nadir inilah orang-orang terdekat akan membuktikan cinta dan sayangnya. sahabat yang benar-benar sahabat akan tetap menjadi sahabat keluarga akan menjadi benar-benar keluarga. inilah saat dimana manusia akan melihat siapa sahabat sejati dan keluarga yang luar biasa.

sekilas melihat pemberitaan TvOne sore ini, di tengah pemberitaan Piala Dunia, ada suatu berita terselip tentang cut tari, yaitu dua pernyataanya pertama “suami saya percaya itu bukan saya” dan yang kedua “ibu yang melahirkan saya tidak percaya itu saya” . bagi orang kebanyakan memandang itu biasa saja, tapi bagi orang yang pernah berada pada suatu keadaan yang terjepit, sedikit dukungan dari orang-orang terdekat bermakna sangat besar. nilai motivasi dari orang-orang yang dipercaya inilah justru yang bisa membuat manusia tegar dalam segala situasi.


ingatkah saat Rasullulah SAW di asingkan oleh para kabilah, saat itu Rasulluloh SAW hampir menyerah, tapi apa yang dilakukan pamannya ketika itu yang justru berbeda keykinan ? sang paman justru menguatkan dan melindungi Rasul dari semua hinaan penduduk kota makkah. dan yang membuat Rasul tegar adalah dukungan istri dan sahabat-sahabatnya. atau ingatkah saat Aisyah Radialuanha di tuduh berselingkuh, dan semua umat yang tadinya menghormatinya justru berbalik menjadi menghujat. maka Rasul yang menjadi suaminya justru berdiri didepan untuk percaya pengakuan Aisyah bahwa beliau tidak berselingkuh.

atau ingatkah kita kepada Sri Mulyani yang kabarnya masih belum terlalu dingin?. saat itu hampir seluruh Indonesia menghujatnya, mencacinya, foto-fotonya di gambar drakula, di bakar dan digilas mobil di jalanan. tapi kenapa Sri Mulyani masih bisa tersenyum? jawabannya dukungan keluarga dan sahabat, suami, anak, dan keluarga besarnya percaya dia bersih, sahabatnya percaya dia punya integritas, dan waktu membuktikan baik Rasul, Aisyah, dan Sri Mulyani, pernah berada pada satu titik rendah dalam hidup yang kemudian mampu bangkit kembali.

saya tidaklah sedang memposisiskan Rasul, Aisyah, Sri Mulyani dan Cut Tari atau bahkan kawan seprofesinya dalam satu garis posisi yang sama. saya hanya mengambil garis lurus kondisi setiap manusia dalam menjalani hidup. tentu saja mereka semua berbeda,dalam segala hal yang sulit untuk disamakan, tapi mereka semua berada pada posisi yang sama dimana mengalami tiitk nadir hidup di dunia yang diperjuangkannya.

terlepas benar tidaknya atau salah benarnya apa yang dilakukan atau bahkan terbukti atau tidak. maka sangat tidak berhak sebagai sesama manusia yang tidak lepas dari khilaf dan salah, kita menghujat orang-orang atas perbuatannya. karena mungkin saja kita akan berada pada posisi yang sama pada suatu waktu.

dan jika ada sahabat, teman saudara dan keluarga kita berada pada situasi terburuk, dan semua orang memandangnya buruk. maka jadikan diri kita menjadi orang yang percaya padanya, walau kita tahu dia salah. bukan untuk membelanya tapi untuk menguatkannya dan berada pada posisi yang bisa dipercaya sehingga bisa membantu keluar dari suatu masalah.
saat manusia jatuh, yang diperlukan adalah sebuah uluran tangan dan senyum untuk bangkit, bukan hujatan dan tertawa sinis yang menertawakan kejatuhannya.

dan berbahagialah Cut Tari bahwa orang-orang terdekatnya mendukung dan percaya atas semua hujjah yang diberikan,  karena banyak orang diluar sana justru ditinggalkan orang terkasih saat jatuh dan terpuruk.


Read More...

Selasa, 08 Juni 2010

Perubahan Itu

44 comments
apa itu berubah dan apa itu perubahan jawabannya adalah omong kosong jika hanya diam, seharusnya perubahan itu adalah sebuah kebaikan. aha entahlah. yang pasti memang harus ada yang berubah minimal diri sendiri. tapi justru pertanyaan itu dikembalikan dengan kalimat "kenapa harus berubah?" adakah yang salah sehingga harus berubah..... ya mungkin banyak... apa itu dan kenapa itu memang masih harus dicari.

mundur perlahan beberapa langkah, berhenti sejenak, tarik nafas perlahan, yang panjang, tahan sebentar, keluarkan perlahan, pejamkan mata sejenak, buka mata dan tatap kedepan, meloncat sedikit, buat langkah kecil, perlahan, tambah tempo dan kecepatan, berlari, cepat, lebih cepat, siapkan sebuah langkah besar, lebih cepat, bertolak, loncat, lebih tinggi, lebih jauh. bersiaplah karena pada suatu waktu pasti akan turun kembali, dan bersiaplah untuk sebuha pendaratan yang terbaik.





bumi terus berputar, dan terus berputar, ditengah putaran itu juga bergerak mengelilingi. itulah hidup begitu juga manusia menjalani setiap detik waktunya, berputar, mengelilingi, dan seolah sama tapi berbeda artinya terjadi perubahan, dan perubahan apa yang diinginkan, baik atau buruk, kitalah manusia yang menentukan. dan Tuhan akan memberi kuasanya. mulai berubah untuk menjadi lebih baik

setiap manusia selalu punya pilihan paling rasional dalam hidupnya, walau orang lain memandangnya sebagai omong kosong,


berubahlah, dan bergeraklah
Read More...

Senin, 31 Mei 2010

Berdakwah dengan Kekerasan dan Kebencian, Haruskah?

Leave a Comment

mungkin ada Tuhan di suatu tempat, bersembunyi. Sebenarnya, jika Dia tetap tidak terlihat, mungkin itu karena Dia “malu” pada para -yang mengaku- pengikut-Nyayang merasa bertanggung jawab untuk mempromosikan nama-Nya dengan melakukan semua kekejaman dan kebodohan.

Allahuakbar ,semasa saya kecil kata itu hanya di teriakan dalam adzan, dan sekalinya di terikan adalah ketika menyambut dua hari raya besar idul fitri dan idul adha, teriakan itu tidak pernah terdengar di pasar apalagi di barengi dengan gerakan tangan memukul dan menghancurkan. dulu kata itu di terikan hanya saat memukul bedug dan kentongan, bukan memukuli manusia, melempar baru, hingga menghancurkan. dulu saat kecil yang meneriakan itu adalah anak-anak bercelana kolor berkaus oblong dengan peci hitam dan sarung yang dislempangkan di bahu. kata Allahuakbar begitu agung, hingga takbir hanya didengungkan dengan nyaring dan penuh hikmah ketika akan menymbut hari besar.

kini kata itu sangat pasaran, mereka yang berjubah, berpakaian persis orang-orang arab, sering berteriak dengan lantang di mana-mana, seolah esensi kata itu hanya untuk menghancurkan, untuk perang, seolah dengan kata itu, para “pendakwah” mendapat legitimasi Tuhan, dan merasa besar dan berhak berbuat seenaknya. tidakkah mereka memahami esensi dari takbir.

Takbir terucap ketika pangkal utama syaraf bergerak untuk berserah dan bersimpuh dihadapan sang khalik, takbir bukan membuat manusia mengepalkan tangan keatas, mata garang dan melotot kedepan dengan tongkat dan celurit, tapi esensi takbir adalah meletakan kedua tangan didada, menundukan kepala, khusyu menunduk, berserah diri, bahwa takbir itu Allahuakbar adalah menempatkan posisi Tuahan pada kebesaran yang maha dasyat dan manusia maha esensi yang sangat kecil. ketika takbir terucap saat itu adalah pengakuan bahwa manusia bukanlah apa-apa dan tidak berhak untuk menghancurkan, tidak berhak memukul karena bahwa sejatinya semua adalah makhluk yang dicipta Allah Subhanahu Wa’tala.
tapi mereka yang berjubah di jalanan selalu merasa berhak menjadi seolah penegak kebenaran sejati, seolah bahwa pemahamannya adalah yang paling benar, Hujjah-nya, tidak tanggung-tanggung seperti membela Islam, menegakkan syariat, amar makruf nahi munkar, memurnikan agama, dsb. Cirinya yang menonjol : sikap merasa benar sendiri dan karenanya bila bicara suka menghina dan melecehkan mereka yang tidak sepaham. Suka memaksa dan bertindak keras dan kasar kepada golongan lain yang mereka anggap sesat. Seandainya kita tidak melihat mereka berpakaian Arab dan sering meneriakkan “Allahu Akbar!”, kita sulit mengatakan mereka itu orang-orang Islam. Apalagi bila kita sudah mengenal pemimpin tertinggi dan panutan kaum muslimin, Nabi Muhmmad SAW.

Seperti kita ketahui, Nabi kita yang diutus Allah menyampaikan firman-Nya kepada hamba-hamba-Nya, adalah contoh manusia paling manusia. Manusia yang mengerti manusia dan memanusiakan manusia. Rasulullah SAW seperti bisa dengan mudah kita kenal melalui sirah dan sejarah kehidupannya, adalah pribadi yang sangat lembut, ramah dan menarik. Diam dan bicaranya menyejukkan dan menyenangkan. Beliau tidak pernah bertindak atau berbicara kasar.

boleh saja mungkin mereka selalu menghapal hadist-hadist dan ayat Al Quran tentang perjuangan, dan segala macamnya, tapi mungkin saja mereka lupa atau melewatkan hadist
Sahabat Anas r.a yang lama melayani Rasulullah SAW, seperti diriwayatkan imam Bukhari, menuturkan bahwa Rasulullah SAW bukanlah pencaci, bukan orang yang suka mencela, dan bukan orang yang kasar.
Sementara menurut riwayat Imam Turmudzi, dari sahabat Abu Hurairah r.a:Rasulullah SAW pribadinya tidak kasar, tidak keji, dan tidak suka berteriak-teriak di pasar.
Jadi, saya tidak bisa mengerti bila ada umat Nabi Muhammad SAW, berlaku kasar, keras dan kejam. Ataukah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka yang begitu berbudi, lemah- lembut dan menyenangkan; atau mereka mempunyai panutan lain dengan doktrin lain.
saya hanya menyayangkan saja pakaian jubah putih khas Rosul itu harus ternoda dengn sikap yang sesungguhnya tidak mencerimnkan sikap dan sifat Rosul. bukankah Allah pernah berfirman dalam salah satu ayatnya Fabima rahmatin minallaahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika …” , Maka disebabkan rahmat dari Alllah, kamu lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu berperangai keras berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”

karena sikap yang penuh kebencian ini justru menjauhkan Islam dan wajah lemah-lembut. Kalau memang ya, bukankah kitab suci kita al-Quran sudah mewanti-wanti, berpesan dengan sangat agar kita tidak terseret oleh kebencian kita kepada suatu kaum untuk berlaku tidak adil. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah (bukan karena yang lain-lain!), menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Baca Q. 5: 9).

Hampir semua orang Islam mengetahui bahwa Rasulullah SAW diutus utamanya untuk menyempurnakan budi pekerti. Berdakwah adalah menarik orang bukan membuat orang lari.dan bagaimana mungkin menarik dan mengjak orang berbuat kebaikan dengan sikap yang kasar dan dainya sangar-sangar. orang justru akan benci dan tidak simpatik, jika pun mungkin orang akan ikut, itu bisa jadi akibat ketakutan, bukan atas dasar hati yang tercerahkan.
Read More...

Kamis, 20 Mei 2010

Semoga Pembuat Karikatur Nabi Diberkati Tuhan

Leave a Comment

Islam itu Rahmatan lil alamin, agama universal, komprehensif (syumul), lengkap dengan dimensi edoterik dan eksoteriknya. Sebagai agama agama universal (rahmatan lil alamin), Islam mengenal sistem perpaduan antara apa yang disebut konstan-nonadaptabel (tsabuit) di satu sisi watak Islam yang ini tidak mengenal perubahan apa pun karena berkaitan dengan persoalan-persoalan ritus agama yang transenden, nash yang berkaitan dengan watak (konstan-nonadaptabel) ini dalam al-Qur’an maupun hadist sekitas 10%, yang berupa diktum-diktum ajaran agama yang bersifat kulli dan qoth’I yang konstan dan immutabel.

akhir-akhir ini gonjang-ganjing kartun nabi kembali marak, walaupun masih ada kecama keras, toh suaranya tidak sekeras dahulu, mungkin kebanyakan umat Islam sudah menjadi “maklum” atau umat islam justru menjadi masa bodoh. lalu apa yang harus umat islam lakukan? sebuah pertanyaan sederhana yang akan dapat menimbulkan banyak jawaban dan pendapat. dari yang munglaknat pelakunya hingga mungkin ada yang mem-fatwa-kan pembunuhan. semua orang bisa menjawab dengan beragam tafsir dan kegeraman masing-masing.

tapi saya akan mengajak menengok sejarah sedikit saja, untuk membuka kembali sejarah perjuangan Nabi Muhammad. menilik hijrah Nabi ke Thaif. Di sana Rasul dilempari batu dan dilempari kotoran oleh orang-orang kafir. Dan Nabi justru mendoakan mereka.Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun (Ya Allah berilah petunjuk kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengerti)…

mari kita renungkan apa yang akan dilakukan nabi jika melihat karikatur itu mungkin beliau juga akan menjawab, “Allahummahdi qaumi…

“Jika seperti itu, beranikah kita tidak bilang seperti itu? Beranikah kita mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan ucapan Nabi?”

bagi orang yang tahu bahwa cinta Allah kepada Islam begitu besar, maka tak ada kesedihan. Itu layaknya kakang kawah adi ari-ari.

“siapa orang kafir yang paling melawan Rasul?” .Abu Jahal. Abu Sufyan, dll.

Pada saat fathu makkah ketika pasukan Islam dari MAdinah berhasil merebut kembali kota Mekkah, Rasul berbicara di depan orang-orang Islam dan musuh-musuh dan para tawanan perang. ‘Hadzal yaum laisa yaumul malhamah wa lakin hadzal yaum yaumul markhamah wa antumut tulaqa‘. Hari ini bukanlah hari kebencian, tetapi hari ini adalah hari kasih sayang. Dan kalian (para tawanan) adalah orang-orang yang saya bebaskan/merdekakan….,”

pasukan Islam mendengar pidato itu merasa schok dan terkejut. berjuang hidup mati, diperhinakan dilecehkan sekian lama, dan saata kemenangan di depan mata, saat berada di atas angin, ketika dendam yang menumpuk berkecamuk. Rosul justru mengampuni dan bahkan melarang uamt Islam untuk mengambil harta benda rampasan perang, semua harus dikembalikan. dan pasuka Islam tidak memperoleh apa-apa.

sehingga mengeluh dan memprotes, tapi nabi kemudian berpidato,

“sudah berapa lama kalian bersahabt denganku?”
mereka menjawab berfariasi, sekian tahun, sekian tahun, sekian tahun…

“selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”

“tentu saja mencintai rasulluloh”

dan rosul mengakhiri pertanyaannya, “kalian lebih memilih mendapatkan unta, harta rampasan serta berhasil meluapkan kebencian dan dendam yang menumpuk ataukah kalian memilih cintaku?”

menangislah mereka karena cinta Rasulluloh kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan langit dan bumi.

saya tidaklah mengajak untuk menyepelekan atau membiarkan begitu saja, acara menggambar karikatur Nabi, tentu saja sebagai umat islam tidak bisa begitu saja kita diam, perlu ada sebuah action yang kita lakukan, sebuah sikap kita sebagai muslim yang Rahmatan Lil Alamin, seperti doa yang sering diucapkan, Bismillahirohmannirrohim,  dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. mari kita sikapi semua ini dengan rasa kasih sayang, dengan cinta, dengan kedamaian.

Cinta saya kepada Rasul tidak berkurang sedikit pun oleh penghinaan itu. Kasih sayang Rasul lebih luas dari semesta. Rasul bersegera kepada Allah untuk memintakan ampun bagi mereka. Cinta jangan membikin gupuh. Cinta jangan sampai bikin gampang jatuh, jangan gampang marah.

mungkin doa kita tidaklah, mengharap merekakemudian tobat dan masuk islam, tapi mari kita doakan suapay mereka yang melakukan penghinaan diberkati, diberi hidayah, dikasih pencerahan, bahwa minimal, mereka merasa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan yang menyakiti sebagian manusia di bumi. karena mungkin saja seperti -kata Rasulluloh- hanyalah fainnahum la ya’lamun….
Read More...

Senin, 17 Mei 2010

Mainan Baru Masyarakat Indonesia

Leave a Comment

Too bad that all the people who know how to run the country are busy driving taxicabs and cutting hair.” (George Brunes)

tulisan ini saya buat disela-sela ketidakjelasan cuaca jogja siang ini. tidak panas, tapi mendung, tidak hujan tapi agak cerah. mungkin lebih tepatnya teduh, penuh misteri. sebuah kutipan dari George Brunes di atas sebenarnya (dalam pemahaman saya) hanyalah sebuah ungkapan sindiran kepada para pemimpin bangsa maupun para wakil dari rakyat beserta para pejabat di sebuah negara. bahwa mereka yang mengerti negara lebih hobi bersafari dan bersolek.

perdebatan sok bersih, sok suci, dan merasa diri serta golongannya terbaik dengan beripjak pada kata rakyat sebenarnya sudah membuat saya muak dan ingin muntah. perdebatan itu sudah menghiasi hampir semua isi koran dan tiap menit pemberitaan televisi. semua itu intinya -menurut saya- hanyalah sebuah perebutan kekuasaan, dan siapa yang akhirnya berkuasa ia bisa menguasai segalanya. suka atau tidak hal itu adalah sebuah kenyataan yang kita hadapi termasuk di Indonesia.

sebenarnya kita tidak akan pernah pergi kemana-mana, meskipun kita melalui ribuan peperangan dan kemenangan, melibas pesaing, kemudian memenangkan pemilihan, setelah itu mempertahankan kekuasaan, naik menjulang di tangga popularitas, mendapatkan semua kemegahan, mengeruk gunung emas, menjadikan ribuan orang menjadi dayang dan budak, yang melayani makan, menyikatkan gigi, menyuapi makan, bahkan hingga menyeboki dubur. kita tidak akan pernah pergi kemanapun kecuali kembali kepada Sang Pemilik Hidup.

semua apa yang kita curi dari bangsa ini, dari tanah hingga truliunan rupiah untuk bersafari kemanapun di dunia ini pada hakekatnya akan dikembalikan kepada Sang Empunya Dunia.
tidak ada kekuasaan yang benar-benar diraih, tak ada kemenangan sejati yang benar-benar di dapatkan. seorang petarung yang menjatuhkan lawannya janganlah langsung berbangga diri, siapa tahu setelah satu jam berikutnya keadaan bisa berbalik. kemenangan pada sejatinya hanyalah berlaku sesaat, dan menginjak detik berikutnya kemenangan itu sudah tidak memiliki substansi.

Indonesia boleh menjadi Juara Dunia Demokrasi, memilih Presiden langsungdengan rekor jumlah pemilih dan rekor keamanan pemilu. tapi apa hasil dari puncak demokrasi itu ? mungkin kita harus bertanya pada hati nurani dan akal sehat kita, mungkin kita harus jujur supaya tidak terkontaminasi oleh jawaban dari luar.

dan salah satu impian saya adalah pada pemilu mendatang semoga Allah menjadi pencoblos pertama, dan semoga coblosan pertama itu adalah hidayah yang mengiring seluruh pemilih nusantara “yadhuluna fi dinillahi afwaja” berduyun-duyun memasuki cakrawala Allah.
anda boleh saja menganggap saya sedang bermain retorika.Tidak. ini sungguh-sungguh, dan saya harap jangan hanya mengandalkan ilmupengetahuan baku dari sekolahan dan Universitas, sebab mungkin saja penelitian di wilayah itu tidak akan menyentuh hati nurani.
sadar atau tidak, saat ini kita atau mungkin sebagian dari kita sedang menghabisakan waktu untuk bermain-main menunggu kematian, dan mainan kita namanya, negara, demokrasi, teroris, korupsi, clean governance, pengajian, tausiyah, band, komedi, sinteron, Infotainmenet, hukum. hingga piaraan baru seperti ubur-ubur, kucing, cicak, buaya, dan sepertinya kita mulai lupa dengan burung Garuda dengan 5 tonggak falsafah hidup bangsa ini yaitu Pancasila yang tengah mati (semoga hanya mati suri).
Read More...